Mag-log inSinar matahari sore menembus jendela kaca butik Areta Niku, memantulkan kilau pada deretan manekin yang mengenakan koleksi terbarunya. Di dalam, Areta tampak sibuk. Setelah ketegangan soal teror Bima mereda, ia memutuskan untuk menyalurkan energinya dengan merapikan butik.Lengan kemeja putihnya masih tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan tangannya yang cekatan mengelap meja kayu estetik di tengah ruangan. Ia merasa tenang karena tahu Arkadia sedang berada di tangan yang aman bersama Mama Veronica di rumah.Lonceng di pintu berdenting, tanda seorang tamu masuk.Seorang wanita berusia sekitar 40-an dengan penampilan sangat elegan masuk sambil tersenyum ramah. Ia menjinjing sebuah tas kulit berkualitas tinggi yang tampak penuh.“Selamat sore, Mbak Areta? Saya Shinta dari L’Amour Decoration,” sapa wanita itu. “Maaf jika saya datang sedikit lebih awal dari jadwal kita.”Areta segera menurunkan gulungan lengan bajunya sedikit dan menyambut jabat tangan Shinta. “Sore, Mbak Shinta.
Setelah keheningan yang mencekam selama beberapa menit, Adam akhirnya bersuara. Suaranya rendah, serak, namun penuh tekanan yang tidak terbantahkan.“Luna, hubungi tim IT. Saya ingin rekaman CCTV di depan gerbang rumah Papa Rajes dalam satu jam terakhir disisir habis. Cari kurir paket itu. Jika dia menggunakan motor atau mobil, saya ingin nomor platnya ada di meja saya sebelum matahari terbenam.”“Baik, Pak,” sahut Luna cekatan, jarinya langsung menari di atas layar iPad-nya.“Dan satu lagi,” Adam menatap ke luar jendela, melihat jalanan yang seolah bergerak terlalu lambat baginya. “Hubungi Pierre. Tanya dia secara pribadi, apakah ada pihak di Paris yang merasa dirugikan dengan kesuksesan koleksi Arkadia Series. Jika teror ini berhubungan dengan bisnis Areta di sana, aku akan menutup mulut mereka selamanya.”Saat mobil berbelok memasuki area perumahan elit Papa Rajes, Adam melepaskan kancing jasnya, seolah mempersiapkan diri untuk pertempuran. Luna bisa melihat dari spion bagaimana
Malam harinya, setelah Arkadia terlelap, Areta duduk bersandar di headboard tempat tidur sambil menggenggam ponselnya. Ia memutuskan untuk menghubungi Pierre secara langsung lewat panggilan internasional, tak sabar ingin mendengar detail keberhasilan koleksi musim keduanya di Paris."Pierre! Aku baru dengar kabar dari Adam kalau koleksi kita sukses besar. Benarkah?" tanya Areta dengan nada antusias begitu panggilan tersambung."Areta! Ah, desainer bintangku! Benar sekali," suara Pierre terdengar bersemangat di seberang sana. "Paris jatuh cinta pada sentuhan lembutmu. Koleksi Arkadia Series ini punya jiwa, Are. Mereka bilang ini bukan sekadar baju bayi, tapi seperti pelukan seorang ibu."Mereka sempat berbincang selama lima belas menit mengenai angka penjualan, rencana produksi untuk musim berikutnya, hingga kemungkinan pembukaan gerai fisik baru di kawasan Le Marais. Namun, di sela-sela pembicaraan teknis itu, Areta menangkap nada suara Pierre yang sangat ceria setiap kali menyebut
Luna mengangguk patuh, segera beranjak untuk memberikan instruksi tegas kepada mandor dan para pekerja agar menjaga kerahasiaan proyek dengan lebih ketat. Setelah memastikan semua instruksinya dipahami, ia kembali ke sisi Adam dan berjalan beriringan menuju area parkir di depan gerbang kayu.Adam membuka pintu mobilnya, namun sebelum masuk, ia menoleh ke arah Luna yang tampak sesekali melirik jam tangannya dengan raut wajah yang sedikit tidak tenang.“Terburu-buru sekali, Luna. Ada janji?” tanya Adam dengan nada menyelidiki namun tetap hangat.Luna tersentak kecil, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin perbukitan. “Ah, itu... iya, Pak. Ada janji sebentar.”Adam menyipitkan mata, sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Sama siapa? Pierre? Aku salah tebak, kan?”Luna tersenyum canggung, bola matanya bergerak ke atas sebentar seolah sedang mencari alasan, namun akhirnya ia menyerah di bawah tatapan tajam bosnya. “Tentu saja, Pak. Dia sedang begadang d
Pagi harinya, studio itu kembali berdenyut dengan kreativitas. Setelah Adam berangkat dengan kecupan pamit yang manis, kini giliran Areta yang mengambil alih takhta di depan meja potong. Semangatnya telah pulih sepenuhnya berkat dukungan Adam semalam.Areta menatap kain navy sisa potongan gaunnya yang berkualitas tinggi. Fokus pertamanya adalah Arkadia. Dengan penuh ketelitian, ia menggambar pola jas mini berukuran bayi."Jagoan Mama harus jadi yang paling tampan," gumamnya sambil tersenyum sendiri.Ia menjahit jas kecil itu dengan detail yang luar biasa, kerah notch yang mungil namun kaku, serta kancing-kancing emas kecil yang memberikan kesan bangsawan. Di bagian dalam saku jas Arkadia, Areta menyulam tulisan kecil: "Born to be a King". Ia membayangkan betapa menggemaskannya Arkadia saat berjalan tertatih atau digendong Adam di hari pesta nanti.Selesai dengan urusan Arkadia, Areta beralih ke proyek yang lebih besar: Jas untuk Adam.Meskipun Adam kini memimpin Rajawali Jaya Group
Adam menarik napas lega melihat Areta kembali tersenyum. Ia pun melepas jas yang tersampir di kursi kerja, menggulung kemeja putihnya hingga ke siku, dan dengan cekatan mengambil alih tempat di depan mesin jahit utama."Duduklah di sana, Sayang. Biar 'si penjahit culun' ini yang mengambil alih kemudi malam ini," ujar Adam dengan kerlingan nakal.Areta duduk di sofa kecil sudut studio, memperhatikan suaminya dengan tatapan kagum yang sulit disembunyikan. Sudah lama ia tidak melihat Adam berhadapan langsung dengan mesin jahit. Gerakan tangan Adam saat memasukkan benang ke lubang jarum begitu tenang dan presisi, sebuah keterampilan yang dulu sempat ia remehkan namun kini menjadi salah satu hal yang paling ia cintai dari pria itu.Suara mesin jahit mulai menderu halus. Adam tidak hanya sekadar menjahit, ia memperlakukan kain navy itu seolah-olah sedang memahat sebuah karya seni."Aku akan mengubah sedikit potongan di bagian pinggang," gumam Adam tanpa mengalihkan pandangan dari jarum y
Jean-Pierre bergegas menghampiri Areta yang terduduk lemas. Saat ia menarik lengan Areta untuk membantunya berdiri, sebuah benda plastik kecil terjatuh dari saku mantel yang tersampir di kursi. Jean-Pierre tertegun sejenak saat melihat dua garis merah yang sangat jelas di atas lantai studio yang di
Areta sudah memutar tubuhnya, langkah kakinya yang cepat dan tegas menggema di lantai marmer yang mengkilap menuju lift. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh sensor pintu, sebuah lengan kokoh menghadang jalannya.Adam berdiri tegak di depan pintu lift. Tidak ada lagi bahu yang membungkuk lesu
Salah satu orang suruhan di belakang Renata berbisik dengan suara gemetar, "Nona ... sebaiknya kita pergi. Pria ini ....""Diam kamu!" bentak Renata pada orang suruhannya, lalu kembali menatap Adam. "Adam, aku akan bayar berapa pun! Kamu mau uang? Aku kasih! Tapi tolong bilang pada bosmu untuk ber
Areta menunggu momen yang tepat. Begitu ia mendengar suara gemericik air dan denting piring dari arah dapur, pertanda Adam sedang sibuk membereskan bekas sarapan mereka, ia segera bangkit dari kursinya. Dengan langkah berjinjit dan jantung yang masih berdegup kencang, ia menyelinap masuk ke dalam ka







