Share

Perlawanan

Penulis: Chili Cemcem
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 23:59:09
Momen hangat di ruang jahit itu mendadak buyar saat suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti tepat di depan gang. Suara pintu mobil yang dibanting keras disusul langkah kaki yang terburu-buru di atas semen gang yang sempit membuat Adam dan Areta saling pandang.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kayu rumah mereka digedor dengan kasar, bukan seperti ketukan tamu, melainkan seperti orang yang sedang diamuk panik.

"Areta! Areta, keluar kamu!"

Areta tersentak. Ia sangat mengenali suara itu. Itu suara Tante
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pria Culun Itu Suamiku   Mencari Alasan

    “Oh, gantungan kunci ini?” Adam (versi CEO) mengambil benda itu dengan gerakan tenang, seolah-olah itu hanya benda remeh yang tidak berharga. Ia memutarnya di sela jari dengan santai.“Ini adalah merchandise resmi dari program ‘Rajawali Peduli Driver’ yang kami jalankan bulan lalu, Ibu Areta. Kami membagikannya secara Cuma-Cuma kepada ratusan mitra, staf lapangan, bahkan tamu yang datang ke gedung ini,” jelas Adam dengan suara berat dan berwibawa.Ia meletakkan kembali kunci itu ke meja dengan bunyi klotak yang meyakinkan. “Mungkin asisten Anda mendapatkannya dari satpam di depan atau menemukannya di lobi. Kami memproduksi ribuan gantungan kunci seperti ini.”Areta tampak mengerutkan dahi, menatap gantungan kunci boneka kucing itu lekat-lekat. “Ribuan? Tapi kucing ini telinga kirinya agak sobek sedikit, persis punya Gus...”Adam hampir saja tersedak udara, tapi ia segera menimpali dengan nada dingin khas bos besar. “Itu karena kualitas produksinya memang massal, Ibu Areta. Namanya jug

  • Pria Culun Itu Suamiku   cantik

    "Gus," panggil Areta pelan di balik helmnya."Ya, Bos?""Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja," bisik Areta.“Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku Cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja,” bisik Areta.Adam tersenyum di balik kaca helm. “Aku tahu, Are. Kamu itu singa betina kalau urusan melindungi orang rumah.”“Tapi besok-besok, kamu harus lebih rapi kalau ikut aku ke kantor! Aku nggak mau kejadian tadi terulang. Besok kita ke pasar, aku belikan kamu kemeja baru yang lebih keren.”Adam terkekeh. “Siap, Bos Besar!”*Areta berdiri tegak di depan meja resepsionis dengan gaya bos besar. Ia mengenakan blazer terbaiknya, sementara Adam berdiri di belakangnya dengan kemeja baru hasil belanja di pasar kemarin (yang sebena”Saya tidak akan menandatangani kontrak apapun sebelum saya bertemu dengan CEO Anda,” tegas Areta kepada Luna. “Saya ingin

  • Pria Culun Itu Suamiku   Pelukan Singkat

    Lobi samping dekat kantin karyawan Rajawali Tower mendadak riuh. Areta berlari setengah tidak peduli dengan bunyi hak sepatunya yang beradu keras dengan lantai marmer. Di sana, di tengah kepungan tiga satpam berbadan tegap, ia melihat "Gus"—suaminya—sedang berdiri memegang helm kusamnya dengan wajah pasrah."Ada apa ini?!" teriak Areta, suaranya menggelegar membelah kerumunan karyawan yang mulai berbisik-bisik.Seorang komandan satpam menoleh. "Maaf, Bu. Pria ini memaksa masuk ke area VIP kantin. Dia bilang dia asisten Ibu, tapi penampilannya... ya Ibu lihat sendiri, sangat tidak sesuai dengan standar gedung ini."Areta melihat suaminya dari ujung kaki ke ujung kepala. Kaos oblong yang sedikit pudar warnanya, celana jeans yang terkena noda oli motor matic tadi pagi, dan sandal jepit yang tampak sangat kontras dengan kemewahan lobi Rajawali.Hati Areta mencelos. Bukan karena malu, tapi karena sakit hati melihat pria yang semalam rela tidur di lantai demi bantal darinya itu kini dihinak

  • Pria Culun Itu Suamiku   Jadi Orang Lain

    Pagi itu, suasana di kediaman Mama Veronica terasa tenang, namun ketegangan di hati Adam belum sepenuhnya sirna. Sebelum sinar matahari benar-benar menyengat, Adam melangkah menuju ruang kerja di lantai bawah. Di sana, ia melihat sosok pria yang sangat ia hormati sedang menyesap kopi hitamnya sambil menatap taman belakang.Rajes, ayah kandung Areta.Berbeda dengan Areta yang meledak-ledak, Rajes adalah samudera yang tenang. Dialah orang yang pertama kali menjabat tangan Adam—bukan sebagai “Agus” sang asisten, melainkan sebagai Adam, pria yang ia pilih secara sadar untuk mendampingi putri tunggalnya.*Adam menutup pintu kayu ek itu dengan pelan. “Pagi, Pa.”Rajes menoleh, tersenyum tipis, lalu memberi isyarat agar Adam duduk di kursi kulit di hadapannya. “Bagaimana lantainya semalam, Dam? Keras?”Adam tertawa kecil, sedikit malu. “Ternyata Areta masih punya stok bantal untuk pria pembohong seperti saya, Pa.”Rajes meletakkan cangkir kopinya. Gurat wajahnya menunjukkan kewibawaan

  • Pria Culun Itu Suamiku   Bertemu Mama Vero

    Ketegangan di depan ruko belum sempat mereda saat sebuah mobil mewah lainnya—kali ini sebuah sedan putih elegan yang sangat familiar bagi Adam—berhenti tepat di belakang motor matic mereka.Seorang wanita paruh baya turun dengan anggun. Perhiasannya berkilau terkena lampu jalan, namun wajahnya memancarkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya tatapan Areta tadi.“Mama Vero?” gumam Adam, jantungnya mencelos.Senyumnya mengembang lebar saat melihat menantu dan putri tunggalnya.“Sudah, jangan masak lagi. Areta, kamu pucat sekali. Ayo, ikut Mama saja. Tinggalkan motor ini, biar nanti supir Mama yang urus kain-kain ini ke dalam ruko. Kalian makan malam di rumah, Mama sudah rindu mengobrol,” ajak Mama Vero sambil merangkul Areta.Suasana meja makan di rumah masa kecil Areta terasa sangat hangat. Berbagai hidangan kesukaan Areta tersaji, namun suasana hati Areta justru semakin dingin. Ia merasa seperti orang asing di tengah keakraban Mama Vero dan Adam.“Adam, makan yang banyak,” ucap

  • Pria Culun Itu Suamiku   Demi Istri

    Jam menunjukkan pukul 07.15 WIB. Ponsel Adam di atas meja kayu ruko bergetar hebat. Nama "Luna - Sekpri" berkedip puluhan kali, dibarengi rentetan pesan singkat: "Pak, seluruh Dewan Direksi sudah berkumpul. Rapat penentuan merger dimulai 45 menit lagi. Bapak di mana?!"Adam mengabaikannya. Ia lebih memilih mengikat erat karung-karung berisi kain pesanan pelanggan yang beratnya bukan main."Sudah siap?" tanya Areta dingin dari ambang pintu. Ia menatap Adam yang berseragam kaos oblong dan celana kain kusam, sangat jauh dari citra pria yang kemarin duduk di kursi CEO."Siap, Bos," jawab Adam mencoba mencairkan suasana dengan senyum tipis, meski punggungnya terasa kaku karena semalam tidur di sofa sempit.Mereka berangkat menggunakan motor matic tua milik ruko menuju Tanah Abang. Di tengah kemacetan Jakarta yang menggila dan debu jalanan, Adam merasakan tangan Areta memegang jaketnya, meski sangat tipis dan tanpa pelukan. Itu sudah cukup bagi Adam.*Pasar Tanah Abang, Pukul 08.30 WIBKer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status