Share

Bab 114

Author: Biee
last update publish date: 2026-03-08 23:06:11

"Masa sih, Key? Mungkin itu bau sabun baru yang Mama pakai tadi subuh," sahut Marissa dengan suara yang sedikit bergetar.

Pak Handoko menurunkan korannya dan menatap istrinya sebentar. "Memang baunya agak menyengat, Ma. Tapi enak kok, segar."

Bara merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Dia tahu betul bau itu berasal dari minyak wangi yang dia pakai, yang sempat menempel di tubuh Marissa semalam. Dia melirik Keyla yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh selidik.

"Kak Bara juga baunya sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 236

    Sandra menahan napasnya dengan dada montok yang naik-turun cepat. Cengkeraman tangan besar Bara di pinggulnya terasa begitu panas, membuat celana pendek abu-abu ketatnya semakin mencekik kulit paha mulusnya yang kini bergetar hebat."B-Bara... lepasin dulu. Sakit tahu!" keluh Sandra dengan bibir yang mengerucut seksi."Diam. Baru lima detik," jawab Bara datar. Dada bidangnya yang kokoh menempel rapat di punggung Sandra, menghimpit gundukan dada gadis itu ke depan hingga kaos crop top putihnya tercetak semakin kencang."Ih, kok lo pemaksaan banget sih!" pekik Sandra dengan suara parau yang manja.Gadis itu mendadak kehilangan keseimbangan. Kaki kanannya yang terbalut sepatu putih mendadak lemas, membuatnya tergelincir ke belakang."Eh... eh... aduh!" Sandra memekik kaget saat pantat bulatnya yang padat berisi langsung mendarat telak di atas matras dengan bunyi bergedebuk pelan. Dumbbell di tangannya terlepas dan menggelinding.Bara mundur satu langkah, melipat lengan kekarnya di depan

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 235

    Bara mendorong pintu ruang latihan VIP di lantai dua, lalu melangkah masuk terlebih dahulu. Begitu dia membalikkan badan, Sandra tiba-tiba maju dengan cepat.Plak! Plak!Kedua tangan lentik Sandra menghantam daun pintu di kiri dan kanan kepala Bara, mengurung tubuh tegap pria itu di tempatnya. Napas Sandra memburu cepat, membuat kaos crop top putih ketatnya bergerak naik-turun. Gundukan dadanya yang montok hampir menempel pada dada bidang Bara.Bara tersentak kecil, kedua alisnya bertaut rapat. "Ada apa ini, Sandra? Kita ke sini untuk latihan.""Apa anak kota ini sedang mencoba mengerjaiku?" batin Bara heran.Sandra tidak menjawab. Wajah cantiknya sudah merah padam sampai ke leher. Bibirnya bergetar, menatap lurus ke arah bibir Bara."Persetan dengan gengsi. Gue udah gak tahan!" batin Sandra.Tanpa aba-aba, Sandra langsung memajukan wajahnya dan melumat habis bibir Bara.Mmmhh!Sandra memejamkan mata erat-erat, menekan seluruh tubuhnya hingga paha mulusnya yang terbalut celana pendek

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 234

    Maya hanya bisa mengangguk pasrah dengan air mata yang mulai mengenangi sudut mata sayunya. Cengkeraman jari besar Bara di dagunya terasa begitu kuat, membuat seluruh tubuhnya gemetar halus."I-iya, Bara... Gue bakal turutin semua mau lo. Tolong jangan sebarin video itu," cicit Maya dengan suara parau yang sangat lirih.Bara melepaskan cengkeramannya dari dagu Maya dengan sentakan pelan. Dia menyeringai puas melihat sekretaris yang tadinya sombong kini gemetaran di depan meja kerjanya yang usang.Pandangan mata Bara bergerak turun, memperhatikan dada montok Maya yang naik-turun cepat karena napasnya yang sesak akibat panik. Kemeja putih ketatnya terbuka satu kancing di bagian atas, tercetak semakin kencang mengikuti lekuk tubuh gembulnya yang padat."Bagus. Sekarang ambil kembali berkas laporan keuangan ini, lalu input sendiri ke komputer ruanganmu," perintah Bara dengan nada suara berat yang dingin tanpa bantahan."T-tapi... tapi tadi Pak Handoko minta laporan ini selesai jam dua lew

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 233

    Dua puluh menit berlalu di dalam ruangan pojok yang sepi itu. Bara baru saja selesai merapikan tumpukan kertas usang di atas meja kerjanya ketika terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam dari arah pintu.Maya melangkah masuk dengan angkuh. Rok sepan hitam ketatnya bergeser seksi mengikuti ayunan pinggulnya yang padat. Di tangan kanannya, dia membawa satu bundel berkas tebal bersampul kuning.Brak!Maya melemparkan berkas itu ke atas meja Bara hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Dua gundukan dadanya yang montok berguncang kecil di balik kemeja putih ketatnya saat dia berkacak pinggang."Nih, input laporan keuangan baru ini ke sistem gudang sekarang juga. Jangan pakai lama ya," perintah Maya dengan nada suara yang sangat ketus dan sombong.Bara tidak langsung menyentuh berkas itu. Dia hanya mendongak, menatap wajah cantik Maya dengan pandangan mata yang datar. "Ini bukan tugas bagian administrasi gudang belakang."Maya terkekeh sinis, menyeringai penuh penghi

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 232

    Jam dinding di atas komputer usang menunjukkan pukul 13.00 WIB. Waktu istirahat kantor telah tiba. Lorong belakang dekat gudang mendadak sunyi karena sebagian besar karyawan melangkah lebar menuju kantin belakang.Bara bangkit dari kursi kayu, merapikan kemeja kerja hitam ketatnya yang tercetak kencang membungkus dada bidang dan perut kotak-kotaknya. Langkah kakinya yang tegap membawanya membelah koridor sepi menuju area tangga tengah.Saat melewati lorong lantai dua yang mengarah ke ruang kerja utama Handoko, langkah tegap Bara mendadak terhenti.Suara sayup-sayup yang ganjil terdengar dari balik pintu kayu jati ganda yang sedikit renggang. Ruangan itu adalah ruang kerja pribadi bapak kandungnya."Ahhh... Emmhh... Mas Handoko, pelan-pelan, Mas... Nanti ada yang dengar," desah sebuah suara wanita yang sangat parau dan manja.Bara menajamkan pendenarannya. Rahang tegasnya mengetat rapat. Suara itu tidak salah lagi adalah suara Sekretaris Maya.Rasa penasaran membuat Bara melangkah lamb

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 231

    Bara melangkah lebar membelah area parkir kantor HDK Group setelah memarkirkan motor tuanya di pojok barisan. Knalpot bocornya sempat meletup keras sekali sebelum mesin dimatikan, membuat beberapa satpam di gerbang depan menoleh sambil mengkerutkan dahi.Bara tidak peduli. Dia merapikan letak kemeja kerja hitamnya yang ketat, menonjolkan bentuk dada bidangnya yang tegap saat melangkah masuk menembus pintu kaca lobi utama.Lantai marmer yang mengkilap memantulkan bayangan langkah tegap Bara. Alih-alih menuju lift utama tempat para jajaran direksi, Bara berbelok ke arah lorong sempit di bagian paling belakang lantai satu, tepat di sebelah gudang penyimpanan berkas lama.Di sanalah meja administrasinya berada. Sebuah ruangan pojok yang sepi, lembap, dan sengaja dipilih Handoko agar keberadaan anak kandungnya tidak diketahui oleh relasi bisnis penting.Bara menggeser kursi kayu di balik meja kerja, lalu menyalakan layar monitor komputer tabung yang sudah usang. Baru saja dia menyandarkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status