Home / Romansa / Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku / Hasrat Yang Tak Terbantahkan

Share

Hasrat Yang Tak Terbantahkan

Author: nababy
last update publish date: 2026-07-06 21:27:42

“Kau gila ya?!” Arabella sontak memundurkan wajahnya agar menjauh dari Ren.​

Arabella menahan nafasnya sejenak. Tawaran blak-blakan dari Ren membuat jantungnya berdegup cepat di dalam rongga dadanya. Tatapan mata pria itu di balik lensa kacamatanya seolah mengunci seluruh kesadaran Arabella, menanti jawaban dari bibirnya yang mendadak terasa kelu.

“Kenapa? Bukankah kita sudah melakukan hal nakal itu dua kali?” Tingkah Ren semakin menjadi. Tangannya perlahan membelai rambut Arabella.

​“Ren… jang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Malam Ini, Biarkan Aku Memilikimu

    ​”Ayo buka mulutnya,” ucap Ren sambil meraba-raba bibir bawah Arabella.Wanita itu patuh. Ia langsung duduk. Perlahan ia memajukan kepalanya menuju milik Ren yang sudah setengah tegang.“Kulum, Ara. Ayo…” Suara Ren lirih, bercampur dengan deru nafasnya yang berat.Arabella langsung mengulum ujung milik Ren, membuat pria mendesah nikmat sampai mendongak dengan mata tertutup. Reflek, tangan Ren memegangi kepala Ara dan menggerakkannya pelan.“Ahhh… enak banget mulut kamu. Hisap terus, Ara, aaah…” Ren meracau dengan nafas tertahan.Sedangkan Ara dibawah, melihat Ren yang menunjukkan ekspresi puas. Sekarang, pinggang Ren ikut bergerak, menghujam kerongkongan Arabella hingga membuatnya sulit bernafas.“Agghh!” Suara Ara tertahan oleh hentakan yang Ren berikan.“Enak? Apa kau suka aku memenuhi mulutmu?” Ren menjambak rambut Ara, namun tetap mempertahankan posisi kepalanya agar tak bergeser sedikitpun.“Sial! Aku keluar Ara, aaah!” Sebuah cairan hangat meluncur memenuhi seisi mulut Ara. Ren

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Aku Mainin Kamu

    ​”Tolong mainin aku. Sentuh tubuh aku Ren… aku mau dipuasin sama kamu.” “Ren tersenyum tipis. Ia membenarkan posisi duduknya agar lebih leluasa untuk menikmati tubuh Arabella yang sangat molek. “Mau dipuasin? Aku akan buat kamu merasakan kenikmatan sampai kamu lupa semuanya kecuali aku, Ara.” Bisikan bernada rendah itu melayang tepat di samping telinga Arabella, membakar sisa-sisa pertahanan dirinya yang sudah runtuh. Kata-kata Ren bagaikan sihir yang mengikis habis kesadaran logisnya, menggantikannya dengan gelombang gairah yang menuntut untuk dipenuhi. ​Arabella tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pasrah seraya makin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ren. Nafasnya yang hangat dan memburu menerpa kulit leher pria itu, menjadi sebuah jawaban tanpa suara yang sangat jelas bagi Ren. ​Ren terkekeh rendah, sebuah tawa penuh kepuasan yang menggetarkan dadanya. Dengan satu gerakan mantap dan penuh dominasi, Ren merengkuh tubuh molek Arabella ke dalam garapan

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Hibur Aku Ren

    ​”Halo, Ren? Kamu dimana?” Suara Arabella terdengar parau karena menangis.“Aku di apartemenku. Ara? Kenapa suaramu serak? Apa kau sedang menangis?” Terdengar Ren menjadi khawatir.Arabella cepat-cepat menghapus air matanya. Ia masih berdiri di tepi jalan dekat rumah mertuanya yang baru saja ia tinggalkan. Meski depan orang Ara terlihat tegar, namun jiwanya sebenarnya sudah hancur.“Aku ingin bertemu. Tolong hibur aku,” ucapnya lirih seperti memohon.“Kita bisa bertemu. Kau sekarang dimana? Mau aku jemput?”“Tidak usah. Aku akan pergi ke tempatmu.” Arabella langsung menutup telepon. Ia menghela nafas sejenak sebelum akhirnya berjalan kembali dan memesan taksi online untuk pergi menemui Ren.Aroma sandalwood dan vanilla yang menenangkan menyambut Arabella saat pintu unit apartemen mewah di lantai dua belas itu terbuka. Pencahayaan di dalam ruangan tersusun hangat dengan nuansa warm white yang temaram, memotong habis ketegangan dan kebisingan dunia luar yang baru saja menguras habis te

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Aku Tunggu Di Pengadilan

    ​"Papa!" pekik Sarah histeris, menyergap lengan suaminya yang hendak melayangkan pukulan berikutnya. "Cukup, Mas! Jangan bunuh anakmu!"​Pipi Kyle terasa panas dan kebas. Darah segar menetes samar dari sudut bibirnya akibat hantaman tangan sang ayah yang begitu bertenaga. Pria yang biasanya dipuja dan ditakuti di dunia bisnis itu kini tergeletak hina di atas marmer dingin kediaman Adisurya.​"Biarkan dia mati sekalian!" bentak Wijaya dengan nafas memburu, matanya memerah penuh kilat kemurkaan. Dada pria paruh baya itu naik-turun menahan malu dan amarah yang membakar. Ia menunjuk wajah Kyle dengan jari yang bergetar hebat. "Aku mendidikmu untuk menjadi pria terhormat, Kyle! Aku menyerahkan Adisurya Group padamu karena aku percaya kau bisa memimpin! Tapi apa yang kau lakukan, hah?! Kau malah menjadi bangsat penjahat kelamin yang mengkhianati istri sebaik Arabella!"​Kyle meringis kesakitan, menyapu sudut bibirnya dengan punggung tangan seraya berjuang untuk bangkit berdiri. Kemeja puti

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Amarah Ayah Mertua

    ​“Mama? Mama sama papa ada di rumah kan? Ara mau mampir sebentar ingin membicarakan sesuatu yang penting. Ini soal Ara dan Kyle.”Arabella langsung mematikan ponselnya dan melihat ke depan dengan tatapan tajam. Kali ini dirinya sudah tidak takut lagi. Hatinya penuh tekad untuk mengakhiri hubungan yang sudah memuakkan ini.Mobil taksi yang ditumpangi Arabella berhenti tepat di depan gerbang besi menjulang tinggi milik kediaman utama keluarga Adisurya. Setelah membayar ongkos perjalanan, Arabella melangkah turun. Halaman luas dengan pancuran air di tengahnya terasa begitu dingin, menyambut kedatangannya yang membawa badai besar bagi keluarga konglomerat tersebut.​Seorang pelayan senior yang mengenali Arabella langsung menyambutnya di depan pintu utama dengan senyum hangat. "Selamat siang, Nona Arabella. Tuan Besar dan Nyonya Besar sudah menunggu di ruang keluarga."​Arabella mengangguk pelan. Dengan memeluk amplop coklat tebal di dadanya, ia melangkah masuk membelah lorong mewah berhi

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Kemarahan Kyle Adisurya

    “Surat ketiga sudah berada di tangan pengacaraku. Sampai jumpa di sidang perdana kita.”Setelah itu Arabella berjalan dengan langkah tegas, membuka pintu yang di baliknya sudah banyak sekali orang. Namun Arabella tidak peduli, ia membanting pintu di belakangnya lalu pergi.Suara pintu tertutup keras bergema di seluruh penjuru ruangan, menyisakan keheningan yang mencekam setelah kepergian Arabella. Serpihan kertas putih dari berkas gugatan perceraian yang telah dicabik-cabik Kyle masih melayang pelan di udara sebelum akhirnya mendarat berantakan di atas karpet tebal.​Kyle berdiri mematung di balik meja kerjanya. Dada pria itu naik turun memburu, menahan amarah yang membakar dan kebingungan masif yang mulai merayapi benaknya. Tatapannya tertuju kosong pada pintu yang kini tertutup rapat, seolah masih tidak percaya bahwa Arabella, wanita yang selama bertahun-tahun selalu bersikap penurut dan mengagungkannya baru saja mengibarkan bendera perang secara terbuka di hadapan publik.​Vaness

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status