ログインAku tiba di Clairmont pukul tujuh lewat dua puluh lima. Lima menit lebih awal. Ketepatan waktu penting dalam situasi bisnis. Ini bukan kencan, melainkan pertemuan. Ini adalah pertemuan profesional murni untuk membahas strategi perusahaan dengan para investor Eldranic.Aku memilih gaun biru tua yang menutup semua bagian yang memang harus tertutup. Sepatu hak sedang untuk menjaga kesan formal tanpa terlihat seperti berusaha mengesankan siapa pun. Blazer yang benar-benar memberi kesan bisnis. Rambut disanggul rapi. Riasan minimal. Postur tegak.Aku seorang profesional. Spesialis pengembangan pasar. Tidak lebih, tidak kurang.Kepala pelayan mengantarku ke meja reservasi di area restoran yang lebih tenang. Nathaniel belum datang, memberiku waktu untuk meninjau kembali secara mental poin-poin penting tentang lini Vintara dan perilaku konsumen Verdania.Tepat pukul tujuh tiga puluh, aku melihatnya berjalan ke arahku. Setelan jas yang sempurna. Senyum yang … terlalu menarik itu … yang sama sek
Aku berhasil membuat diriku sibuk selama beberapa jam, pura-pura meninjau laporan dan membalas email. Tapi pikiranku melayang jauh. Setiap kali seseorang lewat di depan mejaku, perutku langsung terasa terpelintir oleh rasa tidak nyaman, dan seperti mereka melihatku dengan aneh.Lalu aku sadar itu bukan perasaan berlebihan. Mereka memang benar-benar melakukannya.Aku mulai memperhatikan bisikan-bisikan yang langsung berhenti begitu aku lewat. Tatapan sekilas dari samping, diikuti percakapan pelan. Margaret, sekretaris Nathaniel, menyapaku dengan senyum yang terasa sangat dipaksakan. James dari bagian keuangan menatapku dari atas ke bawah dengan cara yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.Saat Aurelia akhirnya kembali dari makan siang pukul dua lewat tiga puluh, dia langsung menuju mejaku dengan ekspresi di antara khawatir dan sangat ingin tahu."Oke," katanya sambil menarik kursi di sampingku. "Kenapa seluruh kantor heboh tentang gadis dari Verdania yang katanya sedang memberikan .…"
Keheningan itu terasa memanjang selama beberapa detik yang menyiksa. Aku masih berlutut di lantai lift, tanganku di paha Nathaniel, dan benar-benar membeku. Dia berdiri tanpa kemeja di atasku dengan napasnya yang tidak rata. Wanita pirang itu menatap kami dengan campuran kaget dan marah."A … aku bisa jelaskan," kataku buru-buru dan berusaha berdiri cepat, tapi kakiku seolah lupa cara bekerja.Nathaniel mengulurkan tangan dan membantuku berdiri. Dia kembali mengenakan kemejanya yang basah dengan gerakan cepat dan rapi."Tidak ada yang perlu dijelaskan," katanya. Suaranya kembali stabil. Terkendali. Tapi ada ketegangan di bahunya yang sebelumnya tidak ada.Wanita pirang itu melangkah masuk, dan senyum pelan yang terkesan terhibur terlukis di bibir merahnya."Wah, wah," katanya sambil memandangku lalu ke Nathaniel. "Sepertinya kamu menemukan mainan baru, Nate."Kata mainan itu terasa seperti tamparan."Alexandra," kata Nathaniel. Nada suaranya membawa peringatan halus. "Ini Anna Kusuma,
Aku terlambat pada hari Jumat pukul delapan tiga puluh pagi. Tentu saja begitu. Di hari makan malam dengan para investor Eldranic, alarmku malah memutuskan tidak berbunyi. Air mandiku butuh waktu seperti seabad untuk panas. Dan sekarang aku berlari di lorong Grup Mahendra seperti hidupku bergantung padanya.Sambil menyeimbangkan tas, map penuh dokumen Vintara, dan kopi besar dari toko di sudut, aku bergegas menuju lift. Salah satunya sudah hampir tertutup."Tunggu, tolong!" teriakku sambil mempercepat langkah.Sebuah tangan menyelip di antara pintu, dan menghentikannya tepat waktu. Dalam hati aku berterima kasih pada siapa pun yang sudah menyelamatkanku dari menunggu lima menit lagi."Terima kasih, kamu benar-benar .…" ucapku saat masuk tanpa melihat.Nathaniel bersandar di dinding belakang. Sempurna dalam setelan jas biru tua. Menatapku dengan senyum yang sekarang sudah terlalu kukenal.Sial."Selamat pagi, Anna," katanya sambil menekan tombol penutup pintu. "Tidak jadi masuk?"Aku me
Sudut Pandang Anna.Telepon dari Margaret masuk pada Selasa pagi saat aku sedang meninjau laporan penjualan bersama Aurelia."Anna?" Suaranya terdengar formal dan cepat. "Tuan Nathaniel ingin kamu menemaninya untuk makan malam dengan investor Eldranic pada hari Jumat. Dia merasa pengetahuanmu tentang pasar Verdania akan sangat berguna untuk diskusi."Perutku langsung seperti jungkir balik."Tentu," jawabku berusaha terdengar profesional. "Jam berapa?""Pukul delapan, di Clairmont. Saya akan kirim rinciannya lewat email. Terima kasih."Saat aku menutup telepon, Aurelia sudah menatapku dengan senyum penuh arti."Makan malam kerja?" tanyanya, tapi nadanya jelas menunjukkan dia curiga ada hal lain."Itu kerja, Aurelia. Investor Eldranic.""Ya, tentu saja," katanya sambil tertawa. "Makanya wajahmu langsung merah begitu dengar itu."Aku mencoba fokus pada angka di layar, tapi sia-sia. Makan malam dengan Nathaniel. Di luar kantor. Bahkan kalau itu murni kerja, bahkan kalau akan ada orang lain
Sudut Pandang Nathaniel.Begitu pintu tertutup di belakang Anna, untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai aku membiarkan diriku tersenyum. Sial, wanita itu benar-benar membuatku kehilangan kendali.Aku menjatuhkan diri ke kursi dan mengusap wajahku dengan kedua tangan, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Sudah dua bulan penuh sejak penerbangan ke Londoria itu, dan aku masih belum berhasil mengeluarkan Anna dari pikiranku, bahkan satu hari pun.Dan itu bukan cuma soal hubungan intim. Meski, ya Tuhan, itu … menengangkan dengan cara yang sama sekali tidak pernah kuduga. Tapi lebih dari itu, semuanya tentang dia. Cara dia mencengkeramku saat turbulensi, ketakutan tapi tetap berani di saat yang sama. Cara percakapan kami mengalir begitu alami. Cara matanya berbinar saat dia membicarakan tujuan kariernya.Tapi yang paling membekas, adalah fakta bahwa dia menolakku.Nathaniel Pradana, Direktur Operasional Grup Mahendra Londoria, pria yang tidak pernah kesulitan menarik perhatian wan
Aku terbangun ketika sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai yang setengah terbuka, kepalaku masih terasa berat akibat anggur semalam. Butuh beberapa detik bagiku untuk benar-benar sadar di mana aku berada dan yang lebih penting lagi adalah bersama siapa aku terbangun.Adriel masih tertid
Perayaan pernikahan berlangsung hingga malam, saat gelas-gelas sampanye terakhir habis dan para tamu mulai berpamitan. Kakiku pegal karena memakai sepatu hak tinggi berjam-jam, dan pipiku sakit karena tersenyum untuk foto yang tak ada habisnya."Sepertinya kita berhasil melewatinya," ujar Adriel saa
"Aku akan membunuh perempuan itu. Demi Tuhan, aku akan membunuhnya," seru Anna begitu menerobos masuk ke ruangan, membanting pintu di belakangnya. "Beraninya dia!"Aku duduk di tepi ranjang, dan menatap gaun yang hancur dengan perasaan putus asa. Noda anggur merah sudah menyebar di bagian dada hingg
Jet pribadi Keluarga Mahendra mendarat mulus di bandara internasional Virelia. Dari jendela, aku menatap matahari pagi Valentia yang memancarkan cahaya keemasan ke seluruh kota, kota yang selama ini hanya kulihat di majalah mode. Getaran antusias menjalar di punggungku, meski tubuhku masih lelah set







