LOGINSudut pandang Nathaniel.Aku pulang jam enam sore, dua jam lebih cepat dari biasanya, pikiranku terus bergejolak sejak melihat foto Anna pagi tadi. Sepanjang hari di kantor rasanya seperti penyiksaan. Setiap kali aku berkedip, yang muncul selalu lekuk tubuh itu, cara cahaya pagi membelai kulitnya, dan ajakan tanpa kata-kata dalam gambar itu yang membuatku sama sekali tidak bisa fokus pada apa pun.Aku meletakkan tas kerja di dekat pintu dan melonggarkan dasiku, merasa seolah itu mencekikku. Foto itu terus membakar di belakang pikiranku, setiap lekuk tubuhnya terukir dengan jelas sampai membuat seluruh tubuhku menegang. Seolah dia tahu persis bagaimana cara membuatku tak berdaya, bahkan dari jarak jauh.Aku langsung menuju kamar mandi dan menyalakan air dingin. Air dingin yang menghantam kulit membuatku tersentak, tapi justru itu yang kubutuhkan. Aku mencoba membiarkan dinginnya air menghapus panas yang mengikuti sepanjang hari, dan mencoba menenangkan diri cukup untuk bisa berpikir jer
Sudut pandang Nathaniel.Ponselku bergetar di atas meja, memotong fokusku yang sedang meninjau laporan bulanan. Notifikasi dari aplikasi menyala di layar, dan jantungku langsung berdetak lebih cepat saat melihat itu pesan dari Anna.Aku membukanya tanpa ragu.[Bahkan di hari-hari saat aku tidak ingin bangun dari tempat tidur … aku tetap melakukannya. Ngomong-ngomong soal tempat tidur … punyaku tadi pagi benar-benar nyaman, gimana dengan punyamu …?]Ada foto yang terlampir.Aku hampir menjatuhkan ponselku saat gambar itu akhirnya terbuka.Anna sedang berbaring miring di tempat tidur, diambil dari sudut yang hanya menampilkan tubuhnya, lekuk tubuhnya terlihat sempurna, disorot oleh pakaian dalam hitam yang kontras dengan kulitnya. Cahaya pagi yang lembut masuk dari jendela, menciptakan bayangan yang membuat semuanya terasa semakin intim, dan semakin menggoda. Wajahnya tidak terlihat, tapi justru itu membuat foto tersebut terasa lebih sensual, dan lebih misterius.Mataku mengikuti setiap
Aku sampai di restoran lima belas menit lebih awal sebelum pertemuanku dengan Aurelia, lalu memilih meja tenang di sudut, dan jauh dari jendela yang menghadap ke jalan ramai. Tempat ini sempurna untuk yang kubutuhkan dan cukup nyaman untuk percakapan pribadi, tapi juga cukup ramai sehingga tidak ada yang akan memperhatikan dua wanita yang sedang makan siang.Aku memesan kopi dan mencoba merapikan pikiran yang sudah menggangguku sejak malam sebelumnya. Diberhentikan sementara, tawaran Rivan, Nate yang tiba-tiba muncul dengan bunga aneh itu, dan pesan Wanderer yang semakin dalam … semuanya terasa seperti satu simpul yang mustahil diurai, seolah hidupku berubah jadi sinetron yang terlalu dramatis.Aurelia datang tepat waktu dan seperti biasa membawa energi positif yang biasanya menular padaku. Hari ini dia terlihat elegan dengan blazer biru tua yang kontras sempurna dengan rambutnya, dan membawa map kulit yang jelas menunjukkan jadwalnya padat sore ini."Maaf kalau aku kelihatan buru-buru
Sudut Pandang Anna.Aku berjalan kembali ke dalam apartemen tanpa berkata apa-apa, dan masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi di lorong tadi. Bayangan Nate yang berjalan menjauh terus melekat di pikiranku, bahunya yang tegang, langkahnya yang terkendali, dan cara dia menatapku di detik-detik terakhir sebelum berbelok di ujung koridor.Aku langsung menuju dapur, dan mengambil vas kaca dari lemari, lalu mengisinya dengan air. Buket mawar merah itu terasa berat di tanganku. Memotong batangnya dan menata kelopaknya justru seolah memperbesar kekacauan pertanyaan yang berputar di kepalaku. Kenapa Nate memilih bunga itu? Kenapa rasanya begitu familiar begitu aku melihatnya? Dan kenapa, demi Tuhan, kehadirannya di rumahku bisa mengguncangku seperti ini?"Mawar merah jelas bukan arti simbolis yang cocok untuk mewakili tim." Suara Rivan terdengar penuh dengan sindiran.Aku tidak menoleh. Aku terus sibuk dengan mawar-mawar itu, dan memberinya perhatian lebih dari yang seharusnya."Ter
Sudut pandang Nathaniel.Untuk sesaat, aku hanya menatap Anna yang berdiri di ambang pintu dengan rambutnya sedikit berantakan, dan ekspresinya membeku dalam keterkejutan. Tapi pandanganku segera bergeser melewatinya, masuk ke dalam apartemen … ke dia.Rivan.Duduk santai di sofa Anna seolah itu miliknya. Bersandar dengan postur santai yang arogan, seakan ingin menunjukkan kendali. Satu tangan disampirkan di sandaran sofa, kaki sedikit terbuka seolah ingin menegaskan keberadaannya di sana dan senyum tipis terlukis di bibirnya.Seluruh sikapnya seolah memancarkan rasa memiliki atas ruangan itu, atas momen ini, dan bahkan mungkin atas Anna.Udara langsung berubah tebal, berat, dan tajam. Tanpa menunggu izin, tapi juga tanpa bertanya, aku melangkah masuk dengan gerakan yang terkontrol dan sengaja, lalu menutup pintu di belakangku. Bunyi kliknya menggema seperti deklarasi perang."Ngapain kamu kemari?" tanyaku balik sembari menjaga suaraku tetap rendah tapi tegas.Senyum Rivan melebar, jel
Sudut pandang Nathaniel.Kata-kata Adriel masih bergema di kepalaku saat aku berjalan keluar dari gedung Grup Mahendra. Lalu apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan? Kenapa kamu masih belum mengejarnya?Dia benar. Sementara aku duduk di sana tenggelam dalam obsesi terhadap protokol perusahaan dan kekhawatiran tentang dampak profesional, Anna sendirian menghadapi situasi yang dirancang Alexandra dengan kekejaman yang sangat terencana. Kalau aku benar-benar peduli padanya, di mana saat ini aku sudah peduli jauh lebih dari yang mau kuakui, aku seharusnya sudah pergi menemuinya sejak beberapa jam lalu.Lalu lintas Londoria sangat padat, tapi itu memberiku waktu untuk memikirkan apa yang akan kukatakan saat sampai di apartemennya nanti. Bagaimana aku menjelaskan bahwa aku gagal melindunginya di rapat dewan itu? Bagaimana aku meminta maaf karena menjadi orang yang terpaksa menyampaikan kabar terburuk padanya? Bagaimana aku menunjukkan padanya bahwa dia lebih penting bagiku daripada aturan pe
Aku sedang berusaha menenangkan diri di beranda ketika kulihat sosok yang familiar mendekat. Suara Lydia terdengar lebih dulu sebelum aku sempat melihatnya."Wah, Vivian, pertunjukan yang memalukan sekali," katanya, muncul dari bayangan seperti hantu yang tidak diundang. "Merusak sebotol Brunello 19
Saat kami berjalan kembali ke festival, keheningan yang nyaman menyelimuti kami. Pengungkapan tentang masa lalu Adriel dengan Lydia masih membebani pikiranku, tapi entah bagaimana, aku merasa dia benar-benar terbuka padaku, dan memperlihatkan kerentanan yang jarang dia tunjukkan pada siapa pun.Alun
Bulan menebarkan cahaya peraknya di atas kebun anggur saat Adriel menarikku ke pelukannya dengan desakan yang sama seperti hasratku sendiri. Tidak ada kata-kata, hanya suara napas kami yang terengah-engah saat dia perlahan menurunkanku di antara barisan pohon anggur yang kini seolah menyandang namak
Aku terbangun oleh hangatnya sinar matahari Eldoria yang menyentuh wajahku, kontras tajam dengan hembusan angin pagi yang sejuk. Sesaat aku tetap menutup mata sambil menikmati ketenangan yang membungkusku. Tubuh Adriel menempel di tubuhku, dan kehangatannya menjadi perisai yang menenangkan dari duni







