LOGIN
Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ayu duduk di ruang tamu yang hening. Di seberang meja, layar laptop menyala, memancarkan wajah Rangga dengan senyuman khasnya yang hangat. Saat ini, Rangga tengah berada di Perth untuk menjalankan tugas perusahaan memimpin proyek luar negeri. Di sana, waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Enam bulan sudah sejak kepergian Rangga ke Australia, yang membuat mereka terpisah jarak ribuan kilometer.
"Gimana harimu tadi, Sayang? Aku lihat foto steak yang kamu kirim. Enak, ya?" tanya Ayu sambil menyeruput teh hijau melati hangat favoritnya. Rangga tertawa. "Lumayan sih, tapi rendang daging buatanmu tetap juara, Sayang. Di sini semua serba keju, aku bosan." Mereka mengobrol ringan tentang urusan kantor, hal-hal yang terjadi seharian, dan janji kapan Rangga bisa pulang. Tapi, di balik obrolan itu, ada ketegangan yang tidak asing. Selama enam bulan ini, sesi video call adalah ritual bagi mereka. Bukan hanya untuk saling bertukar kabar, tetapi juga untuk pelepas rindu dan hasrat. Hasrat keintiman yang kini terpisah jarak dan waktu. Rangga menatap lurus ke Ayu. "Ay, kamu malam ini pakai baju apa?" Suaranya merendah. Ayu tersenyum tipis seolah tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Baju tidur, Sayang. Kenapa?" "Baju tidur yang gimana? ehem Bukan yang itu kan?" Rangga menarik napas. "Aku kangen banget, Ay." Ayu mengangguk sambil tersenyum. "Aku juga, Sayang. Malam ini... Sayang mau?" "Tentu," jawab Rangga cepat, dengan mata yang berbinar-binar penuh gairah. Rangga memindahkan laptopnya ke meja di samping tempat tidur. Pencahayaan di kamarnya kini hanya berasal dari lampu meja yang redup, membuat otot-otot di bahunya terlihat samar namun menarik. Ayu bangkit dari sofa dan berjalan ke kamar tidurnya. Ia duduk di pinggir kasur, tepat di depan laptop. Ia mengenakan kemeja longgar Rangga dan celana pendek. Perlahan, Ayu mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, tanpa terburu-buru, sambil menikmati sensasi kemeja itu melonggar. Ketika kancing terakhir terbuka, ia menahan diri sejenak, membiarkan Rangga menikmati pemandangan di layar. Wajah Rangga memerah. Ada yang menonjol dari balik celana boksernya. "Ya Tuhan, kamu cantik banget," bisiknya dengan suara serak. Rangga meraih selimutnya di samping, lalu meremasnya dengan frustrasi. Ayu tersenyum. Ia menanggalkan kemeja itu sepenuhnya, menampakkan bra renda hitam yang membungkus dada penuhnya. Rangga memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi, tatapannya kini tidak lepas dari Ayu. "Ay, aku mau kamu buka semuanya, Sayang," kata Rangga. Ayu menurut. Ia berdiri, dan celana pendeknya meluncur ke lantai. Ia hanya menyisakan bra dan celana dalam renda. Pantat yang padat dengan lekuk tubuh sempurna itu langsung terpampang jelas di layar. Di layar, Rangga menarik napas dalam. Wajahnya dipenuhi gairah. Ia dengan cepat menanggalkan kaus yang dikenakannya, memperlihatkan dada bidangnya yang atletis. Hanya menyisakan bokser hitam yang semakin sesak seolah ada yang meronta-ronta ingin keluar. "Aku suka bra itu," ujar Rangga, nadanya pelan dan menggetarkan. "Tapi aku lebih suka lihat kamu tanpa apa-apa." Ayu tersenyum. Ia menanggalkan bra dan celana dalamnya, membiarkan tubuhnya sepenuhnya telanjang di depan kamera. Ia berbaring perlahan di atas bantal, menghadap ke layar. Ayu mulai memejamkan mata. Tangannya bergerak menyentuh pinggulnya sendiri, kemudian naik ke atas, dan turun ke paha. Tangannya bergerak menyentuh bagian sensitif di antara pahanya. Ia mulai menikmati sentuhan itu. Ia membayangkan Rangga yang menyentuhnya. Desahan kecil lolos dari bibirnya. Di layar, Rangga sudah tak terlihat. Kamera hanya menangkap bagian lehernya, tapi suara napasnya yang berat dan erangan-erangan tertahan menjadi petunjuk bahwa ia sedang berada dalam momen yang sama. Suara itu, ditambah gerakannya sendiri, membawa Ayu ke puncak. Ayu meningkatkan ritme sentuhannya, erangan panjang tak bisa lagi ia tahan. Tubuhnya melengkung, mencapai titik pelepasan. Bersamaan dengan itu, terdengar desahan keras dari Rangga. Keduanya kembali di layar, terengah, rambut sedikit berantakan, tetapi dengan senyum puas. "Sial, itu luar biasa," kata Rangga, mengatur napasnya. "Aku kangen sentuhanmu, Sayang." "Aku juga, Sayang. Cepat pulang, please!" jawab Ayu dengan sedikit merengek. "Iya, Sayang, pasti pulang kok untuk kamu," jawab Rangga dengan senyum hangatnya. "Terima kasih ya, Ay, untuk malam ini. Di sana juga udah larut malam banget, udahan dulu ya video call-nya, kamu harus istirahat." "Sayaaaang, masih kangen!" kata Ayu semakin merengek. "Iya, besok lagi, ya! Aku matikan, ya!" jawab Rangga dengan nada bijak. "Yaaang, tu..." Belum habis Ayu menjawab. Tiba-tiba, ponsel Ayu berdering. Notifikasi W******p masuk dari nomor tak dikenal. Ayu meraih ponselnya dengan sedikit kesal karena gangguan itu. Ia membaca pesannya: +62 812 XXXX XXXX: Kamu cantik malam ini, Ayu. Jangan matikan panggilannya... aku sedang menikmati. Tubuh Ayu langsung kaku. Darahnya terasa membeku. Rasa gairah yang baru saja mereda langsung digantikan oleh ketakutan yang dingin. "Ay? Kamu kenapa?" Suara Rangga terdengar cemas. Ayu tidak menjawab. Matanya terpaku pada pesan itu. Rasa takut yang sedingin es tiba-tiba menyelimuti, menggantikan gairah yang membara. Ia baru menyadari, ada sepasang mata lain yang mengintip momen rahasia mereka.Ayu menahan napas saat tangan Daniel menyapu punggungnya, membebaskan sisa ikatan bikini yang ia kenakan. Kain hitam itu merosot jatuh ke atas karang, membiarkan bagian atas tubuh Ayu sepenuhnya terbuka.Daniel menatap lekat-lekat wanita di depannya. Matanya menggelap, memancarkan rasa lapar yang tak lagi disembunyikan."Cantik," bisik Daniel serak. Tangannya turun, meremas pelan pinggang Ayu yang bertumpu pada batu karang setinggi pinggang tersebut.Ayu menggigit bibir bawahnya, menatap Daniel dengan napas memburu. "Tunggu apa lagi, Niel? Lakuin aja."Daniel tersenyum miring. "Jangan buru-buru, Yu. Kita nikmati pelan-pelan."Bukannya langsung menyatukan tubuh mereka, Daniel justru merunduk. Ia menempelkan bibirnya di leher Ayu, memberikan hisapan pelan di sana, lalu lidahnya mulai bergerak turun. Ia menyapu dada Ayu, merayap ke perut ratanya yang berkeringat, hingga akhirnya turun ke area kewanitaan Ayu yang sudah terekspos tanpa penghalang."Ahhh... Niel..." Ayu tersentak kaget. Tan
Ayu perlahan mundur, menarik diri dari celah batu sebelum pasangan itu sadar. Daniel membimbingnya menjauh, kembali ke balik batu karang besar tempat mereka bersembunyi di awal.Ayu menyandarkan punggungnya ke dinding karang yang kasar dan hangat. Kakinya terasa lemas. Wajahnya merah padam, sementara keringat dingin membasahi pelipisnya. Daniel berdiri di hadapannya, mengurung Ayu dengan kedua lengan yang bertumpu pada karang. Mata Daniel gelap, penuh intensitas yang membaca setiap inci bahasa tubuh Ayu."Kenapa tadi tidak mau pergi?" tanya Daniel. Nadanya menginterogasi, namun lembut.Ayu menunduk, menghindari tatapan Daniel. "Aku... aku cuma kaget. Aku penasaran.""Penasaran atau ingin?" tembak Daniel langsung.Ayu mengangkat wajahnya, menatap Daniel dengan tatapan menantang yang rapuh. "Kalau aku bilang ingin, kamu mau apa?"Daniel tersenyum miring. Ia mengusap pipi Ayu dengan ibu jarinya yang kasar. "Rina," kata Daniel tiba-tiba.Ayu mengerutkan kening. "Apa?""Kamu tadi sebut nam
Posisi mereka begitu intim. Si wanita melingkarkan kakinya di pinggang pria itu, punggungnya melengkung ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang sedang diciumi dengan rakus. Tangan si pria meremas pinggul wanita itu dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putihnya.Ayu tidak bisa memalingkan wajahnya.Tiba-tiba, sebuah ingatan menyeruak di kepala Ayu. Kejadian beberapa bulan lalu yang ia kubur dalam-dalam.Di kantor, tepatnya Ruang Rapat Utama yang terletak di ujung lorong sepi di lantai itu. Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB, dan sebagian besar karyawan sudah pulang. Koridor hening.Ayu mendorong pintu kaca Ruang Rapat Utama perlahan. Ruangan itu tampak gelap dan kosong. Ia melangkah masuk menuju meja utama dan menemukan kandar kilas (flash disk) peraknya masih tertancap di port proyektor.Tepat saat tangannya meraih benda itu, Ayu mendengar suara samar-samar yang datang dari Ruang Rapat Cadangan, sebuah ruangan kecil yang terhubung langsung dengan ruangan utama m
"Hei, kenapa? Abaikan saja, Yu. Namanya juga tempat umum, banyak orang bicara sembarangan," bujuk Daniel lembut."Gimana bisa aku abaikan, Niel? Telingaku panas." Ayu menyibakkan rambutnya dengan kasar. Napasnya mulai tidak teratur. "Rasanya aku dikejar-kejar hantu perempuan itu ke mana pun aku pergi. Semua orang membicarakan dia. Muak aku.""Sabar, Yu. Jangan emosi dulu. Ingat, kita di sini untuk senang-senang." Daniel mencoba meraih tangan Ayu, tetapi wanita itu menariknya menjauh."Gampang kamu bicara sabar. Kamu tidak merasakan jadi istri yang suaminya sedang jadi bahan omongan orang karena perempuan itu." Ayu membuang muka ke arah laut, kakinya mengetuk-ngetuk pasir dengan gelisah.Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa nampan berisi dua butir kelapa muda utuh yang segar."Permisi, ini kelapa mudanya, Kak," sapa pelayan itu ramah sembari meletakkan pesanan di meja kecil di antara mereka.Daniel mengangguk singkat pada pelayan itu. "Makasih, Mas."Setelah pelayan pergi,
Matahari Bali bersinar terik tepat di atas kepala. Langit biru bersih tanpa awan membentang luas, menyatu dengan garis cakrawala laut yang berkilauan. Deburan ombak terdengar ritmis, memecah kesunyian di antara langkah kaki dua orang manusia yang sedang berjalan menyusuri pasir putih.Ayu berjalan sedikit di depan. Ia mengenakan bikini two-pieces berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulit putihnya. Sebuah kain sarung tipis bermotif bunga transparan melilit pinggangnya, menutupi sebagian kecil paha, namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang jenjang setiap kali angin laut berembus. Kacamata hitam besar bertengger di hidungnya, menyembunyikan mata yang mungkin masih menyimpan sisa kelelahan—atau kepuasan.Daniel berjalan santai di sampingnya. Ia hanya mengenakan celana pendek kargo berwarna krem dan kemeja linen putih yang kancingnya dibiarkan terbuka sepenuhnya, memperlihatkan dada bidang yang baru saja dikagumi Ayu beberapa jam lalu."Panas sekali hari ini," keluh Ayu sambil m
"Kamu kenapa, Sayang? Kedengarannya nikmat banget," tanya Rangga, terdengar semakin terangsang mendengar desahan istrinya."Iya... aku... aku lagi sentuh diri aku sendiri, Mas," dusta Ayu dengan napas tersengal. Padahal, lidah Daniel kini sedang menari lincah di klitorisnya, memberikan sensasi kejutan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh."Sentuh yang lembut, Yu," pinta Rangga. "Bayangin itu jari aku. Bayangin tangan aku lagi elus paha kamu, terus naik ke atas..."Daniel seolah mengerti instruksi itu. Tangannya meremas paha Ayu dengan kuat, sementara mulutnya bekerja ekstra keras. Ia tidak hanya menjilat, tetapi mulai menghisap klitoris Ayu dengan bibirnya, menciptakan ruang hampa yang menyedot kenikmatan dari pusat saraf Ayu."Ahhh... Mas... iya... di situ..." rintih Ayu. Kepalanya mendongak, matanya terpejam. Tangan kirinya memegang ponsel erat-erat, sementara tangan kanannya menekan kepala Daniel, memintanya untuk lebih dalam."Enak, Sayang?""Enak banget... Eughhh... Mas...""Ak







