Masuk
"Gimana harimu tadi, Sayang? Aku lihat foto steak yang kamu kirim. Enak, ya?"
Ayu tersenyum menatap layar sambil menyeruput teh hijau melati hangat favoritnya. Di seberang meja, layar laptop menyala wajah Rangga, suaminya dengan senyuman khasnya yang hangat. Saat ini, suaminya yang tengah berada di seberang negeri tengah sibuk bekerja. Terhitung sudah enam bulan sejak suaminya ke Australia. Rangga tertawa. "Lumayan sih, tapi rendang daging buatanmu tetap juara, Sayang. Di sini semua serba keju, aku bosan." Mereka mengobrol ringan tentang urusan kantor, hal-hal yang terjadi seharian, dan janji kapan Rangga bisa pulang. Tapi, di balik obrolan itu, ada rindu. Selama enam bulan ini, bukan hanya untuk saling bertukar kabar, tetapi juga ada hasrat untuk melepas rindu dan hasrat. Rangga menatap lurus ke Ayu. "Ay, kamu malam ini pakai baju apa?" Suaranya merendah. Ayu tersenyum tipis seolah tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Baju tidur, Sayang. Kenapa?" "Baju tidur yang gimana? ehem Bukan yang itu kan?" Rangga menarik napas. "Aku kangen banget, Ay." Ayu mengangguk sambil tersenyum. "Aku juga, Sayang. Malam ini... Sayang mau?" "Tentu," jawab Rangga cepat, dengan mata yang berbinar-binar penuh gairah. Rangga memindahkan laptopnya ke meja di samping tempat tidur. Pencahayaan di kamarnya kini hanya berasal dari lampu meja yang redup, membuat otot-otot di bahunya terlihat samar namun menarik. Ayu bangkit dari sofa dan berjalan ke kamar tidurnya. Ia duduk di pinggir kasur, tepat di depan laptop. Ia mengenakan kemeja longgar Rangga dan celana pendek. Perlahan, Ayu mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, tanpa terburu-buru, sambil menikmati sensasi kemeja itu melonggar. Ketika kancing terakhir terbuka, ia menahan diri sejenak, membiarkan Rangga menikmati pemandangan di layar. Wajah Rangga memerah. Ada yang menonjol dari balik celana boksernya. "Kamu cantik," bisiknya dengan suara serak. Rangga meraih selimutnya di samping, lalu meremasnya dengan frustrasi. Ayu tersenyum. Ia menanggalkan kemeja itu sepenuhnya, menampakkan bra renda hitam yang membungkus dada penuhnya. Rangga memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi, tatapannya kini tidak lepas dari Ayu. "Ay, aku mau kamu buka semuanya, Sayang," kata Rangga. Ayu menurut. Ia berdiri, dan celana pendeknya meluncur ke lantai. Ia hanya menyisakan bra dan celana dalam renda. Pantat yang padat dengan lekuk tubuh sempurna itu langsung terpampang jelas di layar. Di layar, Rangga menarik napas dalam. Wajahnya dipenuhi gairah. Ia dengan cepat menanggalkan kaus yang dikenakannya, memperlihatkan dada bidangnya yang atletis. Hanya menyisakan bokser hitam yang semakin sesak seolah ada yang meronta-ronta ingin keluar. "Aku suka bra itu," ujar Rangga, nadanya pelan dan menggetarkan. "Tapi aku lebih suka lihat kamu tanpa apa-apa." Ayu tersenyum. Ia menanggalkan bra dan celana dalamnya, membiarkan tubuhnya sepenuhnya telanjang di depan kamera. Ia berbaring perlahan di atas bantal, menghadap ke layar. Ayu mulai memejamkan mata. Tangannya bergerak menyentuh pinggulnya sendiri, kemudian naik ke atas, dan turun ke paha. Tangannya bergerak menyentuh bagian sensitif di antara pahanya. Ia mulai menikmati sentuhan itu. Ia membayangkan Rangga yang menyentuhnya. Desahan kecil lolos dari bibirnya. Di layar, Rangga sudah tak terlihat. Kamera hanya menangkap bagian lehernya, tapi suara napasnya yang berat dan erangan-erangan tertahan menjadi petunjuk bahwa ia sedang berada dalam momen yang sama. Suara itu, ditambah gerakannya sendiri, membawa Ayu ke puncak. Ayu meningkatkan ritme sentuhannya, erangan panjang tak bisa lagi ia tahan. Tubuhnya melengkung, mencapai titik pelepasan. Bersamaan dengan itu, terdengar desahan keras dari Rangga. Keduanya kembali di layar, terengah, rambut sedikit berantakan, tetapi dengan senyum puas. "Sial, itu luar biasa," kata Rangga, mengatur napasnya. "Aku kangen sentuhanmu, Sayang." "Aku juga, Sayang. Cepat pulang, please!" jawab Ayu dengan sedikit merengek. "Iya, Sayang, pasti pulang kok untuk kamu," jawab Rangga dengan senyum hangatnya. "Terima kasih ya, Ay, untuk malam ini. Di sana juga udah larut malam banget, udahan dulu ya video call-nya, kamu harus istirahat." "Sayaaaang, masih kangen!" kata Ayu semakin merengek. "Iya, besok lagi, ya! Aku matikan, ya!" jawab Rangga dengan nada bijak. "Yaaang, tu..." Belum habis Ayu menjawab. Tiba-tiba, ponsel Ayu berdering. Notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal. Ayu meraih ponselnya dengan sedikit kesal karena gangguan itu. Ia membaca pesannya, “Kamu cantik malam ini, Ayu. Jangan matikan panggilannya... aku juga menikmati.” Tubuh Ayu langsung kaku. Darahnya terasa membeku. Rasa gairah yang baru saja mereda langsung digantikan oleh ketakutan yang dingin. "Ay? Kamu kenapa?" Suara Rangga terdengar cemas. Ayu tidak menjawab. Matanya terpaku pada pesan itu. Rasa takut yang sedingin es tiba-tiba menyelimuti, menggantikan gairah yang membara. Ia baru menyadari, ada sepasang mata lain yang mengintip momen rahasia mereka."Ayu, cukup!""Kenapa, Rose? Kita baru saja mulai."Ayu memiringkan kepalanya, menjilat perlahan garis rahang Roselyn yang halus. Roselyn terlonjak kaget. Sebuah lenguhan kecil yang tertahan meluncur dari tenggorokan wanita berblazer putih itu."Lihat?" desis Ayu di leher Roselyn. "Tubuhmu merespons. Kamu bilang parfum itu aromaterapi penambah gairah, kan? Sepertinya aromanya juga menempel padaku... dan sekarang bekerja padamu."Roselyn memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya naik turun dengan kencang. "Jangan... jangan lakukan ini ...""Kenapa?" tantang Ayu. "Bukannya ini yang kalian inginkan? Bukankah ini skenario yang kalian buat?"Ayu makin menekan cengkeramannya pada rahang Roselyn, memaksa wanita itu menatapnya kembali."Katakan padaku, Roselyn! Pria itu... siapa dia sebenarnya?" bentak Ayu pelan, namun penuh penekanan. "Apakah kamu mengenalnya?"Roselyn menatap mata Ayu yang membara. Di dalam mata itu, tidak ada lagi Ayu yang polos dan penurut. Yang ada hanyalah sosok wanita ya
Tubuh Ayu membeku. Detak jantungnya yang tadi serasa mau meledak oleh rasa bersalah, mendadak berhenti sejenak. Kata-kata Roselyn barusan tidak lagi terasa seperti kehangatan seorang pelindung, melainkan bagaikan bilah pisau es yang ditancapkan perlahan ke tengkuknya.Ayu menarik kepalanya perlahan, keluar dari dekapan hangat Roselyn. Isak tangis yang tadi membasahi gaun blazer wanita itu mendadak surut. Wajah Ayu yang sembap dan dipenuhi penyesalan kini perlahan berubah.Sorot matanya mendadak menajam."Apa maksudmu, Rose?" tanya Ayu dingin.Roselyn menyipitkan matanya sedikit. "Ayu, kamu—""Jawab aku," potong Ayu. "Apa maksudmu Mas Rangga sudah tahu dengan apa yang terjadi antara aku dengan pria itu?"Roselyn tidak langsung menjawab. Senyum tipis yang biasa bertengger di bibirnya tertahan di udara.Ayu maju satu senti lebih dekat."Dan bagaimana kamu bisa tahu?" desak Ayu."Ayu, tenanglah dulu...""Bagaimana kamu bisa tahu kalau telah terjadi sesuatu denganku bersama pria itu?" Ayu
Jeritan Ayu pecah seketika setelah gema pintu yang terbanting itu surut. Tubuhnya merosot di atas karpet ruang tamu. Kedua tangannya mengepal, memukul lantai dengan sisa tenaga, meratapi kehancuran rumah tangganya dalam hitungan menit."Puas kamu, Roselyn? Puas kamu menghancurkan hidupku, hah?" racau Ayu dengan suara serak. Air mata membasahi pipinya yang memerah. "Kamu iblis! Kamu yang bikin Mas Rangga emosi dan pergi! Apa salahku padamu, Rose? Kenapa kamu harus memprovokasi dia?"Roselyn yang berdiri di dekat sofa sama sekali tak membalas. Ia berdiri mematung, merapikan lengan blazer putihnya dengan tenang. Matanya menatap tajam ke arah Ayu yang menangis di lantai."Jawab aku!" teriak Ayu kian histeris. "Jangan cuma diam! Kamu sengaja, kan? Kamu memang berniat merusak pernikahanku dari awal!"Hening kembali mencengkeram apartemen mewah itu, hanya diselingi napas Ayu yang tersengal-sengal dan isak pilunya.Setelah membiarkan Ayu meluapkan emosinya, Roselyn melangkah anggun mendekat d
Deg!Darah di sekujur tubuh Ayu seolah berhenti mengalir detik itu juga. Jantungnya yang tadi berdetak liar karena amarah, kini seakan jatuh berdebum menghantam dasar perutnya. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak lemas tak bertulang.Ayu membeku. Mulutnya yang sedikit terbuka akibat berteriak tadi kini terkunci rapat, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.Dengan gerakan patah-patah bagaikan sebuah robot yang kehabisan daya baterai, Ayu memutar lehernya ke arah lorong kamar utama secara perlahan.Di sana, berdiri suaminya.Rangga baru saja keluar dari kamar, mengenakan kemeja santai berwarna navy yang kancing atasnya masih terbuka dan rambut yang sedikit basah. Pria itu berdiri mematung di ujung lorong, menatap lurus ke arah punggung Ayu dengan kening berkerut dalam dan tatapan mata yang memancarkan seribu satu kecurigaan."Mas... Mas Rangga ...," cicit Ayu dengan suara yang nyaris tak terdengar, wajahnya sepucat mayat.Tamat riwayatku, batin Ayu meratap dengan keputusasaan yang
"Kenapa kamu memandangiku seperti itu, Ayu?"Suara Roselyn yang biasanya ramah kini terasa sangat dingin dan datar, secara tiba-tiba memecah keheningan di ruang tamu tersebut. Wanita elegan berbalut blazer putih itu perlahan menurunkan majalah mode yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang tajam langsung mengunci tatapan Ayu yang masih berdiri mematung di dekat lorong."Ada yang aneh denganku?" tanya Roselyn lagi, sebelah alisnya terangkat.Ayu menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya yang baru saja sedikit tenang kini kembali berpacu liar. Tatapan mata Roselyn seolah bisa menembus tengkoraknya, menguliti setiap rahasia kotor yang baru saja ia sembunyikan rapat-rapat.Dia tahu, jerit batin Ayu dengan kepanikan yang mulai menguasai akal sehatnya. Tatapan matanya... senyum miringnya barusan... wanita ini pasti tahu sesuatu! Tidak mungkin dia asal menebak soal parfum cendana dan lavender itu! Itu terlalu spesifik!Alih-alih menjawab pertanyaan Roselyn atau memalingkan
Mati aku! Mati aku! jerit batin Ayu dengan kepanikan luar biasa. Itu wangi dari ruangan apartemen kosong tadi! Aroma cendana dan lavender itu menguar sangat kuat di dalam ruangan itu! Wanginya pasti menempel di gaunku karena aku berbaring di atas karpet dan duduk di kursi itu cukup lama! Bodoh! Bodohnya kamu, Ayu! Kenapa kamu bisa melupakan detail sepenting ini?!"Ayu?" panggil Rangga, membuyarkan lamunan panik istrinya. "Kok diam? Kamu ganti parfum tidak bilang-bilang Mas, ya?""A-aku... a-anu, Mas... i-itu ..."Ayu terbata-bata parah. Lidahnya kelu. Otaknya berputar keras mencari sejuta alasan, tetapi tidak ada satu pun kebohongan yang masuk akal yang bisa ia rangkai dalam waktu sesingkat ini.Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan aroma asing yang sangat khas itu?Tepat ketika Ayu sudah bersiap membuka mulut untuk melontarkan kebohongan yang paling konyol, sebuah suara langkah kaki dan ketukan hak tinggi terdengar dari arah pintu masuk yang rupanya masih sedikit terbuka."Itu aku ya







