LOGINAyu merebahkan dirinya secara kasar, menjatuhkan tubuh lelahnya dengan posisi tengkurap di atas tempat tidur berukuran king size tersebut. Bantalnya seketika basah oleh air mata yang kembali menetes tanpa bisa ia bendung. Kelelahan fisik dan mental yang teramat sangat akhirnya menang, menuntun Ayu perlahan-lahan tenggelam ke dalam alam bawah sadarnya.Dalam lelapnya yang pekat, Ayu merasa tubuhnya seperti terapung di atas lautan yang hangat. Kesadarannya samar-samar berada di batas antara mimpi dan kenyataan.Tiba-tiba, ia merasakan ada sesosok tubuh hangat yang melangkah mendekati tempat tidurnya. Dalam keremangan memorinya, ia merasa ada sebuah selimut tebal dan lembut yang ditarik perlahan menutupi tubuh polosnya yang kedinginan oleh terpaan AC kamar.Ayu melenguh pelan. Tanpa ia sadari, tangannya secara refleks bergerak menarik selimut itu lebih tinggi, namun jemarinya tidak sengaja menyentuh pergelangan tangan seseorang yang sangat kokoh dan hangat.Seketika, suasana di sekitarny
Ayu mencengkeram kemudi mobilnya sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Pedal gas ia tekan sembilan puluh persen, membiarkan raungan mesin mobil membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Pandangannya samar, tertutup oleh lapisan air mata yang terus merebak tanpa bisa dihentikan.Pikirannya kalut. Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu menyesakkan, dipenuhi oleh gemuruh kemarahan yang membakar dada."Sialan kau, Daniel! Pengecut! Tega-teganya kamu memperlakukan aku seperti ini! Bajingan!" serapah Ayu berulang kali di dalam hatinya. Suara batinnya berteriak histeris, menyuarakan rasa sakit hati dan kehancuran harga dirinya yang diinjak-injak.Di tengah kecepatan mobil yang menggila, kenangan-kenangan masa lalunya bersama Daniel mendadak berputar kembali secara otomatis di dalam kepalanya. Momen manis saat pertama kali pria itu memperhatikannya, sikap lembutnya, hingga kenangan panas beberapa hari lalu di Bali. Bayangan saat ia menyerahkan seluruh kendali dirinya, melampaui ba
"Kakak tiri?" suara Ayu bergetar, nyaris berbisik. "Rangga itu... kakak tirimu, Niel?"Daniel mengangguk perlahan. Ia duduk bersandar di sofa abu-abu, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. "Iya. Ia kakak tiriku, Yu.""Tunggu, ini enggak masuk akal," Ayu melangkah mundur, menggelengkan kepala. "Lalu kenapa kalian merahasiakan ini semua dari aku?""Karena Rangga yang minta, Yu," jawab Daniel, menoleh menatap Ayu. "Ia enggak mau orang lain tahu siapa aku sebenarnya. Statusku... keluarga besar kami enggak pernah menganggap aku ada. Cuma Rangga yang peduli.""Tapi kenapa harus berbohong sampai sejauh ini, Niel? Aku ini istrinya!" suara Ayu mulai meninggi, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa rahasia sebesar ini disembunyikan dari aku?""Rangga mau melindungi nama baik keluarga, dan di sisi lain, ia juga mau melindungi aku," Daniel menghela napas panjang, mencoba meraih tangan Ayu namun Ayu menepisnya. "Selama ini Rangga yang banyak membantu hidupku. Ia membiayai
Berikut adalah hasil perbaikan tanda baca, huruf kapital, dan keselarasan dengan EYD (Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan) Edisi V:Ayu melirik dari balik bahunya, menatap Daniel dengan mata sayu yang penuh kabut gairah. Jemarinya yang ramping mencengkeram erat batang kejantanan Daniel, menempelkannya tepat di depan lubang belakangnya yang sudah berdenyut kencang."Yu... kamu serius?" tanya Daniel. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dengan cepat. "Kamu mau di situ? Tapi ini belum pakai pelumas...""Aku sudah sangat basah di bawah sana, Niel. Pakai sisa cairan yang tadi," bisik Ayu dengan suara serak. Ia membasahi jarinya sendiri, lalu mengusapkannya ke lubang belakangnya untuk memberi sedikit jalan. "Masukkan sekarang, Niel. Jangan banyak tanya.""Ahhh, sialan. Kamu benar-benar bikin aku gila hari ini," geram Daniel."Masuk, Niel. Hantam aku dari belakang," tuntut Ayu, suaranya naik satu oktav karena tidak sabar.Daniel memegang pinggul Ayu dengan kedua tangannya yang be
"Nieel, emmbh aaah..." rintih Ayu dengan suara yang tertahan di tenggorokan. Kedua matanya terpejam rapat saat merasakan kehangatan yang basah dan sangat intim mulai menyapu sensitivitas bagian bawahnya.Ayu meremas ujung sofa kulit abu-abu itu dengan sangat kencang hingga kuku-kukunya memutih. Untuk menikmati sensasi panas yang menjalar tersebut, Ayu mengangkat bokongnya lebih tinggi ke udara. Tangan kirinya bertumpu kuat menahan beban tubuhnya di atas sofa, sementara tangan kanannya bergerak ke belakang, memegang sebelah belahan bokongnya yang sintal dan menariknya lebar-lebar ke samping."Iya, Niel... ahh, kayak gitu... jilat terus, Niel, aaaah!" desah Ayu, tubuhnya gemetar menerima serangan lidah Daniel yang begitu lihai.Rasa rindu yang membakar membuat Ayu kehilangan seluruh urat malunya. Gairah liar yang dipicu dari permainan semalam bersama Rangga seolah menuntut kepuasan yang lebih ekstrem pagi ini."Sayang, uuuh... jilat sebelah sini juga," bisik Ayu dengan napas memburu. Ja
Di atas sofa abu-abu itu, posisi mereka kini berubah. Ayu bergerak merangkak naik dan duduk di atas pangkuan Daniel. Ia memimpin permainan, menaik-turunkan pinggulnya dengan ritme yang semakin cepat, membiarkan kejantanan Daniel menghujam bagian depannya dengan telak. Ruang tamu vila kuno itu kembali riuh oleh suara kulit yang beradu dan deru napas yang memburu."Uuuh, Ayu... kamu semakin liar, aah," ucap Daniel. Suaranya serak, kedua tangannya mencengkeram pinggul Ayu untuk mengimbangi gerakan liar wanita itu.Ayu memejamkan mata, kepalanya mendongak dengan rambut yang basah oleh keringat. "Kamu suka, kan, Niel... ahh... kalau aku di atas seperti ini?" ucap Ayu sambil terus memutar dan menggerakkan pinggulnya di atas batang kejantanan Daniel."Suka banget, Yu... terus, Niel... ahh..." jawab Daniel dengan napas yang semakin pendek.Ayu membawa kedua tangannya ke depan, menuntun tangan Daniel untuk naik ke atas tubuhnya. "Remas dadaku, Niel... ahh, aku rindu banget sama sentuhanmu," la
Daniel menahan napas saat tangan Ayu menyentuhnya. Pertahanannya goyah. Melihat wanita secantik Ayu, dengan wajah memerah pasca-orgasme dan tatapan memohon yang liar, adalah ujian terberat bagi laki-laki mana pun."Yu, dengerin aku," Daniel mencoba sekali lagi untuk menjadi suara logika, meski suar
Aroma teh herbal yang menenangkan memenuhi udara di ruang santai terbuka itu, namun bagi Ayu, atmosfer di sana mendadak terasa mencekam. Ia menyandarkan punggungnya di kursi rotan, memegangi cangkir hangat dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Di depannya, Daniel tampak begitu tenang, jemarinya
Kesadaran Ayu belum sepenuhnya kembali, namun tubuhnya seolah memiliki nyawanya sendiri. Di antara batas tidur dan terjaga, sebuah lenguhan panjang lolos dari bibirnya yang sedikit terbuka. Napasnya memberat, seirama dengan detak jantung yang memacu darah ke seluruh titik sensitif di tubuhnya.Piki
"Curang..." desah Ayu, bibirnya basah dan merah, bengkak karena ciuman dan aktivitas barusan. "Aku belum selesai bikin kamu nyerah.""Kamu bahaya, Yu," Daniel menatapnya tajam, napasnya memburu. "Kamu hampir bikin aku meledak dalam dua menit. Tapi aku mau keluar di dalam kamu. Aku mau kamu ngerasai







