/ Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 310: Malam Syukuran

공유

Bab 310: Malam Syukuran

작가: Ibrahiman
last update 게시일: 2026-08-03 16:38:43

​Matahari perlahan-lahan mulai terbenam di ufuk barat, meninggalkan bias warna jingga kemerahan yang memantul indah di atas megahnya bangunan "Kawasan Niaga Lopis Sakti Nusantara". Hiruk-pikuk pengunjung yang memadati pusat perniagaan sejak pagi berangsur-angsur mereda, menyisakan ketenangan malam yang hangat dan penuh rasa syukur. Ribuan porsi kue lupis dengan berbagai varian rasa ludes tak tersisa, mencatatkan rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah berdirinya usaha tersebut.

​Di pelatara
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 316: Tawa Lepas di Ujung Senja: Ketika Sedekah Jatuh pada Diri Sendiri

    ​Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala barat, meninggalkan sisa-sisa bias jingga yang memantul indah di atas atap-atap rumah desa. Suasana di pekarangan rumah Madun berangsur-angsur sepi setelah para tetangga, anak-anak yatim, dan warga fakir miskin berpamitan pulang dengan membawa senyuman serta paket sembako masing-masing.​Madun berdiri di teras rumahnya yang kini tampak lengang. Ia meregangkan otot-otot lengannya yang bidang setelah seharian sibuk mengangkat karung beras dan melayani warga. Di sampingnya, Sarah keluar dari dapur sambil membawa nampan kosong bekas jamuan makan siang tadi. Wajah wanita itu tampak lelah namun dipenuhi kepuasan batin yang luar biasa.​"Alhamdulillah, semua sembako dan makanan hari ini habis dibagikan dengan lancar. Warga kelihatan senang banget tadi, Mas," ucap Sarah penuh syukur sambil mendudukkan diri di kursi kayu panjang.​Madun mengangguk tersenyum, lalu melangkah masuk ke dalam rumah untuk merapikan meja dan memeriksa sisa-sisa logistik

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 315: Berbagi Berkah di Ujung Desa: Ketika Syukur Menjadi Nyata

    ​Matahari pagi menggantung di langit timur, memancarkan sinar keemasan yang menghangatkan atap-atap rumah berbilik bambu di sebuah desa kecil yang damai. Udara pagi terasa begitu segar, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang berpadu sempurna. Di pekarangan rumah petak sederhana milik Madun, suasana sudah tampak hidup dan dipenuhi oleh denyut kebersamaan yang tulus.​Madun berdiri tegar di dekat meja panjang beratribut bambu yang baru saja dirakit semalam. Mengenakan kaus oblong hitam polos yang memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidangnya, wajah tampannya dengan rahang tegas tampak memancarkan wibawa dan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada lagi sisa-sisa mimpi buruk tentang preman berjas hitam, kartel pangan, atau pusat perniagaan megah yang memicu ketegangan di dalam kepalanya. Yang ada di hadapannya sekarang adalah dunia nyata—dunia penuh kesederhanaan, namun kaya akan rasa syukur.​Setelah melewati malam yang panjang akibat mimpi absurd yang dipicu oleh perut k

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 314: Syukur dan Berkah di Pagi yang Sederhana

    ​Fajar menyingsing perlahan di ufuk timur, mengusir sisa-sisa pekat malam dan membawa serta udara pagi yang sejuk segar khas pedesaan. Di rumah petak berbilik bambu milik Madun, cahaya matahari keemasan menerobos celah-celah dinding kayu, menyinari ruangan sederhana yang malam tadi menjadi saksi bisu mimpi panjang yang begitu melelahkan.​Madun terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Rasa lapar yang sempat mencengkeram perutnya semalam kini seolah berganti dengan energi positif yang luar biasa. Ia duduk di tepi ranjang usang, meraba dadanya yang bidang dan menarik napas dalam-dalam. Tidak ada lagi debar jantung ketakutan karena kejaran preman berjas hitam, tidak ada lagi bayang-bayang pertumpahan darah di kawasan niaga yang megah. Yang ada di hadapannya sekarang adalah kenyataan yang tenang, damai, dan penuh kesempatan untuk memperbaiki hidup secara halal.​Di sampingnya, Sarah masih terlelap dalam posisi miring, mengenakan daster katun usang bermotif bunga kusam. Wajah istr

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 313: Terjaga dari Mimpi Panjang di Balik Aroma Sambal Terasi

    ​Pukul dua dini hari. Suara jangkrik bersahutan di luar jendela kamar yang reyot, berpadu dengan deru angin malam yang menembus celah-celah dinding kayu. Sebuah senter kecil di atas meja kusam berkedip-kedip lemah, hampir kehabisan daya. Di atas tempat tidur busa yang sudah tipis dan melengkung di bagian tengah, seorang pria bertubuh tegap terbangun dengan napas memburu kencang, keningnya basah oleh keringat dingin yang bercucuran.​Madun mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan kegelapan kamar yang sempit. Ia meraba-raba dadanya yang bidang, merasakan debar jantung yang masih bergemuruh hebat setelah pelarian menegangkan dari kejaran preman berjas hitam dan baku tembak di kawasan niaga megah.​Tidak ada dinding beton bertulang. Tidak ada lantai marmer mengkilap. Tidak ada pusat oleh-oleh "Lopis Sakti Nusantara" seluas dua hektar di jantung kota kecamatan. Yang ada di hadapannya hanyalah dinding bilik bambu yang mulai rapuh, bau lembap khas rumah

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 312 : Kepungan Malam

    ​Peringatan keras yang dilontarkan Madun kepada Haji Said ternyata dibalas dengan eskalasi teror yang jauh di luar perkiraan manusia. Hanya berselang dua hari setelah pertemuan menegangkan di teras utama, situasi di "Kawasan Niaga Lopis Sakti Nusantara" berubah drastis menjadi zona merah yang sangat mencekam. Ancaman sang kartel pangan bukan lagi sekadar gertakan di atas kertas; malam itu, teror maut datang menerjang tanpa ampun.​Pukul sepuluh malam, ketika kabut tebal turun menyelimuti jalanan utama kecamatan, suara deru puluhan sepeda motor berkecepatan tinggi memecah kesunyian malam. Gerombolan preman bayaran profesional berjumlah puluhan orang, mengenakan jaket serba hitam dan membawa senjata api laras pendek serta parang tajam, tiba-tiba mengepung seluruh area kawasan niaga secara serentak.​Sarah berdiri terpaku di ruang kerja lantai dua kantor utama, napasnya memburu kencang membuat blus krem pas badannya naik-turun dengan sangat cepat akibat hantaman kepanikan luar biasa. Rok

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 311: Badai Besar di Balik Kemegahan

    ​Malam syukuran yang penuh tawa dan kehangatan di "Kawasan Niaga Lopis Sakti Nusantara" ternyata menjadi malam terakhir kedamaian sebelum badai besar yang sesungguhnya menghantam hidup mereka. Tepat tiga hari setelah peresmian akbar yang sukses memecahkan rekor penjualan, sebuah ancaman yang jauh lebih berbahaya, terstruktur, dan mematikan mulai merayap dari balik bayang-bayang kota kabupaten.​Pagi itu, matahari baru saja naik sepenggalah, menyinari deretan ruko modern yang tampak lengang secara tidak wajar. Tidak ada antrean pembeli seperti biasanya di depan Kedai "Lopis Sakti". Udara pagi yang biasanya dipenuhi aroma harum gula aren murni kini mendadak terasa dingin dan mencekam.​Sarah berdiri di teras kantor utama kawasan niaga, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena hantaman debar jantung yang tidak biasa. Napasnya memburu cepat, matanya menatap tajam ke arah gerbang utama tempat beberapa mobil

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status