Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 61: Gempuran Batu Angker

Share

Bab 61: Gempuran Batu Angker

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-05-15 15:11:08
​"Mas Madun! Tunggu, jangan jalan cepat-cepat!" teriak Lala dari balik semak-semak. Lala sore itu memakai baju kaos ketat warna merah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat padat. Celana gemesnya yang super pendek menonjolkan paha mulusnya yang putih bening dan sangat kencang. Visual paha Lala yang mengkilap terkena cahaya senja benar-benar menggoda, namun ia nampak cemas melihat Madun yang seperti orang kesurupan menuju tepi Danau Setan.

​Madun tidak mendengar. Di matanya, di pinggir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 321: Janji di Balik Etalase

    ​Cahaya keemasan matahari pagi perlahan-lahan merayap menembus celah-celah genting warung kelontong Bu Lastri, membawa kehangatan yang mengusir sisa-sisa hawa dingin malam. Di dalam ruangan gudang belakang yang sempit, suasana masih terasa begitu tenang dan intim.​Rasti membuka matanya perlahan. Ia mengerjap-ngerjap menyesuaikan penglihatan, lalu tersenyum manis saat mendapati dirinya masih berada dalam dekapan erat lengan kokoh Madun. Pria berwajah tegas itu masih terlelap tenang, menampilkan garis rahang maskulin dan dada bidang yang naik-turun teratur seiring napasnya.​Mengingat kembali apa saja yang terjadi sepanjang malam tadi membuat pipi tembem Rasti merona merah muda. Perasaan bahagia, puas, dan rasa memiliki membuncah di dalam dadanya. Gadis belia itu merasa dunianya benar-benar telah berubah sejak ia resmi menyerahkan diri dan menjadi pacar rahasia sang jagoan desa.​Rasti bergerak sangat pelan agar tidak membangunkan Madun. Dengan jemari lentiknya, ia merapikan kaus oblon

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 320: Gelora Malam Kedua di Sudut Gudang Tersembunyi

    ​Suasana di dalam ruangan gudang belakang warung kelontong Bu Lastri kembali diselimuti oleh kepekatan malam yang sunyi. Setelah pengakuan jujur dan kesepakatan manis yang terjalin beberapa saat lalu, hawa di dalam ruangan sempit itu mendadak berubah menjadi semakin panas dan membara. Rasti, gadis remaja berwajah bening, cantik, dan imut, benar-benar menunjukkan sisi aslinya yang telah tersulut oleh candu kenikmatan yang diberikan oleh Madun.​Rasti merapatkan tubuh mungilnya yang sintal, menempel erat pada dada bidang Madun yang kokoh. Kaus oblong putih pas badan yang ia kenakan sudah sedikit berantakan, memperlihatkan lekuk tubuh mudanya yang merangsang di bawah temaram cahaya tipis yang menyusup dari celah dinding kayu. Kedua tangan lentiknya melingkar erat di leher Madun, menarik pria berwajah tegas itu untuk kembali mendekat.​"Om..." bisik Rasti manja, napasnya memburu hangat menerpa kulit leher Madun. "Jangan buru-buru keluar ya... Rasti masih pengen dimanja sama Om. Rasanya ma

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 319: Hipnotis Pesona Madun

    ​Suasana di dalam ruangan gudang belakang warung kelontong itu masih menyisakan hawa hangat yang pekat. Aroma keringat tipis bercampur wangi sabun mandi bayi dari tubuh Rasti menguar di udara sempit yang hanya diterangi oleh bias cahaya tipis dari celah pintu depan. Napas keduanya masih menderu perlahan, mencoba menetralisir degup jantung yang sempat menggila beberapa saat lalu.​Rasti berbaring lemas di atas tumpukan kardus yang dialasi kain terpal bekas. Rambut panjangnya yang tadinya terikat rapi kini berantakan membingkai wajah cantiknya. Pipi tembemnya merona merah padam, memancarkan rona kematangan seorang gadis remaja yang baru saja mengenal gerbang kenikmatan dunia yang sesungguhnya.​Di sisinya, Madun duduk tegar bersandar pada dinding kayu, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidangnya yang basah oleh keringat tipis. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak sangat tenang, menikmati kepulan kepuasan batin setelah berhasil memuaskan hasrat liarnya.​Rasti menolehkan k

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 318: Suap Manis di Balik Bayang-Bayang Warung

    ​Udara malam semakin pekat merangkul sudut-sudut desa, menyisakan keheningan yang kian mencekam di sekitar warung kelontong Bu Lastri. Di bawah temaram lampu neon yang berdengung pelan, jarak antara Madun dan Rasti terasa semakin menyempit. Kehadiran gadis belia berwajah bening, cantik, dan imut itu benar-benar merontohkan sisa-sisa kewarasan Madun yang sejak tadi malam dilanda rasa lapar sekaligus gelora nafsu yang membara. ​Rasti berdiri terpaku di balik meja etalase, merasakan tatapan tajam nan mematikan dari Madun yang mengunci setiap gerak-gerik tubuhnya. Otot lengan bidang dan dada bidang Madun yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitam memancarkan aura maskulinitas yang mendominasi seluruh ruang kecil tersebut. Bau tubuh maskulin bercampur keringat tipis lelaki dewasa itu menguar kuat, membuat dada Rasti berdegup kencang tak karuan. ​"Om... Om Madun mau nyari apa malam-malam begini? Kalau mau cari kopi atau rokok, warung ibu sebenarnya udah mau tutup..." suara Rasti terde

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 317: Cahaya di Balik Jendela Warung Sebelah

    ​Malam semakin larut merayap menelan sisa-sisa bising desa. Suasana di sekitar rumah petak Madun sudah benar-benar sunyi, menyisakan derik jangkrik dan embusan angin malam yang dingin menusuk kulit. Setelah insiden tawa guling-guling akibat menghabiskan seluruh sembako sedekah hingga mereka berdua kelaparan tanpa sisa, perut Madun justru berkeroncongan semakin kencang, menagih haknya yang terabaikan.​Madun bangkit dari ranjang tuanya, berjalan pelan ke ruang depan untuk mencari setetes air putih demi meredakan perih di lambungnya. Namun, saat ia melangkah mendekati jendela kayu yang menghadap ke jalan setapak luar, matanya tak sengaja menangkap secercah cahaya lampu neon terang dari arah warung kelontong milik Bu Lastri—tetangga sebelah yang kebetulan baru pulang belanja kulakan dari kota dan membuka warungnya sedikit lebih malam dari biasanya.​Madun mengintip dari balik celah bilik bambu. Di bawah temaram lampu neon warung tersebut, tampak seorang gadis muda sedang merapikan toples

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 316: Tawa Lepas di Ujung Senja: Ketika Sedekah Jatuh pada Diri Sendiri

    ​Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala barat, meninggalkan sisa-sisa bias jingga yang memantul indah di atas atap-atap rumah desa. Suasana di pekarangan rumah Madun berangsur-angsur sepi setelah para tetangga, anak-anak yatim, dan warga fakir miskin berpamitan pulang dengan membawa senyuman serta paket sembako masing-masing.​Madun berdiri di teras rumahnya yang kini tampak lengang. Ia meregangkan otot-otot lengannya yang bidang setelah seharian sibuk mengangkat karung beras dan melayani warga. Di sampingnya, Sarah keluar dari dapur sambil membawa nampan kosong bekas jamuan makan siang tadi. Wajah wanita itu tampak lelah namun dipenuhi kepuasan batin yang luar biasa.​"Alhamdulillah, semua sembako dan makanan hari ini habis dibagikan dengan lancar. Warga kelihatan senang banget tadi, Mas," ucap Sarah penuh syukur sambil mendudukkan diri di kursi kayu panjang.​Madun mengangguk tersenyum, lalu melangkah masuk ke dalam rumah untuk merapikan meja dan memeriksa sisa-sisa logistik

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status