LOGINRintik hujan mulai terdengar, ketika Noval menghentikan mobilnya di area parkir basement apartemen Chandani. Siang itu, hujan lebat kembali mengguyur Jogja. Seharusnya kedatangannya siang itu sederhana. Dia hanya membawakan makan siang dan ingin melihat kondisi Chandani.Sejak beberapa hari terakhir, Noval memang semakin sering memikirkan perempuan itu. Bahkan ketika sedang bekerja, pikirannya sesekali melayang pada Chandani.Namun begitu pintu lift terbuka di lantai tempat apartemen Chandani berada, langkah Noval langsung terhenti.Ada sesuatu yang terasa salah. Entah kenapa perasaan Noval terasa tidak nyaman. Noval berjalan cepat menuju unit Chandani. Dia memasukkan kode sandi, pintu lalu terbuka. "Chandani?"Tidak ada jawaban.“Sayang…”Tetap sunyi. Sosok Chandani juga tidak ada di sana. Kening Noval mengernyit. Dia membuka pintu kamar mandi. "Chandani?" kamar mandi itu kosong.Tidak ada suara dari kamar.Tidak ada suara dari dapur.Tidak ada suara televisi.Bahkan tidak terden
Matahari mulai terik ketika Noval akhirnya berdiri di sisi tempat tidur Chandani. Perempuan itu sudah tertidur lelap. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya. Napasnya teratur, rambutnya sedikit berantakan di atas bantal, sementara selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.Noval berdiri cukup lama. Ada perasaan berat yang sulit dijelaskan setiap kali melihat Chandani seperti itu. Bukan karena dia merasa terbebani. Justru sebaliknya. Dia tidak tahu seberapa banyak rasa sakit yang perempuan itu alami. Dan Noval ingin terus berada di sana, menjaganya. Namun pagi itu Bude Yahmi sudah beberapa kali menghubungi Noval. Kedua orang tuanya ternyata datang ke rumah dan menunggunya.Noval akhirnya menunduk, membetulkan selimut Chandani, lalu berbisik pelan. "Nanti aku datang lagi."Dia mematikan lampu di apartemen Chandani dan meninggalkan apartemen dengan hati-hati.⚫Pagi itu, cahaya matahari di Jogja cukup hangat. Beberapa hari ini, Jogja terus saja di guyu
Jam dinding telah jauh melewati tengah malam ketika Chandani masih terjaga. Lampu kamar apartemennya sudah dimatikan sejak satu jam lalu, tetapi matanya tetap enggan terpejam. Hanya cahaya redup dari lampu kota yang menyelinap melalui celah tirai, membentuk bayangan samar di lantai kamar. Chandani membalik tubuhnya untuk kesekian kali. Menarik selimut. Memejamkan mata. Mencoba mengosongkan pikiran. Namun percuma. Wajah Noval terus muncul di benaknya. Begitu pula wajah Duna. Dua lelaki dengan masa lalu yang berbeda, tetapi malam ini keduanya memenuhi kepalanya secara bersamaan. Chandani menghembuskan napas panjang. Dia merasa bersalah kepada Noval. Bukan karena telah melakukan sesuatu yang salah. Justru karena Noval telah melakukan begitu banyak hal baik kepadanya, sementara hatinya masih terus diganggu oleh masa lalu. Noval tidak pernah memaksanya untuk bercerita. Tidak pernah menuntutnya melupakan Duna dengan segera. Tidak pernah memperlakukannya seolah-olah luka sembilan tahu
Sejak memasuki jalanan kota, rintik air terus jatuh di atas kaca depan mobil. Lampu-lampu kendaraan memantul di aspal yang basah, berubah menjadi garis-garis panjang berwarna kuning dan putih. Jalanan Jogja malam itu terasa lebih tenang daripada biasanya.Noval baru saja menyelesaikan perjalanan dari Pekalongan. Seharian penuh ia berada di proyek rumah tiga lantai, berpindah dari satu titik ke titik lain, memeriksa struktur, berbicara dengan Arif mengenai pekerjaan teknik sipil, mengecek material, hingga memastikan beberapa perubahan desain tidak mengganggu konstruksi.Tubuhnya lelah. Tetapi ada satu hal yang sejak tadi membuatnya ingin segera sampai. Chandani dan Nadel. Langit sudah berubah menjadi hingga, ketika Noval akhirnya kembali ke Jogja. Hujan sudah lebih dulu menyambutnya. Mobilnya berhenti di depan rumah berlantai dua. Setelah membersihkan diri, Noval segera pergi ke kamar Nadel. Anak gadisnya itu tengah bermain bersama bude Ita. “Bude.” Noval memanggil bude Ita. “Aman k
Pagi itu, jalanan Pekalongan terasa lebih sibuk dari biasanya. Kendaraan terus saja berlalu lalang sepanjang jalan. Bunyi klakson juga tidak bisa dihindarkan. Matahari sudah cukup tinggi ketika Noval berdiri di depan sebuah rumah tiga lantai yang masih dalam tahap pembangunan. Suara mesin pemotong besi bersahutan dengan suara para pekerja yang memindahkan material. Debu semen beterbangan tipis di udara, sementara beberapa bagian dinding masih berupa bata ringan yang belum diplester.Noval mengenakan helm proyek putih dan kemeja kerja yang lengan bajunya digulung sampai siku. Di tangannya terdapat gambar desain bangunan yang penuh dengan coretan.Disampingnya berdiri Arga, staf teknik sipil yang bertanggung jawab mengawasi pekerjaan struktur.“Pak Noval, untuk balok di area tangga ini saya ada sedikit perubahan,” ujar Arga.Noval menurunkan gambar kerja. “Perubahan apa?”“Posisinya saya geser sekitar beberapa sentimeter. Kalau mengikuti gambar awal, balok terlalu dekat dengan bordes.
Duna tidak langsung menyalakan mesin mobil. Setelah tubuh Chandani tak terlihat lagi. Dia hanya duduk diam di balik kemudi, kedua tangannya menggenggam setir dengan erat. Dari balik kaca depan, ia masih bisa melihat pintu Klinik Griya Fisio yang baru saja dimasuki Chandani. Perempuan itu bahkan tidak menoleh sama sekali. Dan entah mengapa, pemandangan sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang Duna bayangkan. Dadanya sesak. Napasnya bergetar. Kemudian air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Kesedihan seperti menghantam hatinya. Kali ini, ia benar-benar kehilangan Chandani. Satu tetes. Lalu dua. Sampai akhirnya Duna menundukkan kepalanya dan menangis terisak-isak. Air matanya tak henti-hentinya keluar. “Kenapa aku masih seperti ini...?” suaranya hampir tidak terdengar. Duna menutup wajah dengan kedua tangan. Namun semakin berusaha menghentikan tangisnya, semakin deras air mata mengalir. Chandani sudah masuk ke dalam klinik. Perempuan yang dah







