MasukAnnisa Nayra, Gadis belia yang terpaksa menikahi pria beristri untuk menebus hutang pamannya yang telah tiada. Perjanjian di atas kertas membuat Nisa terkejut, pasalnya, ia akan resmi bercerai jika sudah melahirkan seorang anak untuk mereka.
Lihat lebih banyakMata Megan terbelalak ketika kemejanya dirobek paksa. Dia tercengang saat melihat pria yang sedang menahannya mulai melepaskan ikat pinggang.
“Apa yang akan kau lakukan?!” pekik Megan. Ia terus meronta, tapi pria di depannya itu pun semakin mengeluarkan seluruh kekuatannya.“Aku ingin mencicipi tubuhmu, Cantik,” ujar pria itu penuh kemesuman.“Jangan! Lepaskan saya!” jerit Megan dari kursi belakang mobil mewah tipe minibus berwarna hitam yang berhenti di pinggir jalan.Kedua kaki Megan tidak bisa bergerak bebas bahkan untuk menendang sekalipun. Kedua tangan Megan yang bebas berusaha melawan sambil mempertahankan pakaiannya tetap melekat di tubuhnya. Manik mata almond milik Megan menatap ngeri pada wajah pria yang dia tolong barusan. Kalau balasan untuk sikap murah hatinya tadi adalah perlakuan menjijikkan seperti ini, Megan akan berpikir dua kali untuk melakukannya.Dalam benak Megan sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan berakhir di dalam sebuah mobil mewah setelah membantu seorang pria yang sedang kesusahan. Megan bahkan tidak mengenalnya sama sekali karena mereka belum sempat bertukar nama tadi. Hanya rasa kemanusiaan yang mendorong Megan untuk membantu ketika melihat seseorang terjatuh di pinggir jalan dan Megan berniat tulus untuk membantunya.Apa salahnya membantu sesama manusia? Megan bukannya mau hitung-hitungan ketika dirinya menolong orang lain. Setiap orang yang pernah ditolong Megan, baik dengan sedikit uang atau tenaga, tidak pernah memperlakukannya dengan buruk seperti yang pria itu lakukan saat ini. Megan tidak pernah menerima perlakuan yang kurang ajar selama hidupnya.Kedua tangan Megan terus memukul-mukul bagian tubuh pria itu berharap bisa melumpuhkannya lewat pukulan-pukulan tangannya. Pria kekar itu tidak terganggu sama sekali dengan pukulan dari tangan Megan. Telapak tangan Megan yang terus memukul wajah dan dada pria itu terasa seperti belaian baginya.“Menurutlah!” titah Ethan seraya menarik kedua tangan Megan lalu menahannya diatas kepala gadis itu.“Tidak!” jerit Megan masih berusaha meronta.“Semakin kau meronta, semakin aku ingin melakukannya, gadis! Siapa namamu?” tanya Ethan penuh hasrat.“Aku sudah menolongmu! Lepaskan aku! Kurang ajar!” Megan tidak mau menyebutkan namanya. Dia tidak sudi namanya disebut oleh pria brengsek yang terus menyentuh tubuhnya sembarangan.Sudah tidak ada gunanya Megan bersikap sopan kepada Ethan. Kelakuan pria itu sama saja seperti iblis. Bahkan binatang saja tidak menggigit tangan orang yang sudah menolongnya. Sorot mata Megan berubah dari ketakutan menjadi penuh kebencian yang mendalam untuk Ethan. Dia tidak akan pernah melupakan perlakuan Ethan yang sangat kurang ajar padanya. Pria paling tidak tahu diri dan tidak tahu berterima kasih sedunia.“Kenapa kau lakukan ini padaku?! Apa salahku?! Aku sudah menolongmu lolos dari bahaya. Brengsek!” jerit Megan di depan wajah Ethan.“Tubuhmu membuatku candu, sayang. Kau harus jadi milikku. Penghangat ranjangku. Menurutlah, puaskan aku. Akan kuberikan banyak uang padamu,” ucap Ethan dengan suara serak.“Mati saja kau! Aku bukan gadis seperti itu!” bentak Megan marah.Kata-kata Ethan terdengar menjijikkan di telinga Megan. Dia bukanlah gadis yang menjajakan tubuhnya hanya untuk sejumlah uang. Meskipun harus bekerja keras di restoran dan menjadi buruh cuci, yang cukup melelahkan setiap hari. Meskipun harus mengorbankan waktu tidurnya hanya untuk bangun lebih pagi dan membantu ibunya menyiapkan barang dagangan, Megan lebih senang melakukan semua itu.“Sa—saya mohon. Lepaskan saya. Anggap saja balasan karena saya menolong Bapak tadi. Saya mohon,” melas Megan sambil menyentuh lengan Ethan yang terbalut sapu tangan miliknya. Megan berharap Ethan luluh dengan bujukannya yang lembut. Meskipun tubuhnya gemetar ketakutan dan tangannya merasa jijik menyentuh lembut lengan Ethan. Tetapi Megan harus melakukannya agar Ethan iba padanya.Ethan tertegun sejenak ketika merasakan sentuhan tangan Megan di lengannya yang terluka. Sikapnya sedikit melunak melihat air mata membasahi pipi Megan. Kediaman Ethan memberi kesempatan kepada Megan untuk menarik pakaiannya menutupi tubuhnya lagi. Dengan tangan gemetar, Megan berusaha mengancingkan kembali kemejanya yang sudah robek.Pikiran Ethan pun mulai terpecah antara terus melanjutkan memiliki Megan seutuhnya atau melepaskan gadis yang sudah menolongnya itu. Kalau saja Megan tidak datang tepat waktu dan menolongnya, Ethan mungkin tidak akan berada dengan aman di dalam mobil mewah ini. Tetapi masalahnya adalah Ethan justru tertarik pada tubuh Megan sekarang. Rasa penasaran membuat Ethan ingin memiliki Megan.Megan memekik kaget ketika jari Ethan menyentuh bagian pribadi dari tubuhnya. Dia tidak bisa diam saja membiarkan kehormatannya hampir direnggut begitu saja oleh pria yang bukan suaminya. Tubuh Megan semakin kuat meronta-ronta berusaha menjauhkan jemari Ethan dari pangkal pahanya. Semakin besar amarahnya, tubuh Megan seperti mendapatkan kekuatan untuk kembali melawan Ethan. Berusaha mempertahankan kehormatannya dengan cara yang dia bisa.“Jangan meronta. Berhenti bergerak, gadis!” titah Ethan yang ingin segera memulai permainan mereka.“Tidak! Jangan!” pekik Megan lalu melayangkan tangannya menampar keras pipi Ethan.PLAK!Ethan menyentuh pipinya. Bukannya marah, tamparan Megan malah membuat Ethan semakin menginginkan wanita itu.Ethan kembali menarik tengkuk Megan. Dilumatnya bibir merah muda Megan hingga wanita itu sulit bernapas. Tenaga Megan sudah hampir habis melawan Ethan, tetapi pria itu bahkan tidak bergeming. Semakin Megan memberontak, semakin besar hasrat Ethan untuk menaklukkannya.“Jangan khawatir. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku,” bisik Ethan saat dia mencium leher Megan.“Tidak! Tolong aku!” jerit Megan berharap siapa pun yang mendengar teriakannya tergerak untuk membantunya lepas dari pria jahat ini.Ethan tersenyum smirk mendengar suara teriakan Megan. Manik mata gelapnya yang seperti mutiara hitam melirik ke luar lewat jendela mobil mewah itu. Semua orang yang ada di luar mobil saat ini hanya berdiri membelakangi mobil itu tanpa sekalipun menoleh. Tanpa perintah darinya, semua orang itu tidak akan berani melakukan apa pun untuk membantu Megan.Megan mencoba meraih pembuka pintu mobil dari dalam. Dia yakin akan bisa meloloskan diri kalau bisa membuka pintu mobil itu. Perbuatan Megan menambah lebar senyuman di bibir Ethan. Baru kali ini ada seorang gadis yang ingin melarikan diri darinya.“Kalau kau ingin semua orang melihat tubuhmu, buka pintu itu. Mereka yang di luar, itu semua anak buahku. Mereka akan dengan senang hati menonton bosnya bercinta atau mungkin ingin bergabung sekalian,” ancam Ethan tersenyum smirk.Ethan membenarkan posisi duduknya. Tubuhnya yang kuat sepenuhnya menutupi tubuh Megan dalam bayangan, lalu meletakkan tangannya di pintu mobil.Megan menyadari apa yang akan dia lakukan, pria ini pasti sudah gila!Ethan menyeringai dan mencoba untuk membuka pintu mobil."Menjadi milikku atau milik semua orang?”Matahari perlahan mulai menampakkan dirinya. Usai shalat subuh tadi, Nisa keluar kamar, bermaksud menemui Danar seperti permintaanya. Namun ia memutuskan kembali ke dalam kamarnya saat Danar tak juga muncul untuk menanyakan sesuatu yang dia sendiri tak bisa menebaknya.Melihat jam dinding, Nisa lantas keluar dari kamarnya. Seperti biasa, ia menghampiri Simbok yang tengah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan."Selamat pagi Mbok ..." sapanya.Mbok Sumi menoleh, membalas Nisa dengan senyuman yang tak seperti biasanya. Sedang Nisa merasa aneh, kenapa hari ini sikap Mbok Sumi dan Danar terasa berbeda."Di depan mobil siapa, Mbok?" tanya Nisa kemudian, mencoba mencairkan suasana. Dirinya memang sempat ke ruang tamu untuk membuka gorden dan cendelanya. Namun ia melihat ada dua mobil terparkir di halaman. Satu milik Danar, dan satu lagi, ia tak tahu. Itu tandanya semalam ada orang yang datang saat ia tertidur."Ada temannya Den Danar, Non. Tadi malam sengaja Aden panggil ke sini untuk me
Waktu terus berputar, menorehkan kisahnya masing-masing pada takdir makhluk hidup di bumi. Bukankah yang menderita tak akan selamanya tetap tersakiti bukan? begitupun sebaliknya. Roda kehidupan masih terus berputar, seiring dengan takdir yang sudah ditetapkan sang Pencipta. Manusia hanya tinggal menunggu gilirannya masing-masing. Mendapat balasan apa yang telah mereka tuai.Tak terasa, sudah satu bulan Nisa berada disini. Ditempat dimana Danar membawanya. Meskipun siang malam ia lalui dengan gelisah. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan. Nama Aris sudah terpahat dengan sempurna di hatinya. Rasa rindu yang menggebu seringkali ia rasakan saat kesendirian menyelimutinya. Nisa yang malang. Ia hanya bisa berdoa. Berharap takdir berpihak padanya. Berharap agar Allah kembali menyatukannya dengan suaminya dengan cara yang berbeda, tanpa ada orang ketiga dalam rumah tangganya nanti. Tak peduli, berapa puluh tahun kemudian. Yang jelas, ia akan tetap menanti sampai saat itu tiba. Danar terdiam,
Nisa menatap keluar jendela kamarnya. Terlihat rumput ilalang setinggi pinggang orang dewasa tengah meliuk-liuk tertiup angin. Meskipun hari sudah siang, udara sejuk masih ia rasa.Merasa bosan, Nisa lantas keluar rumah. Kemudian duduk diteras, memandangi bunga-bunga bermekaran yang begitu memanjakan matanya. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia merasa tak tenang. Statusnya yang masih sebagai Istri, membuatnya seolah dibayangi dosa, karena kepergiannya dari rumah tanpa seizin suaminya.Berkali-kali Nisa menepis bayangan Aris yang seakan melambai menunggunya kembali. Namun, rasa berdosa itu hilang entah kemana, saat sekelebat wajah Sarah muncul tiba-tiba tanpa dapat ia cegah.Nisa merasa bingung dengan kedepannya. Hidupnya menjadi rumit. Ia merasa tak bebas. Karena dirinya tahu, suaminya dan Sarah tak akan melepasnya begitu saja. Terlebih dengan Sarah. Wanita itu pasti akan mencarinya mati-matian, untuk memaksanya kembali.Jika saja Sarah adalah orang baik seperti suaminya. Ia p
Matahari perlahan merangkak naik. Membuat hawa panas semakin menyengat di kota ini. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Alan masih dalam pencariannya menemukan Nisa. Terakhir kali ia melihat di operator cctv, saat Gadis itu terserempet sebuah mobil dengan warna dan plat nomor yang tak asing dimatanya. Terlebih, saat dirinya melihat pemilik mobil itu turun dan menolong Nisa, ia semakin membenarkan dugaannya.Tanpa basa-basi, Alan langsung menghubungi seseorang yang diduga pemilik mobil itu. Memintanya untuk bertemu di sebuah cafe."Halo, Selamat siang. Dengan Bapak Danar?" tanya Alan, saat panggilannya tersambung."Ya. Saya sendiri. Anda siapa?" balas Danar."Saya Alan, Asistennya Tuan Aris. Bisakah kita bertemu?" pintanya sopan.Danar melihat jam tangan. Pekerjaannya memang hampir selesai. Tapi dirinya ingin segera pulang ke rumah kayunya untuk menemui Nayra."Bagaimana, Pak?" tanya Alan lagi, membuat Danar terpaksa mengiyakan permintaan Alan. Ia tak mau ambil pusing. Mungkin ada urusa
Sarah tak menyangka dengan perlakuan suaminya yang lebih membela Nisa ketimbang dirinya. Ingin rasanya ia melempar semua barang-barang dikamar ini. Meluapkan semua amarahnya. Namun ancaman suaminya membuat dirinya terpaksa meredamnya sebisa mungkin.Bagaimana jika benar Suaminya tak akan melakukan
Sarah keluar dari gedung hotel dengan langkah kasar. Membawa amarah yang masih sepenuhnya menguasai hatinya. Kenapa lelaki brengsek itu muncul lagi di hidupnya yang sudah tenang? sepanjang langkahnya, tak hentinya Sarah mengutuk Danar.Sarah menghentikan langkahnya. Pandangannya menyusuri mobil yan
Sarah meninggalkan Apartemen dengan langkah berat. Sesekali ia menoleh ke belakang dengan gelisah. Ingin rasanya ia kembali. Namun, hatinya tak cukup kuat untuk melihat suaminya bersama Nisa. Ia tak mau mendengar sesuatu yang akan membuatnya menggagalkan malam panas mereka. Karena bagaimanapun juga
Aris masih memandangi Nisa yang tetap berada di atas sajadahnya. Sampai beberapa menit kemudian. Tubuh mungil itu semakin menunduk, hingga membuatnya terbaring merosot, membuat dirinya terkesiap dan bangkit, seraya melongokkan kepalanya, melihat ke bawah. Merasa tak ada pergerakan di tubuh Nisa.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.