ログインAnggraini dan Teguh menikah sudah lima tahun. Keduanya sepakat untuk menganut prinsip childfree. Hingga akhirnya Anggraini mendapati kalau suaminya itu telah menikah lagi dan memiliki anak dari pernikahannya itu. Sakit? Sudah pasti. Balas dendam? Tidak mungkin tidak. "Jika Mas Teguh memang ingin childfree, maka akan kuwujudkan. Dia tidak akan memiliki anak dari wanita manapun, dari aku dan tidak juga wanita itu!
もっと見る"You have to marry Mr. Lorcan Amadeus, Atasha."
That was my mom's sweetest welcome right after i came home from a high-end club which I can't remember the happenings last night anymore because i was too wasted. Blame it on the Bacardi that Sydney made me gulp for about twenty times, i think?
Ugh, nevermind the numbers! But seriously, i feel sore all over my body and one thing is I'm sure... I may have forgotten some details of events last night at the club but somehow, i can still remember that particular steamy moment i had with a stranger.
Oh shoot, right! I slept with a random man and worse, he got my first V-card! Damn it...
"Atasha, are you listening?" Mom snapped my senses back. She's arching her brow at me while holding her waist.
My forehead crinkled at her. "Come again, mom? Marry who?" I asked again, hoping i just misheard it.
"I said, you will marry Mr. Lorcan Amadeus for the betterment of all, for the sake of our growing business---" i gasped as i cut her off.
"No!"
Are they serious? No, no, no. This isn't happening!
"But yes, sweetie. You have no choice but to obey," she then, hovered around Dad who was sitting on his swivel chair, never throwing care at my disapproval. "The matrimony is set to happen the day after tomorrow so, be ready." Mom announced with finality.
Oh fvck this.
"B-but... how about my own freedom? How could you do this to me? I don't want to marry someone i do not love and i don't even know!" I shouted, driven by my emotions.
Because aside from their news shocked me to the core, it also tore me apart, like burned down all my better expectations from them.
"Goodness, Atasha! You're not getting any younger so whether you like it or not, you have to marry him. Don't worry, dear because we assure you, he's the most perfect husband for you. Trust us." Mom smirked wickedly as she sipped on her wine.
Meanwhile, Dad just gave me his nonchalant look as if all of mom's decisions had been approved by him.
I so hate this family...
And just like that, my precious freedom of being 22 was taken away from me and i found myself walking down not on the aisle but on the tiled floor of the courthouse where the wedding is being held.
"You may now kiss your bride." The judge announced.
Lorcan silently cupped my face as his soft lips brushed into mine.
It was the most bittersweet kiss i have ever experienced in my entire life as i realized how fate played a trick on me because my husband happens to be the stranger i slept with and ran away from.
My parents never told me the real deal about the person whom i married. He's not just a rich hottie bachelor no more but a freaking billionaire and a devil disguised in his expensive suit. Lorcan Amadeus, the man who is a nightmare for me but an ultimate dream for every woman out there.
But despite the culture shock upon witnessing his dominance, I can't deny the fact that it's ironically affecting every bit of my system, and my heart beats erratically for him, recognizing his touch, kisses and warmth against my body.
It was such an experience, for a short span of time being his wife, i learned to fulfill my duties and today, I'm holding a lunchbox wrapped in a foil while heading towards his office.
All smiles, i entered the elevator for me to reach the 20th floor. My fingers were fidgeting, maybe because of the excitement i was feeling, thrilled to see his reaction once i gave him the foods I had prepared.
I stepped out of the elevator and walked towards his office and without knocking, i opened the door and went inside.
Only for me to freeze for a moment, unable to mobilize as my eyes are being welcomed by an unfamiliar woman sitting comfortably on his table, wearing a very short pencil cut skirt and sleeveless top that should be covered by a coat!
My eyes found my husband who's sitting on his swivel chair, letting her play his necktie.
What crap is this...
But the true load of crap has slapped me hard the moment his cold dripping gaze bore into mine and he spat the words i never prepared myself for.
"Glad that you came. I don't have to ask my men to bring you here," he then handed me a piece of paper... that i never wanted to see nor read its content. "I want a divorce right fvcking now, Atasha Rae. Sign it." He muttered acidly.
I felt like a cold water had poured all throughout my body. I was too stunned to speak for a second but when i saw how his secretary for this month flirts with him, my blood boils automatically.
"But... why?! I did nothing but be a good wife to you, Lorcan! And why are you with her..." I trailed off while surveying his secretary dressed as a slut.
She's a snake!
"Oh cut the drama, woman. All i want is for you to sign this damned divorce paper. Sign it now! Leave and never come back again!" He stood up from his seat, eyes were darkly unreadable, piercing through my soul.
It was such a heavy pair to stare at. Slowly, i put the lunchbox on the spaced table, it should be his lunch for this afternoon but i think he doesn't need it anymore, and with my falling tears and trembling hands, i took the paper and stared at it for seconds.
God. Did he find me boring? Am i not enough to be his lover?
I guess, we can't really force the love that's not meant for us.
I looked at him for the last time, the perfectly sculpted face of a man who made me feel the sparks fly in a short span of time.
"As you wish, my beloved husband." Pride is the only thing left to me. Gulping all the pain leaping through my throat, i signed the paper and it fell on the floor.
... just like how he dropped my heart and broke it into tiny pieces.
As soon as i turned my back, i burst into tears. Never wanting to look back, i made a step forward to his office door to make my leave but deep inside my heart and despite the decisions of my rational mind, I'm still hoping for him to call me and apologize and say he never meant those words, like it was all just a misunderstanding.
But he didn't. It wasn't.
Leaving his life means burying a little secret that ought to grow in my womb.
Because little did he know, I'm carrying his heir... the billionaire's heir.
Anggraini menggeleng mendengar usul Asyif."Sebaiknya jangan, Syif. Aku nggak enak sama Ummi. Walaupun Ummi baik Tapi sebaiknya tidak merepotkan dan melibatkan Ummi dalam hal ini. Selain itu aku nggak bisa ke Jakarta juga karena kerjaan aku kan di sini. Mondar-mandir Jakarta-Bandung akan sangat melelahkan buat aku dan itu pastinya akan mengurangi quality time aku bersama anak-anak. Ini adalah situasi yang berbeda dengan waktu dulu ketika belum ada mereka," kata Anggraini menolak usul dari Asyif."Itu hanya perasaan kamu saja, Anggre. Aku berani bertaruh Kalau Ummi sama sekali tidak akan keberatan Kalau kamu dan anak-anak tinggal bersama mereka di Jakarta. Nenek juga pasti akan senang. Percaya deh sama aku," kata Asyif mencoba menenangkan Anggraini. "Iya aku tau, tapi ...""Begini saja," sela Asyif. "Kita telepon Ummi sekarang dan kita coba tanya pendapat Ummi bagaimana baiknya solusi Ummi terhadap masalah ini."Anggraini tidak setuju. "Aku tidak setuju, Asyif. Bagaimanapun Ummi tidak
Puspa tergagap mendengar pertanyaan memojokkan dari Asyif. “A-apa maksudmu? Saya datang sendiri ke sini. Saya saja tidak tahu di mana Teguh saat ini. Kok bisa-bisanya kalian memojokkan saya seperti ini?” jawab Puspa mencoba membantah tuduhan Asyif padanya.Sementara itu Anggraini melihat pada Asyif dengan pandangan bertanya apakah yang dikatakan oleh Asyif itu benar.“Benarkah? Mas Teguh ada di sini?” Kini Anggraini ganti mengalihkan perhatian kepada Puspa.“Aku sudah bilang kalau aku ke sini sendiri. Kenapa kalian tidak percaya?” bantah Puspa.“Setahuku Mama tidak tahu menyetir mobil. Jadi mana mungkin bisa datang ke sini sendiri,” kata Anggraini tak percaya.“Aku datang ke sini dengan angkutan umum,” jawab Puspa lagi mencari-cari alasan.Anggraini semakin tidak percaya karena lokasi rumahnya tidak dilewati oleh angkutan umum. Dan lagi pula, seorang Puspa tidak mungkin mau menaiki transportasi umum. Anggraini sangat tahu persis hal itu.Anggraini tertawa kecil. Setelah itu ia gegas
Dinda menangis keras saat Puspa meraihnya. Entah karena anak berusia satu tahun itu baru bangun atau memang karena dia takut pada sosok Puspa yang tidak familiar, Dinda terkejut saat dirinya langsung ditangkap oleh seorang nenek-nenek yang tidak dia kenal sebelumnya. “Cup! Cup! Jangan menangis, nenek akan membawamu dari sini, Ok? Tenang, tenang jangan menangis!” Puspa berusaha membujuk Dinda yang kini telah berada dalam gendongannya. Melihat putrinya sangat ketakutan, Anggraini merebut paksa Dinda dari Puspa. “Tolong pergi dari sini. Kau membuatnya takut,” desis Anggraini mencoba menahan sabar. “Kau jangan keterlaluan dan bersikap seolah-olah kau adalah ibu kandungnya. Kau tidak punya hak! Aku adalah nenek kandungnya. Dan aku ingin membawanya, aku ingin menjemput cucuku sekarang!” “Anda yang jangan keterlaluan! Ngomong-ngomong soal hak, anda yang tidak punya hak apa-apa terhadap mereka. Aku mengantongi ijin dari pemerintah untuk merawat mereka,” kata Anggraini. “Hah! Izin dari p
Perempuan tua itu menerobos masuk tanpa menghiraukan Anggraini yang berdiri di pagar.“Mama! Tunggu dulu!”Anggraini berusaha mencegah mantan mertuanya itu untuk masuk ke rumahnya. Sebenarnya dia sendiripun sudah enggan menyebut perempuan itu dengan panggilan Mama, namun untuk saat ini ia tidak punya waktu untuk memanggilnya dengan sebutan lain“Jangan halangi aku! Aku akan membawa dia dari sini!”Rupanya keributan di luar membuat Shakila yang sudah masuk ke dalam rumah kembali keluar untuk melihat apa yang terjadi. Demikian pula baby sitternya Dinda menyusul Shakila untuk melihat apa yang terjadi.“Di mana dia? Di mana cucuku!” teriaknya.Anggraini berjalan cepat dan menghalangi Puspa untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia membentangkan tangannya lebar-lebar.“Stop! Cukup sampai di situ ya. Tolong bersopan santunlah saat hendak masuk ke rumah orang lain. Aku sangat menghormati tamu, tapi kalau sikap Mama seperti ini aku tidak akan segan-segan mengusir Mama dari rumah ini!” ancam Anggrain
Anggraini bengong sesaat dengan secarik kertas berwarna putih di tangannya. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Asyif.Pria ini entah bagaimana menyediakan diri untuk membantu Anggraini dan menemaninya dalam kepengurusan masalah Dinda yang sudah berlangsung selama beberapa hari itu. Kebetulan juga Sophia tid
“Jadi kamu yakin nggak mau balik lagi ke Jakarta?” tanya Sophia saat mereka sedang makan siang di kediaman orang tua Sophia di Jakarta.Anggraini mengangguk.“Ya, aku mau menetap di Bandung aja deh kayaknya. Soalnya kerjaanku juga di sana kan? Di sini juga aku kayak yang bingung mau ngapain,” kata Ang
Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh keluarga Merry. Bahkan begitu mereka keluar dari dalam mobil, nenek Shakila yang juga merupakan ibu dari Merry itu langsung menyambut cucu-cucunya. “Kila, kamu sudah besar, Nak? Peluk nenek!” pinta wanita itu. Shakila mundur beberapa langkah dan kini ber
“Di rumahmu?” gumam Anggraini sambil berpandangan dengan Sophia.Sophia terlihat girang dan mengangguk berharap Anggraini akan menyetujui usul dari Asyif itu.“Ah, jangan sih. Aku mau cari rumah kontrakan aja,” tolak Anggraini.“Kenapa? Di rumahku setidaknya ada Syanum, nanti aku akan carikan juga baby
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビューもっと