LOGINDi desa Riri terdapat peraturan tidak boleh keluar rumah dari jam 12 malam hingga jam 6 pagi. Peraturan itu ada sebelum Riri lahir. Jika melanggar, akan diusir dari desa. Suatu hari Riri melanggar peraturan dan bertemu dengan seorang pria tampan, sehingga akhirnya mereka berdua terus melanggar peraturan demi pertemuan diam-diam tanpa memperdulikan status mereka. Pria itu sudah menikah sementara dirinya baru masuk SMA
View MoreSamar-samar Riri mendengar suara gumaman seorang anak perempuan, suara yang dikenalnya. Riri mencari sumber suara untuk memastikannya. Dia berjalan perlahan dengan hati-hati, tak lama ia menemukan sosok yang dicarinya.Di balik pohon besar dekat sungai dia menemukan sosok yang dicarinya, Hida yang berjalan mondar mandir di samping sungai menggunakan jilbab panjang sedada dan celana panjang training, mondar-mandir dengan panik.“Hida,” sapa Riri.Hida menoleh dan terkejut. “Riri!”“Kenapa kamu mondar mandir disini?” Riri berjalan mendekati Hida.“Tidak, tidak apa-apa hahahaha- aku tidak apa-apa.” Geleng Hida dengan raut wajah panik dan pucat.“Hida?” Riri tidak percaya dengan perkataan Hida. Malam begini kenapa ke hutan? selama dirinya keluar diam-diam, tidak pernah bertemu dengannya.Hida berlutut di hadapan Riri, memutuskan berkata jujur. “Tolong, tolong jangan m
Laki melepas kaca mata dan memijat kening, surat perjanjian yang difoto Hida hanya di bagian isi. Tidak di bagian tanda tangan, saat Laki bertanya, Hida menjawab bahwa tanda tangan itu tidak penting difoto karena sudah jelas kepala desa mengiyakan bahwa itu tanda tangan pemilik desa. Laki pun tidak bisa melihat tanggal penanda tanganan. Dia tidak menanyakannya lagi supaya tidak menimbulkan kecurigaan dari anak SMA berpikiran kritis di saat tertentu. Laki bersandar di kursi dan mengangkat salah satu kertas laporan di atas meja. Tadi pagi, sekretaris memberikan jumlah sisa anggaran dari pajak. Hasilnya dia harus menutup kekurangan dengan dana pribadi kerajaan, orang-orang disini memang terlalu boros. TOK TOK TOK “Masuk.” Jawab Laki sambil meletakan kaca mata dan kertas di atas meja. Luca masuk dengan senyuman lebar sambil memberikan dokumennya ke Laki. “Coba lihat apa yang aku dapatkan.” Laki mengangkat salah satu al
Waktu berlalu dengan cepat, satu minggu lamanya Riri tidak mendapat kabar sama sekali mengenai kondisi bapak, bertanya pun terkesan orang-orang menghindar. Mereka memilih melakukan tugasnya masing-masing termasuk membantu mengurus lahan milik bapak, eyang putri pun memilih membantu bekerja daripada membahas perihal masuk penjaranya bapak. Di sekolah, Riri juga di gosipkan sebagai anak narapidana. Beberapa teman yang kenal di ospek pun memilih menjauh. Sayangnya dia dan Hida beda kelas, jadi bertemu pun hanya pada saat berangkat sekolah, istirahat dan pulang sekolah. Di kelas tidak ada yang mau mengajak bicara kecuali wali kelasnya tapi pernah Riri tidak sengaja mendengar ruang guru bergosip mengenai bapak, mereka menganggap bapaknya orang yang menyeramkan. Entah kenapa gossip yang beredar jauh lebih parah dari kenyataannya, sejak kapan bapaknya memiliki niat membunuh hanya karena tidak suka ada pembangunan jalan, sejak kapan bapaknya dianggap anarkis?
Setelah selesai menghubungi staffnya, tiba-tiba ada telepon masuk di handphonenya. Nomor yang tak dikenal. Laki mengerutkan kening dan ragu mengangkatnya. "Siapa?" Handphone mati sebentar lalu berdering kembali. Laki mengangkatnya dengan ragu. "Hallo?" "Akhirnya diangkat, kemana saja sih?" terdengar suara riang seorang anak perempuan di seberang. Laki mengerutkan kening. "Siapa ini?" "Ini aku, Hida. Teman Riri." "Oh!" "Jadi bagaimana?" "Apanya?" "Kamu bersedia tidak menolong Riri?" Laki tanpa sadar mengangguk. "Tentu!" "Dengar ya, aku sebenarnya mau menuruti perkataan Riri, hanya saja aku agak gregetan sama pemilik tanah yang suka lambat menangani itu, apalagi kalau sudah masuk polisi, urusannya makin ribet deh." Laki hampir tertawa. Padahal dirinya pemilik tanah. "Hallo? Kamu mendengarku?" "Ya, saya mendengar." "Kamu tidak akan mendapatkan info dari siapapun kecua
Luca duduk di sebelah Rosaline yang melamun di gazebo taman. "Kamu ternyata disini, kenapa duduk disini?"Rosaline menoleh pelan ke Luca. "Kamu sendiri kenapa disini?""Akhirnya kamu menjawab, jadi kegilaan kamu sudah berakhir?" seringai Luca sambil bermain dan mencium rambutnya
KriiiiingLaki dan Riri terkejut. Mereka berdua sama-sama menatap sumber suara yang ternyata handphone Laki. "Alarm." Kata Laki sambil mematikan alarm handphone."Memang sudah jam berapa?" tanya Riri."Jam 5 sore." Laki menunjukan layar handphone."Gawat, aku harus p
Laki menghentikan mobil di pinggir jalan dekat hutan, arah ke rumah untuk makan bersama fast food yang sudah dipesannya. Laki dan Riri sepakat tidak turun di tempat masuk desa supaya tidak menimbulkan curiga warga desa."Jadi kamu akan menolak lamaran keduanya?" tanya Laki sambi
"Luca benar-benar menjengkelkan!" gerutu Laki sambil konsentrasi menyetir mobil. Ia terpaksa menuruti permintaan Luca mengenai makanan gara-gara kalah taruhan. Setelah puas bertemu dengan Rosaline, Luca menemuinya dan bertaruh menge






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.