LOGINRavi harus menikah! Namun kekasihnya, Risa, lebih memilih meninggalkannya demi mengejar karier sebagai model internasional. Di tengah kegalauan, Ravi memiliki ide gila untuk menikahi gadis yang selama ini dicintai oleh abang kandungnya sendiri. Masalah besar pun dimulai.
View MoreRavi membawa mobilnya melaju kencang di jalan tol yang untungnya tidak ramai. Ia menggenggam kuat setir mobil sampai-sampai tangannya terasa sakit, tetapi tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Ada rasa bersalah di dalam hati setelah memperlakukan sang istri seperti tadi. Ia semakin hancur. Meskipun ia menikahi wanita itu karena keadaan, namun sikap yang buruk seperti itu bukanlah dirinya. Ia tahu bahwa ia salah, dan semakin salah. Sayangnya perasaan bersalah yang besar itu harus ditutupi dengan kemarahannya yang meluap kepada wanita itu.“Aku harus ke mana?”Kedua mata Ravi melebar, ia refleks memutar cepat setir ke kiri, kemudian menginjak rem. Ia hampir saja menabrak mobil yang melaju di depan akibat kecepatannya yang tidak terkendali. Dadanya naik turun, ia hampir menabrak pembatas jalan dan terjun bebas. Beruntung, refleksnya masih bagus.“Aku harus bertemu Adri.”Setelah mengatakan itu ia kembali melaju, kali ini dengan lebih hati-hati. Ia ingin bertemu dengan sahabat yan
Ana berdeham kecil, ia merasa ada sesuatu yang mengganggu kerongkongannya. Matanya menyipit saat melihat ke sudut kanan bawah layar laptop yang menunjukkan pukul dua pagi.Ia menarik napas panjang sambil menyandarkan punggung di sandaran sofa. Rasanya sudah cukup untuk hari ini. Tiba-tiba, ia tercenung.Entah berapa lama ia seperti itu, sebuah suara dari arah dapur menyadarkannya. “Kamu, Vi?” tanyanya untuk memastikan.Tidak ada jawaban.Ia berinisiatif untuk melihatnya sambil membawa salah satu buku yang paling tebal di atas meja. Langkah kakinya terkesan pelan dan hati-hati, sebelah tangannya terangkat sambil menggenggam buku tersebut.Walau dari belakang, ia tahu jika seseorang yang saat ini berdiri memunggunginya di dekat kompor adalah sang suami. Ide jail untuk mengganggu pria itu pun muncul, ia berjalan mengendap-ngendap.“Dor!” seru Ana setengah berteriak sambil memukulkan pelan buku itu ke punggung Ravi.Ravi terlihat terkejut, sampai-sampai hampir menyemburkan air yang diminu
“Tolong sapuan kuasnya … lebih halus lagi. Di bagian ini …,” komentar Ravi yang berhenti di sebelah salah satu muridnya. “Secara keseluruhan harus seimbang dengan paduan warna yang tipis.” Ia menoleh sebentar ke arah remaja perempuan enam belas tahun itu sambil tersenyum ramah. “Ya, kamu bisa.” Muridnya tersebut tersenyum lalu mengangguk. Dia melemparkan tatapan kagum ke arah Ravi yang berjalan meninggalkannya menuju murid lain. “Hm … poin dari teknik aquarel ini adalah sapuan yang tipis, transparan, dan tembus pandang.” Ia membungkuk, menyejajarkan tubuh dengan kanvas yang sedang dilukis oleh murid lelaki tujuh belas tahun. “Ini masih terlihat sebaliknya, bahkan di bagian ini menutup penuh latar belakang objek. Sepertinya kamu masih terpaku dengan teknik plakat yang terakhir kali kita pelajari.” “Ah, iya, Pak.” Remaja lelaki itu cengengesan. “Maaf, Pak. Padahal aku bertekad lulus tes universitas tanpa halangan,” keluhnya. “Aku akan banyak latihan lagi.” “Kamu pasti bisa.” Ravi ter
“Aduh!” Ana melompat-lompat agar mencapai bagian kaca jendela paling atas. Sudah banyak yang dikerjakannya--tentu saja dibantu sang suami--sebelumnya, dan kini tenaganya cukup terkuras. Tubuhnya sedikit tersentak ke belakang karena ada tangan lain yang berhasil mencapai bagian itu. Ia bisa merasakan seseorang berdiri tepat di belakangnya. “Lain kali kalau gak mampu, minta bantuan sama yang lebih mampu.” Suara berat itu membuat Ana merinding, jantungnya juga berdebar sekarang. “Sudah jelas tidak akan sampai, Pendek!” Baiklah, suara itu mulai terdengar menyebalkan. Ana pun berbalik, ia bisa melihat wajah suaminya walau harus mendongak karena ia hanya sebahu sang suami. “Berniat menolong, atau ngata-ngatain?” tanyanya menantang dengan mata menyipit. “Emosimu mudah terpancing,” kata Ravi dengan tawa kecil yang mengejek. “Tidak berubah.” Seketika Ana terdiam. Tidak berubah? Apa artinya Ravi masih mengingat sikapnya sedari masa sekolah dulu? Ia jadi merasa senang. “Kenapa?” Sebela
Setelah kejadian waktu itu, Ravi memilih untuk mengabaikan Risa untuk sesaat. Ia takut jika wanita itu akan bertindak jauh dan mengacaukan semuanya. Meski merindukannya, kali ini ia harus bersikap tegas.Ravi melihat pantulan diri sendiri di cermin. Saat ini ia telah mengenakan pakaian pernikahan ber
Ana terdiam sebentar, memikirkan pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya juga menghantuinya setelah Ravi meminta ia untuk menikah dengannya. Kepalanya tertunduk, kemudian menelan ludah. Responsnya yang seperti itu membuat Ibu Ravi sedikit cemas.
"Berhenti Ravi!" teriak Risa marah dengan napas naik-turun. Ia menatap nyalang kekasihnya itu, lalu mendorong tubuhnya untuk menyingkir dari si bos. "Maaf, Mas," katanya cemas sambil membantunya berdiri, dan membawanya duduk di sofa. "Dia s
Selepas subuh pun, Ravi tetap tak bisa tidur. Ia hanya berbaring lesu di sofa sambil menonton televisi yang entah menayangkan acara apa, karena ia terhanyut dalam pikirannya. Matanya menatap nanar ke arah pon


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.