แชร์

BAB, 02.

ผู้เขียน: Upik abu
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-12 14:09:02

KEJADIAN DI KAFE MALAM ITU

☘️☘️☘️

Agustus 2025,

Lampu-lampu temaram menggantung rendah di langit-langit kafe itu, memantulkan cahaya keemasan di atas meja kayu yang mulai kusam oleh usia. Malam telah turun sepenuhnya, membawa udara dingin yang menyelinap lewat pintu kaca setiap kali seseorang keluar atau masuk.

Anasera duduk sendiri di sudut kafe, dekat jendela. Jemarinya melingkar di cangkir kopi hangat, seolah mencari ketenangan dari uap tipis yang perlahan naik. Aroma pahit yang lembut menguar, bercampur dengan wangi roti panggang dari dapur belakang. Ia menyesap perlahan, membiarkan rasa hangatnya turun ke tenggorokan- menenangkan, namun tak sepenuhnya mengusir kegelisahan yang berdiam di dadanya.

Matanya sesekali melirik ponsel yang tergeletak di samping cangkir. Belum ada pesan baru. Luna belum juga datang.

"Selalu telat," gumam Anasera pelan, dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

Di luar jendela, lampu jalan memantul di aspal yang masih basah oleh hujan sore. Bayangan orang-orang berlalu-lalang terlihat buram, seperti potongan hidup yang tak sempat ia pahami. Anasera menghela napas, lalu kembali menyesap kopinya. Malam ini terasa panjang, dan entah mengapa, ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Luna- tentang lelah yang tak pernah ia ucapkan, tentang perasaan yang selama ini ia simpan rapi sendirian.

Ia menoleh ke arah pintu kafe ketika lonceng kecil di atasnya berdenting pelan. Harapannya terangkat sesaat.

Namun itu belum Luna.

Anasera kembali menunggu, ditemani kopi yang mulai mendingin dan malam yang terus berjalan.

~~~

Lonceng kecil di atas pintu kembali berdenting, kali ini diikuti langkah cepat yang begitu dikenal Anasera. Ia menoleh dan mendapati Luna berdiri dengan mantel tipis berwarna krem, rambutnya sedikit basah, senyumnya mengembang lebar.

"Maaf, macet," ucap Luna sambil menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Anasera.

"Klasik," sahut Anasera ringan, mendorong cangkir kopi kosong ke tepi meja. "Aku sudah hampir hafal alasannya."

Luna terkekeh, lalu melambaikan tangan ke arah pelayan. "Aku pesan yang sama kayak kamu."

Mereka baru saja hendak tenggelam dalam percakapan-tentang hari yang melelahkan, tentang hal-hal sepele yang terasa penting di malam seperti ini-ketika suara tinggi memecah dengung musik kafe yang semula lembut.

"Aku serius, kamu duda?"

Nada perempuan itu terdengar tajam, menusuk.

Rai- pria berwajah tegas dengan kemeja kerja yang di gulung hingga siku- hanya mengangguk pelan. " Ya. Aku tidak ingin membohongi siapa pun."

" Astaga...aku pikir kencan ini akan berkelas. Tapi ternyata aku di pertemukan dengan duda yang punya anak?" wanita itu tertawa merendahkan. " Dan dokter bedah pula? Kerja sepanjang waktu? Bahkan berkencan saja pasti harus di jadwalkan seperti operasi darurat."

Rai menahan napas, Rahangnya mengeras- marah, tetapi berusaha menjaga harga diri.

" Kalau pekerjaan saya membuatmu tidak nyaman, kita bisa-"

" Tidak nyaman?" wanita itu mencibir sambil mengambil tasnya. " Aku butuh pria yang bisa menemaniku, bukan yang pulangnya saja jam dua pagi. Dan jelas aku tidak mau repot dengan anak orang."

Anasera dan Luna refleks menoleh ke arah sumber suara. Meja dekat jendela. Seorang pria tampan duduk diam, punggungnya tegak, kedua tangannya terletak tenang di atas meja. Wajahnya tenang, nyaris terlalu tenang untuk seseorang yang tengah dimaki-maki di ruang publik.

Di hadapannya berdiri seorang perempuan cantik, jauh lebih muda darinya. Gaun pendeknya berwarna merah gelap, seolah menegaskan amarah yang membara di matanya.

Beberapa pengunjung berhenti mengaduk minuman. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada pula yang terang-terangan menoleh. Suasana kafe berubah kaku, seolah semua orang ditarik masuk ke dalam adegan yang tak mereka undang.

Pria itu menghela napas pelan. Suaranya rendah, tertahan. "Aku sudah bilang dari awal. Aku nggak pernah bohong."

"Justru itu!" Perempuan itu tertawa sinis."Kamu pikir jujur soal statusmu bikin semuanya oke? Aku masih muda. Masa depanku panjang. Aku nggak mau terikat sama duda yang hidupnya sudah penuh tanggung jawab."

Ia meraih tasnya dengan gerakan kasar. Kursi berdecit saat didorong mundur.

Anasera menahan napas. Dadanya terasa sesak oleh rasa iba yang datang tanpa izin. Pria itu tetap duduk, menatap meja, rahangnya mengeras. Tak ada kemarahan di wajahnya- hanya kelelahan yang terlalu dewasa untuk ditunjukkan.

"Kasihan…" bisik Luna pelan.

Anasera mengangguk, matanya masih tertambat ke sosok pria di dekat jendela itu. Dalam diamnya, ada sesuatu yang terasa akrab- kesendirian yang tak bersuara, namun begitu nyata.

Ketika perempuan itu melangkah pergi, lonceng pintu kembali berdenting. Kafe perlahan hidup kembali, tapi meja dekat jendela tetap menjadi pusat sunyi yang tertinggal.

☘️☘️☘️

to be continue

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 19

    DI BAWAH HUJAN, SEMANGKUK BAKMIE ☘️☘️☘️ Hujan turun tepat pukul setengah enam sore, seperti sengaja memilih waktu ketika hari sudah lelah menahan terang. Langit menggantung rendah di atas rumah sakit, kelabu dan berat, menumpahkan rintiknya dengan ritme yang sabar. Anasera berdiri di bawah kanopi pintu utama, tubuhnya tegak namun bahunya sedikit merunduk, seolah ikut menyimpan letih yang tak sempat diucapkan. Perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu menatap halaman rumah sakit yang basah, lampu-lampu kendaraan memantul di aspal seperti garis cahaya yang patah. Hujan sore selalu punya cara sendiri untuk membuat waktu melambat, menahan langkah orang-orang agar sejenak berhenti dan berpikir. Udara dingin menyusup perlahan, menyentuh kulitnya, membawa aroma tanah dan beton yang tersiram. Di sela bunyi hujan yang jatuh beruntun, pikiran Anasera melayang ke hal-hal sederhana yang terasa begitu menghibur. Ia membayangkan semangkuk pangsit kuah dengan taburan daun bawang, uap hanga

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 18

    GOSIP PAGI ☘️☘️☘️ Cinta itu tidak selalu datang dengan suara riuh atau janji yang lantang. Kadang ia hadir diam-diam, seperti embun yang jatuh sebelum pagi benar-benar terjaga. Ia tidak meminta untuk dimiliki, hanya ingin dirasakan- menyusup ke sela-sela hari, menetap di hal-hal kecil yang sering luput disadari. Cinta adalah keberanian untuk tinggal, bahkan ketika segalanya memberi alasan untuk pergi. Ia tumbuh dari kesediaan mendengar tanpa menyela, memahami tanpa menghakimi, dan memaafkan tanpa menuntut balasan. Dalam cinta, seseorang belajar bahwa bahagia bukan soal memiliki sepenuhnya, melainkan memberi ruang agar yang dicintai tetap menjadi dirinya sendiri. Ada cinta yang hangat seperti cahaya sore, menenangkan dan penuh harap. Ada pula cinta yang perih, mengajarkan arti kehilangan dan keteguhan. Namun keduanya sama-sama jujur- sebab cinta tidak pernah berbohong tentang rasa. Ia hanya menguji seberapa kuat hati mampu bertahan. Dan pada akhirnya, cinta bukan tentang akhir yan

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 17

    KEBETULAN YANG SEDERHANA ☘️☘️☘️ Pagi itu halaman sekolah sudah mulai lengang ketika Anasera melangkah masuk melewati gerbang besi berwarna hijau tua. Bangunan sekolah tampak sederhana-dinding krem yang sedikit memudar, jendela-jendela lebar dengan teralis putih, serta papan nama sekolah yang berdiri tanpa kesan mewah. Ini bukan sekolah internasional dengan gedung tinggi dan fasilitas berkilau seperti sekolah Helena dulu, melainkan sekolah biasa yang cukup difavoritkan di kawasan tersebut. Sekolah dengan reputasi baik karena kedisiplinan dan tenaga pengajarnya. Langkah Anasera terhenti sejenak di depan ruang guru. Di bangku kayu panjang dekat pintu, seorang siswi berseragam putih biru duduk tertunduk. Rambutnya diikat dua, bahunya sedikit gemetar. Irene. Anasera segera menghampiri dan berjongkok di hadapan keponakannya. Ada bekas kemerahan di sudut bibir Irene, membuat dada Anasera mengeras. Kakaknya meneleponnya pagi-pagi dengan nada panik- ibu Irene tak bisa datang ke sekolah ka

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 16

    AKU CAPEK, YAH! ☘️☘️☘️ Tepat pukul setengah sembilan malam, Rai Adhinatha berdiri di tengah apartemennya yang lengang. Lampu ruang tamu menyala temaram, memantulkan bayangan furnitur yang rapi namun terasa dingin. Tidak ada suara halaman buku yang dibalik, tidak ada sosok Helena yang biasanya duduk di sofa dengan seragam rumah, menekuk kaki sambil belajar atau sekadar menatap layar ponsel. Malam ini, apartemen itu seperti ruang kosong yang menelan napasnya sendiri. Rai meletakkan tas kerjanya di dekat pintu. Pandangannya tertambat pada sof- tempat yang kini hanya menyisakan bantal-bantal tersusun rapi. Ada rasa sesak yang merambat pelan di dadanya. Bersalah. Kata itu berputar-putar, tak menemukan jalan keluar. Ia menyadari betapa sering ia hadir sebagai tubuh, bukan sebagai telinga. Betapa jarang ia bertanya, betapa sering ia menghakimi diam-diam. Tangannya meraih ponsel di atas meja. Jemarinya ragu sejenak sebelum menekan nama Helena. Nada panggil terdengar, satu, dua, tiga. Rai

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 15

    BAGAIMANA CARANYA? ☘️☘️☘️ Malam turun perlahan di jantung perkotaan, sekitar pukul tujuh. Lampu-lampu jalan menyala berderet, memantul di aspal yang masih menyimpan panas siang hari. Klakson kendaraan bersahutan, bercampur dengan dengung mesin dan langkah-langkah orang yang keluar masuk gedung perkantoran, seolah kota tak pernah benar-benar memberi jeda untuk bernapas. Di salah satu toserba yang buka dua puluh empat jam, Rai Adhinatha duduk sendirian di kursi plastik dekat rak minuman. Sebuah mie instan cup mengepul tipis di hadapannya. Uap hangat itu naik, lalu menghilang, tak berbeda jauh dari pikirannya yang terasa kosong. Sendok plastik di tangannya bergerak lambat, lebih sering terhenti di udara daripada benar-benar menyuapkan mie ke mulut. Tatapannya menerawang, menembus dinding kaca toserba, memandangi lalu lintas malam tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu hal: Helena. Bagaimana caranya ia bisa memahami putrinya sendiri? Siang tadi, telepon d

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 14

    AYAH TIDAK MENGERTI ☘️☘️☘️ Pintu ruang BK SMPN I Harapan terbuka perlahan setelah Bu Yasmine, wali kelas tiga, memberi isyarat agar Rai masuk. Aroma khas ruangan sekolah- campuran kertas, kayu tua, dan pendingin ruangan yang bekerja setengah hati- menyambut langkah pria itu. Rai Adhinatha menghentikan langkahnya sesaat di ambang pintu. Di dalam, Helena telah duduk lebih dulu. Gadis itu menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Seragam sekolahnya tampak sedikit acak-acakan, namun bahunya tegar seolah tidak terjadi sesuatu. Di hadapannya duduk seorang guru BK laki-laki paruh baya, rambutnya mulai memutih di sisi pelipis. Sebuah kacamata bertengger di hidungnya, namun sorot matanya tetap tajam- tegas, terbiasa membaca kegelisahan murid-murid yang duduk di kursi itu. "Silakan, Pak Rai," ucap Bu Yasmine singkat sebelum menutup pintu dari luar. "Silakan, Pak Rai," ucap Bu Yasmine singkat sebelum menutup pintu dari luar. Suasana menjadi canggung seketika. Rai mel

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status