INICIAR SESIÓN"Apa Mommy baik-baik saja?" tanya Zayyan terlihat begitu khawatir."Perempuan itu licik, aku tidak ingin Mommy terluka," tambah Zahran tak kalah khawatir dari saudara kembarnya.Kiran tersenyum tipis melihat tingkah kedua anak kembarnya. Baru kali ini ada yang mengkhawatirkannya seperti ini. Hal itu tentu membuat hati Kiran menghangat setelah apa yang dia lalui beberapa tahun ini."Apa kalian lupa jika aku Mommy kalian? Tidak ada yang bisa membuat Mommy takut!" jawab Kiran sambil merentangkan kedua lengannya untuk memeluk Si Kembar.Senyuman lebar menghiasi wajah Zahran dan Zayyan sebelum berlari ke pelukan Kiran. Tanpa mereka sadari Rayhan melihat semua kejadian itu, dia segera berlari mencari keberadaan Kiran dan kedua anaknya setelah Aldi mengatakan jika Denna menemui Kiran.Di belakang Rayhan, Erina mencoba untuk mengatur napasnya setelah berlari-lari kecil menyusul Rayhan yang tiba-tiba keluar dari ruang rapat. Namun dia sama sekali tidak menyangka jika Rayhan melakukan semua itu
Rekan-rekan kerja Kiran sama sekali tidak mengira jika mereka bisa berbicara santai dan bercanda bersama dengan Zahran dan Zayyan. Selama ini kedua anak itu terkenal nakal sampai banyak karyawan menghindari mereka berdua."Aku tidak mengerti kenapa anak-anak kecil itu tidak bisa menyelesaikan soal yang mudah," kata Zahran dengan raut wajah begitu serius."Mereka tidak tahu jawaban dari 427 ditambah 84," sahut Zayyan mendukung perkataan Zahran."Memangnya kamu tahu jawabannya? Berapa?" goda Rara sambil menahan tawa."511!" jawab Si Kembar hampir bersamaan."Kalau 351 dikurangi 37?""314...,"Berbagai pertanyaan dilemparkan oleh Rara dan rekan-rekan kerjanya yang lain. Mereka semua begitu tertarik untuk mengetahui kemampuan dari anak CEO perusahaan Bintara.Senyuman tipis menghiasi wajah Kiran saat Si Kembar selalu bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh rekan-rekan kerjanya. Rasa bangga menyelimuti hati dan perasaan Kiran karena Zahran dan Zayyan bisa tumbuh dengan begitu baik di t
"Kenapa diam? Bukankah ada yang ingin kamu katakan?" tanya Rayhan sambil menatap tajam Denna."Ti-tidak...," jawab Denna mencoba untuk tetap tenang, "A-aku hanya ingin memastikan kabar yang aku dengar,""Katakan pada orang yang mengatakan hal itu untuk berpikir ulang jika ingin terus hidup tenang," kata Rayhan santai namun penuh peringatan.Erina yang berdiri di belakang Denna perlahan mengangkat kepala untuk melihat raut wajah Rayhan. Dia menelan ludah beberapa kali saat matanya bertemu dengan mata hitam Rayhan. Ada sorot kekecewaan yang membuat dada Erina terasa sesak."Say-sayang aku ha-hanya...," Erina tak menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan pada Rayhan, "Mak-maksudku, aku merasa...,""Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskan padaku," potong Rayhan sambil menghela napas perlahan, "Aku akan memberimu penjelasan setelah ini,""Aku salah, seharusnya aku tidak langsung mempercayai kabar yang aku dapatkan," kata Erina pelan marasa bersalah."Jangan munafik!" bentak Denna tak taha
"Apa aku harus berada di sekolah sampai jam sekolah berakhir?" tanya Zayyan dengan nada merajuk."Tentu saja," jawab Kiran singkat sambil mengambil tas Zayyan dan Zahran."Pasti akan sangat membosankan," sahut Zahran sambil menghela napas sedikit keras.Kiran mencubit pipi Zahran untuk kesekian kalinya dengan gemas. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran kedua anaknya itu. Seharusnya mereka akan senang saat bertemu dengan teman-teman seumuran mereka."Bermainlah dengan teman-teman yang lain. Jangan sampai membuat mereka menangis!" pesan Kiran sebelum Si Kembar melangkah masuk gerbang sekolah."Jangan lupa makan bekal yang sudah Mommy buat!" tambah Kiran sedikit keras dengan raut wajah terlihat sedikit khawatir."Nyonya, tenanglah. Mereka akan baik-baik saja," kata Aldi sambil tersenyum tipis melihat kekhawatiran Kiran."Aku tahu," jawab Kiran, "Aku mengkhawatirkan guru dan teman-teman sekelas mereka,""Dan jangan pernah panggil aku 'Nyonya'!" tambah Kiran penuh peringatan.Aldi
"Apa maksudmu perempuan 6 tahun lalu muncul dihadapan Rayhan?" tanya Gilang dengan raut wajah merah menahan amarah."Bukankah kita sudah memberi uang agar keluarganya untuk menyingkirkan perempuan itu?" sahut Windy tak kalah terkejutnya dari Gilang."Mata-mata yang kita tempatkan di kediaman Tuan Muda melaporkan jika kemarin malam Tuan Muda membawa seorang wanita," kata asisten pribadi Gilang yang bernama Tuan Herman"Wanita itu bukan Nona Denna atau pun Nona Erina. Tuan Zahtan dan Tuan Zayyan memanggil perempuan itu 'Mommy'," lanjut Tuan Herman tanpa menutupi satu kejadian pun.Braaaak!Praaaang!Piring dan gelas berjatuhan saat Gilang memukul meja makan, Windy mengeryit tipis saat beberapa makanan mengenaik pakaiannya. Suasana yang awalnya tenang berubah berantakan karena kabar kemunculan Kiran dihadapan Rayhan.Selama beberapa tahun ini, Gilang dan Windy mencoba untuk menyingkirkan Kiran agar tidak menjadi penghalang masa depan Rayhan. Mereka memang tidak bisa menyingkirkan Zahran
Tubuh Kiran sedikit bergidik saat melihat senyuman Rayhan. Dia mencoba untuk memahami maksud laki-laki di depannya namun dia sama sekali tidak bisa membaca rencana Rayhan."Apa maksud anda? Kenapa saya harus setuju dengan rencana anda?" tanya Kiran dengan tatapan curiga ke arah Rayhan."Bukankah kamu ingin terus bersama dengan Zahran dan Zayyan?" balas Rayhan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Aku mempunyai cara agar kamu bisa terus bersama mereka,""Anda akan menyerahkan hak asuk Si Kembar pada saya?""Apa kamu gila? Zahran dan Zayyan anakku, kenapa aku harus menyerahkan mereka padamu?""Bukankah kehadiran mereka tidak diharapkan di keluarga Bintara?"Dahi Rayhan berkerut sesaat setelah mendengar perkataan Kiran. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Kiran. Meskipun keluarga Bintara tidak menginginkan Si Kembar, mereka tetap bagian dari keluarga Bintara. Dia tidak akan membiarkan orang lain meremehkan darah dagingnya sendiri."Tetap saja mereka berdua adalah b
Setelah rapat selesai, Rara segera mengajak Kiran kembali ke lantai tempat mereka bekerja, dan mengarahkan Kiran untuk duduk di meja kosong di sampingnya. "Mulai saat ini kita satu tim dan ini tempat duduk kamu," kata Rara sambil menunjukkan meja kosong sebelah mejanya. "Makasih," balas Kiran sing
Kiran melangkah penuh percaya diri diiringin dengan senyuman ramah masuk ke dalam perusahaan Bintara. Tak lupa Kiran menyapa satpam dan resepsionis yang berjaga di lobby perusahaan Bintara dengan sopan. Dia juga antri di depan lift bersama karyawan lainnya dengan hati yang berdebar-debar. Saat Lift
"Kita nggak akan pernah memaafkan Om Aldi karena menjauhkan kita dari Mommy!" teriak Zayyan sambil menatap Aldi dengan kesal."Kalian jangan menambah wanita di sekitar Daddy kalian!" kata Aldi sambil memijat kepalanya yang terasa pusing memikirkan ulah Si Kembar."Kita nggak nambah wanita di sekita
Setelah menunggu sekian lama, Si Kembar akhirnya melihat Kiran berjalan bersama pegawai lainnya menuju kantin tempat mereka duduk saat ini. Senyuman lebar menghisai bibir Si Kembar, mereka berdua segera bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud berlari menuju Kiran."Kalo kalian berlari seperti it







