Home / Zaman Kuno / Rahasia Malam Sultan / Bab 4: Musuh Baru

Share

Bab 4: Musuh Baru

Author: fazaa
last update publish date: 2026-05-31 15:20:15

"Kau benar-benar rubah betina yang cerdik, Nayla! Mengaku tersesat, tapi malah merangkak ke ranjang Sultan!" bentak seorang pelayan senior sembari menghempaskan tumpukan pakaian kotor ke lantai tepat di depan kaki Nayla.

"Demi Tuhan, demi ibuku, hamba tidak melakukan hal menjijikkan seperti itu! Hamba hanya menjalankan perintah Yang Mulia," sangkal Nayla dengan suara bergetar, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya yang gemetar.

"Halah, jangan berlagak polos di depan kami! Semua pelayan magang di sini tahu, tidak ada yang bisa masuk ke kamar pribadi Sultan kecuali para wanita pemuas nafsu!" cibir pelayan lain yang berdiri di ambang pintu barak, menatap Nayla dengan pandangan penuh kebencian dan rasa iri yang pekat.

Suasana di dalam barak pelayan perempuan mendadak berubah menjadi sangat panas dan mencekam. Kabar mengenai pengangkatan resmi Nayla sebagai pelayan pribadi di kamar tidur Sultan Azfar telah menyebar ke seluruh penjuru istana seperti wabah yang mematikan.

Gadis-gadis yang semula mengira Nayla akan dihukum pancung, kini berbalik menatapnya sebagai saingan yang paling licik dan berbahaya.

"Dengar baik-baik, Pelayan Kecil," Ibu Suraya tiba-tiba melangkah masuk, membuat kehebohan di dalam barak mereda seketika. "Jangan mengira posisi barumu di kamar tidur Sultan adalah sebuah anugerah. Tempat itu adalah sarang ular."

"Ibu Suraya... mohon bantu hamba. Hamba takut," bisik Nayla lirih, matanya mulai berkaca-kaca menatap sosok kepala pelayan yang tegas tersebut.

Ibu Suraya mendengus pelan, menatap Nayla dengan pandangan yang sulit diartikan. "Jika Sultanah sampai mengetahui keberadaanmu di kamar tidur suaminya, tamatlah riwayatmu. Beliau tidak akan segan mendesak dewan kerajaan untuk memberhentikanmu, atau bahkan melenyapkanmu diam-diam dari istana ini."

"Apakah... apakah Sultanah sekejam itu?" tanya Nayla dengan napas yang memburu, mencoba mencerna peringatan tersebut.

"Sultanah adalah wanita yang kuat dari kerajaan tetangga, pernikahannya dengan Sultan Azfar didasari oleh penyatuan wilayah dan aliansi politik yang sangat sakral," jelas Ibu Suraya dengan volume suara yang direndahkan. "Namun, di usianya yang kini telah menginjak tiga puluh tujuh tahun, fisik Sultanah sering sakit keras. Beliau sudah tidak sanggup lagi melayani gairah ranjang Sultan Azfar yang begitu liar dan membara."

"Jadi, karena itulah Sultan mendatangkan wanita-wanita dari luar?" tanya Nayla dalam hati, teringat kembali desahan panas tiga wanita bayaran yang ia saksikan semalam di Paviliun Terlarang.

Rania yang sejak tadi bersembunyi di balik pilar lambat laun mendekati Nayla setelah Ibu Suraya pergi meninggalkan ruangan.

Wajah sahabatnya itu tampak sangat pucat, dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat atas nasib Nayla yang kini berada di ujung tanduk.

"Nayla, kau harus ekstra hati-hati sekarang," bisik Rania sembari menggenggam tangan Nayla yang terasa sedingin es. "Gosip di luar sana jauh lebih mengerikan dari apa yang dikatakan Ibu Suraya."

"Gosip apa lagi, Rania? Kepalaku rasanya sudah mau pecah," keluh Nayla sembari memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.

Rania melirik ke kanan dan ke kiri sebelum melanjutkan bicaranya dengan sangat pelan. "Ada desas-desus bahwa Sultan sengaja menaruhmu di kamarnya bukan untuk dijadikan pelayan biasa, melainkan untuk membungkam mulutmu. Beliau tahu kau memegang rahasia gelapnya, dan menempatkanmu di bawah pengawasannya adalah cara terbaik untuk mengendalikanmu."

Nayla tersentak mundur, dadanya mendadak terasa begitu sesak hingga ia kesulitan untuk bernapas dengan normal.

Penjelasan Rania terasa begitu masuk akal, mengingat bagaimana sorot mata elang Sultan Azfar yang berusia tiga puluh lima tahun itu menatapnya penuh ancaman semalam.

Pria matang dominan itu tidak memberinya berkah, melainkan sedang merantai dirinya di dalam sangkar emas agar rahasia pelanggaran hukum kerajaannya tidak pernah bocor.

"Aku terjebak, Rania... aku benar-benar terjebak dalam permainan orang-orang berkuasa," isak Nayla pelan, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang gemetar.

"Bertahanlah, demi ibumu di desa. Jangan biarkan mereka melihat kelemahanmu," hibur Rania sembari mengusap punggung Nayla dengan lembut, mencoba menyalurkan sedikit kekuatan yang tersisa.

Sore harinya, dengan mengenakan seragam pelayan pribadi yang baru—sebuah gaun sutra tipis berwarna putih dengan sulaman perak di bagian dada—Nayla melangkah keluar dari barak.

Tugas pertamanya adalah mengambil wewangian dan minyak esensial dari ruang penyimpanan harem untuk dibawa ke kamar tidur Sultan Azfar. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu kain mahal terasa begitu kaku, seolah ia sedang berjalan di atas hamparan paku yang tajam.

Di sepanjang koridor taman harem yang dipenuhi bunga-bunga mawar yang bermekaran, atmosfer di sekelilingnya mendadak terasa sangat sunyi dan dingin.

Langkah kaki Nayla seketika terhenti ketika sekelompok dayang berbusana mewah menghadang jalan setapak di depannya.

"Jadi, ini dia pelayan rendahan yang sudah membuat gempar seluruh Aula Utama tadi pagi?" sebuah suara wanita yang sangat merdu namun sarat akan racun terdengar memecah keheningan taman.

Nayla mendongak perlahan, menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat sosok wanita cantik jelita yang kini berdiri tegak di hadapannya.

Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna merah menyala dengan belahan dada rendah yang memperlihatkan kulit putih mulusnya, dihiasi untaian perhiasan emas berlian yang sangat berkilau di leher dan jemarinya.

Wajahnya yang luar biasa cantik tampak mengeras penuh dengan kemarahan, dan sepasang mata indahnya menatap Nayla seolah ingin mencabik-cabik tubuh gadis desa itu saat itu juga.

"Hamba memberi hormat kepada Anda," ucap Nayla sembari membungkuk serendah mungkin, mencoba bersikap sefomal mungkin untuk menghindari konflik.

"Berani sekali kau mengangkat wajahmu di hadapanku, Pelayan Busuk!" seru wanita cantik itu dengan napas yang memburu penuh amarah.

Sebelum Nayla sempat menyadari apa yang terjadi atau membangun pertahanan diri, wanita bergaun merah itu melangkah maju dengan sangat cepat dan mengayunkan tangan kanannya yang dipenuhi cincin bermata tajam ke arah wajah Nayla.

PLAAAKKK!!!

Suara tamparan yang sangat keras dan bertenaga bergema kuat di koridor taman yang sunyi tersebut. Tamparan yang begitu brutal itu membuat tubuh mungil Nayla tersentak hebat ke samping, hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di atas tanah berbatu.

Rasa perih yang teramat sangat langsung menjalar di pipi kiri Nayla, disusul oleh cairan hangat berbau anyir yang mulai meleleh dari sudut bibirnya yang pecah akibat hantaman perhiasan sang wanita.

Dengan tubuh yang gemetar karena syok dan rasa sakit, Nayla memegangi pipinya yang memerah, menatap dengan pandangan kabur dan penuh ketakutan ke arah sang pelaku yang kini menatapnya dari atas dengan senyuman yang sangat manipulatif sekaligus mematikan.

fazaa

Aww, sakitnya tuh di sini! Baru juga mau serah terima jabatan jadi pelayan privat di kamar Sultan Azfar, si Nayla udah kena sambar tamparan maut dari selir atau jangan-jangan Sultanah nih, Bun? Kulit mulus ketemu perhiasan mewah, auto pecah deh itu bibir. Emak gemes banget, istana beneran sarang ular! Makin panas, makin brutal, makin bikin penasaran kelanjutannya, kan? Yuk, jangan lupa klik LIKE, FOLLOW,SUPPORT dan tumpahin KOMENTAR kalian di bawah! Dukungan kalian bener-bener bensin buat author biar makin gercep update bab selanjutnya!

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (14)
goodnovel comment avatar
fazaa
poor to Nayla :'(
goodnovel comment avatar
fazaa
wkwkwkwk cenayang bgt
goodnovel comment avatar
fazaa
ya biasalah takut kekuasaannya diambil sama pelayan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 111: Satu Langkah Menuju Badai

    Istana tampak tenang.Tetapi di balik dinding tebalnya, empat orang sedang memainkan permainan yang berbeda.Nayla ingin melindungi semua orang yang tertindas karena tak mau ada lagi pelayan yang dipenggal seperti waktu itu.Rania ingin melindungi Nayla.Safiya ingin menghancurkan Nayla.Dan Ibu Suri Nadira ingin mengetahui apakah Nayla bisa dimanfaatkan.Sinar matahari sore menembus celah-celah pilar marmer, memantulkan bayangan panjang yang kaku di sepanjang koridor sayap kanan istana.Nayla menjalani harinya seperti biasa. Ia menyusun berkas, membersihkan meja mahoni, dan memastikan kebutuhan Sultan Azfar terpenuhi tanpa cacat.Namun, setiap kali matanya menatap halaman tengah, bayangan panggung kayu eksekusi itu seolah kembali membayang tebal di dalam kepalanya. Leher pelayan yang tebas darahnya menyiprat ke lantai batu masih menghantuinya.Nayla menarik napas panjang, menekan rasa mual yang mendadak muncul di dada. Ia mengusap jemarinya yang dingin sebelum membawa nampan teh ke d

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 110: Perasaan Yang Mulai Terlihat

    Sultan Azfar tidak menyadarinya.Tetapi orang-orang di sekitarnya mulai menyadari perubahan kecil dalam dirinya.Atmosfer di dalam ruang kerja utama kini tidak lagi sekaku dan sedingin beberapa bulan yang lalu.Sultan Azfar semakin sering meminta agar Nayla berdiri di sisinya. Bukan hanya untuk menata tumpukan kertas dokumen atau mengganti sumbu lilin yang meleleh, atau melakukan hal yang biasa dilakukan sebagai pelayan pribadinya melainkan karena ada rasa haus yang mendadak mengusik jiwanya.Jika cerita tentang dunia luar meluncur dari bibir Nayla, Sultan Azfar selalu terhanyut dalam ketertarikan yang mendalam.Nayla tidak menceritakan kemegahan kota besar atau rute perdagangan yang mewah.Gadis itu memilih mengisahkan sudut termiskin, padang gandum yang gersang, dan gubuk-gubuk reot rakyat jelata yang tak pernah dilirik oleh para bangsawan."Di desa hamba, Yang Mulia sultan," bisik Nayla pelan seraya merapikan ujung kertas di meja, "rakyat tidak meminta emas. Mereka hanya ingin air

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 109: Memilih untuk diam

    Sementara itu, di sudut lain sayap utama istana yang diterangi lentera temaram, Nayla masih terjaga di meja kerjanya.Jemari cantiknya yang halus bergerak teliti menyalin catatan resep obat-obatan herbal untuk pengobatan ibunya di desa."Sedikit lagi, Ibu... Nayla akan membawa obat ini pulang," bisik Nayla pada dirinya sendiri.Tiba-tiba, daun pintu kayu berukir di ruangan itu berdecit pelan, terbuka sedikit.Langkah kaki tegap tanpa suara melangkah masuk ke dalam keheningan ruangan. Sultan Azfar berdiri di sana tanpa jubah kebesarannya, hanya mengenakan kemeja kain putih longgar yang memperlihatkan bahu kokohnya.Nayla seketika meletakkan pena bulunya dan berdiri tegap, menundukkan kepalanya penuh hormat. "Yang Mulia Sultan... mengapa Anda belum beristirahat? Apakah ada dokumen penting yang perlu hamba rapikan?atau ada keperluan yang harus hamba lakukan?"Sultan Azfar tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah mendekat, menghentikan langkah kakinya tepat di samping meja kerja Nayla.

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 108: Laporan Yang Tidak Lengkap

    Malam pun bergulir dengan kepekatan kabut hitam yang mencekam, menelan seluruh kompleks paviliun harem istana Al-Qamar.Di dalam ruangan tertutup kediaman resmi Ibu Suri Nadira yang harum oleh kepulan dupa, Selir Safiya sudah berdiri tegak menanti penuh ambisi terselubung.Ibu Suri Nadira duduk anggun di kursi takhtanya, membiarkan cahaya temaram lilin menyinari garis wajah keriputnya yang sedingin es batu.Rania berlutut di tengah ruangan, menyerahkan selembar laporan perkamen tertulis mengenai hasil pengawasannya terhadap Nayla sepanjang hari ini.Namun, isi dari lembaran laporan yang disusun Rania telah resmi dimanipulasi secara total oleh kepalanya sendiri.Ia sengaja membuat kalimat-kalimat di dalamnya sesamar dan sebersih mungkin dari rahasia; Rania hanya menuliskan bahwa Nayla sepanjang hari sibuk mengelap debu rak buku perpustakaan agung, menghitung sisa beras dan tidak pernah melakukan perlakuan atau mengatakan hal aneh apa pun.Ia menyembunyikan fakta bahwa Sultan Azfar meng

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 107 : Rania Masuk ke Dalam

    Rania akhirnya resmi menjadi pelayan pribadi Ibu Suri Nadira.Dan langkah pertamanya justru membawanya mendekati Nayla.Pagi itu, suasana di sudut dapur kecil bawah tanah terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.Aroma panggangan roti gandum kasar dan rebusan sup miju-miju mengepul tipis, menyelimuti empat orang yang kini berkumpul mengelilingi meja kayu panjang.Nayla duduk dengan punggung tegak, namun binar kebahagiaan yang teramat murni seketika terpancar dari sepasang manik mata cokelat jernihnya saat mendengar kabar terbaru mengenai sahabat kecilnya."Ya Tuhan, Rania! Ini benar-benar sebuah keajaiban yang luar biasa besar!" seru Nayla, wajah cantiknya yang semula agak pucat kini merona segar penuh rasa syukur yang tak terbendung. Ia menggenggam erat kedua telapak tangan Rania yang terasa dingin."Aku sangat bahagia mendengarnya! Menjadi pelayan pribadi utama Ibu Suri Nadira berarti kau tidak perlu lagi mengangkat baskom air berat di dapur luar ini!" lanjut Nayla dengan mata berb

  • Rahasia Malam Sultan    Bab 106: Pemilik Hati Sang Panglima

    Entah kenapa kini Rafiq mulai sering berada di sekitar Nayla.Bukan sebagai kebetulan.Langkah kaki tegap yang berbalut sepatu bot baja itu tidak lagi berderap kaku memimpin barisan patroli di benteng luar.Sebaliknya, ketukan konstan itu bergema halus di antara keheningan lorong-lorong perpustakaan agung yang sunyi dan beraroma kertas tua.Di balik rak-rak kayu raksasa yang menjulang tinggi, Panglima Rafiq berdiri tegap tanpa mengenakan pelindung kepala zirahnya, membiarkan sepasang mata elangnya mengunci gerak-gerik Nayla yang sedang sibuk memilah naskah pengobatan herbal.Nayla menghentikan gerakan jemarinya, menolehkan kepalanya perlahan seraya menatap heran ke arah sosok pria perkasa yang berdiri terlalu dekat di sampingnya. "Panglima Rafiq? Mengapa Anda masih berdiri mematung di dekat rak ini? Apakah hamba melakukan kesalahan dalam penyusunan berkas administrasi kesultanan?"Rafiq tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengalihkan pandangannya ke arah barisan buku kuno bersampul ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status