เข้าสู่ระบบKabar tentang keberanian Nayla menyebar lebih cepat daripada yang Safiya inginkan.Bukan karena Nayla melakukan kesalahan, justru karena Sultan mulai mendengarkan pendapatnya.Selir Safiya mengunci pintu aula pribadinya dengan bantingan pelan yang membentur bingkai kayu tebal.Di dalam ruangan, Jihan, Layla, dan Amira sudah menunggu dalam keheningan yang mencekam.Suasana pertemuan malam itu jauh lebih tegang dibanding sebelum-sebelumnya.Bau kemenyan wangi yang dibakar di sudut ruangan sama sekali tidak mampu menenangkan ketakutan yang menggantung keras di udara.Layla duduk meremas bantal kursi sutranya kencang-kencang, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan wajahnya pucat bagai orang mati.Ia beberapa kali menoleh histeris ke arah pintu kayu, napasnya memburu pendek dan tidak teratur."Kita seharusnya tidak melakukan hal gila ini lagi... aku mohon, Safiya. Hentikan..." suara Layla bergetar hebat, nyaris berupa bisikan ketakutan.Safiya
Pagi berikutnya, Nayla melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.Di hadapan Sultan dan seorang pejabat kerajaan, ia berani mengatakan bahwa sebuah keputusan tidak masuk akal.Sultan Azfar sedang duduk memeriksa laporan distribusi makanan untuk beberapa desa di wilayah barat kesultanan.Suara ketukan pena bulu miliknya berirama lambat di atas meja mahoni yang dingin.Di sisi meja, Nayla berdiri tegap membantu menyusun berkas-berkas yang telah ditandatangani.Tugasnya kini memang melekat penuh mendampingi Sultan selama jam kerja di dalam ruang kebangsawanan yang megah.Sultan Azfar tiba-tiba menghentikan pergerakan tangannya, lalu menyodorkan sebuah gulungan perkamen tebal ke arah Nayla."Baca," perintah Sultan pendek tanpa menolehkan wajahnya dari meja.Nayla terkejut sejenak, matanya menatap gulungan itu sebelum menerimanya perlahan. "Hamba, Yang Mulia Sultan?"Sultan Azfar menaikkan pandangannya, menatap gadis di hadapannya dengan sepasang iris kelam yang dingin."Me
Pedang itu akhirnya jatuh. Dan kali ini, Nayla terlambat. Ia berdiri di antara kerumunan dengan napas tercekat, menyaksikan tubuh pelayan itu kehilangan kesempatan terakhir untuk membela dirinya.Sinar matahari pagi mulai meninggi, menyinari genangan merah pekat yang membendung di atas panggung kayu.Ribuan warga mulai membubarkan diri secara tertib di bawah pengawasan ketat barisan prajurit berzirah.Para bangsawan melangkah kembali ke kediaman masing-masing seraya berbisik puas atas ketegasan hukum.Sementara itu, beberapa prajurit rendahan mulai bergerak membawa kain flanel kusam dan ember air untuk membereskan sisa-sisa eksekusi.Nayla masih berdiri kaku di tepi lapangan tengah. Kedua kakinya terasa begitu berat dan membeku, seolah tertanam makin dalam ke dasar tanah gersang.Ia tidak menangis, tetapi raut wajahnya benar-benar kosong dan pucat pasi. Pandangannya menatap nanar ke arah keranjang kayu di depan balok pancung yang baru saja menampung gumpalan rahasia kelam.Panglima Ra
Pertanyaan Sultan Azfar yang terucap dingin membuat seluruh lapangan tengah bergemuruh hening secara mendadak.Tak ada satu pun jiwa yang berani mengembuskan napas terlalu keras. Sejak detik itu... skandal racun bukan lagi perkara seorang pelayan rendahan, melainkan ancaman langsung terhadap mahkota kesultanan.Nayla menegakkan dadanya, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Sultan Azfar yang seluas samudra kelam.Suaranya melengking nyaring memecah keheningan yang mencekam."Hamba memang belum bisa menyebutkan satu nama secara pasti hari ini, Yang Mulia Sultan!" seru Nayla seraya meremas jemarinya yang masih gemetar."Namun, hamba mendengar sendiri jerit tangisnya di dalam penjara bawah tanah! Pelayan itu... dia diselimuti ketakutan yang luar biasa!" lanjut Nayla, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.Nayla mengarahkan telunjuknya yang kurus ke arah panggung kayu eksekusi tempat pelayan itu berlutut terikat."Anak laki-lakinya sedang terbaring sakit keras di desa perbatasan, Yang
Semua kepala menoleh serentak.Seorang gadis berlari membelah lautan manusia yang memadati lapangan tengah. Rona wajahnya masih sepucat kain kafan, dan langkah kakinya goyah gontai.Namun... tak ada sedikit pun keraguan di dalam sorot matanya. Nayla telah datang.Panglima Rafiq melompat turun dari tribun kehormatan, melangkah lebar menembus barikade prajurit dengan raut terkejut."Nayla?! Apa yang kau lakukan di sini?! Tubuhmu bahkan belum pulih dari sisa racun itu!" seru Rafiq seraya merengkuh siku gadis itu, menahan tubuhnya yang tampak ringkih.Sultan Azfar mendadak berdiri tegak dari takhta emasnya, membuat jubah hitam megahnya berkibar diterpa angin.Sultanah Mariam di sampingnya ikut mencondongkan tubuh dengan mata membelalak heran."Astaga, bukankah dia pelayan pribadi Sultan yang memuntahkan darah kemarin lusa?" bisik seorang bangsawan di barisan depan."Bagaimana mungkin dia bisa berlari sejauh ini dari kamar perawatan?" sahut menteri di sebelahnya seraya menggeleng kebingung
Matahari baru saja terbit memancarkan pendar keemasan di ufuk timur. Namun lapangan tengah Istana Al-Qamar sudah dipenuhi oleh ribuan pasang mata.Semua orang berbondong-bondong datang—rakyat jelata, bangsawan, dewan menteri, hingga prajurit—hanya untuk menyaksikan satu hal: detik-detik kematian seorang pelayan.Suara riuh rendah ribuan manusia bergemuruh memenuhi setiap sudut lapangan yang gersang.Debu tipis membumbung saat massa berdesakan mendekati panggung kayu tebal."Kudengar pelayan wanita itu yang nekat meneteskan racun ke dalam teh herbal milik Yang Mulia Sultan," bisik seorang warga di barisan terdepan seraya menjinjitkan kakinya."Benar sekali," sahut pria di sebelahnya dengan mengangguk keras."Beruntung Selir Safiya menemukan botol racunnya terkubur di bawah taman, kalau tidak... habislah penguasa kita."Di sekeliling panggung, barisan prajurit berzirah besi berdiri tegak mengunci jarak.Tombak-tombak panjang mereka saling menyilang, membentuk barikade ketat yang mustahi







