LOGINPagi pertama Lin Qian duduk di kursi Permaisuri tidak disambut oleh pesta besar atau ucapan selamat berlebihan. Yang menunggunya justru meja panjang yang dipenuhi gulungan laporan, papan kayu tipis berisi ringkasan harian, dan beberapa kotak dokumen yang disegel dengan cap resmi kekaisaran. Kursi itu berlapis kain merah tua dan emas, tampak megah dari kejauhan, tetapi ketika ia benar-benar duduk, Lin Qian langsung mengerti satu hal. Kursi ini bukan singgasana pasif. Ini pusat lalu lintas informasi.Lin Qian yang biasanya memakai Hanfu biru khas Tabib kini memakai Hanfu bertahan sutra halus dengan lapisan berlapis dan dihiasi dengan jumbai, liontin giok, dan aksesoris kepala mewah. Badannya terasa berat menampung semua itu. Ia yang terbiasa memakai Hanfu sederhana, tiba-tiba harus memakai Hanfu dengan banyak ornamen mewah.Ia membuka laporan pertama dengan kebiasaan lama seorang tabib. Membaca cepat, menandai anomali, mengabaikan kata-kata basa-basi. Laporan ritual istana, jadwal audi
Hari pernikahan itu tiba tanpa tanda-tanda langit terbelah atau burung bermigrasi secara simbolik. Pagi di istana WangJing justru terasa terlalu tenang, seperti sedang menahan napas sebelum mengeksekusi perintah besar. Gerbang luar dibuka sejak fajar, pasukan penjaga berdiri dalam formasi sempurna, dan seluruh istana bergerak dengan presisi yang nyaris dingin.Lin Qian bangun lebih awal dari jadwal yang ditetapkan. Ia duduk sendiri di tepi ranjang, memandangi jubah upacara pernikahan yang tergantung rapi. Tidak ada rasa gugup yang dramatis. Yang ada justru kesadaran penuh bahwa setelah hari ini, ruang geraknya akan berubah, dan setiap langkahnya akan memiliki gema politik.“Masih sempat mundur kok.” ujar Yue Er setengah bercanda sambil membantu merapikan rambutnya.Lin Qian tersenyum, melirik lewat cermin yang ia pegang. “Kalau aku mundur hari ini, kekaisaran akan kacau lebih cepat dari biasanya karena berita calon ratu mereka kabur sebelum pernikahan mulai.”“Jawaban yang sangat Lin
Persiapan pernikahan kekaisaran seharusnya menjadi urusan paling terstruktur di istana. Daftar panjang, protokol berlapis, dan orang-orang yang hidupnya memang diciptakan untuk mengurus acara besar tanpa bertanya terlalu banyak. Namun ketika nama Lin Qian tertera sebagai calon Permaisuri, sistem yang biasanya patuh mendadak jadi canggung, seolah semua orang lupa cara bernapas normal.Lin Qian sendiri masih datang ke Balai Medis setiap pagi, mengenakan jubah tabib yang sama, memeriksa laporan pasien dengan fokus yang tidak berubah. Di luar ruangan, rumor berputar lebih cepat daripada dupa upacara. Di dalam ruangan, ia tetap seorang tabib yang menuntut presisi dan efisiensi.Hari pernikahan dua hari lagi, namun Lin Qian tidak turut andil mengurus pernikahannya sendiri. Wang Rui menyuruhnya beristirahat sampai hari pernikahan tiba, karena di hari pernikahan nanti mereka tidak akan memiliki waktu beristirahat. Sisa hari Lin Qian sebagai seorang Tabib Agung dari kalangan rakyat akan berakh
Dekrit itu dibacakan pada pagi yang sengaja dipilih tanpa simbolisme berlebihan. Tidak ada ritual tambahan, tidak ada penguatan metafora langit atau legitimasi spiritual. Wang Rui berdiri di Aula Agung Kekaisaran dan membaca naskah kebijakan yang telah melalui proses penyusunan berlapis, audit konsekuensi sosial, serta simulasi dampak politik lintas wilayah. Ini bukan deklarasi moral. Ini keputusan strategis negara yang disampaikan dengan bahasa administratif yang tak memberi ruang salah tafsir.Isi dekrit tersebut ringkas, namun efeknya berskala struktural. Perempuan di seluruh wilayah kekaisaran diakui secara hukum memiliki hak untuk belajar, bekerja, dan memilih profesi tanpa memerlukan izin keluarga, klan, atau otoritas lokal. Akademi Yaonu Tang ditetapkan sebagai institusi resmi negara di bawah perlindungan kekaisaran, dengan mandat nasional sebagai pusat pendidikan medis terbuka lintas gender dan kelas sosial. Negara tidak lagi bersikap netral terhadap ketimpangan. Negara meng
Aula Utama pagi itu beroperasi dalam mode siaga penuh. Semua pemangku kepentingan utama kekaisaran hadir, dari pejabat sipil hingga militer, dari fraksi konservatif hingga reformis garis keras. Tidak ada yang berbicara keras. Tidak ada yang tersenyum berlebihan. Semua memahami bahwa rapat hari ini bukan seremoni. Ini adalah pengambilan keputusan strategis tingkat tertinggi dengan dampak jangka panjang yang tidak bisa dibatalkan.Lin Qian berdiri di tengah aula dengan postur tegak, ekspresi profesional, dan ketenangan yang tidak lagi bisa disalahartikan sebagai keraguan. Ia tidak datang sebagai pihak yang digiring oleh keadaan. Ia datang sebagai pengambil keputusan.Wang Rui berdiri di sampingnya, tidak selangkah di depan, tidak pula di belakang. Posisi sejajar itu dikalkulasi dengan cermat. Sebuah pesan non-verbal kepada seluruh istana bahwa ini bukan akuisisi sepihak,“Kau telah mempertimbangkan konsekuensinya.” ujar Wang Rui dengan suara datar, terdengar seperti pernyataan.“Ya, s
Malam itu istana terasa terlalu besar. Koridor-koridor panjang memantulkan langkah Lin Qian dengan gema yang berlebihan, seolah setiap pijakan menuntut jawaban yang belum siap ia berikan. Setelah lamaran resmi itu, tidak ada tekanan terbuka, tidak ada desakan verbal. Justru keheningan inilah yang paling berat. Semua orang menunggu. Dan untuk pertama kalinya, Lin Qian merasa dirinya bukan sekadar penggerak perubahan, melainkan titik simpul dari terlalu banyak harapan yang saling bertabrakan. Ia duduk di ruang kerjanya, dikelilingi naskah medis, rancangan kurikulum Akademi Yaonu Tang, dan laporan pembangunan yang terus berdatangan. Semua ini adalah hasil kerja bertahun-tahun, buah dari keputusan-keputusan rasional yang selalu ia ambil dengan kepala dingin. Namun pertanyaan yang kini menghantuinya tidak bisa diselesaikan dengan metode klinis. Tabib Agung, atau Permaisuri. Setiap peran membawa bobot yang berbeda, dan yang paling ia takuti adalah kehilangan dirinya sendiri di tengah t







