Share

Bab 196 - Keraguan Terakhir

Author: Chryztal
last update Last Updated: 2026-01-08 20:16:17

Malam itu istana terasa terlalu besar. Koridor-koridor panjang memantulkan langkah Lin Qian dengan gema yang berlebihan, seolah setiap pijakan menuntut jawaban yang belum siap ia berikan. Setelah lamaran resmi itu, tidak ada tekanan terbuka, tidak ada desakan verbal.

Justru keheningan inilah yang paling berat. Semua orang menunggu. Dan untuk pertama kalinya, Lin Qian merasa dirinya bukan sekadar penggerak perubahan, melainkan titik simpul dari terlalu banyak harapan yang saling bertabrakan.

Ia duduk di ruang kerjanya, dikelilingi naskah medis, rancangan kurikulum Akademi Yaonu Tang, dan laporan pembangunan yang terus berdatangan. Semua ini adalah hasil kerja bertahun-tahun, buah dari keputusan-keputusan rasional yang selalu ia ambil dengan kepala dingin. Namun pertanyaan yang kini menghantuinya tidak bisa diselesaikan dengan metode klinis.

Tabib Agung, atau Permaisuri.

Setiap peran membawa bobot yang berbeda, dan yang paling ia takuti adalah kehilangan dirinya sendiri di tengah t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 198 - Dekrit Derajat Perempuan

    Dekrit itu dibacakan pada pagi yang sengaja dipilih tanpa simbolisme berlebihan. Tidak ada ritual tambahan, tidak ada penguatan metafora langit atau legitimasi spiritual. Wang Rui berdiri di Aula Agung Kekaisaran dan membaca naskah kebijakan yang telah melalui proses penyusunan berlapis, audit konsekuensi sosial, serta simulasi dampak politik lintas wilayah. Ini bukan deklarasi moral. Ini keputusan strategis negara yang disampaikan dengan bahasa administratif yang tak memberi ruang salah tafsir.Isi dekrit tersebut ringkas, namun efeknya berskala struktural. Perempuan di seluruh wilayah kekaisaran diakui secara hukum memiliki hak untuk belajar, bekerja, dan memilih profesi tanpa memerlukan izin keluarga, klan, atau otoritas lokal. Akademi Yaonu Tang ditetapkan sebagai institusi resmi negara di bawah perlindungan kekaisaran, dengan mandat nasional sebagai pusat pendidikan medis terbuka lintas gender dan kelas sosial. Negara tidak lagi bersikap netral terhadap ketimpangan. Negara meng

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 197 - Jawaban Lin Qian

    Aula Utama pagi itu beroperasi dalam mode siaga penuh. Semua pemangku kepentingan utama kekaisaran hadir, dari pejabat sipil hingga militer, dari fraksi konservatif hingga reformis garis keras. Tidak ada yang berbicara keras. Tidak ada yang tersenyum berlebihan. Semua memahami bahwa rapat hari ini bukan seremoni. Ini adalah pengambilan keputusan strategis tingkat tertinggi dengan dampak jangka panjang yang tidak bisa dibatalkan.Lin Qian berdiri di tengah aula dengan postur tegak, ekspresi profesional, dan ketenangan yang tidak lagi bisa disalahartikan sebagai keraguan. Ia tidak datang sebagai pihak yang digiring oleh keadaan. Ia datang sebagai pengambil keputusan.Wang Rui berdiri di sampingnya, tidak selangkah di depan, tidak pula di belakang. Posisi sejajar itu dikalkulasi dengan cermat. Sebuah pesan non-verbal kepada seluruh istana bahwa ini bukan akuisisi sepihak,“Kau telah mempertimbangkan konsekuensinya.” ujar Wang Rui dengan suara datar, terdengar seperti pernyataan.“Ya, s

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 196 - Keraguan Terakhir

    Malam itu istana terasa terlalu besar. Koridor-koridor panjang memantulkan langkah Lin Qian dengan gema yang berlebihan, seolah setiap pijakan menuntut jawaban yang belum siap ia berikan. Setelah lamaran resmi itu, tidak ada tekanan terbuka, tidak ada desakan verbal. Justru keheningan inilah yang paling berat. Semua orang menunggu. Dan untuk pertama kalinya, Lin Qian merasa dirinya bukan sekadar penggerak perubahan, melainkan titik simpul dari terlalu banyak harapan yang saling bertabrakan. Ia duduk di ruang kerjanya, dikelilingi naskah medis, rancangan kurikulum Akademi Yaonu Tang, dan laporan pembangunan yang terus berdatangan. Semua ini adalah hasil kerja bertahun-tahun, buah dari keputusan-keputusan rasional yang selalu ia ambil dengan kepala dingin. Namun pertanyaan yang kini menghantuinya tidak bisa diselesaikan dengan metode klinis. Tabib Agung, atau Permaisuri. Setiap peran membawa bobot yang berbeda, dan yang paling ia takuti adalah kehilangan dirinya sendiri di tengah t

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 194 - Pengakuan Publik

    Kasus itu meledak di luar prediksi istana. Bukan penyakit bangsawan, bukan wabah di paviliun tertutup, melainkan epidemi usus yang menyebar cepat di distrik rakyat timur Wang Jing. Korbannya ratusan, mayoritas pekerja kasar dan keluarga mereka. Balai Medis lokal kewalahan, tabib-tabib daerah saling menyalahkan, dan rumor menyebar lebih cepat daripada obat. Untuk pertama kalinya sejak dekrit Akademi Yaonu Tang dikeluarkan, krisis ini tidak bisa ditutup dengan protokol istana. Lin Qian turun langsung ke lapangan tanpa menunggu persetujuan. Tidak ada pengawalan simbolik, tidak ada pengumuman resmi. Ia membawa tim kecil, catatan, dan logistik medis. "Kita harus bergerak cepat sebelum wabah semakin menyebar, tidak ada santai-santai sampai pekerjaan kita tuntas." Tegas Lin Qian sebagai Tabib Agung. Baginya, ini bukan panggung politik, melainkan uji lapangan. Penyakit rakyat selalu lebih jujur daripada pe

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 193 - Profesionalisme di Tengah Konflik

    Tekanan tidak mengendur, justru menyebar ke segala arah. Namun di tengah kekacauan politik dan sosial yang makin kentara, rutinitas medis istana tetap berjalan dengan presisi hampir kaku. Lin Qian hadir setiap pagi di Balai Medis Kekaisaran, memeriksa laporan pasien, mengevaluasi keputusan tabib lain, dan turun langsung menangani kasus-kasus kritis. Tidak ada pidato, tidak ada pernyataan simbolik. Ia menolak menjadi wajah penderitaan yang dielu-elukan atau dikasihani. Ia memilih tetap menjadi fungsi. Di sela-sela tugas medis, Lin Qian juga mengawasi pembangunan Akademi Yaonu Tang. Bukan sebagai figur ideologis, melainkan sebagai perancang sistem. Ia memeriksa rancangan ruang praktik, alur sanitasi, penyimpanan obat, dan kurikulum awal yang sedang disusun tim kecilnya. Setiap keputusan bersifat teknis, nyaris dingin. Itu disengaja. Ketika emosi dipolitisasi, profesionalisme menjadi bentuk perlawanan paling stabil.

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 192 - Delegitimasi Terbuka

    Serangan itu akhirnya keluar dari lorong-lorong tertutup dan memasuki ruang publik istana. Tidak lagi dibungkus istilah akademik atau kekhawatiran administratif, penolakan terhadap Akademi Yaonu Tang kini disuarakan secara terang-terangan. Pembangunan fisik akademi diperlambat dengan alasan inspeksi ulang, izin tanah dipersoalkan, dan anggaran diperdebatkan ulang seolah dekrit kekaisaran hanyalah proposal awal yang bisa direvisi. Ini bukan resistensi pasif. Ini strategi delegitimasi. Isu yang diangkat pun terstandarisasi. Moral masyarakat, adat leluhur, stabilitas keluarga, dan ketertiban sosial dijadikan paket argumen siap pakai. Narasinya konsisten, pendidikan perempuan akan merusak tatanan, mengurangi angka pernikahan, dan melemahkan otoritas lokal. Tidak ada yang membahas hasil medis. Tidak ada yang menyinggung nyawa yang telah diselamatkan. Data dianggap tidak relevan jika bertabrakan dengan kenyama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status