ログインSelesai dengan meeting mereka di malam itu, Hector membantu membereskan berkas-berkas bosnya.
Marcel juga tampak sudah selesai membereskan berkas-berkasnya. Pada saat ini pandangannya tertuju ke hiburan yang ada di luar ruangan VIP. Sorot lampu warna-warni seolah menarik jiwa mereka. "Apa kau ada kegiatan setelah ini?" Marcel bertanya pada Gerardo. "Tidak." "Bagaimana jika sekarang kita minum ke depan?" Ajak Marcel. Gerardo menimbang-nimbang, hubungannya dengan Marcel tak hanya sekedar rekan bisnis, tapi juga teman yang cukup dekat. Mereka kerap melakukan kegiatan yang sama di luar bisnis seperti minum, dan bersenang-senang dengan wanita. "Boleh juga, sudah lama tidak minum denganmu." Gerardo menerima tawaran itu. Mata yang redup itu berubah menjadi terang. "Baguslah! Aku akan mentraktirmu sampai kau mabuk!" Marcel tak sungkan dan memberinya candaan. "Kau berani menjaminkan apa jika aku tak mabuk?" Gerardo berkata dengan santai dan tatapan menantang. "Jika kau tak mabuk kau boleh meminta apapun dariku," ucap Marcel tidak main-main. Dan Gerardo terkekeh. Sebelumnya Gerardo memiliki tingkat toleransi yang baik pada alkohol, sehingga hampir tak pernah mabuk. "Menarik!" Gerardo sudah memikirkan permintaannya sekarang. "Tapi jika aku berhasil membuatmu mabuk, maka aku yang akan meminta sesuatu darimu." Giliran Marcel yang tersenyum. Gerardo mengedikan alisnya. "Sesuatu apa?" Dia harap Marcel masih menggunakan otaknya untuk meminta jaminan itu. "Aku mau mobil baru yang kamu beli kemarin," ucap Marcel begitu puas dan sangat penuh antusias. Gerardo berusaha mengingat mobil apa yang terakhir dia beli, dia memiliki koleksi beberapa mobil limited edition dengan harga fantastis. Siapapun yang memilikinya akan memberi rasa bangga tersendiri, tapi bagi Gerardo apa yang sudah pernah dia miliki akan membuat rasa penasarannya hilang. Sehingga langsung membuatnya bosan. Jadi dia menganggukkan kepala, lagi pula jika dia memenangkan permainan ini, ialah yang dapat meminta apapun pada Marcel nantinya. Dia bisa meminta sesuatu yang nilainya lebih besar dari nilai mobil itu. "Baiklah, aku setuju!" Gerardo mengangguk. Marcel sangat senang, entah kenapa juga malam ini dia begitu yakin jika bisa membuat Gerardo mabuk malam ini. Gerardo segera membangkitkan tubuhnya berjalan berdampingan dengan Marcel yang juga membangkitkan tubuhnya, lalu di ikuti oleh pengawal keduanya di belakang mereka keluar dari ruang VIP itu. Kaki mereka memasuki arena utama, yaitu lantai dansa dengan sorot lampu warna-warni, kemudian berhenti di depan meja bar, kemudian duduk di sofa. Hector, serta asisten Marcel memesankan alkohol untuk tuan mereka masing-masing. Setelah itu Hector berbisik di samping telinga Gerardo. "Tuan, kau yakin akan menerima tantangan ini? Mobil yang terakhir kau beli harganya hampir 20 juta dolar!" Hector ingin mengingatkan, sebelumnya Gerardo dan Marcel sempat rebutan mendapatkan mobil itu dan Gerardo yang mendapatkannya. "Tidak masalah lagi pula aku sudah bosan." Hector mengangguk-angguk, bosnya ini memang gampang bosan. Ia juga tidak bisa menghalangi lagi. Minuman selesai di buat, Hector menerimanya dari bartender kemudian memberikannya untuk Gerardo, begitu juga dengan asisten Marcel. "Mari kita bersulang!" Gerardo mendentingkan gelasnya ke arah Marcel hingga tantangan itu di mulai. Satu tegukan pertama di habiskan oleh Gerardo, juga Marcel. Marcel memesankan lagi minuman itu untuk Gerardo, malam ini mereka hanya minum anggur. Tapi Gerardo kemudian meminta whiskey, "berikan aku whiskey! Jangan lama-lama!" pintanya pada bartender dengan tidak sabar kemudian kembali duduk di kursinya. Bartender ketakutan karena nada mengancam Gerardo yang memintanya agar cepat. Rekan bartender lain yang berdiri di sampingnya itu langsung mendekat -saat tahu rekannya sedang sibuk membuat pesanan orang lain. Sehingga tak bisa membuat pesanan Gerardo dengan cepat. "Berikan whiskey yang sudah ku buat ini saja untuk Tuan Gerardo," ucap rekannya itu tanpa di ketahui Gerardo dan orang-orangnya. "Tapi kamu -" bartender itu menyela. Rekannya itu segera memotong kata-katanya, "tidak apa, aku tidak terburu-buru dan masih bisa membuatnya lagi. Sedangkan kau masih mengerjakan pesanan lain, sementara Tuan Gerardo tidak ingin menunggu." "Baik." Bartender itu menerima gelas itu dan segera memberi whiskey itu untuk Gerardo. Gerardo meneguknya lagi, ada rasa hangat yang mengairi tenggorokannya, Marcel mengakui tingkat toleransi Gerardo begitu tinggi. "Baiklah, kau memang hebat!" ucap Marcel secara tidak langsung terdengar seperti pujian di telinga Gerardo. "Tapi permainan ini masih belum berakhir, " Marcel bicara sambil melirik arloji di tangannya. "Sampai pukul 12 adalah finishnya, masih ada waktu satu jam lagi." "Oke, kita santai saja." Gerardo dan Marcel kembali berbincang-bincang. Tepat ketika itu pandangan Marcel tak sengaja menangkap dua orang yang berjalan masuk ke dalam bar itu. "Gerardo, sepertinya itu mantan istrimu dengan suami barunya," Marcel berbisik. Secara spontan kepala Gerardo mengikuti arah tatapan Marcel, dan melihat Sarah sedang berjalan dengan Vincent. Pandangan Sarah bertemu dengan Gerardo, namun Sarah segera menarik lagi pandangannya dan menatap Vincent di sampingnya, seakan tak menganggap keberadaan Gerardo. Wajah Gerardo seketika berubah muram. Ya, Vincent adalah suami baru Sarah. Dia tidak pernah menyangka jika beberapa bulan setelah perceraiannya dengan Sarah, keluarga Sarah mengumumkan pernikahan itu dengan Vincent sahabat baiknya sendiri. "Apa kita harus pindah tempat saja, tuan? Aku paling tidak senang bertemu dengan penghianat." Hector tidak ingin mengacaukan suasana hati tuannya, dan dia ingin mengajaknya pergi.Saat sampai di apartemen Daniel, ia membayar taksi dan berjalan menuju pintu dengan langkah berat. Ia membuka pintu dengan pelan, Daniel sudah memberinya akses, sehingga ia mudah keluar masuk ke apartemen ini. Beruntungnya, pria itu sangat baik, mau memberinya tumpangan. Meskipun ia tidak ingin lama-lama di sini, esok ia ingin pindah ke rumahnya saja. Dan memikirkan ulang untuk mencari pekerjaan baru. Namun ketika ia akan masuk ke kamarnya, Daniel baru saja dari dapur dan bertemu Shena. "Kamu baru keluar?" Daniel memperhatikan Shena. "Iya." "Kenapa tidak membangunkanku, aku bisa mengantarmu," balas Daniel. "Aku tidak ingin mengganggumu. Lagi pula aku hanya pergi di dekat sini, untuk cari udara segar." "Tidak masalah, aku juga baru saja terbangun. Jika malam aku sering terbangun. Kamu boleh membangunkanku jika butuh se
Gerardo terdiam, mencoba mencerna informasi itu. Ia adalah pria yang mandul, tapi seorang wanita datang mengaku dirinya hamil dengannya. Ini terasa begitu absurd. "Bagaimana... bisa?" ucap Gerardo penuh ketidak percayaan. Shena mengepal tangannya, mencoba menahan gejolak emosinya. "Aku juga tidak tahu, tapi aku sudah melakukan pengecekan dan hasilnya positif, aku bahkan baru tahu jika kamu tidak bisa memiliki anak setelah aku tahu aku hamil. Dan aku datang kemari karena butuh tanggung jawab darimu." Akhirnya Shena tak dapat menahan niat terpendamnya, suara nya lebih emosional, bahkan matanya berkilat saat kata-kata itu meluncur. Gerardo mengusap wajahnya, matanya masih terpaku pada Shena. Gerardo tertawa miris merasa lucu sekaligus tragis. "Kau pasti ingin memanfaatkanku kan? Dengan memb
Namun, dia tak ingin membuat suasana canggung. Maka, dengan ragu, dia menerima bunga itu. "Tentu aku suka, terima kasih... " Shena menerima bunga itu. Daniel merasa senang lalu meletakkan kantong makanan di meja dan mulai mengeluarkan isinya. "Aku membeli banyak makanan enak. Aku tak tahu apa yang kamu suka, jadi aku membeli beberapa pilihan." Daniel menoleh, menyadari Shena masih diam. "Shena? Kau baik-baik saja?" Shena tersadar dan tersenyum samar. "Aku baik-baik saja." "Apa kau nyaman di sini?" Ia hanya ingin memastikan jika Shena betah di apartemennya. "Tentu." "Kalau begitu, ayo kita makan." Daniel menata makanan yang dia bawa. Shena meletakkan bunganya ke atas meja, dan membantu Daniel. Setelah itu, keduanya pun menyantap makanan.
Sementara di dalam perusahaan. Gerardo baru saja keluar dari ruang rapat dengan di ikuti Hector, Marcel, dan beberapa bawahannya. Wajah pria itu tampak begitu dingin auranya sangat gelap. Sampai membuat semua karyawan yang melihatnya takut berhadapan dengannya di sepanjang jalan. Berita itu sudah menyebar ke seluruh penjuru, membuat Gerardo merasa malu dan pasti sangat marah. Citranya mendadak turun saat ini juga. Gerardo memasuki ruangan kerjanya. Hector dan Marcel yang mengikuti dari belakangnya juga masuk kecuali anak buahnya yang tetap berjaga di luar dan menutup pintu. "Tuan, tim sudah menarik semua berita itu dari media manapun," Hector melapor. Gerardo tetap diam, meskipun berita itu sudah di tarik tapi tetap saja semua orang yang mendengar sudah tahu aibnya. "Ya, keluar dulu. Jika ada laporan dari tim PR mengenai para investor ber
"Aku yakin ada yang menjebakku," lanjut Sarah, suaranya semakin panik. "Aku mungkin sudah diberi obat, atau... di hipnotis orang, karena aku benar-benar tidak pernah berbicara seperti itu." Gerardo memicingkan mata, ia merasa jika Sarah hanya sedang mencari alasan untuk menghindari konsekuensi dari tindakannya. "Aku tidak senang dengan pembohong, dan aku juga tidak senang dengan penghianat. Jika kau terbukti berbohong aku akan memastikan semua keluargamu menanggung resikonya." "Aku tidak bohong, Gerardo!" Sarah bersikeras. "Aku juga ingin tahu siapa yang melakukan ini." Tapi Gerardo sudah menutup panggilan itu dan membuat Sarah menggeram kesal di ujung sana. Sarah merasa takut dalam situasi ini, namanya kembali menjadi trending. Semua ini benar-benar mempengaruhi kondisi kehamilannya. Sarah duduk termenung di belakang rumah mn
Sementara itu, di mansion Gerardo. Saat dia sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor sebuah ketukan pintu dari seseorang terdengar. Gerardo yang sedang merapikan gulungan lengan kemejanya itu berjalan menuju pintu dengan langkah yang santai, tapi begitu dia membukanya, ekspresinya langsung berubah. Di depan pintu, beberapa anak buahnya berdiri berjejer dengan ekspresi tegang, termasuk Hector. "Ada apa?" tanya Gerardo, matanya menyipit curiga. Hector tidak langsung menjawab. Dia hanya menyerahkan tablet di tangannya kepada Gerardo. "Tuan harus melihat ini." Gerardo mengambil tablet itu dan menurunkan pandangannya ke layar. Begitu dia membaca headline yang terpampang jelas di situs berita utama, napasnya seketika tertahan. "Sarah: 'Perceraian Kami Terjadi Karena Gerardo Mandul.' " Gerardo terkejut, kemudian rahangnya m







