LOGINGerardo terkejut saat itu, dia langsung menyorot wajah ibu mertuanya dengan tatapan tidak percaya. Tapi dia tahu kemana arah perbincangan Jeni.
"Meskipun kamu kaya jika tidak dapat memberikan keturunan untuk keluarga ini, untuk siapa seluruh warisan ini selanjutnya?" "Ibu nanti kita akan mencoba cara lain, atau mencoba untuk memiliki anak angkat," Sarah berusaha untuk membujuk ibunya, supaya dia tak mengambil keputusan yang fatal dalam pernikahan itu. "Tidak bisa!" Tapi bujukannya itu di tolak dengan tegas oleh Jeni. Jika dalam rumah tangga lain orang tua tidak boleh ikut campur urusan rumah tangga anaknya sendiri, maka Sarah tak bisa berharap banyak, karena pada awalnya pernikahan ini adalah perjodohan dan pernikahan bisnis. Jadi apapun itu permasalahannya ia juga tak bisa melarang jika orang tuanya akan ikut campur dalam masalah mereka. "Harga diri laki-laki jatuh ketika tidak bisa memberi keturunan! Dan anak angkat tidak akan membawa marga Rodriguez dan tidak memiliki darah dari keluarga kita," suara lantang Nyonya Jeni kembali terdengar meruntuhkan pertahanan diri Gerardo. Dia mengepalkan tangan dan melirik Nyonya Jeni dengan tajam, urat merah di matanya nampak menjalar. Membuat wanita itu sedikit waspada. Namun Gerardo berusaha untuk tetap tenang, karena dia semakin tahu apa alasan Nyonya Jeni menjodohkan putrinya dengannya, secara tidak langsung dia hanya menginginkan anak darinya yang di lahirkan Sarah supaya suatu saat nanti anak itu dapat mewarisi kekayaannya dan dapat memberi kontribusi untuk keluarga Sarah. Bukan hanya sekedar mempererat relasi bisnis yang mereka bicarakan selama ini. Tapi juga mencari keuntungan pribadi. Gerardo masih terdiam meskipun Nyonya Jeni sudah menginjak-injak harga dirinya. "Sarah kamu harus tegas! Kamu tidak boleh seperti ini, masa depan kamu masih panjang!" Nyonya Jeni kembali bicara sambil menatap wajah Sarah yang tertunduk di penuhi kekalutan dan perasaan rumit di hatinya. Jika semula pernikahan mereka murni perjodohan mungkin Sarah tak akan bimbang, tapi permasalahannya pernikahan itu sudah di ikut campuri oleh perasaan di hatinya. "Gerardo ..." Pada akhirnya Sarah mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap Gerardo yang sedang diam menahan emosinya. "Gerardo, maafkan aku ... jika aku harus mendengar kata mama ... kita harus berpisah." Kalimat itu terucap dari bibir Sarah dan masih membekas jelas dalam ingatan Gerardo. Gerardo kemudian menatap Nyonya Jeni dan Sarah bergantian, sesaat kemudian dia tertawa getir dalam hati, tapi dia tidak akan mempersulit kemauan mereka, berpisah dari Sarah juga bukan masalah besar untuknya, hanya saja dia pastikan setelah ini perasaan cinta yang semula ada akan berubah menjadi dendam. "Baik jika itu kemauan kalian, aku akan menceraikan Sarah hari ini juga! Tapi kalian jangan menyesal setelah ini!" Gerardo mengatakan kalimat ini hanya dengan satu kali tarikan nafas. Tak ada lagi rasa cinta yang melekat di hatinya untuk Sarah, mengenai harga diri itu yang paling penting yang harus dia pertahankan dari pada sekedar perasaan. Justin—ayah Sarah, Sarah, dan Nyonya Jeni sangat terkejut mendengar keputusan Gerardo yang sangat cepat itu. "Gerardo ..." Sarah memanggilnya lirih. Mereka tak berpikir Gerardo yang sangat mencintai Sarah akan mengabulkan kemauan Sarah tanpa melakukan negosiasi apapun. Biasanya Gerardo akan membujuk Sarah lebih dulu, memberi dia banyak uang ketika menghadapi perselisihan. Sarah langsung tertunduk dan merasa sedih begitu mendengar itu, tapi dia tak bisa mengubah keputusan Gerardo dan kehendak orang tuanya lagi. Sementara Nyonya Jeni tetap mengangkat wajahnya dan berusaha terlihat tenang. Setelah itu Gerardo pun pergi dari hadapan mereka, tanpa bicara apapun lagi. Sambil berjalan dia melemparkan kepalan surat di tangannya ke kotak sampah. Sudah sejak bulan ke lima pernikahan mereka sebenarnya masalah ini berawal, Nyonya Jeni selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka dan menekan untuk segera memiliki anak. Tapi masalah itu semakin parah dalam satu tahun terakhir dan hampir mengganggu konsentrasi pekerjaan Gerardo, dan baru hari ini Gerardo bisa melakukan pemeriksaan di dokter setelah melewati berbagai kesibukannya. Tapi dia malah harus menelan kenyataan pahit ini, dan mungkin dia akan di hantui bayang-bayang ini selama hidupnya. Jika dia tidak bisa memiliki keturunan, hal yang selalu di dambakan oleh setiap orang dewasa. Gerardo segera menemui Hector yang sudah menunggunya di luar rumah sakit dengan salah satu temannya yang bernama Vincent. Hector tak berani banyak bicara setelah melihat ekpresi murung Gerardo. Vincent yang menunggu juga sama, tapi dia berusaha untuk menghiburnya, dengan mengusap punggungnya. "Ayo kita meeting dulu membahas proyek kita, proyek kali ini pasti memberi keuntungan yang sangat fantastis." Mendengar itu semangatnya untuk melupakan semuanya tentang Sarah semakin membara. Sehingga tidak ada yang jauh lebih penting dari pekerjaannya. Dan Sarah sudah bukan apa-apa lagi untuknya. Segera dia melangkahkan kakinya memasuki mobil dan pergi dari rumah sakit. Setelah itu Gerardo juga mengurus perceraiannya dengan Sarah. Proses perceraian itu bahkan memiliki banyak kendala lain, orang tua Sarah menuntut bagi harta selama pernikahan mereka di lakukan. Semua tuntutan itu benar-benar membuat Gerardo semakin emosi dan berpikir jika keluarga Sarah hanya ingin mengambil keuntungan secara pribadi darinya selama ini. Tapi akhirnya Gerardo menang di pengadilan karena sebelum menikah dia sudah membuat surat perjanjian pemisahan harta. Tak hanya itu juga Gerardo juga menekan habis-habisan perusahaan orang tua Sarah, membuat mereka menjadi bangkrut, sehingga Ayah Sarah langsung jatuh sakit. Gerardo sangat puas, semua itu dia lakukan sebagai wujud pembalasan dendam atas penghinaan dan penghianatan yang sudah mereka lakukan terhadapnya. Sejak saat itu juga Gerardo tak pernah mau mendengarkan lagi apapun perkataan orang tuanya sendiri, dia akan langsung menentang kalimat mereka, terutama perihal pasangan hidupnya. Di usianya yang kini beranjak 31 tahun, Gerardo sudah tidak mementingkan apapun selain hanya menambah kekayaan, berkompetisi dalam bisnis untuk mencapai kepopuleran serta menikmati semua itu dengan membeli berbagai koleksi mobil mewah, membeli apartemen dan properti lain, juga menikmatinya dengan wanita-wanita cantik yang ia sewa. Karena itulah, cara pandangnya terhadap wanita sudah berubah. Dia menganggap wanita hanyalah mainan yang harus memuaskan dan di beri uang. Dia sudah kehilangan cara untuk mencintai wanita. Meski fakta jika dia mandul adalah rahasia, tak ada orang selain keluarganya yang boleh tahu masalah itu. Jika sampai ada orang lain yang tahu, maka ia tak akan membiarkannya tetap hidup. Sampai pada akhirnya kesadarannya pulih dari lamunannya saat satu rombongan berjalan memasuki ruangan VIP miliknyanya, rombongan itu di pimpin oleh satu orang pria di depannya. "Hei Gerardo, selamat malam ... " sapaan dari pemimpin rombongan itu terdengar. Gerardo segera menegakkan punggungnya dan membalas sapaannya dengan hangat, "selamat malam." "Maaf jika aku sudah membuatmu menunggu lama, jalanan malam minggu sangat padat," pria itu kembali bicara berharap Gerardo tak keberatan dan memberi pengertian dirinya. Gerardo hanya mengangguk. Lalu berkata, "tidak apa, itu hal yang sangat lumrah. Aku tidak terlalu bosan ketika menunggu karena aku sempat bermain-main sebentar." Pria di depannya yang bernama Marcel itu pun segera tersenyum, mengerti apa yang Gerardo maksud. Tak ingin mengulur waktu Marcel juga berkata, "baiklah kalau begitu kita mulai saja meeting kita malam ini." "Ya." Gerardo mengangguk kemudian Hector membantu mengeluarkan berkas-berkas di dalam tas yang di bawa Gerardo.Sejak hari itu peran baru yang Gerardo dapatkan sebagai seorang ayah memberi ia tanggung jawab baru. Saat ini bayi-bayi yang kecil itu telah tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan, di sayangi semua orang, tubuhnya gemuk dan suara tangisnya menjadi pengiring rumah yang dulu sunyi. Sekarang nuansa rumah terasa lebih hidup. Nyonya Kalista, tuan Damian, tuan James semuanya menjadi kakek dan nenek siaga, bahkan Daniel juga menyayangi keponakannya itu. Shena kini tampak semakin matang sebagai seorang ibu. Setiap pagi ia akan bangun lebih awal untuk menyusui dan menenangkan kedua bayinya. Ada kelembutan baru dalam dirinya, semacam naluri keibuan yang muncul secara alami. Sementara Gerardo, yang dulunya tak pernah menyentuh dunia anak-anak, kini menjadi ayah yang teramat melindungi. Ia belajar mengganti popok, menggendong bayinya dengan posisi benar, hingga mengenali perbedaan tangis lapar dan tangis mengantuk. Setiap malam, ia akan duduk di dekat ranjang bayi, membacakan cerita pendek
Beberapa bulan kemudian setelah kondisi Shena pulih, begitu juga Gerardo yang sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala. Mereka berdua memutuskan untuk kembali dari rumah Tuan James. Dengan Shena menggendong putri kecilnya dan Gerardo yang menggendong putra kecilnya mereka berpamitan pada Tuan James. Seharian itu lalu putra dan putri mereka menjadi rebutan orang-orang di rumahnya ketika semua orang ingin berkenalan dengannya. Sesaat setelah malam hari tiba, mereka baru bisa mengistirahatkan badan. Dan kebetulan sekali, sebelum mereka memutuskan kembali ke rumah ini, Gerardo sudah sempat membuatkan kamar untuk anak-anaknya, sehingga mereka bisa memulai semuanya dengan nyaman. "Kamu pasti lelah, tidurlah," ucap Shena memandangi Gerardo yang terlelap di sampingnya, tangannya sambil mengusap rambut pria itu. Hari ini ia memandangnya dan mengingat lagi momen bagaimana mereka bertemu untuk pertama kali. Semua kenangan itu muncul seperti klip film yang membuat ia menahan senyum. Gerardo
Saat para perawat membawa bayi-bayi itu keluar, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Kali ini sunyi yang penuh harapan. Gerardo kembali memeluk Shena, membiarkan wanita itu bersandar sepenuhnya padanya. “Nama,” ucap Gerardo pelan. “Kita belum bicara soal nama.” Shena tersenyum lelah. “Aku menyimpan itu untukmu. Aku ingin kau yang memilih.” Gerardo menatap jendela, cahaya sore menembus tirai tipis. “Kalau begitu… kita pilih bersama. Seperti keluarga.” Shena menutup mata. Untuk pertama kalinya sejak semua tragedi itu terjadi, ia merasa aman. Tuan James memasuki ruangan Shena setelah mengetahui proses persalinan baru saja selesai, begitu dia masuk dia di kejutkan dengan keberadaan seorang pria yang tengah memeluk cucunya. Pandangannya penuh dengan tanya, begitu juga Gerardo yang terkejut. Dia langsung melepaskan pelukan itu, dan menatap wajah tuan James. Sebelumnya ia tak tahu dimana Shena berada. Tadi ia mendapat informasi dari Hector yang sudah di hubungi Daniel karena
Shena tercekat. Matanya membelalak, bibirnya terbuka tanpa suara. Gerardo tersenyum samar, lalu melangkah masuk perlahan. Lalu melihat dua bayi kembar di sampingnya. Shena tak berkata-kata. Air matanya langsung mengalir, begitu juga dengan perasaannya yang selama ini terpendam. "Gerardo..." ucapnya lirih. Gerardo menghampiri ranjang dan menunduk perlahan, menatap bayi mungil mereka. Jemarinya menyentuh lembut tangan si bayi. Perasaannya membuncah dia benar-benar tidak mempercayai hari ini, menerima keajaiban setelah empat bulan tertidur dan melihat anaknya dengan sehat dan selamat. Shena menahan tangisnya, tidak ingin terisak terlalu keras. Namun matanya membenarkan segalanya betapa ia merindukan pria ini, betapa ia takut kehilangan. "Maaf aku tidak ada saat kau melahirkan," kata Gerardo serak, menatapnya. Shena menggeleng sambil menghapus air matanya. "Kau datang tepat waktu... karena aku hampir percaya kau tak akan datang..." Gerardo menyentuh pipinya lembut, l
Teriakan Shena menggema di ruang bersalin. Tubuhnya sudah dibaringkan, wajahnya penuh keringat dan air mata. Para perawat dan dokter dengan sigap membantu proses kelahiran yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Tuan James berdiri di luar ruangan dengan gelisah. Sesekali ia berdoa dalam hati, wajahnya tegang penuh kecemasan. Di tempat lain, di sebuah ruangan dengan penjagaan ketat, Gerardo terbaring lemah dalam kondisi koma. Tubuhnya dipenuhi selang dan alat bantu. Mesin monitor detak jantung terus berdetik dengan irama lambat dan stabil. "Sedikit lagi, Nyonya Shena! Tolong dorong lagi!" Shena menangis dalam lirih. Teriaknya bercampur dengan suara isak dan rasa sakit yang luar biasa. Mesin monitor di ruang ICU tempat Gerardo terbaring mendadak menunjukkan sedikit perubahan. Bip.Bip. Detak jantungnya naik perlahan. Jemarinya yang selama ini tak bergerak, sedikit menegang. "Dorong, Nyonya! Ayo... bayinya hampir keluar!" Shena memejamkan mata, menyalurkan seluruh
Paman dan bini Shena mengangguk. "Ya, sama-sama tuan." Setelah berbincang sebentar keduanya pun pergi. Shena merasa sedikit canggung di rumah ini. Namun Tuan James terus berusaha membuat Shena nyaman. Sepanjang waktu mereka bercerita banyak hal, termasuk pekerjaan yang di miliki keluarganya. Kakeknya bukan seorang pebisnis besar, tetapi dia punya cukup aset untuk bertahan hidup. Shena terus bercerita termasuk kondisi pernikahan dan juga kehamilannya, serta beberapa hal yang membuat ia terancam dengan suaminya itu. "Ayo, Shena. Rumah ini kini milikmu juga," ucap Tuan James kemudian mengarahkan Shena untuk berusaha nyaman di rumah ini. "Selamat datang, Nona," katanya. "Saya Maria, kepala pelayan rumah ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk Anda, dan dokter pribadi keluarga juga sudah diberitahu mengenai kondisi Anda." "Terima kasih," jawab Shena, masih terkesan dengan suasana rumah itu. Kakeknya memegang lembut bahunya. "Kau bisa istirahat setelah dokter datang memeriksa







