Share

Chapter 3.

Author: Alana Karin
last update Petsa ng paglalathala: 2024-03-02 20:19:38

Gerardo terkejut saat itu, dia langsung menyorot wajah ibu mertuanya dengan tatapan tidak percaya. Tapi dia tahu kemana arah perbincangan Jeni.

 "Meskipun kamu kaya jika tidak dapat memberikan keturunan untuk keluarga ini, untuk siapa seluruh warisan ini selanjutnya?"

 "Ibu nanti kita akan mencoba cara lain, atau mencoba untuk memiliki anak angkat," Sarah berusaha untuk membujuk ibunya, supaya dia tak mengambil keputusan yang fatal dalam pernikahan itu.

 "Tidak bisa!"

 Tapi bujukannya itu di tolak dengan tegas oleh Jeni.

 Jika dalam rumah tangga lain orang tua tidak boleh ikut campur urusan rumah tangga anaknya sendiri, maka Sarah tak bisa berharap banyak, karena pada awalnya pernikahan ini adalah perjodohan dan pernikahan bisnis.

 Jadi apapun itu permasalahannya ia juga tak bisa melarang jika orang tuanya akan ikut campur dalam masalah mereka.

 "Harga diri laki-laki jatuh ketika tidak bisa memberi keturunan! Dan anak angkat tidak akan membawa marga Rodriguez dan tidak memiliki darah dari keluarga kita," suara lantang Nyonya Jeni kembali terdengar meruntuhkan pertahanan diri Gerardo.

 Dia mengepalkan tangan dan melirik Nyonya Jeni dengan tajam, urat merah di matanya nampak menjalar. Membuat wanita itu sedikit waspada.

 Namun Gerardo berusaha untuk tetap tenang, karena dia semakin tahu apa alasan Nyonya Jeni menjodohkan putrinya dengannya, secara tidak langsung dia hanya menginginkan anak darinya yang di lahirkan Sarah supaya suatu saat nanti anak itu dapat mewarisi kekayaannya dan dapat memberi kontribusi untuk keluarga Sarah. Bukan hanya sekedar mempererat relasi bisnis yang mereka bicarakan selama ini. Tapi juga mencari keuntungan pribadi.

 Gerardo masih terdiam meskipun Nyonya Jeni sudah menginjak-injak harga dirinya.

 "Sarah kamu harus tegas! Kamu tidak boleh seperti ini, masa depan kamu masih panjang!" Nyonya Jeni kembali bicara sambil menatap wajah Sarah yang tertunduk di penuhi kekalutan dan perasaan rumit di hatinya.

 Jika semula pernikahan mereka murni perjodohan mungkin Sarah tak akan bimbang, tapi permasalahannya pernikahan itu sudah di ikut campuri oleh perasaan di hatinya.

 "Gerardo ..." Pada akhirnya Sarah mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap Gerardo yang sedang diam menahan emosinya.

 "Gerardo, maafkan aku ... jika aku harus mendengar kata mama ... kita harus berpisah."

 Kalimat itu terucap dari bibir Sarah dan masih membekas jelas dalam ingatan Gerardo.

 Gerardo kemudian menatap Nyonya Jeni dan Sarah bergantian, sesaat kemudian dia tertawa getir dalam hati, tapi dia tidak akan mempersulit kemauan mereka, berpisah dari Sarah juga bukan masalah besar untuknya, hanya saja dia pastikan setelah ini perasaan cinta yang semula ada akan berubah menjadi dendam. "Baik jika itu kemauan kalian, aku akan menceraikan Sarah hari ini juga! Tapi kalian jangan menyesal setelah ini!" Gerardo mengatakan kalimat ini hanya dengan satu kali tarikan nafas.

 Tak ada lagi rasa cinta yang melekat di hatinya untuk Sarah, mengenai harga diri itu yang paling penting yang harus dia pertahankan dari pada sekedar perasaan.

 Justin—ayah Sarah, Sarah, dan Nyonya Jeni sangat terkejut mendengar keputusan Gerardo yang sangat cepat itu.

 "Gerardo ..." Sarah memanggilnya lirih.

 Mereka tak berpikir Gerardo yang sangat mencintai Sarah akan mengabulkan kemauan Sarah tanpa melakukan negosiasi apapun. Biasanya Gerardo akan membujuk Sarah lebih dulu, memberi dia banyak uang ketika menghadapi perselisihan.

 Sarah langsung tertunduk dan merasa sedih begitu mendengar itu, tapi dia tak bisa mengubah keputusan Gerardo dan kehendak orang tuanya lagi. Sementara Nyonya Jeni tetap mengangkat wajahnya dan berusaha terlihat tenang.

 Setelah itu Gerardo pun pergi dari hadapan mereka, tanpa bicara apapun lagi.

 Sambil berjalan dia melemparkan kepalan surat di tangannya ke kotak sampah. Sudah sejak bulan ke lima pernikahan mereka sebenarnya masalah ini berawal, Nyonya Jeni selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka dan menekan untuk segera memiliki anak.

 Tapi masalah itu semakin parah dalam satu tahun terakhir dan hampir mengganggu konsentrasi pekerjaan Gerardo, dan baru hari ini Gerardo bisa melakukan pemeriksaan di dokter setelah melewati berbagai kesibukannya.

 Tapi dia malah harus menelan kenyataan pahit ini, dan mungkin dia akan di hantui bayang-bayang ini selama hidupnya. Jika dia tidak bisa memiliki keturunan, hal yang selalu di dambakan oleh setiap orang dewasa.

 Gerardo segera menemui Hector yang sudah menunggunya di luar rumah sakit dengan salah satu temannya yang bernama Vincent.

 Hector tak berani banyak bicara setelah melihat ekpresi murung Gerardo. 

 Vincent yang menunggu juga sama, tapi dia berusaha untuk menghiburnya, dengan mengusap punggungnya. "Ayo kita meeting dulu membahas proyek kita, proyek kali ini pasti memberi keuntungan yang sangat fantastis."

 Mendengar itu semangatnya untuk melupakan semuanya tentang Sarah semakin membara. Sehingga tidak ada yang jauh lebih penting dari pekerjaannya. Dan Sarah sudah bukan apa-apa lagi untuknya.

 Segera dia melangkahkan kakinya memasuki mobil dan pergi dari rumah sakit.

 Setelah itu Gerardo juga mengurus perceraiannya dengan Sarah. Proses perceraian itu bahkan memiliki banyak kendala lain, orang tua Sarah menuntut bagi harta selama pernikahan mereka di lakukan.

 Semua tuntutan itu benar-benar membuat Gerardo semakin emosi dan berpikir jika keluarga Sarah hanya ingin mengambil keuntungan secara pribadi darinya selama ini. 

 Tapi akhirnya Gerardo menang di pengadilan karena sebelum menikah dia sudah membuat surat perjanjian pemisahan harta.

 Tak hanya itu juga Gerardo juga menekan habis-habisan perusahaan orang tua Sarah, membuat mereka menjadi bangkrut, sehingga Ayah Sarah langsung jatuh sakit.

 Gerardo sangat puas, semua itu dia lakukan sebagai wujud pembalasan dendam atas penghinaan dan penghianatan yang sudah mereka lakukan terhadapnya.

 Sejak saat itu juga Gerardo tak pernah mau mendengarkan lagi apapun perkataan orang tuanya sendiri, dia akan langsung menentang kalimat mereka, terutama perihal pasangan hidupnya.

 Di usianya yang kini beranjak 31 tahun, Gerardo sudah tidak mementingkan apapun selain hanya menambah kekayaan, berkompetisi dalam bisnis untuk mencapai kepopuleran serta menikmati semua itu dengan membeli berbagai koleksi mobil mewah, membeli apartemen dan properti lain, juga menikmatinya dengan wanita-wanita cantik yang ia sewa.

 Karena itulah, cara pandangnya terhadap wanita sudah berubah. Dia menganggap wanita hanyalah mainan yang harus memuaskan dan di beri uang. Dia sudah kehilangan cara untuk mencintai wanita.

 Meski fakta jika dia mandul adalah rahasia, tak ada orang selain keluarganya yang boleh tahu masalah itu. Jika sampai ada orang lain yang tahu, maka ia tak akan membiarkannya tetap hidup.

 Sampai pada akhirnya kesadarannya pulih dari lamunannya saat satu rombongan berjalan memasuki ruangan VIP miliknyanya, rombongan itu di pimpin oleh satu orang pria di depannya.

 "Hei Gerardo, selamat malam ... " sapaan dari pemimpin rombongan itu terdengar.

 Gerardo segera menegakkan punggungnya dan membalas sapaannya dengan hangat, "selamat malam."

 "Maaf jika aku sudah membuatmu menunggu lama, jalanan malam minggu sangat padat," pria itu kembali bicara berharap Gerardo tak keberatan dan memberi pengertian dirinya.

 Gerardo hanya mengangguk. Lalu berkata, "tidak apa, itu hal yang sangat lumrah. Aku tidak terlalu bosan ketika menunggu karena aku sempat bermain-main sebentar."

 Pria di depannya yang bernama Marcel itu pun segera tersenyum, mengerti apa yang Gerardo maksud. Tak ingin mengulur waktu Marcel juga berkata, "baiklah kalau begitu kita mulai saja meeting kita malam ini."

 "Ya."

 Gerardo mengangguk kemudian Hector membantu mengeluarkan berkas-berkas di dalam tas yang di bawa Gerardo.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 74

    Saat sampai di apartemen Daniel, ia membayar taksi dan berjalan menuju pintu dengan langkah berat. Ia membuka pintu dengan pelan, Daniel sudah memberinya akses, sehingga ia mudah keluar masuk ke apartemen ini. Beruntungnya, pria itu sangat baik, mau memberinya tumpangan. Meskipun ia tidak ingin lama-lama di sini, esok ia ingin pindah ke rumahnya saja. Dan memikirkan ulang untuk mencari pekerjaan baru. Namun ketika ia akan masuk ke kamarnya, Daniel baru saja dari dapur dan bertemu Shena. "Kamu baru keluar?" Daniel memperhatikan Shena. "Iya." "Kenapa tidak membangunkanku, aku bisa mengantarmu," balas Daniel. "Aku tidak ingin mengganggumu. Lagi pula aku hanya pergi di dekat sini, untuk cari udara segar." "Tidak masalah, aku juga baru saja terbangun. Jika malam aku sering terbangun. Kamu boleh membangunkanku jika butuh se

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 73

    Gerardo terdiam, mencoba mencerna informasi itu. Ia adalah pria yang mandul, tapi seorang wanita datang mengaku dirinya hamil dengannya. Ini terasa begitu absurd. "Bagaimana... bisa?" ucap Gerardo penuh ketidak percayaan. Shena mengepal tangannya, mencoba menahan gejolak emosinya. "Aku juga tidak tahu, tapi aku sudah melakukan pengecekan dan hasilnya positif, aku bahkan baru tahu jika kamu tidak bisa memiliki anak setelah aku tahu aku hamil. Dan aku datang kemari karena butuh tanggung jawab darimu." Akhirnya Shena tak dapat menahan niat terpendamnya, suara nya lebih emosional, bahkan matanya berkilat saat kata-kata itu meluncur. Gerardo mengusap wajahnya, matanya masih terpaku pada Shena. Gerardo tertawa miris merasa lucu sekaligus tragis. "Kau pasti ingin memanfaatkanku kan? Dengan memb

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 72

    Namun, dia tak ingin membuat suasana canggung. Maka, dengan ragu, dia menerima bunga itu. "Tentu aku suka, terima kasih... " Shena menerima bunga itu. Daniel merasa senang lalu meletakkan kantong makanan di meja dan mulai mengeluarkan isinya. "Aku membeli banyak makanan enak. Aku tak tahu apa yang kamu suka, jadi aku membeli beberapa pilihan." Daniel menoleh, menyadari Shena masih diam. "Shena? Kau baik-baik saja?" Shena tersadar dan tersenyum samar. "Aku baik-baik saja." "Apa kau nyaman di sini?" Ia hanya ingin memastikan jika Shena betah di apartemennya. "Tentu." "Kalau begitu, ayo kita makan." Daniel menata makanan yang dia bawa. Shena meletakkan bunganya ke atas meja, dan membantu Daniel. Setelah itu, keduanya pun menyantap makanan.

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 71

    Sementara di dalam perusahaan. Gerardo baru saja keluar dari ruang rapat dengan di ikuti Hector, Marcel, dan beberapa bawahannya. Wajah pria itu tampak begitu dingin auranya sangat gelap. Sampai membuat semua karyawan yang melihatnya takut berhadapan dengannya di sepanjang jalan. Berita itu sudah menyebar ke seluruh penjuru, membuat Gerardo merasa malu dan pasti sangat marah. Citranya mendadak turun saat ini juga. Gerardo memasuki ruangan kerjanya. Hector dan Marcel yang mengikuti dari belakangnya juga masuk kecuali anak buahnya yang tetap berjaga di luar dan menutup pintu. "Tuan, tim sudah menarik semua berita itu dari media manapun," Hector melapor. Gerardo tetap diam, meskipun berita itu sudah di tarik tapi tetap saja semua orang yang mendengar sudah tahu aibnya. "Ya, keluar dulu. Jika ada laporan dari tim PR mengenai para investor ber

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 70

    "Aku yakin ada yang menjebakku," lanjut Sarah, suaranya semakin panik. "Aku mungkin sudah diberi obat, atau... di hipnotis orang, karena aku benar-benar tidak pernah berbicara seperti itu." Gerardo memicingkan mata, ia merasa jika Sarah hanya sedang mencari alasan untuk menghindari konsekuensi dari tindakannya. "Aku tidak senang dengan pembohong, dan aku juga tidak senang dengan penghianat. Jika kau terbukti berbohong aku akan memastikan semua keluargamu menanggung resikonya." "Aku tidak bohong, Gerardo!" Sarah bersikeras. "Aku juga ingin tahu siapa yang melakukan ini." Tapi Gerardo sudah menutup panggilan itu dan membuat Sarah menggeram kesal di ujung sana. Sarah merasa takut dalam situasi ini, namanya kembali menjadi trending. Semua ini benar-benar mempengaruhi kondisi kehamilannya. Sarah duduk termenung di belakang rumah mn

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 69

    Sementara itu, di mansion Gerardo. Saat dia sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor sebuah ketukan pintu dari seseorang terdengar. Gerardo yang sedang merapikan gulungan lengan kemejanya itu berjalan menuju pintu dengan langkah yang santai, tapi begitu dia membukanya, ekspresinya langsung berubah. Di depan pintu, beberapa anak buahnya berdiri berjejer dengan ekspresi tegang, termasuk Hector. "Ada apa?" tanya Gerardo, matanya menyipit curiga. Hector tidak langsung menjawab. Dia hanya menyerahkan tablet di tangannya kepada Gerardo. "Tuan harus melihat ini." Gerardo mengambil tablet itu dan menurunkan pandangannya ke layar. Begitu dia membaca headline yang terpampang jelas di situs berita utama, napasnya seketika tertahan. "Sarah: 'Perceraian Kami Terjadi Karena Gerardo Mandul.' " Gerardo terkejut, kemudian rahangnya m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status