LOGIN
“Aahhh…”
Suara erangan memenuhi ruangan, desahan penuh kenikmatan bergantian keluar dari bibir pasangan yang sedang bergumul panas itu.
Peluh memenuhi tubuh keduanya, meskipun ruangan dilengkapi dengan pendingin ruangan yang menyala hingga suhu paling rendah, tapi tidak mampu membendung hasrat yang membakar keduanya.
Hingga akhirnya, keduanya terkulai lemas dan terlelap dengan tubuh yang saling memeluk. Dan beberapa jam kemudian…
“Shiit! Kepalaku sakit sekali.”
Karin mengerjapkan mata. Kepalanya terasa berat seolah dipenuhi kabut tebal dan dipukul benda tumpul. Ia berbisik lirih, "Aku di mana?" Suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan kamar yang asing.
Yang pasti, ini bukan kamarnya.
Cahaya lampu berpendar temaram dari langit-langit berdesain modern minimalis, menyilaukan matanya yang masih enggan terbuka sepenuhnya. Ini kamar hotel.
“Hotel?” tanya Karin pada dirinya sendiri, mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam hingga ia berada di tempat ini.
Dan, sengatan kesadaran mendadak menghantamnya saat ia menoleh ke samping. Di balik selimut abu-abu tebal itu, seorang pria asing sedang terlelap.
Bahkan, ia seolah tidak terpengaruh dengan gerakan gelisah Karin.
“Siapa dia?”
Napas Karin tersengal. Dadanya bergemuruh hebat. Dengan tangan bergetar, ia menyibakkan ujung selimut untuk memeriksa dirinya sendiri. Matanya membelalak. Lembar katun itu adalah satu-satunya hal yang menutupi tubuh polosnya. Ia tidak mengenakan sehelai benangpun dan tidur di sebelah seorang pria.
“Apa aku…” suara Karin tercekat di tenggorokan.
Tidak perlu jawaban dari pertanyaan yang tidak tuntas itu, karena kulit putihnya di penuhi dengan tanda merah yang jelas sebagai bukti tak terbantahkan mengenai apa yang terjadi malam tadi.
Rasa malu dan jijik seketika bergolak di perutnya. Karin mencengkram rambutnya frustasi, menahan pekikan yang hampir lolos dari tenggorokannya.
Logikanya berteriak agar ia diam di tempat dan menuntut penjelasan saat pria itu bangun, namun rasa takut yang lebih besar mendesaknya untuk segera angkat kaki.
Pria itu masih terlelap begitu pulas, napasnya tenang dan teratur, kontras dengan badai yang sedang mengacaukan isi kepala Karin.
“Aku harus pergi,” ujarnya di sela-sela isak tangis yang tertahan.
Karin turun dari ranjang dengan tubuh gemetar, mengabaikan pening yang mendera demi memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Sepertinya, semalam pakaiannya dilempar sembarangan.
Saat mengancingkan kemejanya satu per satu, fragmen ingatan malam lalu mulai berputar bagai potongan film rusak di benaknya. Dan kejadian itulah yang mengantarkannya ke tempat ini sekarang.
Ia mengingat malam sebelumnya. Sore itu, ia mendapati tunangannya, Rio, berselingkuh dengan Via, sahabatnya sendiri. Pemandangan itu seperti pisau yang menembus hatinya, meninggalkan luka yang dalam dan perih.
Apalagi Rio bahkan tidak menunjukkan penyesalan sedikitpun. Dengan nada sedingin es, pria itu justru memedaskan kata-kata terakhirnya: "Aku sudah lama ingin mengakhiri ini, Karin. Kau terlalu menuntut, selalu sibuk dengan pekerjaanmu, dan tidak pernah hangat sebagai wanita. Aku bosan, aku sebagai lelaki juga butuh kehangatan, bukan hanya tentang rencana masa depan yang kau bangun itu."
Kata-kata itu menghancurkan dunianya dan terus mengganggu pikirannya.
Akhirnya, Karin melarikan diri ke dalam dentuman musik klub malam. Ia mengingat bagaimana ia menenggak gelas demi gelas alkohol, berharap bisa menghilangkan rasa sakitnya meski hanya sementara.
Rasa pahit alkohol seolah benar-benar menjadi obat penawar bagi hatinya yang rapuh.
Namun, malam itu berakhir di luar kendali. Ia samar-samar ingat suara tawa, musik yang membahana, dan sentuhan hangat seseorang di tangannya. Wajah pria di sampingnya mulai terlintas dalam ingatannya, tapi tetap buram, seperti bayangan yang tidak ingin dikenali oleh pikirannya.
"Bodoh. Aku benar-benar bodoh," desis Karin pada dirinya sendiri. Air matanya kini luruh tanpa suara.
Ia memandangi pria itu sekali lagi. Wajahnya tampak damai dalam tidur, tetapi itu tidak membuat Karin merasa tenang. Sebaliknya, rasa bersalah dan malu melingkupinya.
“Tidak, aku tidak boleh bertemu dengannya.”
Akhirnya, Karin memutuskan untuk pergi, meninggalkan kamar itu sebelum pria itu terbangun. Ia tidak ingin menghadapi percakapan canggung atau mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi.
Ia tidak ingin tahu siapa pria itu, dan ia tidak ingin pria itu tahu siapa dirinya. Yang ia inginkan hanyalah melupakan segalanya, seolah malam itu tidak pernah terjadi. Apapun resikonya, ia akan menanggungnya seorang diri.
Dengan langkah terseret dan kepala yang berputar hebat, Karin meraih gagang pintu, ia membuka pintu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara.
Ceklek!
Ketika akhirnya ia berhasil keluar dari kamar itu, udara dingin pagi menyambutnya, menusuk kulitnya seperti jarum.
Langkahnya terseret saat ia berjalan di sepanjang trotoar yang sepi. Dunia di sekitarnya terasa asing, seakan-akan ia berada di dimensi lain.
Pikirannya terus berputar, membayangkan bagaimana hidupnya akan berubah setelah ini. Bagaimana jika pria itu mengenalnya? Bagaimana jika seseorang mengetahui apa yang telah terjadi?
"Aku sudah hancur," katanya pelan, air mata mengalir di pipinya. Rasa sakit dan penyesalan menggulungnya seperti ombak yang tak henti-hentinya menerjang. Hidupnya, yang dulu tampak begitu terencana, kini berantakan seperti kaca yang pecah.
Minggu pagi…Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.“Apa itu?” tanya Gavin.“Kado untuk Keenan.”Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak
“Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas
"Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd
“Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,
Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus
“Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga







