Share

Chapter 159

last update publish date: 2026-08-31 22:49:59

Dengan bertopang pada semua benda yang dia lewati, Maverick berjalan lebih dulu sebelum kemudian Rosélia dan Elodie mengekor di belakangnya. Maverick akhirnya mempersilahkan Rosélia masuk setelah dia mendengar jika Rosélia bersedia membantunya.

Kedatangan dan pertolongan Rosélia sama sekali tak masuk dalam rencananya. Bahkan demam yang tiba-tiba menyerang tubuhnya juga di luar prediksi Maverick.

Berjalan ke depan, membuka pintu ketika dia mendengar ada yang mengetuk, bukan berarti sakit di kep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 163

    Entah bagaimana awalnya, yang jelas saat ini Rosélia bukan sedang berbelanja berdua dengan Elodie ataupun mencari sesuatu yang Elodie inginkan sebagai hadiah. Saat ini dirinya malah hadir di tengah-tengah Maverick dan Theresa, meski ada Elodie dan juga Justin juga di antara mereka.Mereka duduk berbincang di sebuah kafe cantik yang suasananya terbilang tenang. Mungkin jika Rosélia datang ke sana karena keinginannya dan seorang diri, dia akan merasa lebih tenang dan bahagia.Namun, karena kali ini kedatangannya ke sana bukan atas kemauannya sendiri, jadilah sepanjang mereka di sana, wajah Rosélia begitu masam.Seperti sekarang, di tengah perbincangan yang katanya dua kawan lama yang baru kembali bertemu, Rosélia hanya bergeming, fokus pada jus apel di hadapannya.“Aku tidak tahu jika kamu tertarik dengan lukisan,” ucap Theresa pada Maverick.“Ah ya. Aku juga tak menyangka melukis akan semenyenangkan itu,” jawab Maverick.“Kalau kamu?” Kali ini ucapan Theresa ditujukan untuk Rosélia yan

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 162

    Panggilan itu secara spontan membuat Maverick menengadah, memandang orang yang baru saja memanggilnya. Seorang wanita dengan rambut coklat terang sebahu, kulit putih pucat dan senyuman di bibir tipisnya. Pemilik mata biru itu, Maverick sangat mengenalinya.“Theresa?” desis Maverick.Pria itu ikut tersenyum ketika gadis yang memanggilnya tadi berjalan semakin dekat ke arahnya. “Rupanya aku tak salah,” ucap gadis bernama Theresa Vougel itu.Maverick tak basa-basi, entah dorongan dari mana, dia menarik Theresa dalam pelukannya, begitu erat hingga membuat Theresa terkekeh dengan sikap Maverick.Mereka berdua benar-benar saling berpelukan di sebuah Taman Kanak-kanak. Beruntung semua orang sedang berada di ruangan sehingga kini di sana hanya ada mereka termasuk Rosélia yang menyaksikan pemandangan manis itu.Meski manis, namun entah mengapa seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya. Meski diam, wajah Rosélia tak bisa bohong, terukir dengan jelas jika dia sama sekali tak menyukai apa yan

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 161

    Panggilan itu secara spontan membuat Maverick menengadah, memandang orang yang baru saja memanggilnya. Seorang wanita dengan rambut coklat terang sebahu, kulit putih pucat dan senyuman di bibir tipisnya. Pemilik mata biru itu, Maverick sangat mengenalinya.“Theresa?” desis Maverick.Pria itu ikut tersenyum ketika gadis yang memanggilnya tadi berjalan semakin dekat ke arahnya. “Rupanya aku tak salah,” ucap gadis bernama Theresa Vougel itu.Maverick tak basa-basi, entah dorongan dari mana, dia menarik Theresa dalam pelukannya, begitu erat hingga membuat Theresa terkekeh dengan sikap Maverick.Mereka berdua benar-benar saling berpelukan di sebuah Taman Kanak-kanak. Beruntung semua orang sedang berada di ruangan sehingga kini di sana hanya ada mereka termasuk Rosélia yang menyaksikan pemandangan manis itu.Meski manis, namun entah mengapa seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya. Meski diam, wajah Rosélia tak bisa bohong, terukir dengan jelas jika dia sama sekali tak menyukai apa yan

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 160

    Mata itu terpejam sempurna, hembusan nafas yang teratur menggambarkan jika gadis itu tertidur begitu pulas. Terhitung sepuluh menit yang lalu Elodie terlelap setelah lelah menangis.Gadis kecil itu bahkan tanpa sadar terlelap dalam pelukan Maverick. Namun, tak ingin mengganggu, Maverick tetap mempertahankan posisinya masih dengan tangannya yang mengelus punggung Elodie dengan konstan.Tak lama, Rosélia kembali masuk ke kamarnya. Kali ini bukan dengan raut panik, pun tidak dengan tangan kosong. Dia membawa nampan berisikan bubur, air putih dan juga beberapa butir obat di atas piring kecil.“Makan dulu, setelah itu minum obat,” ucapnya. Dia duduk di tepi ranjang setelah menyimpan nampan itu di atas nakas.“Aku akan makan nanti,” jawab Maverick. Bukan tak menghargai, tapi rasanya dia tak ingin mengganggu putrinya yang sedang terlelap begitu nyenyak.Rosélia mengerti. “Pindahkan dulu saja,” pinta Rosélia. Lagipula dia tak tega melihat Maverick yang sedang sakit harus menampung beban Elodi

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 159

    Dengan bertopang pada semua benda yang dia lewati, Maverick berjalan lebih dulu sebelum kemudian Rosélia dan Elodie mengekor di belakangnya. Maverick akhirnya mempersilahkan Rosélia masuk setelah dia mendengar jika Rosélia bersedia membantunya. Kedatangan dan pertolongan Rosélia sama sekali tak masuk dalam rencananya. Bahkan demam yang tiba-tiba menyerang tubuhnya juga di luar prediksi Maverick.Berjalan ke depan, membuka pintu ketika dia mendengar ada yang mengetuk, bukan berarti sakit di kepalanya menghilang. Bahkan saat ini, rasa sakit di kepalanya semakin menjalar ke bagian belakang pun melintas di atas matanya.Penglihatannya seakan menyempit. Bagian sampingnya semakin hitam sebelum kemudian semuanya hitam dalam penglihatan Maverick. Setelahnya, dia sama sekali tidak mengingat apapun. Hal terakhir yang dia ingat adalah teriakan Rosélia dan Elodie yang memanggilnya.“Maverick!”“Ayah!”Dua gadis itu sama-sama terkejut ketika tubuh Maverick limbung tepat di ambang pintu kamarnya.

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 158

    Rosélia membereskan sisa teh yang disuguhkan pada James. Pria itu sama sekali tak menyentuh cangkir sedikit pun. Rosélia mencuci bekasnya, begitu pun miliknya. Begitu selesai, gadis itu diam termenung di depan meja cuci piring. Sejak kedatangan James dan membawa berita perihal ketidak sehatan Maverick, kepalanya terasa kian berisik.Namun dia berusaha mengabaikan. Gadis itu berlalu dari sana, pindah ke tempat kesukaannya, di depan sebuah kanvas yang menghadap langsung ke arah pegunungan Interlaken, hanya terhalang jendela kaca di antara mereka.“Masih ada satu jam sebelum aku menjemput Elodie,” desisnya. Rosélia menggunakan waktu satu jam itu dengan berguna. Dia menyelesaikan lukisannya. Meski pikirannya kurang fokus, namun hasi lukisnya tetap sempurna. Jam terbang membuat Rosélia tak mudah teralihkan ketika sedang melukis.Satu jam terasa sangat lama hari ini, mungkin karena pikirannya terbagi. Rosélia bersiap untuk menjemput Elodie. Dia tak ingin putrinya menunggu kedatangannya.Se

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 03

    Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 02

    Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status