Share

Bab 155

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-06-29 10:35:12

Kepulangan Agnira langsung disambut pelukan hangat Nana. Gadis itu berlari kecil begitu melihat kakak iparnya memasuki rumah, lalu memeluknya erat dengan wajah berbinar.

"Selamat, Kak!" ucap Nana penuh semangat.

Agnira tersenyum haru sambil membalas pelukan itu. "Terima kasih."

Kabar kehamilan Agnira rupanya telah lebih dulu sampai ke telinga seluruh penghuni kediaman Lakeswara. Para pekerja yang berjajar di ruang tengah ikut mengucapkan selamat dengan wajah bahagia. Suasana rumah yang biasanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Clover
hadeuh.. siapa lagi ini?? musuh baru Sambara kah?? gak pernah bisa hidup tenang ini Agnira kalau sama Sambara
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 156

    Satu minggu berlalu.Sambara kini tak lagi bergantung pada kursi roda. Meski luka di tubuhnya belum pulih sepenuhnya, kondisinya sudah jauh lebih baik hingga ia bisa kembali beraktivitas seperti biasa.Pagi itu, pria itu tampil rapi dengan setelan jas formal berwarna gelap yang semakin menegaskan wibawanya. Hari ini merupakan sidang pembacaan putusan terhadap Panji. Sebagai korban sekaligus pelapor, kehadiran Sambara diwajibkan di pengadilan."Semua sudah siap, Tuan," lapor Nayara.Sambara mengangguk pelan. Sesaat kemudian, ia menoleh ke arah Agnira yang berdiri di sampingnya. "Kamu yakin tidak mau ikut?"Agnira menggeleng pelan. "Tidak. Kepalaku masih sedikit pusing. Lagi pula, aku lebih ingin istirahat di rumah.""Baiklah." Sambara mengangguk memahami."Setelah sidang selesai, saya akan langsung ke kantor. Kalau ada apa-apa, segera hubungi saya." Pria itu mengusap pelan bahu Agnira lembut."Iya," jawab Agnira cepat.Sebelum benar-benar pergi, Sambara merunduk di hadapan Agnira. Tang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 155

    Kepulangan Agnira langsung disambut pelukan hangat Nana. Gadis itu berlari kecil begitu melihat kakak iparnya memasuki rumah, lalu memeluknya erat dengan wajah berbinar."Selamat, Kak!" ucap Nana penuh semangat.Agnira tersenyum haru sambil membalas pelukan itu. "Terima kasih."Kabar kehamilan Agnira rupanya telah lebih dulu sampai ke telinga seluruh penghuni kediaman Lakeswara. Para pekerja yang berjajar di ruang tengah ikut mengucapkan selamat dengan wajah bahagia. Suasana rumah yang biasanya tenang mendadak dipenuhi tawa dan ucapan syukur.Setelah euforia itu sedikit mereda, semua orang berkumpul di ruang tamu. Sambara yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara."Kita akan pindah rumah." Kalimat singkat itu langsung membuat seluruh ruangan hening. Semua mata tertuju kepadanya, termasuk Agnira yang duduk di sampingnya.Wanita itu mengernyit bingung."Pindah rumah?" ulang Agnira pelan. "Kenapa?""Iya, Kak," sahut Nana tak kalah heran. "Rumah ini, 'kan, masih bagus."Sambara mengal

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 154

    Mata Agnira membulat sempurna. Tanpa pikir panjang, ia menyikut pelan lengan Sambara begitu pertanyaan itu meluncur dari bibir suaminya. Dari sekian banyak hal yang bisa ditanyakan kepada dokter, justru urusan ranjang yang lebih dulu muncul di kepala pria itu."Kau, ini!" geram Agnira dengan wajah memerah."Apa?" Sambara menoleh polos. "Saya hanya bertanya.""Masih sempat-sempatnya memikirkan itu." Wajah Agnira bersemu, ia bersiap akan mencubit Sambara jika tidak menahan diri.Sambara mengangkat sebelah alis. "Ini bukan sekedar pertanyaan asal. Saya ingin memastikan semuanya aman."Dokter Maya yang sedari tadi memperhatikan keduanya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng pelan. Tingkah pasangan suami istri itu benar-benar menghibur."Jadi bagaimana, Dok?" tanya Sambara kembali, kali ini dengan nada yang benar-benar serius. "Apakah ada hal yang harus dihindari? Misalnya dari segi posisi atau kondisi tertentu?""Samba

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 153

    Agnira berbaring di atas ranjang pasien, dadanya berdebar saat dokter di sisinya mulai meraba perut. Dia terus menarik napas, berusaha rileks, walaupun kenyataannya tetap tidak bisa."Kita mulai USG-nya yah," ucap Maya sambil mulai menyiapkan alat-alatnya. "Ibu Agnira bisa mengangkat baju sampai bagian perut." Alis Sambara mengernyit saat perintah itu terdengar. "Kenapa istri saya harus membuka baju?" Tangan Maya yang hendak membantu Agnira menarik baju terhenti seketika, dia memandang Sambara dan tersenyum samar. Benar kata dokter Surya, jika Sambara adalah tipe pria protektif terhadap istrinya."Karena benda ini harus menempel dikulit, Pak," ucap Maya sambil menunjukkan benda di tangannya, "dan, jel ini juga harus saya balurkan di atas perut, Ibu Agnira." Dokter itu tersenyum hangat, namun tidak untuk Sambara, pria itu jelas menunjukkan rasa enggan. Namun, tidak berani menyela."Anda sebaiknya keluar dulu, dok," usir Sambara para Surya yang masih betah berdiam diri di sana.Surya

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 152

    Sambara benar-benar berakhir di pinggir trotoar bersama istri dan ketiga anak buahnya. Masing-masing memegang sebungkus tahu bulat hangat yang baru dibeli. Pakaian formal yang dikenakan Sambara beserta ketiga anak buahnya menciptakan kontras yang mencolok dengan suasana kaki lima. Membuat mereka, terutama Agnira yang berada di tengah-tengah mereka, menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas."Aku mau lagi. Pakai bubuk cabai yang banyak," pinta Agnira sambil menunjuk wadah berisi bubuk cabai merah yang tampak begitu menggugah selera.Sambara menoleh sekilas ke arah Agnira. Sudut bibirnya terangkat tipis melihat mata sang istri berbinar seperti anak kecil yang menemukan jajanan favoritnya."Jangan banyak-banyak," tegur Sambara dingin.Agnira mengangguk cepat. "Iya. Jangan terlalu pedas, Pak." Penjual tahu bulat terkekeh pelan. "Siap, Bu."Bungkusan tahu bulat yang baru saja selesai dibumbui langsung diserahkan kepada Agnira. Tanpa menunggu dingin, wanita itu meniup pelan sepoto

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 151

    "Kalian mau ke mana?" tanya Agnira sambil memijat pelipisnya saat melihat Nayara, Kenan, dan Robi sudah berdiri berderet rapi di teras rumah."Kami akan mengawal Tuan dan Nyonya ke rumah sakit," jawab Nayara tegas, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.Agnira mengembuskan napas panjang. Tatapannya bergeser kepada Sambara yang duduk tenang di kursi roda dengan ekspresi datar, seolah tidak melihat ada yang aneh dengan situasi itu."Kau yang menyuruh mereka?" tanya Agnira curiga.Sambara mengangkat bahu santai. "Saya hanya memastikan keselamatan istri dan anak saya."Agnira mendesah lelah, "aku hanya akan USG, bukan perang melawan penjajah. Cukup di temani Nayara saja.""Saya hanya menjalankan tugas sebagai suami siaga, hanya itu saja. Memang salah?" Sambara menatap istrinya heran. Dia bahkan sudah membaca semua tutorial suami siaga di media sosial.Agnira memijat pelipisnya pelan, lalu berjalan tanpa kata masuk ke dalam mobil. Tanpa menghiraukan Sambara, ataupun ke tiga asis

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status