Share

Bab 68

Penulis: D.N.A
last update Tanggal publikasi: 2026-05-20 19:13:43

"Apa benar yang Kirana tuduhkan tadi?" tanya Agnira saat mereka berdua di dalam mobil.

Suasana hening tercipta, hanya suara deru mesin mobil yang terdengar di antara keduanya. Agnira melirik Sambara sekilas, tidak ada tanda-tanda pria itu akan menjawab pertanyaannya.

"Kau akan terus bungkam, Sambara? Tanpa membela sedikitpun apa yang dituduhkan padamu?" Agnira kembali mengutarakan isi hati dan pikirannya.

Sambara menarik napas dalam, fokusnya tetap pada jalanan di depannya. Tanpa sedikitpun men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 224

    Kehadiran kembali Nayara di kediaman Lakeswara membawa angin segar. Sambara menjadi jauh lebih tenang setiap kali harus meninggalkan istrinya di rumah. Setidaknya kini ada seseorang yang benar-benar mampu melindungi Agnira apabila sesuatu yang buruk kembali terjadi.Meski sikap Nayara tetap dingin seperti biasanya, wanita itu tidak pernah lalai menjalankan tugasnya. Sejak pagi, ia sudah memeriksa seluruh sudut rumah, memastikan setiap pintu, jendela, dan sistem keamanan berfungsi dengan baik. Bahkan jadwal para petugas keamanan kini berada di bawah pengawasannya.Agnira yang melihat semua itu hanya bisa menggeleng pelan. "Nay."Wanita itu segera menghentikan langkahnya. "Ya, Nyonya?""Kamu sudah berkeliling rumah tiga kali sejak pagi.""Empat kali," ralat Nayara datar.Agnira menghela napas panjang. "Memangnya ada bedanya?""Ada." Nayara menjawab tanpa ekspresi. "Pada putaran keempat saya menemukan satu kamera taman yang mati."Agnira terdiam beberapa detik. "Serius?""Sudah saya gant

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 223

    Sesuai permintaan Agnira, setelah pulang dari kantor, keduanya langsung menuju rumah Kenan. Tempat peristirahatan terakhir pria itu kini terasa jauh lebih sunyi dibandingkan beberapa hari sebelumnya.Mobil berhenti perlahan di halaman rumah sederhana yang dipenuhi tanaman bunga putih. Langit sore mulai berubah jingga, sementara semilir angin membawa aroma tanah yang masih lembap sehabis hujan siang tadi.Agnira turun lebih dulu. Tangannya secara refleks mengusap perutnya yang mulai membulat sebelum melangkah memasuki halaman. Beberapa pot bunga yang dulu selalu dirawat Kenan masih tersusun rapi di teras. Tak ada yang berubah. Justru itulah yang membuat dada Agnira semakin sesak. Seolah pemilik rumah itu hanya sedang pergi sebentar dan akan kembali kapan saja."Mas ..." bisiknya lirih.Sambara meraih tangan istrinya tanpa berkata apa pun. Keduanya berjalan perlahan menuju sebuah nisan marmer putih di samping rumah, sesuai wasiat yang pernah disampaikan Kenan. Pria itu memang ingin dim

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 222

    Angin berembus kencang, membelai dan mengacak helai rambut Leonard yang berdiri kaku di rooftop rumah sakit milik Arsen. Tatapan matanya dingin, tertuju pada deretan mobil mewah yang perlahan bergerak meluncur meninggalkan area rumah sakit.Pandangan matanya beralih pada langit yang terlihat cerah dengan matahari teriknya, matanya sedikit menyipit, menghalau silau yang menusuk tepat ke retina. Betapa ironis, langit cerah dan terik matahari seolah mengejek kekacauan hatinya.​Leonard mengembuskan napas panjang, membiarkan hawa panas dan hempasan angin menerpa wajahnya tanpa bergeming sedikit pun. Bagi pria itu, kehangatan cahaya di atas kepalanya sama sekali tak mampu menyentuh bongkahan es yang membeku di dalam dadanya.​Perlahan, ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah pemantik api perak yang dingin. Dengung samar deru mesin mobil yang kian menjauh di bawah sana menyisakan keheningan yang tajam.Angin kembali berembus, membuat jas hitam panjang yang dikenakannya berkibar pelan.

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 221

    "Maaf, Pak Sambara, putri saya sudah kembali lancang." Surya segera mendekat. Pria tua itu menatap putrinya dengan wajah menahan geram. Ratih juga ikut mendekat. Wajah wanita paruh baya itu tampak dipenuhi rasa cemas sekaligus malu."Aurelie," tegurnya pelan. "Jangan membahas masa lalu lagi."Aurelie menggigit bibir bawahnya. Jemarinya mencengkeram ujung selimut, lalu mengangguk lemah. "Maaf, Mah."Surya kembali membungkukkan badan ke arah Sambara. "Maaf, Pak Sambara, putri saya sudah kembali lancang." Suaranya terdengar penuh penyesalan. "Tolong jangan dimasukkan ke hati. Kondisinya memang belum stabil."Ratih pun ikut menundukkan kepala. "Kami benar-benar minta maaf. Seharusnya dia tidak mengatakan hal seperti itu."Sambara menatap kedua orang tua Aurelie tanpa perubahan ekspresi. "Tidak perlu meminta maaf kepada saya."Surya dan Ratih mengangkat kepala bersamaan. Merasa lega dengan ucapan Sambara yang masih memiliki hati nurani, jika ia terusir dari kediaman Lakeswara, entah akan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 220

    Ruangan rawat Aurelie mendadak hening. Hanya terdengar suara suster yang sedang memasang kembali infus di tangan wanita itu. Tak seorang pun berbicara. Bahkan Surya dan Ratih hanya bisa terdiam setelah mendapatkan lirikan maut dari Sambara.Sudah sejak tadi orang tua itu terus meminta maaf atas kelancaran putri mereka. Hal itu membuat Sambara muak dan melayangkan bentakan tajam, barulah setelah itu keduanya bungkam dan terdiam di sisi ranjang lainnya.Aurelie beberapa kali meringis pelan saat jarum infus kembali menembus kulitnya, tetapi tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari Sambara. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, namun semuanya seakan tertahan di ujung lidah.Sementara itu, Agnira berdiri tenang di sisi suaminya. Wajahnya tetap ramah, meski ia dapat merasakan tatapan Aurelie yang sesekali mengarah padanya."Sudah selesai, Bu," ucap sang suster sembari merapikan selang infus. "Jangan terlalu banyak bergerak lagi, ya."Aurelie mengangguk pelan. "Terima kas

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 219

    Udara hangat langsung menyambut Agnira tatkala wanita itu menginjakkan kaki di halaman rumah sakit.Meski matahari bersinar cerah, suasana di sekitar gedung utama justru terasa begitu tegang. Beberapa pria berpakaian hitam telah lebih dulu menyebar di setiap sudut. Sebagian berdiri di pintu masuk, sebagian lagi menyamar sebagai pengunjung maupun petugas kebersihan.Agnira menghela napas pelan. Ia lelah dengan keadaan seperti ini, ia hanya ingin bebas seperti dulu, tetapi sepertinya harus menunggu lebih lama lagi."Mas," bisiknya sambil melirik ke kanan dan kiri. "Kalau begini caranya, orang pasti mengira ada presiden yang sedang dirawat."Sambara yang berjalan di sampingnya hanya melirik sekilas. "Biarkan saja.""Berlebihan tau," ujar wanita itu gemas sendiri."Bagi saya, tidak ada kata berlebihan kalau menyangkut keselamatan kamu."Agnira mengembuskan napas pasrah. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat. Sejak insiden di klinik, Sambara benar-benar berubah menjadi jauh lebih protektif.

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status