MasukMelihat Renzo melepaskan kancing baju, Viona mulai menyesal tadi sempat tantrum di kamar pengantin dan mengacak-acak ruang kerja suaminya. Ia tak bisa menebak apa yang dilakukan setelah ini.
"Renzo, hentikan!" Telunjuknya menunjuk pada tubuh suaminya.
"Jangan sok mengatur dan memerintahku. Ingat, kamu yang memulai dan sengaja mengajakku untuk berperang..." Langkah Renzo semakin mendekat.
Suaranya makin terdengar mengintimidasi.
Viona berjalan mundur ke belakang karena suaminya terus melangkahkan kaki menuju dirinya.
"Berhenti kubilang!"
Percuma saja karena sekarang punggung Viona sudah berhadapan dengan dinding. Ia terjebak di posisinya sekarang.
Kaki Viona gemetar karena tak bisa lagi menjaga jarak dari tubuh kekar Renzo.
"Berhenti!" Viona menjerit.
Telapak tangan Renzo cukup untuk membungkam mulut gadis yang hingga kini makin menarik perhatian sang suami. Ia tak tahan ingin segera menghukum dan mendisiplinkannya, tentu dengan cara mafia!
"DIAM!" Mata Renzo menatap tajam.
Sekarang giliran Viona tak berkutik dan seperti ular yang tak lagi bisa mengeluarkan bisanya.
"Kamu sejak awal datang ke sini sudah tidak tahu malu. Tak bisa disiplin... tak menghargai aku sebagai suami..." Bisik Renzo di telinga Viona.
Nafas hangat itu benar-benar seperti membangunkan sisi lain dari Viona.
"Ren-zo!" Dia melemah. Susah payah menyebut nama itu dalam mulut masih terkunci.
Tubuhnya seakan takluk pada apa yang diperintahkan Renzo padanya.
Tangan kiri Renzo mulai bergerak. Dia punya taktik untuk mencoba membobol pertahanan kewarasan Viona.
"Ada apa Little Snake?"
Perlahan namun pasti, tangan itu sudah mendarat di leher kiri Viona. Entah kenapa sentuhan ini terasa berbeda.
"Apa yang kamu mau sebenarnya? Katakan!" Renzo mulai merendahkan suara.
Ada sengatan listrik kecil saat tangan itu menyentuh permukaan kulitnya. Terasa berbeda.
"Hmmm, aku..." Mulutnya tak lagi bisa berkordinasi dengan otak. Pikirannya mulai kacau.
"Kamu mau ini?" Tangan itu mulai turun ke pangkal leher bawah dan bermain di sana.
"Atau ini..." Semakin turun.
Hingga Viona tak sadarkan diri kalau ibu jari Renzo telah bermain di area yang seharusnya tidak terjamah oleh lelaki manapun, tanpa seizinnya.
"Jangan!" Sebuah kata yang Viona sendiri bingung, antara sedang melarang menyentuh area dada yang sensitif atau justru meminta Renzo melanjutkannya.
"Jangan?" Renzo berusaha memastikan ia menerima perintah dengan benar.
Sang pemilik tak kuasa memberikan sebuah kepastian.
"Hmmm..." Kini Renzo berinisiatif untuk menurunkan lagi kordinat tangannya.
Perut Viona jadi sasaran empuk berikutnya. Antara geli, gemetar dan sebuah panggilan lain untuk disentuh.
"Aku... tidak kuat...tidak bisa lagi!" Viona memohon agar Renzo melepaskannya selagi ia bisa mengontrol dirinya sendiri sekarang.
"Kenapa? Kamu tidak kuat? Aku tidak menindihmu sekarang!" Bisikannya terdengar seperti tantangan.
Sesaat tangan nakal itu berhenti. Ia tahu, ini adalah puncak hukuman yang untuk sekarang saja.
"Viona?"
Mata gadis itu terpejam dan tak bisa lagi berkata-kata. Nafasnya semakin pendek.
"Viona?"
Rupanya Renzo sudah memidahkan tangannya dan tak lagi membelai area sensitif itu.
"Buka matamu!"
Viona benar-benar malu sekarang. Dia dalam kondisi baru saja membuka mata sementara Renzo sudah menjaga jarak darinya.
"Lain kali, jangan coba-coba untuk menguji kesabaranku!"
Renzo keluar kamar dan memilih untuk pergi lagi. Dirinya sudah lepas kendali.
**
Viona mengamati detil lorong yang kini berada di hadapannya. Berharap ia bisa menemukan di mana suaminya.
Ia hanya ingin meminjam ponsel untuk menghubungi keluarganya.
"Astaga, apa kau lihat istri Renzo?"
Dia buru-buru masuk kamar lagi karena mendengar percakapan beberapa orang yang lewat.
"Renzo sangat disayangkan harus menjadi tumbal keluarga. Betapa sia-sianya dia membujang lama kalau akhirnya mendapatkan perempuan biasa seperti istrinya sekarang. Hampir empat puluh tahun namun akhirnya hanya mendapatkan wanita tak beretika!"
Suara seorang wanita yang sudah cukup berumur. Tunggu dulu, usia Renzo sudah hampir empat puluh tahun!
Disambut dengan wanita yang lebih muda, "Iya, Ma. Sejak dulu kupikir Paman akan menjodohkan aku dengan Renzo. Tapi apa nyatanya? Usiaku hampir tiga puluh tahun dan justru Renzo dijodohkan dengan gadis sialan itu!"
Masih mengamati sekeliling, Viona berharap ia bisa tahu di mana Renzo sekarang berada.
"Renzo adalah milikmu. Selamanya. Mama akan cari cara untuk bisa menjadikan dia milikmu Olivia. Aku yakin kalau gadis seperti dia tak banyak punya pengalaman soal urusan ranjang."
Keduanya tertawa terbahak-bahak. Seakan mengejek di depan muka Viona langsung.
"Apa yang kamu lakukan dengan menguping di sini?" Rupanya itu adalah Fez.
Berdiri tepat di belakang Viona sambil membawakan baju ganti.
"Tidak, aku hanya ingin mencari Renzo untuk meminjam ponsel. Aku ingin menghubungi keluargaku!"
Fez akhirnya meletakkan baju-baju itu di atas ranjang milik Viona.
"Apa ini?"
Dengan cepat tangannya membuka selembar baju berbahan transparan. "Ini untukku?"
"Iya." Fez menjawab singkat. "Tuan Renzo menyuruhku untuk membawakannya untukmu."
"Apa dia sudah gila? Setiap malam di sini udaranya sangat dingin. Aku bisa mati kedinginan kalau hanya memakai baju begini!"
"Kalau itu masalahnya, itu tak akan jadi soal!" Renzo menjawab. Dia tiba-tiba muncul dari ruang kerja yang pintunya terhubung dengan kamar tidur yang ditempati Viona.
"Tuan, saya permisi!" Fez buru-buru pergi.
Ultimatum dari Renzo sudah cukup jelas, "Aku yang akan membantumu hangat jika kedinginan malam ini!"
"Kita sudah sampai?" Viktoriya dibuat kagum dengan bentukan pintu gerbang yang sangat artistik dan kokoh.Beberapa pria berseragam hitam berjaga di sekelilingnya."Viki, buka jendelamu! Mereka akan melihat kita dulu...""Oke..." ia buru-buru membuka jendela mobil kanan dan kiri."Maaf, kami ada janji dengan Nona Viona... Aku Alex dan ini temanku, Viki!" ucap Alex pada saat petugas itu memeriksa mereka.Ia mengangguk dan menyuruh mereka menunggu untuk memastikan kalau Alex benar-benar ada janji dengan Viona.Mereka berdua tak sabar lagi karena menunggu cukup lama hanya untuk soal konfirmasi."Sampai kapan kita harus menunggu di sini, Alex?" Viki berbisik.Andai saja ia punya kuasa dan kenal dengan orang dalam... mungkin akan lain ceritanya!"Sabar dulu... kali ini memang kita tak punya banyak pilihan, Viki... ini semua demi anakmu!" bisiknya menjawab pertanyaan dan keluhan wanita di sampingnya."Mohon kalian berdua menelpon Nona Viona langsung dan untuk memastikan kalau kalian tidak me
"Viktoriya..." Ivan ingin menyela panggilan itu dan mengingatkan adiknya untuk tidak gegabah.Ia sebagai laki-laki sangat paham dan bisa membaca pikiran Alex, ia sedang memanfaatkan kegundahan sang adik untuk mencapai tujuannya sendiri."Kamu diam dulu, Ivan!" ia menyuruh kakaknya untuk tidak ikut campur tentang masalahnya sekarang.Walau bagaimanapun ini adalah peperangan yang harus ia lakoni sendiri."Viki.. apa kamu mendengarkanku?" tanya Alex lagi."Iya, aku masih di sini... Apa rencanamu Alex?" Ia pun membeberkan hal yang perlu untuk dilakukan. Viktoriya menyimak dengan sungguh-sungguh."Jadi.. aku harus menjemputmu sekarang?" tanya Viktoriya sambil berjalan mengambil jaket kulit dan sepatunya.Wanita itu hanya mengenakan celana pendek dan tanktop rumah saja."Iya... aku ingin kita ke sana berdua!" kata Alex lagi.Sang kakak tentu khawatir jika adik perempuannya bertandang sendirian, apalagi ia tahu kalau mereka akan menuju ke rumah Renzo.Sama saja dengan masuk ke kandang buaya
"No, Viona.. Masalah tidak sesimple itu... Silvano adalah anak dari Renzo!" Kalimat Alfonso tak semudah itu dicerna oleh akal pikirannya.Bagaimana ini? Sementara dirinya tengah berbadan dua dan mengandung anak sang mafia!Apakah nanti... ketika anak-anaknya lahir ke dunia, Renzo akan sama cintanya dengan rasa yang ia miliki pada Silvano?Berbagai pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul.Ia menjadi menyesal mengapa harus hamil jika pada dasarnya Renzo sudah punya anak? Kenapa ia baru tahu sekarang?"Viona, kamu kenapa?" tanya Alfonso melihat kakak iparnya yang tampak diam dan cemas.Wanita muda itu tak lagi banyak bicara dan terkesan merenungi sendirian."Viona!" bahkan saat dipanggil untuk kedua kalinya ia tak merespon.Apa yang ada di benaknya?"Viona?" kali ini ia menyenggol lengan kanannya dan berhasil menggugah kesadaran Viona juga akhirnya."Apa? Kamu bilang apa tadi?" ia tampak gugup dan berusaha untuk terlihat tenang.Meski sebenarnya ia terasa seperti mau terjun saja dari balko
"Apa? Silvano itu jadi..."Viona tak mampu melanjutkan kata-katanya. Hati wanita mana yang tak hancur ketika tahu suaminya yang sebelumnya belum pernah menikah, ternyata telah memiliki seorang anak dengan wanita lain.Ini membuatnya sangat kecewa, meski ia tak pernah mengakui kalau dirinya memiliki rasa pada Renzo."Iya, Renzo belum tahu soal ini karena test DNA dilakukan Papaku secara tersembunyi..." Alfonso menjawab."Kamu pasti bohong!" Viona mengelak dan tak bisa mempercayainya."Buat apa aku bohong untuk hal sepenting ini? Kami para mafia tidak boleh berbohong untuk soal urusan anak!"Viona makin meradang, "berarti kalian boleh bohong soal yang lain?""Tidak begitu juga, Viona..." Alfonso adalah pria dari keluarga mafia yang punya perasaan halus.Ia tahu kalau apa yang ia katakan ini akan menyakiti hatinya."Aku..." Viona tak mampu lagi bagaimana harus menghadapi hal yang menurutnya sama saja dengan pengkhiana
"Kenapa mengkhawatirkan? Ia sudah dewasa dan pergi dalam keadaan baik-baik saja!" kata Alfonso menjelaskan.Ia paham kalau Viona menanyakannya karena ada suatu hal yang disembuyikan dari Alfonso.Untuk urusan rumah tangga, rasanya dia tak perlu tahu dan turut campur."Iya, sebaiknya mungkin aku kembali ke kamar tidur saja!" ia membawa satu lilin sebagai penuntunnya berjalan pelan-pelan ke kamar tidur.Rupanya, setelah bersusah payah menemukan kamar dengan lilin itu, ia mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Alex."Ya ampun... aku lupa kalau aku harus mengecek lagi handphone-nya..." ia mengambilnya dari tempat di mana suaminya biasa meletakkan.Aji mumpung ketika suaminya tak berada di rumah, ia bisa menggunakannya sesuka hati."Halo, Alex?"Syukurlah pria itu bisa dihubungi dengan mudah."Viona? Kamu bisa menghubungiku juga akhirnya...""Iya, Alex. Aku..."Alex memotong pembicaraannya, "sementara ini keluarga Ivanov kebingungan karena kehilangan anak Viktoriya... dan... aku ha
"Kita ke mana, Paman Renzo?" tanya Silvano yang merasa bosan karena sepanjang jalan tiba-tiba Renzo jadi diam.Pria itu terus menyusuri jalanan yang mengarah semakin dekat dengan area tempat tinggal Silvano."Kita mau ke pegunungan...""Jangan!" ia mendadak menolak."Kenapa?" Renzo kaget."Aku lebih suka pantai dari pada gunung..." terangnya.Aneh, anak ini punya kesukaan yang sama dengan Renzo semasa kecil."Tapi suasana pantai akan sangat ramai. Sebaiknya... kita tidak ke pantai malam begini!" "Baiklah.. kita ke pegunungan saja kalau begitu! Tapi, jika ada orang yang bertanya tentangku, bilang saja Paman tidak tahu!" ia berjaga-jaga dan masih memiliki kecemasan kalau-kalau bertemu dengan body guard keluarga Ivanov nanti.Ada getaran yang tak biasa ketika ia mengatakan kalau Silvano adalah anaknya. Seolah ini adalah hal yang lumrah dan memang sewajarnya."Apa kamu tahu banyak soal orang bernama Alex itu?" Renzo sebenarnya sangat tidak menyukai pria itu lagi.Meski dulu sempat dikon