Compartir

Bab 05 Hukuman

Autor: Alia Zach
last update Fecha de publicación: 2025-08-30 17:39:04

Melihat Renzo melepaskan kancing baju, Viona mulai menyesal tadi sempat tantrum di kamar pengantin dan mengacak-acak ruang kerja suaminya. Ia tak bisa menebak apa yang dilakukan setelah ini.

"Renzo, hentikan!" Telunjuknya menunjuk pada tubuh suaminya.

"Jangan sok mengatur dan memerintahku. Ingat, kamu yang memulai dan sengaja mengajakku untuk berperang..." Langkah Renzo semakin mendekat.

Suaranya makin terdengar mengintimidasi.

Viona berjalan mundur ke belakang karena suaminya terus melangkahkan kaki menuju dirinya.

"Berhenti kubilang!"

Percuma saja karena sekarang punggung Viona sudah berhadapan dengan dinding. Ia terjebak di posisinya sekarang.

Kaki Viona gemetar karena tak bisa lagi menjaga jarak dari tubuh kekar Renzo.

"Berhenti!" Viona menjerit.

Telapak tangan Renzo cukup untuk membungkam mulut gadis yang hingga kini makin menarik perhatian sang suami. Ia tak tahan ingin segera menghukum dan mendisiplinkannya, tentu dengan cara mafia!

"DIAM!" Mata Renzo menatap tajam.

Sekarang giliran Viona tak berkutik dan seperti ular yang tak lagi bisa mengeluarkan bisanya.

"Kamu sejak awal datang ke sini sudah tidak tahu malu. Tak bisa disiplin... tak menghargai aku sebagai suami..." Bisik Renzo di telinga Viona.

Nafas hangat itu benar-benar seperti membangunkan sisi lain dari Viona.

"Ren-zo!" Dia melemah. Susah payah menyebut nama itu dalam mulut masih terkunci.

Tubuhnya seakan takluk pada apa yang diperintahkan Renzo padanya.

Tangan kiri Renzo mulai bergerak. Dia punya taktik untuk mencoba membobol pertahanan kewarasan Viona.

"Ada apa Little Snake?"

Perlahan namun pasti, tangan itu sudah mendarat di leher kiri Viona. Entah kenapa sentuhan ini terasa berbeda.

"Apa yang kamu mau sebenarnya? Katakan!" Renzo mulai merendahkan suara.

Ada sengatan listrik kecil saat tangan itu menyentuh permukaan kulitnya. Terasa berbeda.

"Hmmm, aku..." Mulutnya tak lagi bisa berkordinasi dengan otak. Pikirannya mulai kacau.

"Kamu mau ini?" Tangan itu mulai turun ke pangkal leher bawah dan bermain di sana.

"Atau ini..." Semakin turun.

Hingga Viona tak sadarkan diri kalau ibu jari Renzo telah bermain di area yang seharusnya tidak terjamah oleh lelaki manapun, tanpa seizinnya.

"Jangan!" Sebuah kata yang Viona sendiri bingung, antara sedang melarang menyentuh area dada yang sensitif atau justru meminta Renzo melanjutkannya.

"Jangan?" Renzo berusaha memastikan ia menerima perintah dengan benar.

Sang pemilik tak kuasa memberikan sebuah kepastian.

"Hmmm..." Kini Renzo berinisiatif untuk menurunkan lagi kordinat tangannya. 

Perut Viona jadi sasaran empuk berikutnya. Antara geli, gemetar dan sebuah panggilan lain untuk disentuh.

"Aku... tidak kuat...tidak bisa lagi!" Viona memohon agar Renzo melepaskannya selagi ia bisa mengontrol dirinya sendiri sekarang.

"Kenapa? Kamu tidak kuat? Aku tidak menindihmu sekarang!" Bisikannya terdengar seperti tantangan.

Sesaat tangan nakal itu berhenti. Ia tahu, ini adalah puncak hukuman yang untuk sekarang saja.

"Viona?"

Mata gadis itu terpejam dan tak bisa lagi berkata-kata. Nafasnya semakin pendek.

"Viona?" 

Rupanya Renzo sudah memidahkan tangannya dan tak lagi membelai area sensitif itu.

"Buka matamu!"

Viona benar-benar malu sekarang. Dia dalam kondisi baru saja membuka mata sementara Renzo sudah menjaga jarak darinya.

"Lain kali, jangan coba-coba untuk menguji kesabaranku!" 

Renzo keluar kamar dan memilih untuk pergi lagi. Dirinya sudah lepas kendali. 

**

Viona mengamati detil lorong yang kini berada di hadapannya. Berharap ia bisa menemukan di mana suaminya.

Ia hanya ingin meminjam ponsel untuk menghubungi keluarganya.

"Astaga, apa kau lihat istri Renzo?"

Dia buru-buru masuk kamar lagi karena mendengar percakapan beberapa orang yang lewat.

"Renzo sangat disayangkan harus menjadi tumbal keluarga. Betapa sia-sianya dia membujang lama kalau akhirnya mendapatkan perempuan biasa seperti istrinya sekarang. Hampir empat puluh tahun namun akhirnya hanya mendapatkan wanita tak beretika!" 

Suara seorang wanita yang sudah cukup berumur. Tunggu dulu, usia Renzo sudah hampir empat puluh tahun!

Disambut dengan wanita yang lebih muda, "Iya, Ma. Sejak dulu kupikir Paman akan menjodohkan aku dengan Renzo. Tapi apa nyatanya? Usiaku hampir tiga puluh tahun dan justru Renzo dijodohkan dengan gadis sialan itu!"

Masih mengamati sekeliling, Viona berharap ia bisa tahu di mana Renzo sekarang berada.

"Renzo adalah milikmu. Selamanya. Mama akan cari cara untuk bisa menjadikan dia milikmu Olivia. Aku yakin kalau gadis seperti dia tak banyak punya pengalaman soal urusan ranjang." 

Keduanya tertawa terbahak-bahak. Seakan mengejek di depan muka Viona langsung.

"Apa yang kamu lakukan dengan menguping di sini?" Rupanya itu adalah Fez.

Berdiri tepat di belakang Viona sambil membawakan baju ganti.

"Tidak, aku hanya ingin mencari Renzo untuk meminjam ponsel. Aku ingin menghubungi keluargaku!"

Fez akhirnya meletakkan baju-baju itu di atas ranjang milik Viona. 

"Apa ini?"

Dengan cepat tangannya membuka selembar baju berbahan transparan. "Ini untukku?"

"Iya." Fez menjawab singkat. "Tuan Renzo menyuruhku untuk membawakannya untukmu."

"Apa dia sudah gila? Setiap malam di sini udaranya sangat dingin. Aku bisa mati kedinginan kalau hanya memakai baju begini!"

"Kalau itu masalahnya, itu tak akan jadi soal!" Renzo menjawab. Dia tiba-tiba muncul dari ruang kerja yang pintunya terhubung dengan kamar tidur yang ditempati Viona.

"Tuan, saya permisi!" Fez buru-buru pergi.

Ultimatum dari Renzo sudah cukup jelas, "Aku yang akan membantumu hangat jika kedinginan malam ini!"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Ranjau Cinta di Ranjang Mafia   Bab 99 Menuju Babak Baru

    "Renzo..." Viona luluh dengan kata-kata yang diucapkan suaminya.Walau bagaimanapun ini adalah sebuah hal yang membuat dirinya ada dan beban pikirannya sedikit terangkat."Kenapa, Little Snake?" Tanya Renzo merasa janggal saat Viona tersenyum sendiri.Kekhawatirannya terangkat sudah dari pundaknya."Tidak apa-apa. Aku pikir, jika nanti anak-anak ini sudah lahir, mungkin saja mereka bisa bebas dan tidak ikut-ikutan bergabung di dunia mafia..." ia pura-pura berbohong."Jadi di matamu, kehidupan mafia ini sangat kotor? Sehingga nanti mereka tidak boleh tahu kalau Papanya seorang mafia? Begitu?" Renzo berubah seketika menjadi singa yang siap menerkam mangsa.Duh, kenapa disalah artikan begini?"Ma-maksud... maksudku, aku tidak yakin... aku sendiri merasa kehidupan mafia ini cukup menegangkan dan aku tidak yakin apakah anak-anak ini kelak akan sanggup!" rintih Viona.Ibu jari Renzo seketika menempel di bibir istrinya,"Sshh... jangan bilang begitu! Di dalam darah mereka mengalir darahku. Me

  • Ranjau Cinta di Ranjang Mafia   Bab 98 Hormon Hamil

    "Nona? Apa ada masalah? Tampaknya Nona tadi berteriak?" Tanya salah satu penjaga dari luar kamar tidur. "Oh, tidak!" Celaka! Saat Viona memanggil Fez tadi, ia rupanya sedikit kencang dalam bersuara! "Apa kau yakin?" Penjaga itu masih ragu apakah sang Nona yang dijaganya benar-benar dalam kondisi baik-baik saja. "Tapi, saya mendengar Nona seperti berteriak! Saya perlu memastikan kalau Nona tidak ada masalah di dalam. Maaf saya harus masuk!" Tanpa aba-aba, pria tegap berseragam serba hitam itu masuk. Untunglah Viona sudah memasukkan handphone-nya ke dalam laci sebelum penjaganya ada di ruangan yang sama. "Nona?" Ia memastikan lagi. Mereka begitu over protektif pada istri Don-nya, bahkan seekor semut dan nyamuk pun tak boleh melukai wanita yang digadang-gadang membawa garis keturunan baru sang mafia. "Aku baik-baik saja, kalian tak perlu berlebihan." Satu orang penjaga berada di depan pintu dan satu lagi masuk mendekati Viona. "Nona, mohon mengertilah bahwa kami men

  • Ranjau Cinta di Ranjang Mafia   Bab 97 Jauh dari Rumah

    Sendirian. Itu yang lebih dirasakan Viona sekarang."Nona, mau dimasakkan apa hari ini?"Itu saja pertanyaan yang setiap hari dia dengar. Renzo akhir-akhir ini jarang ada di rumah selain malam hari.Suaminya sibuk mengurusi keamanan dirinya 24/7. Sedangkan sebenarnya dia lebih membutuhkan teman untuk diajak bicara daripada puluhan pengawal yang menjadi garda terdepan keamanan."Nona?" Chef itu menanyainya lagi."Oh, maaf..." ia terbangun dari lamunannya. "Apa yang kamu tanyakan tadi?"Chef itu tersenyum, "Apa yang ingin Anda makan hari ini, Nona? Tadi Tuan Rossi mengatakan pada saya kalau sebaiknya saya bertanya lansgung tentang apa yang ingin Anda makan...""Aku... sepertinya hanya ingin daging dimasak dengan kentang seperti kemarin..." Jawab Viona malu-malu."Ohh... maksud Nona semacam beef stew?" ia mengkonfirmasi lagi.Nona muda yang kelelahan karena usia kehamilan di trimester ketiga itu mengangguk."Baik, ada request lagi, Nona?" Ia mencatat baik-baik makanan apa yang Viona dan

  • Ranjau Cinta di Ranjang Mafia   Bab 96 Ragu-ragu

    Kejadian tembakan yang memecahkan kaca jendela kamar mandi bukanlah kejadian biasa.Bagi keluarga mafia, itu adalah sebuah kode keras. Renzo memutar otak bagaimana caranya ia melindungi istrinya kalau sewaktu-waktu dia sedang tak berada di mansion.Ini adalah sebuah ancaman."Viona, mulai detik ini, kamu tidak boleh jauh dariku..." ultimatum suaminya terdengar menegangkan dan serius.Ini bukan waktunya main-main. Terlebih kandungan Viona sudah terlihat makin membesar.Kira-kira siapa pelakunya?Keduanya sepakat untuk pindah sementara dari mansion dan mencari tempat yang aman. Pergi ke luar negeri adalah salah satu caranya. "Kita ke Rusia!" Suaminya sudah bulat mengambil keputusan. Viona dan Renzo akan menetap di sana sampai menjelang lahiran. Kalau perlu sampai bayi itu beranjak besar...Viona tak punya pilihan selain menurut apa kata sang suami. Kali ini memang keselamatan mereka di atas segalanya."Berkemaslah dan kita akan berangkat dengan private jet malam ini juga. Kita pastika

  • Ranjau Cinta di Ranjang Mafia   Bab 95 Peluru Salah Sasaran

    Perdebatan antara tetua tak membuahkan hasil.Paman Renzo ingin hal ini harus segera ia cari solusinya."Renzo, kau sudah sadar?" sore harinya ia datang ke mansion tempat tinggal keponakannya itu."Paman, aku tidak mabuk tadi..." ia masih saja memasang tampang dingin karena tak mau terlihat lemah di hadapan orang lain."Hah, bedebah! Semua orang yang di sana itu tahu kalau kamu mabuk dan kamu tak sekuat itu, Renzo!" timpalnya melemparkan sebuah amplop dari klinik terpercaya para mafia."Apa ini?" tanya Renzo bingung."Hasil tes DNA mu dengan Silvano, cocok!" Pamannya menekankan kata cocok agar Renzo menaruh perhatian pada yang akan mereka bicarakan.Kedua alisnya bertaut. Ia tahu kalau anak itu memang sangat mirip dengannya."Siapa yang sudah tahu ini?""Semua orang kecuali dirimu!" Jawab pamannya enteng. Terdengar menyepelekan. Lantas Renzo mulai tertarik setelah ia disepelekan oleh pamannya."Bagaimana bisa aku adalah orang terakhir yang tahu hal sepenting ini?" Dia melempar amplop

  • Ranjau Cinta di Ranjang Mafia   Bab 94 Pengalihan Isu

    Viona tak bisa lama-lama berada di ruangan itu.Tangisnya sudah pecah dan tumpah. Baru saat ini ia merasakan hal yang baru, menangisi lelaki yang sejatinya ia tak pernah cintai, saat tahu bahwa laki-laki itu punya masa lalu.Terpampang jelas sudah bahwa cinta itu masih ada dan menyala di tatapan Vikoriya pada suaminya."Sial..." Viona mengumpat untuk pertama kali. Kakinya tersandung meja credenza yang ada di hadapannya. "Apa yang terjadi, Little Snake?" Renzo bertanya dengan penuh kekhawatiran.Semenjak perutnya sudah terlihat membesar, perhatiannya mendadak meningkat.Kau hanya mengkhawatirkan sesuatu terjadi pada bayiku daripada apa yang terjadi padaku, Renzo. Aku sudah tahu sekarang kedokmu!"Aku tidak apa-apa, Renzo. Lepaskan tanganmu!"Ia menolak bantuan Renzo untuk berjalan ke kamarnya.Ini adalah hal yang menyebalkan untuk pria maskulin seperti dirinya. Viona sejak dulu hingga sekarang nampaknya memang masih sekeras batu."Sayang," ucapan Renzo yang terdengar di telinga sudah

  • Ranjau Cinta di Ranjang Mafia   Bab 31 Not a Wedding Dream

    Valerie berjalan ke depan dan meninggalkan para tamunya.Mukanya kusut. Setelah berikrar pernikahan bukannya bahagia, dia justru nampak tak seperti layaknya seorang pengantin baru.Renzo memanggilnya karena adik iparnya itu tak perhatian pada dirinya yang duduk di teras depan sendir

  • Ranjau Cinta di Ranjang Mafia   Bab 30 Tamu Tak Diharapkan

    Viona yang hanya mengenakan gaun berwarna krem dipadu dengan sepatu warna senada, memasuki area ijab qabul yang sudah terlihat usai.Semua orang yang diundang telah selesai mengikuti acara dan kini mereka dalam sesi ramah tamah.Berbagai menu makanan disajikan."Viona!" Salah

  • Ranjau Cinta di Ranjang Mafia   Bab 29 Telat Datang

    “Benarkah Viona sekarang telah berubah?”“Iya, Ayah.. karena suaminya kaya raya dan kita jatuh bangkrut!”Valerie sakit hati karena mimpinya jadi Nyonya besar mafia tak kesampaian. Ia sudah mulai berubah pikiran sejak Renzo membelikan gaun pernikahan impianny

  • Ranjau Cinta di Ranjang Mafia   Bab 28 Pulang lagi

    Setelah insiden telepon dan foto di Saint Petersburg, keduanya tak banyak bicara satu sama lain.Pun ketika pulang, Viona memilih untuk naik pesawat komersial biasa. Ia tak mau pulang satu pesawat dengan sang suami.Ia memaksa ingin sendiri.Saat Renzo sudah tiba setengah har

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status