MasukKembali ke dalam kamarnya yang sepi, Alin langsung mengunci pintu ganda erat-erat. Dia bersandar pada daun pintu, memejamkan mata sembari mengatur detak jantungnya yang masih berpacu liar setelah interaksi penuh kepalsuan dengan Elena di bawah tadi.
"Waktuku tidak banyak," bisik Alin pada kesunyian kamar. Karena jam satu siang nanti Alin harus pergi ke butik bersama Elena, yang berarti dia hanya memiliki waktu sekitar tiga jam untuk menyusun fondasi pertamanya. Alin melangkah cepat menuju rak buku besar di sudut ruangan. Dia meraih sebuah buku catatan tebal bersampul kulit cokelat tua yang tampak seperti buku sketsa biasa. Di kehidupan lalu, buku ini berakhir di tempat sampah saat kamarnya dijarah oleh anak buah Valerio. Namun di kehidupan ini, buku catatan kosong ini akan menjadi senjata paling mematikan yang dia miliki. Alin duduk di meja belajarnya, membuka lembar pertama, dan mengambil sebuah pena hitam. Dia tidak boleh menuliskan ingatan masa depannya dengan bahasa biasa. Jika Silas atau Elena berhasil menyelinap dan membaca buku ini, habislah sudah. Alin harus menggunakan kode khusus. Dia mengingat kembali pelajaran kriptografi dasar yang pernah dipelajari secara diam-diam dari sebuah buku tua di perpustakaan Moretti saat dia dikurung oleh Valerio dulu. Kode itu berbasis kombinasi angka romawi, koordinat geografis, dan inisial terbalik. Pena Alin mulai menari di atas kertas, goresannya tegas dan tanpa ragu. S.V. — P.U. — 08/06/24. Alin menatap baris pertama itu. Dalam bahasa normal, itu berarti Silas Vance, Pelabuhan Utara, 8 Juni 2024. "Tepat satu minggu dari sekarang," gumam Alin, matanya menyipit tajam. "Hari di mana kapal logistik utama milik Paman Silas akan bersandar membawa muatan ilegal." Di bawah baris itu, Alin menjabarkan detail yang lebih spesifik. Dia menuliskan nomor kontainer, jenis senjata api ilegal yang diselundupkan dari Eropa Timur, hingga nama kepala bea cukai yang telah disuap oleh pamannya untuk meloloskan kargo tersebut. Di kehidupan lalu, transaksi ini berjalan mulus dan menjadi batu loncatan Silas untuk mendapatkan keuntungan besar, sebelum akhirnya dihancurkan oleh musuh di paruh akhir tahun. "Jika aku membiarkannya berhasil kali ini, dia akan memiliki posisi tawar yang kuat," pikir Alin, mengetuk-ngetukkan ujung pena ke dagunya. "Aku harus memotong sayapnya sebelum dia sempat terbang terlalu tinggi." Pintu kamar Alin tiba-tiba diketuk dua kali dari luar, membuat tangannya refleks menutup buku catatan itu dalam satu gerakan cepat. "Nona Alin? Ini Bi Minah. Saya membawakan teh hangat yang Anda minta tadi," suara pelayan tua keluarga Vance terdengar dari balik pintu. Alin menarik napas lega, merilekskan otot bahunya. "Masuk saja, Bi. Pintunya tidak dikunci," bohong Alin, sembari dengan cepat menyelipkan buku catatan kulit itu ke dalam laci meja yang memiliki kompartemen rahasia di bagian bawahnya. Dia membuka kunci pintu dengan cepat sebelum Bi Minah memutar knop. Pelayan tua itu masuk membawa nampan perak dengan secangkir teh melati yang mengepulkan uap wangi. "Ini, Nona. Diminum selagi hangat agar pusingnya hilang." "Terima kasih, Bi," Alin tersenyum tulus. Bi Minah adalah salah satu dari sedikit orang di rumah ini yang benar-benar tulus menyayanginya, bukan karena status atau kegunaannya. "Bi, apa Paman Silas sudah benar-benar pergi ke kantor?" Bi Minah mengangguk pelan sambil merapikan beberapa helai pakaian Alin yang tergantung di luar lemari. "Sudah, Nona. Sekitar lima belas menit yang lalu. Tuan Silas tampak sangat terburu-buru tadi, katanya ada pertemuan penting dengan kolega dari luar kota." “Kolega luar kota. Pasti perwakilan dari pemasok senjata itu,” batin Alin menganalisis. "Oh, begitu ya. Terima kasih informasinya, Bi. Bibi bisa kembali ke dapur," ucap Alin lembut. "Baik, Nona. Jangan lupa dihabiskan tehnya," Bi Minah membungkuk hormat lalu melangkah keluar, menutup pintu kamar kembali. Setelah memastikan situasi aman, Alin kembali mengeluarkan buku catatannya. Dia melanjutkan goresan penanya ke halaman berikutnya. Kali ini, fokusnya beralih ke tabel kronologi finansial. Dia mencatat semua nomor rekening luar negeri milik mendiang ayahnya yang saat ini dipalsukan hak kuasanya oleh Silas. Alin mengingat dengan jelas, pada tanggal 15 Juni 2024, Silas akan mencairkan dana perwalian sebesar dua juta dolar atas nama Alin dengan memalsukan tanda tangan persetujuannya. Di kehidupan lalu, Alin baru mengetahui hal itu setelah semuanya terlambat dan uangnya habis dipakai Silas untuk menutupi kerugian judi kasino terlarang. "Dua juta dolar itu adalah hakku," Alin menatap tajam deretan angka berkode yang baru saja ditulisnya. "Aku akan membiarkanmu mencoba mencairkan nya, Paman. Tapi di detik terakhir, aku yang akan memindahkan seluruh dana itu ke rekening anonim milikku sendiri di Swiss. Mari kita lihat bagaimana wajahmu saat menyadari brankas utamamu kosong melongpong.” Alin menutup buku catatan itu dengan bunyi debuman pelan setelah menyelesaikan tiga halaman penuh dengan kode rahasia. Dia menyembunyikannya kembali ke tempat teraman di dalam kamarnya. Dia berdiri, berjalan menuju jendela, dan memandang ke luar, menatap gerbang megah kediaman Vance. Alin tahu, di luar sana, pusaran lumpur dunia bawah tanah sedang berputar, bersiap menelan siapa saja yang lemah. "Pukul satu siang nanti, giliranmu, Elena," bisik Alin pada angin yang berhembus masuk. Senyumnya kini tidak lagi mengandung kepolosan, melainkan kilatan dingin seorang predator yang siap berburu.Alin merespons ciuman itu. Tangannya mengalung di leher Valerio, jemarinya menyusup ke dalam rambut hitam suaminya yang tebal. Namun di tengah ciuman yang semakin memanas, Alin memanfaatkan momen ketika Valerio terbuai oleh kenikmatan gairah tersebut untuk membalikkan posisi psikologis mereka.Alin menggigit kecil bibir bawah Valerio, membuat dia menggeram rendah di tengah ciumannya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat lembut. Lalu Alin memiringkan kepalanya dan berbisik di telinga Valerio."Jika Anda menginginkan tubuh ini sepenuhnya, Don Valerio... berikan aku otoritas penuh atas pasukan Sektor Lima besok pagi."Valerio membeku seketika. Ciumannya terhenti. Matanya membelalak menatap Alin yang kini tersenyum manis di dalam pelukannya dengan deru napas yang masih memburu."Kamu... memanfaatkan momen ini untuk bernegosiasi bisnis lagi?" Valerio bertanya dengan suara penuh ketidakpercayaan, bercampur antara rasa takjub dan frustasi yang membakar dadanya."Aku seorang Vance yang kini
Perjalanan kembali ke Kastel Moretti berlangsung dalam keheningan dan ketegangan. Di dalam mobil, Valerio duduk di samping Alin, memperhatikan setiap gerakan kecil istrinya.Alin melepas mantel tebalnya, memperlihatkan gaun kasual sutra berwarna biru gelap yang membingkai indah bentuk tubuhnya. Rambut cokelat gelapnya yang sedikit basah oleh hujan terurai bebas, mengeluarkan aroma harum floral yang memenuhi kabin mobil."Mengapa kamu diam, Valerio?" Alin memecah keheningan, melirik suaminya yang tak melepaskan pandangan darinya. "Apakah interogasi Kapten Viper di kepalamu sudah selesai?""Aku tidak sedang memikirkan agen federal itu, Alinea," suara Valerio terdengar rendah dan serak. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam terangkat, mengelus paha atas Alin yang terekspos di balik belahan gaunnya. "Aku sedang memikirkan bagaimana cara menghukum seorang istri yang tidak patuh kepada suaminya."Sensasi hangat dari telapak tangan Valerio menembus kain sutra tipis, membuat bul
Alin melepaskan genggaman tangannya dari pistol yang berada di dalam saku, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Silas dengan pandangan mata yang penuh penghinaan."Paman Silas..." Alin berkata dengan suara yang sangat tenang dan jernih, menggelegar menembus deru suara hujan di luar. "Apakah kamu benar-benar mengira... aku datang ke dermaga tua ini sendirian tanpa membawa hadiah penutup untukmu?"Tepat pada saat Alin menyelesaikan kalimatnya, suara mesin mobil berdaya tinggi mendadak memecah kegelapan malam dari luar gudang!Sebuah kendaraan lapis baja berukuran raksasa menghantam dinding beton gudang tua hingga hancur berkeping-keping, menyemburkan debu dan puing-puing batu ke udara! Di belakang kendaraan tersebut, belasan lampu tembak menyala serentak, menyinari seluruh sudut gudang tua dengan cahaya putih yang menyilaukan mata!Dari dalam debu yang membumbung tinggi, sesosok pria tinggi besar melangkah keluar dengan senapan di tangannya. Aura membunuh yang amat peka
"Karena serangan Gideon semalam tidak akan pernah terjadi jika tidak ada dorongan dari petinggi di Eropa," Alin melepaskan tangan Valerio dari dagunya secara halus. "Seseorang di atas sana takut jika kita berhasil melegalkan bisnis kasino dan menguasai Sektor Lima, kekuasaan Moretti akan menjadi terlalu besar untuk dikendalikan."Valerio menatap istrinya beberapa saat sebelum sebuah helai nafas berat keluar dari dadanya. "Aku baru saja selesai menginterogasi komandan pengawal faksi selatan yang kita tangkap di pelabuhan.""Apa yang dia katakan?" tanya Alin cepat."Don Carlos tidak bergerak sendirian," Valerio melangkah mendekati jendela, menatap pemandangan halaman kastil di bawah sinar matahari pagi. "Dia mendapat perintah langsung dari seorang perantara yang mengaku bekerja untuk klan Vane di Eropa. Dan yang lebih menarik lagi... perantara itu memberikan foto wajahmu sebagai target utama yang harus ditangkap hidup-hidup."Alin terdiam sebentar. "Mereka tidak menginginkan kematia
Matahari pagi belum sepenuhnya terbit saat Alin terbangun di atas ranjang kamar utama. Sedangkan Valerio sudah pergi lebih awal untuk mengurus sisa-sisa kekacauan di pelabuhan dan menginterogasi sisa-sisa pengawal faksi selatan yang ditangkap.Alin duduk di tepi ranjang, merenungkan perkembangan situasi. Serangan dari Tentara Bayaran Gideon semalam membuktikan bahwa bahaya yang dihadapinya kini telah meluas melebihi ekspektasi awal dari memori masa lalunya. Seseorang di tingkat internasional sedang memantau setiap langkahnya dan langkah Valerio.Setelah membersihkan diri dan mengenakan gaun sutra simpel berwarna biru gelap, Alin melangkah menuju ruang kerja pribadi Valerio di lantai dua. Pengawal yang berjaga di depan pintu hanya membungkuk hormat tanpa berani menghalangi jalan sang Nyonya Muda. Alin mendekati brankas besi rahasia yang tersembunyi di balik lukisan dinding tua. Menggunakan kombinasi angka yang dia ingat dari masa depan dan kunci akses biometrik yang dia salin semalam,
"Tentu saja tidak," Alin melirik Valerio dengan kilatan mata jahil yang sangat memikat di bawah remang lampu interior mobil. "Itu hanya gertakan palsu. Tapi mereka tidak punya waktu untuk memverifikasinya dalam tiga menit, bukan?"Valerio tertegun sejenak sebelum sebuah tawa rendah dan berbahaya lolos dari tenggorokannya. "Kamu benar-benar wanita paling licik yang pernah kutemui."Suara dari helikopter kembali bergaung, kali ini terdengar sedikit ragu. "Nyonya Moretti... kamu bermain-main dengan maut. Turun dari mobil dan serahkan perangkat penyimpanan data itu dalam tiga puluh detik!”"Enzo!" Valerio menyambar radio komunikasi genggamnya, memotong gertakan dari udara. "Apakah tim sudah berada di posisi penembakan?"Dari radio, suara Enzo terdengar di antara derau sinyal. "Sudah, Don! Penembak jitu kita sudah mengunci rotor belakang helikopter musuh dari atas derek kontainer utama!""Hancurkan mereka," perintah Valerio dingin.Suara tembakan senapan membakar malam. Rotor belakang







