LOGINLeo melepaskan tekanan jarinya dari area ulu hati Karina secara perlahan. Pria itu menahan kedua bahu sang instruktur untuk menstabilkan postur tubuhnya yang melemas kehilangan tenaga.Karina menarik napas panjang meraup sisa oksigen yang berbau tajam cairan formalin."Bongkar lemari ini sekarang juga!" perintah Surya dari luar diiringi suara kokangan senjata api rakitan. "Habisi siapapun yang bersembunyi di dalam sana!"Leo memutar tubuhnya membelakangi Karina dan mengangkat kaki kanannya ke udara.Tendangan keras dari sepatu pantofel sang dokter menghantam pintu lemari dari arah dalam. Papan kayu jati tebal itu pecah terbelah dua menghasilkan suara ledakan kayu.Pintu lemari terlempar ke depan menabrak rahang preman terdepan yang memegang tali rantai anjing.Pria berjaket kulit itu terpelanting ke belakang menjatuhkan senapan rakitannya ke lantai keramik. Anjing herder itu meronta melepaskan kalungnya dan lari ketakutan keluar dari laboratorium.Leo melangkah keluar dari tum
Suara angin malam berembus pelan menyapu area asrama akademi keperawatan yang terletak di pinggiran distrik.Gedung tiga lantai itu terlihat gelap menyembunyikan aktivitas eksploitasi tenaga medis di dalamnya.Leo memotong gembok gerbang belakang asrama menggunakan tang baja tanpa menghasilkan suara bising.Pria itu menyelinap masuk menelusuri koridor lantai dasar menuju ruang penyimpanan dokumen.Di dalam ruang arsip yang berantakan, Karina duduk terikat di kursi kayu dengan kedua tangan di belakang punggung.Instruktur kaku itu masih mengenakan seragam kerjanya yang kini berkerut dan kotor oleh debu ruangan.Wajah wanita itu tertunduk menahan rasa perih di sudut bibirnya yang masih membengkak akibat tamparan Surya siang tadi.Dua penjaga berbadan besar berjaga di depan pintu memegang tongkat pemukul karet."Kau terlalu berani berniat melaporkan yayasan ini ke dinas tenaga kerja, Nona Instruktur," ejek penjaga pertama mengayunkan tongkatnya mendekati wajah Karina."Ratusan pera
Lorong bangsal rawat inap Rumah Sakit Terpadu terlihat sangat sepi pada pertengahan hari.Deretan ranjang berlapis seprai putih bersih berjejer rapi di dalam puluhan kamar kaca.Fasilitas medis tersebut sudah siap beroperasi penuh menerima ratusan pasien dari penjuru desa. Namun, tidak ada satu pun tenaga perawat yang berjaga di pos administrasi maupun ruang tindakan.Leo melangkah menyusuri koridor rumah sakit memeriksa papan jadwal jaga yang dibiarkan kosong melompong."Pendaftaran rekrutmen staf perawat kita diblokir total sejak kemarin sore," lapor Karina berdiri di dekat meja pendaftaran utama.Kepala Instruktur Akademi Keperawatan itu memegang tumpukan map berkas lamaran dengan jari memutih.Kemeja kerjanya dikancingkan hingga leher menunjukkan kedisiplinan yang sangat kaku. Rambut hitamnya diikat rapat ke belakang tanpa menyisakan satu helai pun yang berjatuhan."Tidak ada satu pun lulusan akademi yang berani menandatangani kontrak kerja dengan rumah sakit ini," lanjut K
Suara hantaman parang jagal pada pintu baja kabin pembeku berhenti sejenak menyisakan dengung mesin pendingin.Leo perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Renata yang masih bergetar menahan suhu beku."Bongkar engsel pintu ini pakai mesin pemotong baja!" perintah Tono dari luar kabin dengan nada tinggi.Renata mengatur napasnya meredam sisa lonjakan hormon endorfin. Keringat dingin bercampur embun es membuat seragam koki putihnya menempel ketat di kulit wanita itu."Tunggu di sudut ini sampai aku membereskan tengkulak itu," instruksi Leo menatap lurus ke arah pintu baja."Mereka membawa parang tajam dan jumlahnya sangat banyak, Dokter," peringat Renata menelan ludah menahan sisa rasa kebas di bibirnya."Senjata tajam tidak akan berguna di tangan orang yang salah," balas Leo dengan intonasi sangat datar.Pria itu memutar tubuhnya dan mengangkat kaki kanannya mengambil ancang-ancang.Ujung sepatu pantofel sang dokter mendarat telak pada panel kunci mekanik pintu baja dari arah
Suara pisau jagal yang menghantam telenan kayu memecah keheningan rumah pemotongan hewan pada waktu subuh. Bau darah mentah bercampur bahan kimia pengawet mendominasi udara di area pabrik yang luas tersebut.Leo melangkah melewati pintu gulung baja yang setengah terbuka tanpa menimbulkan suara pada sepatu pantofelnya. Pria itu menyusup masuk menelusuri lorong yang diapit oleh kait-kait besi pemotong daging.Renata berlutut di tengah area pemotongan dengan kedua tangan terikat ke belakang. Koki kepala itu masih mengenakan seragam putihnya yang kini kotor oleh noda darah dan lendir lantai pabrik.Tiga algojo bertubuh kekar mengelilingi Renata sambil memegang parang jagal berukuran besar."Serahkan ponsel yang kau gunakan untuk merekam kegiatan kami atau jari-jarimu akan putus!" ancam algojo pertama menarik rambut Renata secara kasar."Aktivitas oplosan formalin kalian akan segera diketahui dinas kesehatan kota," tolak Renata menahan rasa sakit di kulit kepalanya dengan gigi gemeret
Suara debuk keras terdengar saat potongan daging sapi seberat lima kilogram menghantam meja ubin baja antikarat.Cairan berwarna merah kehitaman menetes dari serat daging tersebut menodai permukaan meja kerja yang steril.Aroma bahan kimia formalin seketika mengalahkan bau kaldu sapi dari panci rebusan di dapur sentral Puskesmas Elite pada pagi hari.Persiapan pembukaan bangsal rawat inap menuntut standar kebersihan pangan yang sangat tinggi untuk asupan gizi para pasien. Dapur sentral ini merupakan jantung utama pemulihan fisik melalui asupan nutrisi berkualitas.Renata menusukkan garpu panjang ke bagian tengah potongan daging itu dan menariknya paksa.Koki kepala wanita berseragam putih itu menutup hidungnya menahan bau busuk yang menyengat saraf penciumannya.Serat daging itu terlepas dengan sangat mudah menandakan proses pembusukan yang sudah terjadi berhari-hari."Daging ini sudah membusuk sejak tiga hari lalu dan kalian merendamnya dengan pengawet mayat," tegur Renata mele
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m







