Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Lutut yang Hancur

Share

Lutut yang Hancur

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-06-20 08:48:56

Tubuh tambun Juragan Maman jatuh berguling ke atas debu tanah perbatasan.

Tangan pria itu mencengkeram lutut kanannya sambil terus berteriak kesakitan. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras membasahi wajah dan lehernya yang berlipat.

"Cabut jarum gila ini!" raung Maman menendangkan kaki kirinya ke udara. "Kalian diam saja? Bunuh dokter bedebah ini!"

Sepuluh preman berwajah garang itu hanya mematung. Tangan mereka gemetar memegang gagang golok tanpa niat menyerang.

Ketakutan melihat bos me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Lutut yang Hancur

    Tubuh tambun Juragan Maman jatuh berguling ke atas debu tanah perbatasan.Tangan pria itu mencengkeram lutut kanannya sambil terus berteriak kesakitan. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras membasahi wajah dan lehernya yang berlipat."Cabut jarum gila ini!" raung Maman menendangkan kaki kirinya ke udara. "Kalian diam saja? Bunuh dokter bedebah ini!"Sepuluh preman berwajah garang itu hanya mematung. Tangan mereka gemetar memegang gagang golok tanpa niat menyerang.Ketakutan melihat bos mereka takluk oleh tiga bilah jarum perak jauh mengalahkan nyali jalanan mereka. Mereka tidak mengerti ilmu medis macam apa yang baru saja digunakan sang dokter."Diagnosisku terbukti dalam hitungan menit," Leo menjelaskan anatomi rasa sakit itu dengan nada datar.Pria berjas putih itu menatap tumpukan sate daging di atas panggangan arang yang kini ditinggalkan."Tumpukan zat purin dari daging kambing itu memicu serangan asam urat paling parah di lututmu saat ini."Maman mengerang panjang hingga u

  • Rayuan Desa Wanita   Blokade Jembatan Kayu

    Truk logistik itu memelankan lajunya saat mendekati bibir jembatan kayu penghubung antar kecamatan.Batang kayu gelondongan berdiameter setengah meter dipasang melintang menutupi seluruh akses jalan. Sepuluh pria berwajah garang berdiri berjajar di belakang barikade dadakan tersebut.Jaya menginjak pedal rem truknya hingga mendecit pelan. Pria kurus itu menelan ludah melihat formasi blokade di depan mata.Jeep hitam Leo berhenti tepat di samping pintu kemudi truk. Sang dokter bedah mematikan mesin dan turun menjejak tanah keras perbatasan."Mundur dan tunggu di dalam truk," perintah Leo pada Jaya yang baru berniat membuka pintu.Kurir logistik itu segera mengunci pintunya dari dalam, bersyukur ia tidak perlu ikut campur dalam konfrontasi jalanan.Leo melangkah santai menuju pos gardu beratap rumbia yang berdiri lima meter dari mulut jembatan. Bau anyir daging bakar menusuk langsung ke rongga hidung.Seorang pria bertubuh sangat tambun duduk bersandar pada kursi anyaman rotan di bawah

  • Rayuan Desa Wanita   Terapi Kolong Truk

    Tangan kanan Leo melesat menyentuh bagian tengah punggung Sarah.Ujung jarinya menembus kain kanvas kasar pakaian montir wanita itu. Tekanan presisi diberikan tepat di ruas tulang belakang torakal kelima.Sarah tersentak kaget. Kunci pipa di tangannya nyaris terjatuh menimpa wajahnya sendiri."Hei! Apa yang kau lakukan?" protes Sarah mencoba memutar posisinya.Ruang kolong truk yang hanya setinggi empat puluh sentimeter membatasi pergerakan wanita tomboi itu."Diam dan jangan melawan," perintah Leo menekan titik saraf itu sedikit lebih kuat."Otot trapeziusmu sudah mengeras seperti batu akibat menahan postur yang salah selama bertahun-tahun."Sarah menggigit bibir bawahnya menahan nyeri akut yang mendadak menyerang area tersebut.Rasa sakit itu bukan karena sentuhan Leo, melainkan reaksi ototnya yang akhirnya dipaksa meregang setelah sekian lama kaku.Jari tengah dan telunjuk Leo bergerak ke bawah menyusuri garis tulang punggung Sarah."Kau menolak bantuan orang lain untuk mengangkat

  • Rayuan Desa Wanita   Otot Kawat vs Saraf Pusat

    Pria botak itu mengayunkan tongkat kayunya lurus ke arah lutut Leo.Angin berdesir saat senjata tumpul itu membelah udara dengan kecepatan maksimal. Serangan itu dirancang untuk mematahkan tulang kering target dalam satu pukulan telak.Leo tidak melompat mundur atau menangkis menggunakan lengannya. Pria itu memajukan kaki kanannya setengah langkah.Sepatu pantofel Leo menginjak punggung kaki preman botak itu dengan presisi mutlak.Gerakan sederhana itu mengunci pusat keseimbangan sang penyerang seketika. Ayunan tongkat kayu itu meleset jauh dari sasaran.Tangan kiri Leo melesat mencengkeram pergelangan tangan pria botak tersebut.Pria itu menarik lengan lawannya ke bawah dan menekan simpul saraf ulnaris di dekat siku dengan ibu jarinya.Kekuatan tekanan itu melumpuhkan sistem saraf motorik sang preman dalam hitungan milidetik. Tongkat kayu itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah berdebu.Preman botak itu menjerit tertahan. Tubuhnya ambruk bertumpu pada kedua lututnya tanpa k

  • Rayuan Desa Wanita   Bengkel Kumuh & Montir Tomboy

    Ban bergerigi Jeep hitam menggilas aspal retak perbatasan barat.Kendaraan berat itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan kayu beratap seng miring.Papan reklame kusam bertuliskan 'Bengkel Motor & Mobil' menggantung miring tertiup angin sore yang kering.Jaya duduk menekuk lutut di atas tumpukan ban bekas pinggir jalan. Pria kurus itu melompat berdiri saat melihat majikannya turun dari pintu kemudi."Tuan Leo! Maafkan kelalaian saya," lapor Jaya menundukkan kepala."Saya hanya memarkirkan truk ini lima menit untuk membeli air minum."Leo mengabaikan ucapan kurirnya. Pria itu berjalan lurus mendekati kap depan truk boks yang terbuka lebar.Asap putih berbau sangit masih mengepul tipis dari area mesin diesel tersebut.Tangan kanan Leo menyentuh ujung selang karet radiator yang terputus."Klep selang ini dipotong menggunakan pisau lipat," observasi Leo menatap potongan karet yang sangat rapi. "Cairan pendinginnya sengaja dikuras habis ke tanah.""Mereka menyabotasenya?" gumam Jaya mem

  • Rayuan Desa Wanita   Rutinitas Panas

    Tetesan keringat mengalir menuruni pelipis Nida.Wanita itu mengatur ritme napasnya yang memburu. Ujung kuku jemarinya mencengkeram erat sandaran kursi kulit hitam di ruang kerja VIP.Blus pudar yang biasa ia kenakan kini tergeletak sembarangan di atas lantai keramik, berdampingan dengan jas putih sang dokter.Leo duduk tegak di kursinya. Pria itu mengendalikan ritme pergerakan secara konstan tanpa mengubah ekspresi wajah datar khasnya.Nida melengkungkan punggungnya ke belakang. Dia menerima hantaman dominasi fisik itu dengan kepatuhan total yang tidak pernah ia tunjukkan satu minggu lalu."Fokuskan pandanganmu ke depan," instruksi Leo menahan pinggul wanita itu menggunakan kedua tangannya.Nida membuka matanya perlahan. Pantulan tubuhnya dan Leo terlihat jelas di kaca jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalanan desa.Dari luar, kaca gelap itu tidak menembus pandangan warga. Namun dari dalam, Nida merasa sedang ditonton oleh seluruh isi desa.Sensasi visual itu memacu adren

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status