Share

Mandi Bertiga

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-05-20 09:50:40

Uap putih tebal mengepul dari permukaan air kolam batu. Suhu dingin malam di perbukitan menusuk kulit, namun air belerang itu memancarkan kehangatan yang kontras.

Leo berendam santai bersandar pada dinding batu alam. Otot lengan dan dadanya yang keras terekspos di atas permukaan air.

Lampu petromaks yang digantung di tiang bambu memberikan penerangan remang. Pintu anyaman bambu di sudut pemandian terbuka perlahan dengan bunyi gesekan pelan.

Maya dan Kania melangkah masuk beriringan. Keduanya me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Aliran Daya Ganda

    "Sebutkan enam digit sandi panel utama dan berikan buku catatan rahasia suamimu sekarang juga," perintah Leo melepaskan cengkeramannya dari bahu Gita.​Sosialita itu mengangguk patuh tanpa menunjukkan sisa perlawanan sedikit pun. Tubuhnya masih gemetar hebat merasakan sisa guncangan biologis dari terapi paksa sang dokter bedah. Tangan kanan Gita merogoh dasar tas kulit desainer mahal miliknya dengan tergesa-gesa.​Dia mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul kulit hitam pekat dari dalam tas tersebut.​"Sandi panel utama gardu ini adalah nol empat dua satu tujuh delapan," lapor Gita menyerahkan buku tersebut.​Leo menerima buku barang bukti itu dan memasukkannya ke dalam saku celana kargonya. Pria itu berbalik arah menghadap kotak panel besi raksasa yang menempel tegak di dinding beton.​Jari telunjuknya menekan deretan tombol numerik pada layar digital pengaman dengan sangat cepat.​Lampu indikator berkedip dari warna merah menjadi hijau terang seketika. Pintu panel utama terbuka leba

  • Rayuan Desa Wanita   Panel Kontrol yang Panas

    Lampu sorot mobil dobel kabin Leo menyapu plang besi bertuliskan "Gardu Induk Pusat Kabupaten".Bangunan beton raksasa itu berdiri kokoh di tengah lahan kosong, dikelilingi pagar kawat berduri.Leo memarkir kendaraannya di luar jangkauan cahaya lampu jalan.Sepatu pantofelnya menapak aspal dalam keheningan absolut.​Pintu gerbang utama terkunci rapat oleh rantai baja dan gembok tebal.Leo melangkah ke sisi barat bangunan, mencari titik buta kamera pengawas.Tangan kanannya meraih pipa pembuangan air hujan yang menempel di dinding beton.Otot lengannya menarik tubuhnya ke atas dengan gerakan efisien dan minim gesekan.​Pria itu mendarat mulus di atap beton gardu induk.Dia menyelinap masuk melalui lubang ventilasi sirkulasi udara yang tidak dikunci.Udara panas bercampur aroma ozon langsung menyengat rongga hidungnya.Leo menuruni tangga besi menuju ruang kontrol utama yang berada di lantai dasar.​Cahaya redup dari layar monitor menerangi ruangan luas yang dipenuhi panel instrumen ele

  • Rayuan Desa Wanita   Pemadaman Sepihak

    Ponsel pintar di atas meja periksa itu terus menyala menampilkan pesan ancaman.Leo mengabaikan benda pipih tersebut.Tangannya kembali meraih jarum bedah melengkung dari atas nampan logam."Ayu, nyalakan senter dari ponselmu sekarang juga," perintah Leo tanpa menaikkan volume suaranya."Arahkan cahayanya tepat ke luka robekan di lengan pria ini."​Ayu merogoh saku seragamnya dengan tangan gemetar.Cahaya LED putih dari ponsel bidan itu menembus kegelapan ruang gawat darurat.Sorot lampu kecil itu memperlihatkan otot bisep sang petani yang robek terbuka hingga menyentuh tulang.Darah kental menetes turun membasahi perlak hijau di bawah lengannya.​Mesin ventilator di sudut ruangan mati total.Dada pasien bedah itu berhenti bergerak naik turun."Pasien mengalami henti napas, Dokter!" lapor Ayu panik melihat wajah petani yang pucat pasi.​Leo tidak melepaskan pandangannya dari luka terbuka tersebut."Sekar, lakukan kompresi dada manual ritme tiga banding satu," instruksi Leo cepat.Seka

  • Rayuan Desa Wanita   Runtuhnya Sang Penebang

    Winda meraup oksigen dengan rakus dari dalam bak truk yang gelap.Tangan kirinya masih mencengkeram erat kemeja linen Leo."Mereka sudah pergi jauh," ucap Leo melepaskan cengkeraman wanita itu.Leo berdiri dan menyingkap terpal biru yang menutupi bak truk.​Pria itu melompat turun ke tanah lapang tanpa menimbulkan suara.Winda menyusul turun dengan kaki yang masih terasa kebas.Mereka berjalan cepat memasuki gubuk kayu beratap seng.Leo menarik dipan kayu ke samping ruangan.​Sebuah brankas besi hitam berukuran sedang tersembunyi di bawah lantai papan."Kode kombinasinya enam digit," lapor Winda mengeluarkan senter kecil.Leo tidak membutuhkan tebakan angka kode.Tangannya mengeluarkan pisau bedah titanium dan mencongkel engsel ringkih brankas tersebut.​Sebuah dorongan tuas mekanik membuat plat besi itu melengkung ke luar.Pintu besi itu terbuka paksa dalam hitungan sepuluh detik tanpa hambatan berarti.Leo mengambil dua buah buku catatan tebal bersampul kulit kusam."Bawa ini ke kan

  • Rayuan Desa Wanita   Umpet-umpetan di Bak Truk Kayu

    Lampu depan mobil Jeep Leo dimatikan saat mendekati pertigaan aspal utara.Hanya pendar bulan sabit yang menerangi siluet pepohonan di batas hutan.Winda melompat turun dari boncengan motor bebek kusamnya.Polisi hutan itu mengenakan setelan taktis hitam tanpa atribut resmi.Ransel kanvas berukuran sedang menggantung di bahu kanannya.​"Pos pemotongan itu berada dua kilometer dari sini," ucap Winda mendekati jendela Jeep Leo."Jalurnya hanya bisa dilewati kendaraan berat roda enam ke atas."Leo mematikan mesin kendaraannya dan keluar.Sepatu pantofelnya menapak aspal yang mulai berembun."Jalan kaki memberikan keuntungan penglihatan ganda di malam hari," balas Leo singkat.​Mereka menyusuri jalan setapak membelah rimbunan pohon jati raksasa.Udara malam terasa dingin menusuk kulit, namun langkah Leo tetap teratur tanpa suara.Winda mengekor di belakang sang dokter dengan napas yang mulai memburu.Selama dua puluh menit perjalanan, tidak ada percakapan yang terjadi.​Sebuah tanah lapan

  • Rayuan Desa Wanita   Rantai Gergaji yang Tumpul

    Kancing kemeja linen Leo terbuka sepenuhnya di bawah jari jemari Nida.Ruang kerja VIP itu menjadi saksi bisu penyerahan diri sang guru honorer secara utuh.Sinar matahari siang kini menyorot tajam menembus kaca jendela ruang proyek.Leo berdiri di depan meja kayu darurat mengamati tumpukan semen dan kerikil yang mengering.​Mandor proyek melempar helm kuningnya ke atas meja tersebut.Pria paruh baya itu mengusap keringat di lehernya menggunakan handuk kecil kotor."Pembangunan fondasi SD Inpres terhenti total, Dokter Leo," lapor sang mandor dengan napas tersengal."Truk penyuplai kayu jati kita dihadang di perbatasan hutan utara."​Leo tidak mengalihkan pandangannya dari cetak biru bangunan di tangannya."Bukankah pelunasan sudah ditransfer ke koperasi perhutani pagi ini?" tanya Leo datar.​"Bos Tigor memblokir semua jalan keluar hutan," jelas mandor itu menelan ludah."Penguasa kayu itu menuntut pajak lintasan tiga kali lipat dari harga material asli."​Suara deru mesin diesel menda

  • Rayuan Desa Wanita   Keajaiban Kembali Dilakukan Leo

    Komandan polisi itu melangkah maju. Laras senjatanya terarah lurus ke dada Leo. Jari telunjuknya menempel erat pada pelatuk logam yang dingin.Leo tidak membuang waktu sedetik pun. Tangannya bergerak menyamping dengan kecepatan kilat. Ia menepis keras pergelangan tangan komandan itu dari arah bawah

  • Rayuan Desa Wanita   Surat Segel

    Leo menendang ban truk rampasan berlogo naga itu dengan ujung sepatunya. Pagi ini, enam armada truk berat dan puluhan motor terparkir rapi di samping balai desa. Pak Joko sibuk mencatat pelat nomor kendaraan tersebut di buku tulis bersampul cokelat miliknya."Semua mesinnya masih bagus, Tuan Leo,"

  • Rayuan Desa Wanita   Blokade Jalan

    Sinar mentari pagi mengusir sisa-sisa dingin di ruang istirahat klinik darurat. Leonardo Xaverius melangkah keluar dengan kemeja linen yang melekat pas di tubuh kekarnya, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa yang baru saja memuaskan hasratnya.Di belakang sang dewa bedah, Ayu menunduk patuh.

  • Rayuan Desa Wanita   Bukti Dedikasi Siska

    Lampu neon di ruang direktur pabrik berpendar pucat, membelah kegelapan malam yang telah menyelimuti wilayah kecamatan.Di balik meja jati raksasa yang dulu menjadi simbol kesombongan Juragan Darmo, Leonardo Xaverius duduk dengan tenang. Pria itu menyandarkan punggung kokohnya, menatap tumpukan ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status