ログインLeo menggeser tombol merah di layar ponselnya memutus panggilan Sekar secara sepihak. "Kirim pasukan keamanan ke perbatasan," instruksi Leo memasukkan ponsel ke saku celana. "Aku memiliki urusan di sektor lain."Asap hitam pekat membubung menutupi cerobong Pabrik Gula Mini desa siang itu. Sumber kepulan asap tersebut bukan berasal dari mesin pembakaran tebu yang sedang beroperasi. Titik api merambat dari tengah lahan perkebunan tebu di sektor selatan.Leo menekan pedal rem Jeep hitamnya memasuki batas lahan perkebunan tebu. Pria itu mematikan mesin kendaraan dan melompat turun membawa tas medisnya.Lima pria berwajah kasar berdiri melingkar menghalangi akses jalan menuju titik kobaran api. Mereka menggenggam celurit panjang bersiap menyerang.Bos Darman berdiri di belakang mereka sambil menghisap sebatang rokok kretek murahan. Mafia tanah itu tersenyum meremehkan melihat api menghancurkan suplai gula merah distrik.Ratri berlari menerobos barikade preman itu membawa dua ember air
Leo menggeser tumpukan karung goni seberat lima puluh kilogram itu menggunakan satu tangan. Debu dedak kembali beterbangan di udara saat barikade buatan tersebut terbuka lebar.Pria itu melangkah keluar dari sudut gelap gudang menuju area bongkar muat. Sepatu pantofelnya menimbulkan suara ketukan tajam di atas lantai semen basah. Lampu jalan menyala menembus celah ventilasi menandakan pergantian malam."Kalian mencari orang yang salah di tempat yang salah," tegur Leo memecah fokus para preman.Tiga preman yang sedang membongkar tumpukan pakan menoleh serentak. Koko berdiri tidak jauh mengawasi dengan wajah merah padam. Urat lehernya menonjol menahan amarah melihat kemunculan sang dokter."Habisi dokter keparat itu sekarang juga! Jangan biarkan dia keluar dari gudang ini bernapas!" perintah Koko menuding lurus ke wajah Leo.Preman-preman itu ragu melangkah maju melihat dua rekan mereka masih terkapar memegangi tangan di lantai.Koko mengumpat kasar melihat kepengecutan anak buahnya. Pr
Dua preman di barisan depan merogoh saku celana kargo mereka serentak. Mereka mengeluarkan batang kayu berbalut kain minyak dan menyalakannya menggunakan pemantik besi."Bakar gudang rongsokan ini beserta kucing cacat di dalamnya!" perintah Koko melangkah mundur menjauhi titik api. "Jangan sisakan satu pun karung pakan di sini."Api menyambar kain minyak menghasilkan asap hitam berbau bensin. Risa menjerit tertahan melihat api mulai menyala di ruang penyimpanannya."Hentikan! Ada hewan yang sedang menyusui di dalam sana!" teriak Risa bersiap menerjang maju dengan tangan kosong.Leo melangkah memotong jarak lima meter dalam hitungan kurang dari satu detik.Tangan sang dokter melesat menembus pertahanan kedua preman tanpa peringatan. Dua jari Leo menekan keras saraf radialis di pergelangan tangan mereka beruntun. Mereka membuka mulut tanpa suara menahan kebas yang menjalar ke pangkal lengan.Otot jari mereka lumpuh seketika dan melepaskan genggaman. Dua obor kayu jatuh menghantam
Wanita bersetelan jas putih itu melempar koper kulit berisi uang tunai ke atas ubin lobi balai desa.Leo melangkah turun melewati koper tersebut tanpa menurunkan pandangannya dari anak tangga. Pria itu mengabaikan tatapan meremehkan dari utusan korporat kota tersebut."Urus pelunasan biaya sewa alat berat itu sekarang juga," perintah Leo kepada Laras. "Aku tidak punya waktu meladeni pesuruh yang hanya tahu cara menghamburkan uang bosnya."Laras mengangguk patuh dan memungut koper berat tersebut.Sang Raja Desa telah mengunci sistem keuangan wilayah ini secara mutlak pada siang itu.Namun, roda birokrasi yang baru saja diamankan kembali dihantam masalah keesokan paginya.Puluhan warga berkerumun berdesakan di pelataran aspal Puskesmas Elite membawa berbagai wadah kosong. Terdengar suara ayam berkotek lemah dan kambing yang mengembik kehausan dari bak truk terbuka milik warga.Leo melangkah keluar dari ruang praktiknya menatap kekacauan di halaman depan."Hewan ternak kami mati
Suara gesekan logam pada gagang pintu arsip berhenti total. Langkah kaki berat berbalut sepatu bot itu berderap menjauh menyusuri koridor. Leo melepaskan tekanan jarinya dari area dada Laras secara perlahan."Mereka bergerak menuju sayap barat gedung," ucap Leo. "Tetap di sini sampai aku membersihkan jalur keluar."Laras membuang napas membiarkan punggungnya bersandar penuh pada rak besi berkarat. Wanita itu merapikan kerah kemejanya menggunakan tangan yang masih bergetar. Akal sehat sang bendahara telah runtuh oleh manipulasi fisik siang ini."Biar aku yang mengambil alih pembukuan kas," tawar Laras dengan suara serak.Leo tidak memberikan balasan verbal. Pria itu menendang area dekat engsel pintu kayu menggunakan tumit pantofelnya.Engsel besi berkarat itu patah terpelanting membentur dinding luar. Pintu gudang arsip roboh menghantam lantai keramik menghasilkan suara benturan keras.Leo melangkah keluar dari ruangan pengap itu. Anwar berdiri tegak membelakangi jalur tangga uta
"Seret pria ini keluar dan hancurkan persendiannya!" perintah Anwar menunjuk lurus ke arah Leo.Dua pengawal raksasa itu melangkah maju. Sepatu bot mereka menginjak lantai keramik hingga menimbulkan benturan keras. Tangan berotot pengawal pertama terjulur mencengkeram kerah kemeja Leo.Leo tidak memundurkan langkahnya untuk menghindari serangan tersebut. Pemuda itu hanya memiringkan tubuh sejauh lima sentimeter ke arah kiri. Tangkapan raksasa itu meleset mengenai ruang kosong."Kau terlalu lambat untuk ukuran algojo," ucap Leo datar.Pengawal kedua mengayunkan tinjunya dari arah sisi buta menargetkan rahang sang dokter.Leo menunduk cepat menumpukan berat badannya pada kaki kanan. Tangan kanannya melesat ke atas mengunci ruang serang lawan dalam hitungan kurang dari sedetik.Dua jari Leo menancap presisi di simpul saraf leher kedua pengawal itu secara bersamaan.Tubuh besar mereka kejang sesaat merespons tekanan mematikan dari ujung jari sang dokter. Dua raksasa itu ambruk meng
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi







