Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Bukti Dedikasi Siska

Share

Bukti Dedikasi Siska

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-05-10 12:59:20

Lampu neon di ruang direktur pabrik berpendar pucat, membelah kegelapan malam yang telah menyelimuti wilayah kecamatan.

Di balik meja jati raksasa yang dulu menjadi simbol kesombongan Juragan Darmo, Leonardo Xaverius duduk dengan tenang. Pria itu menyandarkan punggung kokohnya, menatap tumpukan berkas yang baru saja selesai ia tinjau.

"Tuan, ini laporan pembukuan terakhir untuk pengiriman ke provinsi," suara lembut namun bergetar menyapa indra pendengaran Leo.

Siska melangkah masuk dengan sanga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Sertifikat Bodong

    Karsa berdiri di tengah balai desa dengan postur tubuh yang bergetar.Di sampingnya, seorang pria kurus berkacamata hitam dengan tas kerja kulit berdiri menatap Leo dengan pandangan merendahkan. Pengacara itu memegang lembaran sertifikat tanah sekolah yang tampak baru."Tanah ini sudah resmi dibeli klienku, Dokter," ucap pengacara itu membuka map dengan gerakan lambat. "Tanda tangan Kades lama tertera jelas di sini, jadi segera kosongkan gedung sekolah itu sebelum petugas pengadilan datang."Leo berdiri santai menyandar pada meja kayu jati tua di balai desa.Pria itu tidak melirik sedikit pun ke arah sertifikat di tangan sang pengacara. Matanya justru memaku tepat ke arah bola mata Karsa yang terlihat kusam dan kekuningan."Sertifikat itu tidak relevan dengan kondisi fisik klienmu," ujar Leo dengan suara rendah."Jalanmu tidak simetris saat menaiki tangga tadi, Karsa. Kau menyeret kaki kirimu karena rasa nyeri kronis yang menjalar dari area panggul hingga ke pinggang."Karsa mencibir

  • Rayuan Desa Wanita   Timbangan Keadilan

    Langkah berat sepatu pantofel Leo menggema di lorong utama Pasar Induk yang mulai ramai oleh pedagang siang itu.Pria berjas putih itu menyeret tubuh Togar menggunakan satu tangan yang mencengkeram erat kerah kemeja sang rentenir.Togar yang masih lumpuh akibat tekanan saraf cervicalis hanya bisa membelalakkan matanya ngeri. Tubuh kurusnya terseret tak berdaya melewati genangan air kotor dan sisa-sisa sayuran busuk.Leo menghentikan langkahnya tepat di persimpangan los sayur dan daging. Pria itu melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh Togar jatuh di tengah jalan aspal.Marni berjalan di belakang Leo dengan langkah tergesa. Wanita itu membawa timbangan kuningan miliknya yang tadi dilemparkan oleh Togar.Puluhan pedagang yang sedang menata ulang lapak mereka langsung menghentikan aktivitas. Mereka berkerumun membentuk lingkaran besar, menatap sang lintah darat yang kini tergeletak tidak berdaya."Kau berani menyiksa anak buahku di pasarku sendiri?!" teriak

  • Rayuan Desa Wanita   Ruang Penyimpanan yang Sempit

    Togar melemparkan selembar kertas bermaterai ke atas meja kayu usang.Pria berbekas luka bakar itu memaksa Marni duduk di kursi plastik yang reyot di tengah ruang penyimpanan bawah tanah. Bau apak tanah dan kentang busuk memenuhi ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut.Hanya ada satu bohlam lampu kuning redup yang menggantung di langit-langit beton."Tandatangani surat hutang sepuluh juta ini, Marni," paksa Togar menyodorkan pena plastik ke depan wajah wanita itu."Kau tidak punya modal lagi untuk berdagang esok hari. Tanda tangan ini adalah satu-satunya caramu bertahan hidup."Marni memalingkan wajahnya menolak menatap kertas tersebut."Saya lebih baik menjadi kuli cuci piring daripada harus menjadi budak lintah darat kalian!" tolak Marni dengan suara bergetar.Togar mencengkeram rahang Marni menggunakan tangan kirinya. Pria itu memaksa janda muda tersebut menatap lurus ke arahnya.Engsel pintu kayu tebal di belakang Togar tiba-tiba berder

  • Rayuan Desa Wanita   Tengkulak Sayur Mayur

    Pasokan sayur di los utara Pasar Induk mengering pada hari ketiga pemboikotan.Karsa tidak lagi menggunakan kekuatan preman untuk menghalangi pembeli secara langsung. Sang juragan memutar strateginya dengan mencekik langsung para petani gunung yang menyuplai bahan pangan mentah ke wilayah tersebut.Truk-truk pengangkut kubis dan wortel dihentikan di pos retribusi liar dua kilometer sebelum memasuki kecamatan.Seorang pria bertubuh kurus kering dengan bekas luka bakar di leher kirinya menginjakkan sepatu lars hitamnya di tengah los utara.Itu adalah Togar, tangan kanan Karsa yang bertugas sebagai rentenir pemungut hutang di kalangan pedagang kecil."Pasar ini bukan panti asuhan, Ibu-ibu!" teriak Togar memukul meja kayu menggunakan tongkat rotan.Togar berjalan menyusuri lorong sempit yang dipenuhi aroma sayuran layu dan sisa lumpur."Siapa yang tidak membayar uang keamanan dua kali lipat hari ini, lapaknya akan kututup permanen!"Para pedagang kecil hanya bisa menundukkan kepala. Merek

  • Rayuan Desa Wanita   Anatomi di Tengah Keramaian

    Puluhan ibu rumah tangga dari desa teh berdiri bergerombol di luar batas gapura Pasar Induk kecamatan sejak pukul enam pagi.Mereka menatap nanar keranjang belanjaan anyaman bambu yang masih kosong melompong.Tiga preman bertato mondar-mandir membawa pentungan kayu di tengah jalan aspal. Mereka memastikan blokade pasokan pangan berjalan tanpa ada satu celah pun yang terbuka untuk warga desa."Itu dokter kota yang berani menantang Juragan Karsa," bisik seorang pedagang tempe menyembunyikan timbangan besinya."Dia datang sendirian menyerahkan nyawanya," sahut pedagang lainnya dengan nada gemetar ketakutan.Leo berjalan santai melewati deretan lapak kayu yang berjejer rapat. Langkah konstan pria itu terhenti tepat di persimpangan los daging potong.Belasan pria berbadan tegap menyumbat seluruh akses jalan ke depan. Mereka memegang balok kayu, rantai besi, dan pisau daging berkarat.Juragan Karsa duduk di atas kursi plastik di depan sebuah meja los daging kosong. Pria berkemeja sutra itu

  • Rayuan Desa Wanita   Boikot Pangan

    Keranjang anyaman bambu terlempar keras menghantam tiang beton gapura perbatasan.Tomat dan cabai merah berserakan hancur di atas aspal kering yang retak.Beberapa ibu-ibu desa berlarian mundur melindungi barang belanjaan mereka yang tersisa.Tiga pria bertato berdiri merentangkan tangan menghalangi akses jalan utama menuju arah kota kecamatan."Mulai hari ini, tidak ada satu pun warga desa teh yang boleh menginjakkan kaki di pasar induk!" teriak preman berambut gondrong.Pria itu menendang keranjang sayur hingga terpental ke dalam selokan berlumpur."Juragan Karsa sudah mengeluarkan perintah mutlak sore ini. Siapa pun yang berani melanggar akan pulang merangkak tanpa kaki!"Preman kedua menarik parang panjang dari balik punggungnya dan menancapkannya ke batang pohon mahoni.Bunyi dentingan logam itu membuat anak-anak yang sedang bermain kelereng lari ketakutan mencari perlindungan.Maya menatap tajam dari balik batas aman pagar kayu desa.Janda kembang itu memegang erat gagang sapu i

  • Rayuan Desa Wanita   Jatuhnya Sang Kembang Desa

    Ujung kuku jari Nida berubah membiru kusam.Wanita itu merosot pelan hingga lututnya membentur lantai keramik ruang arsip."Suhu tubuhmu sudah berada di angka tiga puluh empat derajat Celsius," observasi Leo menatap jam di pergelangan tangannya. "Sistem saraf pusatmu akan segera mati."Nida memeluk

  • Rayuan Desa Wanita   Pemadaman Desa

    Kain pel berbahan katun itu menyapu genangan air di lantai keramik.Nida menekan gagang kayunya kuat-kuat untuk mengeringkan tetesan yang merembes dari celah pintu balkon. Kaca jendela di sepanjang lorong lantai dua bergetar hebat menerima hantaman angin kencang.Suara radio komunikasi berbunyi sta

  • Rayuan Desa Wanita   Sang Penyelamat Arogan

    Ban Jeep hitam itu berderit kasar bergesekan dengan aspal depan gerbang pasar kecamatan timur.Lampu jalan yang berkedip menyinari papan reklame karatan di atas pos penjagaan.Leo mematikan mesin kendaraannya dan mencabut kunci kontak.Pria itu melangkah turun menapaki jalanan pasar yang dipenuhi s

  • Rayuan Desa Wanita   Mafia Pupuk Oplosan

    Bab 157 Mafia Pupuk OplosanTangan kapalan Jaya meremas batang padi yang menghitam pekat.Pria itu mencabut tanaman tersebut dari akarnya dengan mudah. Bau busuk menyengat langsung menusuk rongga hidung."Semuanya mati," gumam Jaya dengan tatapan kosong.Nida berdiri mematung di pematang sawah sor

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status