ログイン"Jadi, apakah kau memaafkanku?" tanya Irwan dengan gugup. Ia memainkan jemarinya sembari sesekali melirik ke arah Joya."Pertama, ceritakan padaku segalanya tentang Rahul dan perselisihan kalian. Insiden apa yang dia bicarakan? Aku ingin tahu semuanya, baru kemudian aku akan memutuskan apakah aku mau memaafkanmu atau tidak," ujar Joya sambil menghela napas. Ia tahu bahwa meskipun ia ingin marah pada Irwan, ia tidak akan sanggup melakukannya.Irwan mengangguk."Joya, aku tidak pernah berniat menyembunyikan soal Rahul. Aku hanya belum sempat menceritakan tentang dirinya padamu," jelas Irwan.Joya mengangguk."Aku tidak tahu seberapa banyak yang kau ketahui tentang empat keluarga terpandang itu, tapi aku akan menceritakan tentang silsilah kami," kata Irwan. "Saat ini hanya tersisa tiga keluarga terpandang—keluarga Lung, Tang, dan Lin. Namun, beberapa tahun yang lalu, ada satu keluarga terpandang lagi. Itu adalah keluarga Khan, dan Rahul berasal dari keluarga tersebut.""Keluarga-keluarga
Saat tidak ada yang menjawab, Tang Jun menghela napas. Dia menatap Jacky dan memberikan isyarat mata yang penuh arti. Suasana di dalam mobil terasa tegang. Mereka tahu bahwa jika mereka membuat keributan lagi, pertengkaran hebat bisa saja pecah sewaktu-waktu di dalam mobil. Situasi ini persis seperti ketenangan sebelum badai dahsyat.Tang Jun dan Jacky merasa sesak di dalam mobil, jadi mereka memutuskan untuk diam saja dan tidak ikut campur dalam pertengkaran pasangan itu. Tak lama kemudian, mobil tiba di apartemen Jacky, dan Jacky pun keluar."Selamat malam Kakak, Kakak Ipar," ucap Jacky saat keluar dari mobil. "Terima kasih sudah mengantarku, Kak Tang," ujarnya."Tunggu Jacky, hari ini aku akan menginap di tempatmu..." kata Joya.Jacky: "....."Tang Jun: "..."Joya membuka pintu di sisinya, namun tepat saat ia hendak melangkah keluar, tangannya ditarik kembali."Mau ke mana?" tanya Irwan dengan suara rendah sembari menarik tangan Joya untuk mencegahnya keluar. Joya menoleh ke arah
"Sialan!" Rahul mengumpat dengan marah sembari memukul pilar di sampingnya."Bagaimana bisa kau bicara begitu padaku? Apa hakmu mengatakan hal itu padaku?" Rahul berteriak seraya memukul dinding berulang kali. Tangannya mulai memar, namun ia tak berhenti.Namun, sebelum ia sempat memukul dinding itu lagi, Kepala Pelayan Qin menengahi. "Rahul, mengapa kau menyakiti dirimu sendiri demi pria itu?" tanyanya."Paman Qin, apa kau dengar apa yang dia katakan? Memangnya dia pikir dirinya siapa? Mengapa dia harus menunjukkan kepedulian padaku padahal dialah penyebab kejatuhanku?" tanya Rahul.Kepala Pelayan Qin terdiam. Ia memegang tangan Rahul dan segera mengompres tangan yang bengkak itu dengan kantong es yang dibawakan oleh salah satu pelayan. "Tenanglah, Rahul," ujarnya."Bagaimana aku bisa tenang setelah semua ini?" teriak Rahul sambil menarik kembali tangannya. Menyadari sikapnya tidak sopan terhadap Kepala Pelayan Qin, Rahul mundur selangkah. Sambil menarik napas dalam-dalam, ia meminta
"Kumohon jangan, Rahul..." pinta Joya. Air mata mengalir dari matanya saat ia mencengkeram lengan pria itu. "Rahul, jangan..." isaknya sambil menggelengkan kepala."Rahul, kau akan menyesal jika membunuhku hanya karena aku mengatakan hal yang tidak kau sukai," ujar Irwan dengan tegas. Ia tahu betapa besarnya kemarahan yang dipendam Rahul terhadapnya. Sebab, jika ia berada di posisi Rahul, mungkin ia pun akan bertindak serupa.Irwan tahu bahwa jika Rahul mau, pria itu benar-benar bisa membunuhnya dengan pistol tersebut. Namun, hal itu tidak mengubah kenyataan. Ia telah mengatakan apa yang dilihatnya malam itu, dan tak ada yang bisa mengubah fakta tersebut."DIAM KAU!!" teriak Rahul."Membunuhku tidak akan mengubah kebenaran, Rahul. Aku mengatakan apa yang kulihat malam itu. Ayahmu...""SUDAH KUBILANG DIAM, IRWAN! KALAU KAU MASIH SAYANG NYAWAMU, LEBIH BAIK KAU TUTUP MULUTMU!" Rahul berteriak penuh amarah."Aku tidak ingin mendengar sepatah kata pun tentang ayahku keluar dari mulutmu, Ir
"Aku tahu itu kau, Rahul. Beginikah caramu menyambut sahabatmu?" tanya Irwan sambil mengamati sekeliling ke arah para penjaga yang sedang menodongkan senjata ke arahnya.Rahul menatap raut wajah Irwan yang penuh keyakinan. Ia menyeringai dan mengangkat tangannya; seketika itu juga, semua penjaga menurunkan senjata mereka. "Mengapa kau memanggilku Rahul? Siapa sebenarnya Rahul ini?" tanya Rahul."Ngomong-ngomong, Joya, apakah kau kenal seseorang bernama Rahul? Apakah suamimu pernah bercerita tentang seseorang bernama Rahul? Pernahkah dia menyebut nama Rahul di hadapanmu?" tanya Rahul sambil menatap Joya dengan nada geli.Joya terdiam.Rahul benar. Irwan tidak pernah sekalipun membicarakan soal Rahul kepadanya. Dia mengira bahwa setelah dia membuka hatinya untuk pria itu, mereka telah menjadi satu dan saling mengetahui segalanya. Dia telah menceritakan rahasia terbesar dalam hidupnya, namun pria itu tidak pernah menyinggung soal Rahul. Joya merasa sedikit kecewa saat Rahul mengungkit fa
Kepala Pelayan Qin mengangguk. "Aku tahu aku pernah menyarankanmu untuk bersabar menghadapinya, Rahul, tapi...""Yang kuinginkan adalah cintanya, Paman Qin, bukan kebenciannya," potong Rahul."Jadi, apakah itu berarti kau akan membatalkan balas dendammu? Apa kau lupa apa yang telah mereka rampas darimu? Apa kau lupa apa yang mereka lakukan pada ayahmu? Apa kau lupa alasan kita kembali ke sini?" tanya Kepala Pelayan Qin.Rahul melirik ke arah kamar Joya sebelum menjawab, "Aku tidak melupakan apa pun, Paman Qin. Aku akan tetap membalas dendam. Hal itu tidak akan berubah, tapi di saat yang sama, aku tidak ingin menyakitinya."Kepala Pelayan Qin terkekeh, "Apa menurutmu dia tidak akan terluka setelah kau membunuh suaminya?""Itu berbeda," Rahul mengangkat bahu. "Sekarang dia tidak tahu sifat asli Irwan, tapi begitu dia mengetahui kebenarannya, menurutmu apakah dia masih akan merasa sakit hati atas apa yang kulakukan pada Irwan?""Kurasa tidak..." Rahul menjawab pertanyaannya sendiri.Kepa
“ Agus membunuh saudara perempuannya sendiri dan suaminya demi perusahaan, mengambil bayi mereka yang baru lahir dan membesarkannya sebagai anaknya sendiri,” suara itu memberi tahu.Bisikan- bisikan menyebar di seluruh tempat acara. Tak seorang pun percaya kalau Agus bisa melakukan kejahatan sebesa
Kemarahan dan rasa sakit melintas di mata Joya saat dia melihat ke TV. Dia menyaksikan, menangis ketika dia melihat siaran langsung dari pernikahan yang seharusnya untuknya. Windy sedang berjalan menyusuri lorong yang indah, memegangi lengan ayahnya dengan gaun pengantin yang dibuat oleh Joya untuk
Joya menatap orang tuanya dengan tak percaya. Dia tidak bisa mempercayai matanya. Melihat reaksi dingin mereka yang tidak tergerak dan tidak terkejut, hatinya hancur berkeping-keping. Dia sangat bingung dan hancur. Semuanya berantakan. Hati dan pikirannya tidak bekerja dengan baik. Dia punya banyak
"Sangat cantik...."Joya tertegun. Senyum cerah bersinar di wajahnya yang cantik saat dia melihat gaun pengantinnya. Ini adalah mahakaryanya, gaun terindah yang pernah dia buat.Gaun pengantin ini adalah hati dan jiwanya. Hari ini dia menikah dengan Leonard - tunangannya, cinta sejatinya, inspirasi







