INICIAR SESIÓN
"Elang, di posisi."
"Reptor, di posisi." "Rubicon, sudah di titik pantau." "Alpaca, siaga." "Specter siap di titik buta." Suara-suara itu masuk ke telinga Lily melalui earpiece. Ini adalah hari ke-28 pengintaian. Selama hampir sebulan, mereka hidup di antara bayang-bayang pelabuhan yang berbau solar dan garam, menunggu hantu bernama Blue Swan muncul ke permukaan. Namun, dermaga itu tetap sunyi, hanya suara ombak yang menghantam beton. "Semua fokus," suara Samuel, sang Kapten, terdengar berat dan penuh tekanan. "Target utama kita adalah titik transaksi. Jangan gegabah, jangan bergerak tanpa komando. Satu langkah salah, operasi ini tamat. Paham?" "Paham, Sir!" jawaban serentak itu terdengar seperti janji setia. Lily, yang menggunakan kode Specter, menyandarkan tubuhnya di balik tumpukan kontainer. Dia mengenakan jaket hoodie kumal, menyatu dengan hiruk-pikuk buruh pelabuhan. "Monkey keluar. Dia bergerak ke utara," bisik suara di earpiece. Specter, yang saat itu sedang berpura-pura mengunyah popcorn untuk menutupi gerakan mulutnya saat berbicara, langsung menegakkan tubuh. "Specter meluncur," balasnya singkat. Dia menyambar sebuah sepeda listrik yang terparkir sembarang, dan mengayuhnya dengan tenang namun cepat. Dia membuntuti sebuah mobil sedan hitam yang baru saja menjemput sang target. Mobil itu berhenti di sebuah sudut sepi, beberapa ratus meter dari dermaga utama. Roda sepeda Lily berhenti mendadak. Di sana, di bawah lampu jalan yang berkedip, targetnya menemui seseorang. Lily tertegun. Sosok itu .... postur tubuhnya, cara dia berdiri dengan tangan di saku, sangat mirip dengan seseorang yang seharusnya sudah menjadi debu lima tahun lalu. Pikirannya kosong sejenak, terseret ke dalam lubang hitam masa lalu, sebelum suara klason menyentaknya kembali ke kenyataan. Fokus, Lily. Jangan biarkan hantu mengacaukanmu. Batinnya. Lily menaikkan tudung hoodie dan maskernya. Dia memacu sepedanya, sengaja kehilangan keseimbangan tepat di samping mobil target. Brukk Dia terjatuh, tubuhnya meluncur hingga separuh masuk ke kolong mobil. "Hei! Cari mati kau?" seorang pria berjas keluar dengan kasar. Lily tidak menjawab. Dengan gerakan kilat yang tersembunyi, tangannya menempelkan sebuah alat pelacak magnetik sebesar koin ke bagian dalam sasis mobil. "Maaf...," gumam Lily dengan suara yang dibuat serak sambil merangkak bangun. Pria itu menatapnya tajam selama beberapa detik. Tatapan yang dingin, seolah sedang memindai apakah Lily adalah ancaman atau hanya gelandangan sial. "Lain kali pakai matamu!" bentaknya sebelum kembali masuk ke mobil. Mobil itu melaju pergi. Tak lama kemudian, sebuah van putih tanpa jendela berhenti di hadapan Lily. Pintu gesernya terbuka, Reptor menariknya masuk ke dalam. "Pelacak terpasang," lapor Lily, matanya masih menatap lampu belakang mobil target yang menjauh. "Mereka menuju dermaga sektor empat. Jalur laut." "Klasik," sahut Reptor sambil menyiapkan senapan serbu cadangan. "Jalur laut adalah pintu gerbang tanpa penjaga jika kau tahu cara menyuap orang yang tepat." Mereka turun di area pergudangan sektor empat, mengendap-endap. Di sana, di dermaga privat, sebuah kapal cepat sudah menunggu. Lily melihat sang target berbisik pada seorang pria paruh baya yang tampak seperti pejabat pelabuhan. Sebuah koper berpindah tangan. "Begitu koper itu dibuka, kita serbu," perintah Reptor via radio. "Hati-hati, tim bantuan masih dua menit lagi," sahut Samuel dari markas. Tapi waktu tidak menunggu. Kapal itu mulai menghidupkan mesin. "Sekarang! Serbu!" teriak Reptor. Kekacauan pecah dalam sekejap. Suara tembakan dan teriakan memenuhi udara. Para pengedar kocar-kacir, namun beberapa orang berpakaian hitam tetap berdiri tegak, membentuk barikade pelindung. Mereka bukan pengedar biasa. "Minggir!" Lily menerjang seorang pria bertubuh kekar. Pria itu berdarah Tiongkok, dengan bekas luka memanjang di pelipisnya. Saat Lily mencoba mengunci lengannya, pria itu melakukan counter-move yang sangat teknis. Tubuh Lily dibanting ke atas beton dengan kekuatan yang menghancurkan napas. Lily meringis, berguling, dan kembali menyerang. Saat itulah dia melihatnya, tato di punggung tangan pria itu. Medusa. Organisasi tentara bayaran paling mematikan di Asia Tenggara. Mereka dikenal bengis, tidak peduli siapa, asalkan dibayar dengan layak, tugas apa pun, akan mereka lakukan. Pria itu menghantamkan pipa besi ke arah Lily. Lily menghindar, namun ujung pipa itu sempat mengenai bahunya. Dia tersungkur, sebelum dia bisa bangkit, sebuah granat asap meledak di antara mereka. Saat asap menipis, dermaga itu sudah kosong. Kapal cepat itu sudah membelah lautan, membawa Blue Swan menjauh. Operasi ke-28 mereka kembali menjadi kegagalan yang pahit. •••••••••••••••• Markas Besar Satuan Khusus Narkotika Tempat itu terlihat sibuk, orang-orang berlalu lalang dengan telpon di telinga, berkas-berkas menumpuk di atas meja. Samuel, sang Kapten, memijat pelipisnya seolah-olah bisa menekan rasa pening yang berdenyut di sana. Samuel mengumpulkan timnya di ruang rapat utama. Laporan intelijen baru saja masuk," ujar Samuel tanpa menoleh. "Blue Swan bukan diproduksi di gudang kumuh. Mereka memproduksinya di tempat yang paling tidak mungkin kita geledah. SMA Merpati Putih." Lily yang baru saja datang dengan wajah babak belur dan tangan yang dibebat perban langsung duduk di samping Samuel. Dia bertumpang kaki di atas meja tanpa merasa berdosa. "Turunkan kakimu!" Perintah Samuel. Lily mengendikkan bahu. Tidak peduli. Tapi, tetap menurunkan kakinya. "Aku tidak rela melepasmu ke kandang serigala. Tapi, aku harus melakukannya." Samuel menatap Lily dalam-dalam, dia menunduk, lalu melempar sebuah berkas. "Kau adalah satu-satunya orang di satuan ini yang memiliki gelar sarjana Sastra dan latar belakang pendidikan yang cukup untuk menyamar sebagai guru tanpa memicu kecurigaan yayasan elit itu." Lily langsung menyambarnya, mencermati berkas tersebut dengan seksama. Matanya berkilat, perasaan marah mulai menggelegak, dia meremat berkas tersebut, mencoba untuk mengendalikan diri. "Ini berbahaya," ujar Samuel lagi. "Salah langkah sedikit saja, bukan hanya kau yang tamat, tapi seluruh unit ini akan dibubarkan oleh tangan-tangan di istana yang melindungi tempat itu. Kau siap, Lily?" •••••••••••••••••••••••• Cermin di toilet selalu punya cara untuk memperlihatkan kebenaran yang pahit. Pencahayaan ruangan yang temaram memberikan rona keabu-abuan pada wajah siapa pun yang berdiri di depannya. Pagi ini, wajah itu adalah milik Lily. Lily Carla begitu nama aslinya, meski di lapangan dia lebih dikenal dengan kode "Specter", dia menatap pantulannya dengan dahi berkerut. Rambut hitam legam yang biasa diikat agar tidak mengganggu saat dia bekerja, kini terurai lembut, mengenakan blus berbahan sifon warna krem yang sengaja dipilih untuk memberikan kesan rapuh, dipadukan dengan rok bahan di bawah lutut. Dia meraba pinggangnya. Kosong. Perasaannya hampa. Selama lima tahun terakhir, Glock-19 adalah bagian dari tubuhnya, yang menemaninya ke mana pun dia pergi. Kehilangan beban dingin di pinggang membuatnya merasa telanjang di tengah medan perang. Sebagai gantinya, dia membawa sebuah tas kulit tua berisi kamus besar Bahasa Indonesia dan setumpuk silabus yang dia susun dalam semalam. "Lily, kau mendengarku?" Suara berat sang Kapten bergema di earpiece nanoteknologi yang tertanam di balik telinga Lily. "Ya, aku mendengarmu, Kapten," bisik Lily sambil merapikan kerah blusnya. "Ingat, target kita bukan pengedar recehan di pinggir jalan. Ini adalah 'Blue Swan'. Narkotika sintetis jenis baru yang sanggup menghancurkan saraf remaja hanya dalam tiga kali pakai. Laporan intelijen menyebutkan bahwa produksinya ada di dalam SMA Merpati Putih. Mereka menggunakan kedok sekolah elit untuk mengaburkan jalur logistik." Lily menarik napas panjang. "Sekolah elit, murid-murid jenius, dan yayasan yang punya koneksi sampai ke istana presiden. Benar-benar tempat persembunyian yang sempurna." "Persis. Itulah kenapa kau di sana. Jadilah Ibu Lilyana, guru honorer yang butuh uang, yang pemalu, dan yang tidak tahu apa-apa tentang dunia hitam. Jangan tunjukkan postur taktismu. Jangan menatap orang seperti ingin menembak kepalanya." Lily tersenyum tipis. Dia mengambil kacamata berbingkai tipis dari wastafel dan mengenakannya. "Infiltrasi dimulai," gumam Lily. Dia melangkah keluar dari toilet. Di luar, sebuah mobil sedan tahun 2010 yang catnya sudah sedikit mengelupas menantinya. Mobil itu adalah properti penyamaran. Di kursi penumpang, terdapat sebuah map cokelat berisi kontrak kerja dari Yayasan Merpati Putih. Saat dia menghidupkan mesin, matanya melirik pada sebuah foto di dashboard yang dia sembunyikan di balik kartu parkir. Foto seseorang yang dinyatakan tewas 5 tahun lalu saat bertugas. Lily memandangi foto itu dengan dada berdenyut. Meski sudah 5 tahun, tapi rasanya masih seperti kemarin. Dia menyentuh foto itu dengan tangan gemetar. "Akan kupastikan mereka membayar perbutannya," bisiknya sebelum menginjak pedal gas, membelah kemacetan Jakarta. Menuju tempat yang akan memberikannya kebeneran sesungguhnya.Begitu selesai mengajar, Lily melajukan mobilnya segera menuju markas. Namun sebelum itu, dia singgah ke rumah yang telah disediakan sebagai properti penyamaran. Mengganti baju, dan membawa motor dinasnya. Sesampainya di markas, seluruh rekan timnya sudah menunggu, mereka menyambut Lily dengan senyum merekah. Lily hanya melirik mereka sekilas, lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi. Perempuan itu merebahkan punggungnya, menghela napas panjang. Dia melemparkan sebuah plastik ke atas meja. Bubuk kristal biru, sampel narkoba. "Ruka, bawa ini ke forensik, sekarang!" Perintah Samuel, pria bernama Ruka itu segera berdiri dan mengambil sampel. Samuel mendekat pada Lily, gurat khawatir tercetak jelas di wajahnya. "Apa yang terjadi? Kau seperti orang yang baru saja melihat eksekusi mati." Lily menatap Samuel lekat, dia memperbaiki posisi duduknya. Lily menunduk, menyatukan kedua tangan di atas meja. Lalu merogoh saku jaket yang dia kenakan. Semua rekannya mendekat, menatap sebuah plastik
Aroma antiseptik memenuhi indra penciumannya ketika dia menggeser pintu ruang UKS. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara detak jarum jam.Sinar matahari sore menembus celah gorden, menciptakan bayangan di atas lantai. Lily melangkah perlahan, hampir tidak bersuara. Di balik tirai kedua, Lily mendengar suara napas yang tersenggal. Lily menyibak tirai, menemukan Rangga yang meringkuk dengan baju yang basah oleh keringat. Sesekali pemuda itu mengerang, dan meracaukan sebuah kalimat. Wajahnya semakin pucat, matanya yang terpejam tampak bergetar. "Sa-kit...," ucapnya lirih, terbata, Rangga mencengkram seprei dengan erat hingga buku jarinya memutih. Lily segera mendekat, dia meletakkan tangannya di kening pemuda itu. Panas. Panasnya yang tidak wajar. Ini bukan flu biasa. Lily mencurigai ini efek samping dari mengkomsumsi obat-obatan terlarang itu. Sebagai polisi, Lily ingin sekali mengguncang bahu Rangga, berteriak padanya agar memberitahu siapa si pemasok. Tapi, sebagai guru, yang
Suara harpa berdenting di setiap sudut sekolah, iramanya merdu, mengisi udara dengan harmoni yang menenangkan. Tapi, bagi, Lily, itu bukan musik. Melainkan sebuah tanda bahwa sandiwara telah dimulai. Lonceng sekolah yang aneh, lebih mirip pembukaan konser opera dibanding pengingat masuk kelas.Lily merapikan roknya yang longgar. Memastikan penampilannya tampak norak dan tidak mengancam. Meraba pinggang, perasaan hampa itu masih ada. Mengetahui tidak ada senjata di sana. "Aku akan memulai misinya. Masuk area belajar. Status misi, aktif," bisiknya pelan, hampir tidak menggerakkan bibir. "Diterima. Berhati-hatilah, jadilah guru yang rapuh dan membosankan. Jangan banting muridmu jika mereka kurang ajar," suara Samuel terdengar di telinganya, disusul kekehan pelan Reptor.Lily menarik napas panjang, melemaskan otot tubuhnya sejenak, menyesuaikan letak kacamatanya, lalu mendorong pintu kayu jati yang berat. 12-AHening seketika. Kelas itu tidak seperti ruang kelas pada umumnya. Tidak ada
Lily akhirnya sampai di SMA Merpati Putih. Dia mengamati bangunan itu sebelum memutuskan mendekat. Sejenak, dia tertegun menatap gerbang tinggi berwarna emas di depan sana. SMA Merpati Putih tidak terlihat seperti sekolah. Dari kejauhan, bangunan itu lebih menyerupai sebuah kompleks kedutaan besar atau resor mewah di Swiss. Dindingnya terbuat dari batu alam putih bersih, dengan pilar-pilar tinggi yang menopang atap bergaya neoklasik."Bangunan itu terlihat seperti sebuah istana," katanya, menekan earpiece di telinga. "Istana yang menyembunyikan banyak kejahatan dan kebusukan," sahut Reptor. "Yah, rakyatnya bermanja-manja dengan kotoran," timpal Samuel.Lily tersenyum tipis. Di balik keindahan itu, mata Lily melihat sesuatu yang lain. Dia menghitung ada setidaknya empat kamera CCTV di gerbang depan, masing-masing memiliki sensor gerak. "Keamanannya benar-benar ketat. Setiap CCTV memiliki sensor gerak." Lapor Lily.Petugas keamanan yang berjaga di gerbang mengenakan seragam rapi, n
"Elang, di posisi.""Reptor, di posisi.""Rubicon, sudah di titik pantau.""Alpaca, siaga.""Specter siap di titik buta."Suara-suara itu masuk ke telinga Lily melalui earpiece. Ini adalah hari ke-28 pengintaian. Selama hampir sebulan, mereka hidup di antara bayang-bayang pelabuhan yang berbau solar dan garam, menunggu hantu bernama Blue Swan muncul ke permukaan. Namun, dermaga itu tetap sunyi, hanya suara ombak yang menghantam beton."Semua fokus," suara Samuel, sang Kapten, terdengar berat dan penuh tekanan. "Target utama kita adalah titik transaksi. Jangan gegabah, jangan bergerak tanpa komando. Satu langkah salah, operasi ini tamat. Paham?""Paham, Sir!" jawaban serentak itu terdengar seperti janji setia.Lily, yang menggunakan kode Specter, menyandarkan tubuhnya di balik tumpukan kontainer. Dia mengenakan jaket hoodie kumal, menyatu dengan hiruk-pikuk buruh pelabuhan."Monkey keluar. Dia bergerak ke utara," bisik suara di earpiece. Specter, yang saat itu sedang berpura-pura mengu







