Share

Bab 34

Penulis: Jiriana
last update Tanggal publikasi: 2026-06-07 22:29:30

"Lihat ini, tangannya juga terluka." tunjuknya pada pergelangan tangan Kiran. "Dia tidak mungkin menggigit tangannya sendiri hingga berdarah, itu artinya Stevi juga mencelakainya. Jika Om tetap ingin melaporkan Kiran ke polisi, maka aku terpaksa akan melaporkan Stevi juga," kata Raka dengan tegas.

Mendengar itu, amarah ayah Stevi seketika naik. "Raka, demi wanita seperti dia, kau berani melawanku?" tunjuknya pada Kiran dengan wajah memerah. "Apa kau tidak ingat, kalau dialah yang menyebabkan Mi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
carsun18106
serius masih ngasih syarat???
goodnovel comment avatar
Michellyn
jgn syarat yg bikin Kiran dianiaya lg
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 34

    "Lihat ini, tangannya juga terluka." tunjuknya pada pergelangan tangan Kiran. "Dia tidak mungkin menggigit tangannya sendiri hingga berdarah, itu artinya Stevi juga mencelakainya. Jika Om tetap ingin melaporkan Kiran ke polisi, maka aku terpaksa akan melaporkan Stevi juga," kata Raka dengan tegas.Mendengar itu, amarah ayah Stevi seketika naik. "Raka, demi wanita seperti dia, kau berani melawanku?" tunjuknya pada Kiran dengan wajah memerah. "Apa kau tidak ingat, kalau dialah yang menyebabkan Mia meninggal?"Ketika nama 'Mia' disebut, ada emosi yang bergejolak di dalam tubuh Raka. "Masalah Stevi tidak ada hubungannya dengan Mia. Jangan mengaitkan kejadian dulu dengan sekarang. Lagi pula, Stevi hanya terluka ringan di kepala. Dia pingsan karena fobia terhadap darah, bukan karena terluka parah."Merasa Raka terlalu membela Kiran, ayah Stevi semakin tidak terima. "Lalu, bagaimana dengan kecelakaan di tangga? Apa kau juga akan membelanya?" tunjuk Hutomo pada Kiran. "Dia sudah membuat Stevi

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 33

    "Ada apa?" Raka menatap Doni yang baru saja masuk ke dalam ruangannya dengan langkah tergesa-gesa."Nona Kiran dibawa Tuan Hutomo, Pak."Informasi itu Doni dapat dari perawat yang diminta oleh Raka untuk mengawasi Kiran dan juga Stevi. Raka khawatir Kiran akan membuat masalah, itu sebabnya dia meminta salah satu perawat untuk mengawasi keduanya dan segera mengabari asistennya jika terjadi sesuatu."Dibawa ke mana?""Kantor polisi."Raka langsung menutup dokumen yang ada di tangannya dengan kasar. "Kenapa Kiran dibawa ke sana?""Nona Kiran mendorong Nona Stevi hingga pingsan."Ketika mendengar itu, amarah dalam diri Raka seketika naik. Baru saja dia berpesan pada Kiran untuk menahan diri dan tidak membuat masalah dengan Stevi, tapi dia justru mendorongnya untuk yang kedua kali."Antar aku ke sana."Raka meraih ponselnya, kemudian pergi berjalan menuju pintu dengan langkah tergesa-gesa. Ekspresi wajahnya tampak suram, dengan otot rahang yang mengencang.Sementara itu, Kiran yang baru sa

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 32

    "Aku masih ada pekerjaan," jawab Raka. "Dokter bilang, kamu sudah bisa pulang besok, kan?""Iya, tapi orang tuaku akan pergi ke luar kota. Bolehkah aku menginap sementara di rumahmu?"Tiba-tiba saja pagi tadi orang tuanya bilang harus pergi keluar kota karena ada urusan mendesak. Mereka bilang akan kembali dalam beberapa hari."Tidak bisa. Aku akan meminta perawat yang biasanya untuk menjagamu di rumah.""Kak, kamu sudah berjanji pada ayahku akan merawatku sampai sembuh. Apa kamu mau mengingkari janjimu?"Salah satu alasan orang tua Stevi berani meninggalkan Stevi ke luar kota besok, karena Raka sudah berjanji akan menjaga putri mereka sampai sembuh. Selain itu, kondisi Stevi sudah mulai pulih, hanya kakinya saja yang belum bisa digunakan untuk berjalan."Stevi, kita tidak memiliki ikatan. Tidak baik kalau kamu tinggal di rumahku."Apalagi, saat ini dia sudah menikah. Tidak pantas rasanya kalau dia membiarkan wanita lain tinggal di rumahnya."Aku akan mengajak Vania untuk menemaniku j

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 31

    Raka berjalan mondar-mandir di ruangan kantornya dengan gelisah setelah mengecek ponselnya. Sudah dua jam lamanya Kiran berada di rumah orang tuanya, tapi dia belum mendapat kabar apa-apa dari sang ibu.Setengah jam lalu, ibunya hanya mengatakan kalau Kiran sedang berada di ruangan kerja bersama ayahnya. Sang ibu tidak diizinkan untuk masuk ke dalam, jadi ibunya juga tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana.Ya. Raka akhirnya setuju ibunya membawa Kiran setelah berdebat panas selama beberapa menit. Ibunya berjanji akan menemani Kiran selama berbicara dengan sang suami, tapi nyatanya dia tidak diizinkan untuk masuk ke dalam.Karena merasa tidak tenang, Raka kembali meraih ponselnya di meja, kemudian menghubungi ibunya. Tiga kali dia melalukan panggilan, tapi tidak juga dijawab oleh sang ibu.Saat dia akan meletakkan ponselnya di meja, ada bunyi panggilan masuk dari ibunya. Buru-buru Raka mengangkat panggilan itu dan bertanya, apakah Kiran sudah keluar dari ruangan sang ayah."Kiran be

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 30

    Setelah ibunya pergi, Raka pergi menutup pintu dan berjalan menuju kamar mandi. Saat melihat Kiran duduk termenung di tepi ranjang, Raka menghentikan langkahnya. "Kenapa belum pergi?" tanyanya. "Masih mau melanjutkan yang tadi?" Kiran menggeleng dan segera keluar dari sana, tapi karena dia melangkah terburu-buru, kakinya tersandung dan hampir membuatnya terjatuh. Beruntung dia segera berpegangan pada tembok. "Dasar ceroboh." Setelah mengatakan itu, Raka berlalu ke kamar mandi dan menutup pintunya. Sementara Kiran bergerak menuruni tangga dengan hati-hati. Di lantai bawah, ibu Raka sedang menikmati secangkir teh hangat sambil memainkan ponselnya. Melihat Kiran sudah menapaki lantai setelah turun dari dari tangga, Hannah memintanya untuk mendekat. "Kamu sudah menyiapkan pakaian untuk Raka?" Kiran terdiam sesaat ketika mendapatkan pertanyaan itu. "Belum," jawabnya jujur. Hannah menggeleng lemah, kemudian menatap Kiran dengan tidak ramah. "Kamu itu istrinya, hal seperti ini m

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 29

    "Papa akan memberitahumu nanti. Untuk sekarang, kamu bertahan saja dulu di sana sementara." "Tapi, Pa ..." "Sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat. Kita bicara lagi besok." "Baiklah." Setelah panggilan itu berakhir, Kiran meletakkan ponselnya di ranjang kosong, kemudian menatap langit-langit sambil merenung. >>>>>>>>>> "Bi, Raka udah bangun?" tanya Kiran saat melihat Bi Rum sedang berada di dapur usai dirinya keluar dari kamar pagi ini. "Belum. Sepertinya masih tidur." Kiran melirik jam di ponselnya sejenak, kemudian lalu termenung selama beberapa detik. Sudah pukul 7 pagi, seharusnya Raka sudah berada di meja makan pukul segini. Karena merasa penasaran, Kiran memutuskan untuk menyusul Raka ke kamarnya. Namun, setelah mengetuk beberapa kali, pintu kamar itu tidak juga dibuka oleh pemiliknya. Kiran akhirnya turun ke bawah lagi. Namun, sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status