登入"Nanti saja. Kita makan malam dulu." Kiran meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian turun dari ranjang. "Aku siapkan makan malam dulu." Tanpa menunggu respon dari Raka, Kiran keluar dari kamar, kemudian turun ke bawah. Dengan dibantu Bi Rum, Kiran menata meja makan. Hari ini, secara khusus dia masak makanan kesukaan Raka. Dia membuat sendiri masakan itu sore tadi tanpa bantuan siapa pun. Sebenarnya, Bi Rum ingin membantu, tapi dilarang oleh Kiran. Pukul 7 malam, mereka makan malam bersama. Tidak ada drama apa pun selama makan malam berlangsung. Mereka semua makan dengan tenang sampai selesai, tidak terkecuali Stevi. Sejak memasuki ruangan makan, wanita itu hanya diam. Wajah terlihat lesu, dia pun hanya makan sedikit. "Mau bicara apa?" Baru saja memasuki kamar, Raka langsung melontarkan pertanyan pada Kiran. "Aku ..." Kiran menatap Raga dengan wajah ragu. 'Kiran, kamu harus bersikap baik dan patuh pada suamimu, tidak boleh membantahnya. Suamimu itu sebenarnya orang
Pukul 5 sore, Kiran turun ke bawah untuk menunggu Raka pulang bekerja. Biasanya, pukul segitu pria itu akan tiba di rumah. Ketika menuruni tangga, dia melihat ada Stevi dan Vania sedang duduk di sofa ruangan keluarga sambil menatap majalah fashion keluaran terbaru. Dari obrolan mereka, Kiran bisa mendengar kalau keduanya sedang memilih barang branded yang baru saja diluncurkan. Karena tidak ingin mencari masalah dengan keduanya, Kiran memilih mengabaikan dan berjalan terus menuju ruangan tengah setelah turun dari tangga. Namun, tiba-tiba saja dia dipanggil oleh Stevi. "Kiran, buatkan aku teh. Jangan terlalu banyak gula, aku sedang diet." Kiran menoleh pada Stevi. "Minta Bi Rum yang buatkan, aku bukan pembantumu." Kemudian dia melangkah dari sana dengan wajah acuh tak acuh. "Kak Kiran, kamu jangan tidak tahu diri, kamu itu dibawa kakakku ke sini untuk menjadi pembantu, bukan menjadi Nyonya di rumah ini." Kiran yang baru saja berjalan 4 langkah, kembali berhenti. "Apa kamu t
"Aku permisi. Sampai bertemu lagi lain kali." Kiran hanya mengangguk sopan sebagai jawaban. Saat menyadari kalau dia melupakan sesuatu, buru-buru dia melangkah dengan kaki pincang menuju pintu keluar. Saat melihat Raka akan memasuki mobil, Kiran buru-buru berseru, "Raka, tunggu!" Gerakan tangan Raka yang akan membuka pintu seketika terhenti. Dia memutar tubuhnya ke kiri dan menunggu Kiran menghampirinya. Sebelum berbicara, Kiran mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat berjalan cepat tadi. "Mana ponselku? Kamu bilang akan mengembalikannya?" Raka meraih sesuatu di saku celana kanannya, lalu menyodorkan benda pipih berwarna putih pada Kiran dan langsung disambut gembira oleh wanita itu. "Aku sudah menghapus nomor ponsel dokter itu. Jangan berhubungan lagi dengannya." Karena tidak mau mencari masalah dengan Raka, dengan patuh Kiran mengangguk. Setelah mobil pria itu meninggalkan rumah, Kiran masuk ke dalam. Di ruangan keluarga, dia bertemu dengan Stevi dan Vania yang se
"Dari mana saja?" Gery langsung melontarkan pertanyaan ketika melihat Raka dan Kiran memasuki ruangan makan bersama. "Aku sudah menunggu sejak tadi, kamu tidur lagi?" Pertanyaan itu, dia tujukan pada Raka yang baru saja duduk di sebrangnya bersama Kiran. "Mandi," jawab Raka seadanya, dengan raut wajah datar. Gery mengunyah makanan dalam mulutnya dengan santai. Namun, dia tiba-tiba mengeryit ketika melihat sesuatu yang janggal. "Kenapa rambut kalian basah? Kalian habis mandi bersama?" Kiran yang baru saja meminum air putih, seketika terbatuk ketika mendengar itu. Raka langsung melesatkan tatapan tajam ke arah Gery setelah Kiran berhenti terbatuk. Namun, sahabatnya itu justu mengulum senyumnya dengan wajah santai. Sementara Stevi dan Vania yang sejak tadi hanya diam, langsung melirik ke arah Raka dan Kiran secara bergantian. Tampak sepercik api kemarahan dalam sorot mata Stevi ketika menyadari kalau Kiran sudah berganti pakaian. Dalam benaknya, dia secara tidak sadar menyimpulka
"Raka, kenapa kamu terus membawa Alfan dalam pembicaraan kita? Dia tidak ada hubugannya sama sekali denganku." Seolah sedang mendengar lelucon, Raka seketika tersenyum sinis. "Tidak ada hubungan, tapi kamu selalu tersenyum manis padanya. Bahkan, tidak sabar untuk segera bertemu dengannya sampai pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali." 'Kapan dirinya tersenyum manis pada Alfan?" "Raka, aku berangkat pagi-pagi ke rumah sakit waktu itu bukan karena ingin bertemu dengannya, tapi karena ...." Karena dia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Raka setelah insiden ciuman malem itu. "Karena apa?" tanya Raka akhirnya saat melihat Kiran hanya diam dan tidak melanjutkan ucapannya lagi. "Karena jadwal dokter dimajukan." Hanya itu satu-satunya alasan yang dia berikan pada Raka agar tidak ditanya lagi. "Lalu, kenapa kamu tidak mengatakan padanya kalau kamu sudah menikah
"Tidak mau," tolak Stevi. "Izinkan aku tinggal selama beberapa hari lagi di sini, baru aku lepaskan." Karena Stevi tidak mau melepaskan, Raka memegang kedua lengan Stevi, kemudian mendorongnya dengan kuat hingga dia nyaris terjatuh di dekat pintu. Beruntung wanita itu langsung berpegangan pada tembok. "Ini peringatan terakhirku. Jangan pernah memelukku lagi seperti tadi." Usai mengatakan itu, Raka keluar dari kamar, berjalan dengan langkah cepat—menyusul Kiran yang sedang berjalan dengan langkah pincang. "Mau ke mana?" Kiran yang tiba-tiba ditarik dari belakang tampak membelalak dengan mulut sedikit terbuka. Tubuhnya sedikit terhuyung saat akan membentur dada bidang Raka. Baju keduanya sampai basah karena terkena siraman air yang berasal dari dalam gelas yang sedang Kiran pegang akibat wanita itu bergerak terlalu cepat. "Raka lepaskan," pinta Kiran dengan wajah panik. "Kenapa langsung pergi?" Bukannya melepaskan Kiran, Raka justru semakin menarik pinggang Kiran ke arahny
"Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit.
"Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menol
WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di h
“Kiran Avriyadi, beritahu aku, bagaimana kehidupanmu selama di penjara?” Pria bernama Raka itu meraih dagu Kiran, lalu berkata penuh penekanan, “Baik atau buruk?”Ketika melihat seringai jahat pria itu, kaki Kiran mendadak gemetar dan lemas. Saking lemasnya sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi.







