Share

4. Meilana

Pulau Karimun di Kepulauan Riau berbatasan langsung dengan Negara Singapura dan Malaysia.

Dapat ditempuh selama 1 jam dengan menggunakan kapal Ferry dari Batam dan dari Tanjung Pinang 3 jam lebih .

Andika membutuhkan waktu menuju lokasi tambang tempat Meilana bekerja dengan mobil carteran selama 30 menit.

Ia telah menyelesaikan beberapa tahap dari pekerjaannya, Beruntung ia mendapat daftar dari murid murid SD di pulau itu. Sepenuhnya ia mendapat data tentang Meilana.

Itu adalah pulau kecil dan tidak susah mendapatkan alamat tempat ibunya bekerja.

Andika menatap alamat kantor itu. Sebuah perusahaan kecil, namun sebenarnya besar  yang berkantor pusat di Singapura .

Menambang batugranit yang diekspor Singapura, untuk pembangunan gedung gedung bertingkat tinggi.

Ia minta izin untuk bertemu dan segera mengetahui dengan siapa dia berbicara. Pimpinan kantor  mengizinkan dan memberikan tempat yang tenang diruangan tamu.

Paling kaget adalah Meilana.

"Meilana ada tamu," salah seorang rekannya memberitahu.

Pimpinan kantor itu memberi izin Meilana menemuinya. Lelaki itu tampak rapi dan necis dengan pakaian yang cukup mahal dan parlente.

Meilana tidak kenal, dan ia dengan heran bertanya

"Siapa anda?" Tanya Meilana gugup.

Dia melihat  seorang pria. Tinggi, dengan jas, dan dasi dileher rambut hitam. Tidak ada bayangan senyuman di wajahnya, bibirnya terkatup rapat.

"Anda Meilana?"  dia berkata dengan yakin, bahwa dia telah datang ke tempat yang tepat.

Lelaki itu melihat dirinya dan memperhatikan wanita itu dari ujung kaki dan menyadari kecantikannnya.

Meilana kemudian menjadi jelas orang asing itu pasti seorang yang kaya.

Lelaki itu menangkap kilatan kecemasan di wajah Meilana. Memperhatikan sejenak  mencoba menyusun agar percakapan itu akrab.

" Apakah Anda bernama  Meiliana?" Dia mengulangi pertanyaannya satu kali lagi.

" Iya, itulah aku,"jawab Meilana.

"Saya Andika," suaranya lembut tapi tegas ketika memperkenalkan diri.

"Aku ingin tahu, seorang putra yang dilahirkan yang bernama Andri Syaputra. Kakek Anak itu menugaskan saya untuk mencarinya," ujar Andika.

Meilana segera saja mengerti, maksud kedatangan pria itu, namun tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Sebaliknya Andika menatap gadis itu, meski cantik tapi tidak modis tampak terlalu sederhana.

Meilana mengedarkan pandangannya ke wajah lelaki itu dan mulai berbicara.

"Dia tidak berani datang?" Tanya Meilana ketus .

" Siapa?"

" Jayadi', dia juga mengutus anda bukan?" Tanyanya.

Terdengar ketus suara Meilana dan Andika  sampai menghela napas panjang.

“Kita perlu bicara , karena aku ingin  memberitahumu," katanya akhirnya.

"Sampaikan saja apa pesan dari sipengecut itu, saya tidak punya banyak waktu."

Lagi lagi Meilana menanggapi dengan ketus .

"Anak itu anakku, namanya Andri Saputra," jelas Meilana dengan suara tegas.

Meilana merasakan adrenalin yang kuat mengalir ke dalam darahnya.

"Saya tidak melihat sesuatu yang rumit! Apa pun yang dikirim ayahnya ke sini, ia tidak perlu khawatir! Anaknya baik-baik saja tanpa dia."

Meilana melihat mata pria itu tidak berkedip, melihat bayangan di dalamnya dan suaranya yang tegas.

" Jadi anda tidak tahu?"

"Tahu apa?"

"Ada surat 3 tahun yang lalu, mengatakan anak itu, Tuan Jayadi menerimanya dan dia  tidak bisa membalasnya."

Meilana mendengarkan dengan diam, matanya penuh perhatian. Ia ingat, ketika sakit dia dan kakaknya menulis surat. Mereka memang  tidak perlu balasan surat itu.

"Kami tidak berpikir untuk balasannya." Meilana mengatakan  tiba tiba.

Lelaki yang tadi menyebut namanya Andika berkata lagi.

"Namun aku harus memberitahumu bahwa sesuatu telah terjadi."

Suara Andika terdengar teredam, bukti betapa sulit baginya untuk berbicara sekarang.

"Aku tidak peduli apa yang harus kamu katakan." Meilana memutuskan, yang sebenarnya tidak menyukai percakapan itu.

Tapi suara Andika  yang dalam menghentikan kata katanya di tengah tengah kalimat.

"Tuan Jayadi sudah meninggal."

Mata Meilana membesar, setengah tidak percaya dengan ucapan itu.

"Apa benar dia meninggal?" Meilana mengulang ucapan itu.

"Aku menyesal memberitahumu."

Andika  menunjukan wajah simpati dan melihat wanita didepannya kelihatan lemas.

Ada keheningan setelah itu. Tapi Andika benar-benar tidak tahan lagi menjelaskan berita itu.

" Tewas," ujarnya.

"Saya minta maaf. Aku seharusnya tidak langsung membuatmu takut dengan berita seperti itu!"

Meilana masih menatapnya dengan tatapan aneh yang membeku.

'"Apakah lelaki itu benar benar sudah tiada?" Dia bertanya lagi ingin lebih jelas.

"Tabrakan mobil. Kecelakaan tunggal, satu bulan yang lalu." Jelas Andika.

"Aku butuh beberapa saat untuk menemukanmu.” Kata-kata Andika terdengar tiba-tiba.

Meilana bergoyang. Tiba-tiba Andika berada di sampingnya, meraih lengannya, namun Meilana menolaknya dengan keras. Ia tidak mau disentuh.

Dia melangkah mundur, menarik diri, tanpa disadari  betapa kuat tangannya menolak lelaki itu.

Dia berbisik, seperti untuk dirinya sendiri.

"Dia meninggal?" Ulangnya lagi. - Ayah Andri sudah meninggal'?" ia mengulang kata kata itu meyakinkan dirinya bahwa itu tidak mimpi.

"Anda harus duduk," kata Andika

" Maafkan saya. Ini sungguh mengejutkan bagi anda. Aku tahu. "

Andika melanjutkan lagi dengan hati-hati memilih kata-katanya. Betapapun ia memilih kata yang tepat, tetap saja suasananya kurang enak.

"Apa yang kamu harapkan?" Dia ragu-ragu ketika mengingat kakaknya,  dan kembali dia berpura pura jadi ibu anak itu.

'"Kami berharap untuk memulai sebuah keluarga, tapi,"

Meilana menghentikannya dengan 'berwajah sedih.

Andika tentu saja tahu, wanita itu berbohong. Dia bukan ibunya. Dia cuma saudaranya. Mungkin sedikit mirip.

"Aku ibu Andri," kata Meilana meneruskan kebohongan dan rasa sakit rahasia yang tersembunyi mengingat kakaknya yang telah meninggal.

Bagaimanapun, berita itu, Andri Syaputra yatim piatu dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Ia harus menentukan sikap. Menjaga Andri Syahputra si kecil itu.

Tapi dia tidak pernah mengharapkan ayah sang anak itu betul betul sudah meninggal.

Penuh dengan air mata, ia mendengar suara Andika seperti datang dari suatu tempat yang jauh.

"Semoga anda dapat tabah."

Andika berdiri, menatap saudara perempuan dari wanita yang melahirkan seorang anak dan pewaris keluarga Sanjaya.

Ia belum berniat mengagetkan wanita itu bahwa ia sudah tahu siapa ibu anak itu. Ia membiarkan Meilana berbicara apa saja. Berbohong

Wajar saja, selama beberapa tahun memelihara bocah itu dia sudah terikat dan  menganggapnya anak  kandung. Kalau itu diambil dari dia, akan merupakan pukulan besar baginya.

Juga kepada orang lain disekitarnya, ketika ia menyelidiki wanita itu selalu mengaku sebagai itu kandungnya.

"Dimana anak itu sekarang? Bisakah saya bertemu?"

Andika bertanya. Dia berusaha untuk tidak terdengar terlalu kasar,

Meilana mengangkat dagunya.

"Dia bersamaku! " Meilana menjawab dengan tajam.

"Aku ingin berjumpa."

"Itu tidak perlu.  Dia akan tinggal bersamaku! Itu saja yang perlu Anda ketahui!"

Meilana sampai melompat berdiri, ketakutan dan kepanikan mencegahnya untuk tetap diam.

Terlalu banyak hal sekaligus - syok demi syok - dia tidak bisa menangani semuanya.

Andika melangkah lebih dekat .

"Nona Meliana, kita harus bicara."

"Tidak! Tidak ada yang perlu dibicarakan di sini! Tidak ada apa-apa! Anda boleh pergi."

Dengan sedikit kibasan tangannya, dia menyuruh lelaki itu pergi.

Kakaknya memberinya anak bersama dengan nafas terakhirnya, dan dia tidak akan pernah mengkhianatinya! Memberikan anak itu kepada orang lain? Tidak pernah!

Air mata kembali membasahi matanya mengingat kakaknya.

"Jaga Andri dengan jiwamu."

Itu adalah kata-kata terakhir dari kakaknya sebelum meninggal.

"Hanya aku dan kamu," bisiknya, mengambil anak itu ketika mereka berdua merawatnya  dari penitipan setelah pekerjaan mereka berakhir.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status