Masuk"Dulu kita pernah berjanji untuk menua bersama, bukan?! dan kini Allah mewujudkan impian kita, tak mungkin Ibu akan mengingkari janji kita, aku yakin Bapak pasti juga seperti itu?! Imbuhku kembali memberi tekanan. Lelaki di hadapanku itu kini nampak manggut-manggut sembari menutupi rasa bersalah yang sangat kentara dari deru nafas tuanya. "Percayalah Pak, sejengkal pun tak akan pernah kulupakan apa yang telah Bapak perjuangkan demi kebahagiaan kita dan aku yakin Bapak pun pasti juga seperti itu. Bapak ingat, kala Bapak dikantor masih sebagai pegawai magang, seringkali kita menunda untuk pulang kampung hanya karena memilih untuk membeli susu Rama daripada untuk tranportasi? Bukan hanya itu, kita juga harus menekan kebutuhan kita demi cukupnya keperluan Rama yang saat itu masih bayi, Bapak ingat kan?!" Jelasku mencoba menekannya yang tanpa terasa juga menggiring derai air mata sendiri.
Lihat lebih banyakStephanie‘s POV
“She’s back. Sign the divorce papers.” His voice is flat, detached, like this is just another line item on his to-do list, not the disintegration of our life together.
The air is sucked from the room. My heart pounds so loudly in my ears that for a moment, I can’t process what he’s just said. Then the words sink in, heavy and sharp, hollowing me out until I feel like a shell of myself.
Four years ago, we got drunk and slept together for the first time. It was amazing, and I thought I had won him over. Back then, I was just a designer at his company, secretly in love with my boss.
Not long after that, I found out I was pregnant and accepted Vince’s proposal. So what if Vince had feelings for someone else? His ex-girlfriend Darci was already engaged, and I was certain I could win his heart eventually.
But everything that happened today proved just how wrong I was.
My gaze drops to the papers on the table. The bold, official font feels obscene, mocking me with its finality.
“Why are you doing this?” I ask, my voice coming out small and trembling, a shadow of the woman I used to be. “We’ve been married for four years, Vince. Doesn’t that mean anything to you?”
His stare is cold enough to freeze my blood. “It was never supposed to mean anything, Stephanie,” he says, his words like a slap to the face. “You always knew that. You knew I loved Darci. You were just… convenient.”
Convenient. The word echoes in my mind, sharp and cruel, cutting into the fragile remnants of my hope. I feel my chest tighten, a knot forming that makes it hard to breathe.
Darci.
Her name has haunted me since the beginning, like a ghost that refused to leave, no matter how much I tried to exorcise it.
“She’s married,” I remind him, my voice faltering as I grasp for something, anything, to hold on to. “She moved on years ago. Why can’t you?”
Vince lets out a bitter laugh, leaning back in his chair like he finds me ridiculous. “She didn’t move on. She was forced into that engagement. Now that she’s back, she’s free—free to be with me.”
His words hit like a punch to the gut, stealing what little breath I have left. My vision blurs for a moment, and I grip the edge of the table to steady myself. “We’re married,” I say, hating the desperation in my tone. “We’ve been building a life together. Doesn’t that matter to you?”
“Building a life?” he repeats, his voice dripping with disdain. “The only thing you’ve been building is a lie. You trapped me, Stephanie. You used drugs to manipulate me into this marriage. It was never real.”
His accusations blindside me, the venom in his voice leaving me reeling. “What are you talking about?” I whisper, my words barely audible. “I didn’t manipulate you—”
“Don’t play innocent,” he snaps, his voice rising. “You knew exactly what you were doing. The pregnancy—it was all part of your plan, wasn’t it? You made sure I had no choice but to marry you.”
The room spins as his words settle in, and I feel like the ground beneath me is crumbling. “That’s not true,” I protest, shaking my head. “I didn’t—”
“Don’t lie to me!” Vince’s voice cuts through my denial, sharp and unforgiving. “You disgust me. You latched onto me with a child that didn’t even survive. And now you expect me to feel sorry for you?”
My breath catches in my throat, the mention of our baby slicing through me like a knife. Instinctively, my hand moves to my stomach, to the place where I once carried a life.
The pain of that loss crashes over me, fresh and raw, mingling with the bitterness of his words.
“Don’t,” I whisper, my voice breaking. “Don’t talk about the baby like that.”
“Why not?” he spits, his eyes narrowing with contempt. “I didn’t want it then, and even if it had survived, I wouldn’t want it now.”
His words are cruel, calculated to wound, and they succeed.
“How can you say that?” I demand, my voice trembling with fury. “How can you be so heartless?”
“Heartless?” Vince’s lips curl into a bitter smile. “You’re the one who started this, Stephanie. Now it’s over. Sign the papers, and I’ll pay you enough to walk away and never look back.”
His detachment is the final straw. The years of sacrifice, of trying to love him through his indifference, flash before my eyes.
Four years of building a life together, only for him to reduce it to a transaction. My hands tremble as I reach for the pen, the weight of his betrayal pressing down on me.
“I don’t want your damn money.”
“Fine, Stephanie.” His voice is cold, commanding. “Sign it.”
Tears blur my vision as I lower the pen to the page. My hand shakes so violently that I have to steady it with my other one. Memories flood my mind—the quiet nights when I thought we were happy, the fleeting moments when I thought I saw a spark of something real in his eyes. All of it, an illusion.
I look down at the paper again. At Vince’s signature. The space where mine will go.
“You know what?” I say, straightening my spine. “You don’t get to decide my worth anymore. I’m done letting you. You want this divorce so badly? Fine. I’ll give you what you want.”
I deserve better than this. Don’t I?
The silence answers me louder than words ever could.
I force myself to hold back the tears burning at the edges of my vision. If I cry now, he wins.
I steel my spine and pick up the pen. My grip is tight, unyielding.
I sign with a trembling hand.
Kebahagiaan sebenarnya tak pernah sejengkal pun menjauh dari keluarga kami. Pun kala cobaan datang secara bertubi-tubi di sepuluh tahun pertama usia pernikahan ini, semuanya kami lewati dengan cara yang baik tanpa saling menyalahkan ataupun menyakiti. Komitmen kami, apapun kondisinya komunikasi harus tetap terjalin agar tak ada rasa saling curiga.Hingga pagi itu, kala kutemukan secarik nota belanja kebutuhan rumahtangga di saku celana Mas Hendra, mulai dari segala keperluan mandi, dapur hingga yang dibutuhkan wanita kala tamu bulanan tiba yang jelas tertera disana, seakan menyapu bersih bahagia yang selama ini kugenggam tanpa sedikitpun meninggalkan asa.Bukan soal nominal yang hampir mencapai angka enam juta dalam satu nota, tapi lebih dari itu, milik siapa nota belanja ini?! Sementara untuk belanja bulanan, aku lah yang memegang kendalinya.Gemetar kupegang kertas persegi panjang dengan segala daftar belanja tertera dan jelas terbaca setiap itemnya bukan merk yang biasa aku gunakan
"Bapak, aku berangkat dulu ya," pamitku pagi ini pada Mas Hendra yang sedang menikmati secangkir kopi yang telah kuhindangkan.Sembari membetulkan letak tas hitam yang menggantung di pundak kananku senada dengan dress hitam yang dilengkapi dengan blazer putih menjuntai hingga atas lutut.Kuraih tangan Mas Hendra untuk menciumnya sebelum berlalu tapi alih-alih disambut, Mas Hendra dengan sigap malah menyingkirkannya."Sepagi ini?" seru Mas Hendra keberatan, pagi ini aku memang berangkat pukul enam lewat tiga puluh menit, satu jam lebih awal dari biasanya."Iya, Pak. Pagi ini aku ada janji bertemu dengan pelanggan, yang kebetulan khusus pesan pakaian seragam keluarga untuk acara pernikahan," beberku menjelaskan.Mas Hendra mengernyitkan kening, menambah banyak garis yang sudah tergambar alami oleh usia."Ketemu pelanggan sepagi ini?" tukasnya kembali dengan kelopak terbuka sempurna."Sebelum bertemu pelanggan, aku harus ketemu sama Pak Budhy dulu untuk membicarakan tentang bahan yang se
"Buk, apa Ibu baik-baik saja," tukas Mas Hendra kala kubuka netra, nampak kentara dirinya begitu tidak tenang yang entah untuk apa segala rasa khawatir itu bila tombak kehidupanku pun telah lenyap dibinasakannya.Segera kupalingkan muka karena tak ingin beradu pandang lebih lama."Apa ada salah Bapak pada Ibu?" tukas Mas Hendra menyelidik. Salah?! tak sadarkah apa yang telah terucap dari mulutnya itu. bukan hanya salah yang telah dia lakukan tapi sebuah kejahatan dengan menikamku dari belakang."Tidak ada, Pak," sergahku tanpa mampu menatap karena ternyata tak mudah untuk bersandiwara, apalagi diusia yang sudah setua ini."Ibu yakin? Lantas, kenapa dari tadi Ibu selalu menghindari Bapak?" tukas Mas Hendra tak percaya.""Menghindari?! Ibu rasa tak pernah menghindari Bapak. Ah sudahlah, jam berapa ini, Pak?" elakku mencoba mengalihkan topik perbincangan. Mas Hendra mengernyitkan kening pertanda akan ragu yang masih bersemayam di hatinya."Jam Sebelas," jawab Mas Hendra singkat. untuk
Dalam dua malam tak sedetik pun mampu kupejamkan netra. Bayang-bayang kemesraan yang mungkin telah dilalui Mas Hendra bersama madu yang bahkan belum pernah nampak padaku sekilas wajahnya terus berputar dikepala.Bila berbicara soal muda, dulu pun aku pernah mengalaminya tapi kala usia telah menggerus semua, apa daya kita sebagai seorang hamba tentang ketentuan yang menjadi hakNya. Bila perselingkuhan itu terjadi karena paras yang sempurna, bukankah dulu aku pernah sangat dipuja bahkan kecantikanku terkenal sampai seantero kampung, tapi kala waktu telah mengaburkan semua, apa kita punya kemampuan untuk terus memilikinya. Bila perselingkuhan itu terjadi karena selaput dara, betapa nista lelaki yang telah kupilih sebagai imam itu. Bukankah, setiap wanita hanya memiliki satu hak atas nama itu, dan dulu Mas Hendra lah yang mengoyak milikku. Lalu setelah semua yang dia renggut dari diriku, masih tega lelaki itu menampar hatiku.'Allahu akbar,' lirihku didalam sana diiringi dengan luruhnya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.