ログイン"Seni Petir Penghancur Dunia!" raung Han Mujun.Traaack! Traaaack!Bola petir ungu di tangannya meledak menjadi ribuan ular siber yang memenuhi setiap sudut goa. Cahayanya begitu menyilaukan hingga Ketua Lu dan pemuda Feng harus menutup mata, yakin bahwa dalam detik berikutnya, Fang Zhe hanya akan menjadi tumpukan abu hitam. Han Mujun melesat, tinju petirnya mengincar tepat ke arah dada Fang Zhe dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan gunung.Namun, Fang Zhe tidak menghindar. Ia justru melangkah maju, membiarkan jubah hitamnya berkibar diterpa badai listrik."Terlalu lambat," desis Fang Zhe.WUUUUUTTT!Tangan kanan Fang Zhe keluar dari saku celana, terkepal erat dengan aura dingin yang membekukan cahaya petir di sekitarnya. Saat tinju petir Han Mujun dan tinju es Fang Zhe berbenturan...DUAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!Ledakan energi itu bukan hanya mengguncang goa, tapi membuat tanah di atas mereka retak. Gelombang kejutnya mementalkan semua orang yang ada di sana
Traaack! Traaaack!Suara es yang pecah itu terdengar seperti rentetan tembakan artileri di dalam goa yang sempit. Kristal-kristal biru pucat yang tadi membekukan binatang buas hancur menjadi serpihan debu salju saat sebuah gelombang Qi berwarna ungu gelap menyapu ruangan dengan kasar.Dari balik bayang-bayang lorong goa yang belum terjamah, seorang pria tua dengan janggut panjang yang dikepang rapi melangkah keluar. Ia mengenakan jubah kebesaran keluarga Han bermotif petir, dan setiap langkahnya meninggalkan bekas retakan hangus di lantai batu."Kepala Keluarga benaran datang!" teriak anggota keluarga Han yang tersisa, tangisan lega pecah di antara mereka seolah baru saja melihat dewa penyelamat.Pria itu berhenti tepat di tengah ruangan, matanya yang tajam bak elang menatap tumpukan daging hancur yang tadinya adalah Beruang Lapis Baja, lalu beralih menatap Fang Zhe dengan kebencian yang mendalam."Aku adalah Han Mujun, kepala keluarga Han dari Provinsi Shuan," suaranya menggelegar, b
"Kebetulan? Tidak ada kebetulan di dunia ini, Pak Tua," gumam Fang Zhe dengan nada dingin yang hanya didengar oleh dirinya sendiri. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding gua yang lembap, melipat tangan di dada sambil menyaksikan kekacauan itu dengan binar kepuasan di matanya. Pemandangan di hadapannya jauh lebih menarik daripada film aksi mana pun. Groaaaarh! Wuuuush! Wuuuuuush! Berkat pengaruh Frekuensi Teror, binatang-binatang itu tidak lagi menyerang secara liar. Serigala-serigala itu bergerak dalam formasi flanking, menyergap para ahli bela diri dari titik buta, sementara Beruang Lapis Baja bertindak sebagai tank hidup yang menabrak barisan pertahanan Keluarga Lu hingga hancur berantakan. Braaaack! Wuuuuush! Bahkan Harimau Lokal itu bergerak dengan kecerdasan seorang jenderal, mengincar para pemimpin keluarga terlebih dahulu agar barisan pengawal kehilangan arah. "ARGH! Sialan! Beruang ini... dia menutupi celah seranganku agar serigala itu bisa menggigitku!" teriak Ket
"Bawa tas kalian?" Fang Zhe menyipitkan mata, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai yang tak terlihat oleh pria pemegang palu itu. "Simpan saja sampahmu itu. Aku tidak punya waktu untuk menjadi pelayan orang mati." "Apa kau bilang?! Dasar tidak tahu diri!" Pria besar itu nyaris mengayunkan palunya, namun niatnya terhenti saat seluruh hutan mendadak bergetar hebat. Groaaaaarh! "Hewan buas mengaum? Ada pertarungan antar hewan buas?" Semua pandangan segera tertuju kearah sumber suara. Namun diwaktu yang sama... Tepat didepan mata Fang Zhe. Panel sistem berkedip kedip kecil. DIIIIIING! [ Peringatan Sistem! Target Kolam Darah Kuno terdeteksi di balik gua di depan. ] [Status: Kolam Darah telah bermanifestasi sepenuhnya. ] [Bahaya! Terdeteksi gerombolan Binatang Buas: Puluhan Serigala, beberapa Beruang Lapis Baja. Dan harimau lokal berada dititik yang sama... Mereka sedang berebut meminum esensi kolam. ] [ Saran: Biarkan 'semut-semut' di depan Host menjadi tameng daging terle
Mesin Helikopter terus menderu, membelah awan tipis di atas hamparan hutan belantara yang memisahkan Kota Shange dan Provinsi Nan She. Saat Fang Zhe yang sedang memejamkan mata tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia membuka panel sistemnya secara virtual, jemarinya yang tak kasat mata menggulir daftar misi yang sempat ia abaikan karena kekacauan tadi. Matanya tertuju pada sebuah misi dengan tag merah menyala. [ Misi : Perebutan Kolam Darah Kuno dari keluarga pelatih ilmu bela diri] Deskripsi: Di jantung hutan terlarang ini, sebuah fenomena alam langka sedang terjadi. Kolam Darah yang mengandung esensi bumi selama seribu tahun akan segera muncul. Tujuan: Rebut dan murnikan Kolam Darah sebelum diambil oleh binatang buas atau anggota keluarga berkemampuan ahli bela diri. Hadiah: 10.000 Poin. Sepuluh ribu poin? Angka itu membuat mata Fang Zhe berkilat lagi. Jika dibandingkan dengan dua ribu poin yang ia dapatkan dari menyelamatkan Liora, misi ini jauh lebih menguntungkan meski ris
Disaat Fang Zhe melangkah lebih dekat... "H-jangan mendekat! Penatua Han, lakukan sesuatu! Gunakan teknik rahasiamu!" teriak Wamal Yaris dengan suara melengking, harga dirinya sebagai tuan muda keluarga kaya runtuh seketika saat ia merangkak mundur hingga punggungnya membentur lemari kaca pajangan obat. Kraaaack! Penatua Han, dengan sisa kekuatannya, mencoba mengaktifkan jimat di tangan kirinya. "Seni Terlarang: Ledakan Qi Merah..." DUAAAKKK! Belum sempat jimat itu terbakar, kaki Fang Zhe sudah mendarat telak di rahang Penatua Han. Tubuh pria tua itu berputar di udara sebelum menghantam pilar toko hingga pingsan seketika. Kini, tidak ada lagi penghalang antara Fang Zhe dan Wamal Yaris. "Tadi kau bilang ingin berbisnis?" Fang Zhe berdiri tepat di depan Wamal, bayangannya yang tinggi menutupi tubuh pemuda itu yang gemetar hebat. "Mari kita bicarakan tentang 'investasi' rasa sakit." "T-tunggu! Tuan Muda Fang! Aku hanya bercanda! Aku akan memberimu uang! Berapa pun yang kau ma
Pagi di Paviliun Obat biasanya dimulai dengan aroma tenang dari rebusan herbal dan gesekan pelan lesung kayu. Namun, bagi Fang Zhe, pagi ini terasa seperti berjalan di atas seutas tali yang sangat tipis. Kalimat terakhir Erina tentang hukuman "tidur di halaman" masih terngiang di telinganya, member
Seluruh ruangan menjadi sunyi. Karena Tatapan dingin Erina tertuju tepat pada Fang Zhe.“Semalam ini, kau seharusnya beristirahat…” katanya perlahan.“Lalu kenapa kau malah keluar hingga pagi hari?”Nada suaranya tidak keras.Namun justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menekan.Dua pega
erIrma masih menatap Fang Zhe tanpa berkedip. Tatapannya tajam, seolah ingin menembus sampai ke dalam pikirannya. “Fang Zhe…” katanya pelan. “Ilmu medis seperti itu… kau benar-benar hanya ‘pernah belajar beberapa kali’?” Ia menyilangkan tangan di dada. “Dan kau belajar dari mana?” Ruanga
Gang sempit itu terasa kembali sunyi.Lampu jalan yang redup menerangi empat tubuh pria keluarga Zhao yang tergeletak tak bergerak di tanah.Fang Zhe berdiri dengan ekspresi tenang.Sementara di depannya, Dokter Irma masih mencoba menenangkan napasnya.Beberapa detik kemudian ia akhirnya berkata pe







