LOGIN(21+) "Kamu sudah tahu terlalu banyak, Za. Maaf, kamu nggak bisa pergi lagi dari sini." - Ramon. Ramon adalah cinta pertama bagi Aiza. Tapi di mata Ramon, Aiza hanyalah sahabat dari Delima, adiknya sendiri, dia tak lebih dari seorang adik kecil baginya. Kedatangan Aiza dan Delima ke Jakarta bermaksud untuk menjemput Ramon kembali ke kampung halaman. Namun sayang, Ramon bukan lagi Ramon yang mereka kenal. Dia telah jatuh ke dalam lumpur dosa, kehidupan malam yang membara penuh kabut misteri. Lantaran rasa penasaran yang tinggi, Aiza pun ikut tercebur ke dalam dunia gelap Ramon. Dan sialnya, tak ada jalan kembali. Lantas bagaimana nasib Aiza? Berhasilkah dia menyelamatkan diri dari jerat para mafia? Seru, haru, menegangkan, romantis, panas, dan penuh kejutan!
View MoreCup!
Kecupan itu berhasil menggemparkan seisi kafetaria. Pasalnya yang menjadi sasaran ciuman nyasar itu adalah Killian Elgara, seorang mahasiswa populer yang tidak banyak bicara, tapi sangat disegani oleh mahasiswa lainnya. Sedangkan sang tersangka utama, Aria Valencia, mengedipkan kedua matanya berulang kali. Wajah polos dan tatapan tanpa dosanya membuat mahasiswa lain menatap iba. “Mau sampai kapan lo di sana?” desis Killian. “Eh?” Aria masih mencoba mencerna keadaan. Beberapa saat lalu dia sedang berjalan dengan pelan, takut kalau ada yang tiba-tiba saja menjegal kaki atau mungkin menyiramnya dengan kuah bakso sisa atau es teh Mbak Anisa. Walaupun sudah mengantisipasi, tapi Aria yang cukup ceroboh ini didorong dari belakang oleh orang lain yang membuatnya menabrak tubuh seseorang hingga jatuh. Tak hanya menimpa tubuh orang itu, dia juga tidak sengaja mencium pipinya. Aria menelan ludah susah payah. Dilihatnya laki-laki yang memasang ekspresi masam dengan wajah merah padam menahan marah di bawah tubuhnya. “Mau sampai kapan lo di atas badan gue?” geram Killian yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa kekesalan di hatinya lagi. “E-eh? Maaf, maaf, Kak!” Aria tersentak, wajahnya berubah menjadi pucat, kemudian bangun dengan cepat. “Ahh, maafkan aku! Aku nggak sengaja!” “Gue nggak salah lihat, kan?” Samar, Aria bisa mendengar suara di sekelilingnya. “Tuh cewek barusan nyium Killian, kan?” Wajah Aria semakin pucat pasi mendengar nama itu disebutkan. Killian? Jangan bilang dia … Killian Elgara? Kakak tingkatnya yang sangat populer di fakultas ekonomi dan bisnis. Laki-laki pendiam yang tidak suka berdekatan dengan wanita, tapi ia sangat diidolakan oleh kaum hawa karena ketampanannya. Killian menatapnya tajam. Tidak ada suara, tapi tatap mata hitamnya sanggup membuat Aria merinding ketakutan. “M-maaf, Kak! Aku benar-benar nggak sengaja!” Killian hanya mendesis, tanpa meninggalkan kata apa pun, laki-laki itu memunggungi Aria dan melangkah pergi dari kafetaria. Byur! “Ahh!” Aria mengerjap sembari mengusap wajah yang baru saja disiram oleh air es. Dilihatnya orang yang baru saja menyiramnya …. Claudia Arabella dan dua pengikutnya—Fara dan Mona—sedang menatap Aria sinis. “Awas lo!” desis Claudia, lalu pergi dari sana setelah melempar gelas plastik di tangannya tepat ke wajah Aria. Fara menunjuk matanya dan mata Aria dengan jari telunjuknya secara bergantian. “Tunggu aja tanggal mainnya!” Mona memutar-mutar ponsel di tangannya dengan seringai sinis, isyarat dia menyimpan sesuatu yang bisa digunakan untuk bahan ancaman berikutnya. Fakta itu membuat Aria merenung sepanjang sisa mata kuliah hari itu. Bahkan, ketika dosen memintanya menjawab soal karena dia adalah mahasiswi beasiswa, dia hanya diam saja. Hidupnya selama di kampus sudah cukup berat. Dia selalu menghadapi bully—baik verbal maupun fisik dari mahasiswa lain. Aria tidak begitu tahu apa alasannya. Dia sudah berusaha tampil biasa, bahkan cenderung tak kasat mata agar tidak terlalu menarik perhatian yang ada, tapi masih ada saja masalah yang terus mendatanginya. Aria masih merenung hingga dia pulang dan melihat sosok pria paruh baya berjas rapi dengan rambut klimis sedang duduk di sebelah mamanya. "Aria, kamu sudah pulang, Sayang?" tanya Elvira, mamanya dengan senyum lembut yang sanggup membuat Aria tenang sejenak. Aria mengangguk kemudian menatap pria di samping mamanya. “Dia siapa, Ma?” Elvi menepuk sisi sofa sampingnya yang lain. “Sini, Sayang, duduk dulu!” Aria menurut dan duduk di sebelah mamanya. “Kenalkan Sayang, dia Om Adikara, dia akan menjadi papa kamu mulai hari ini.” Aria mengerjap. “M-maksudnya?” “Mama menikah lagi, Sayang.” “T-tapi, kenapa, Ma? Bukannya Mama pernah bilang, kalau mama tidak akan menikah lagi sampai Aria lulus kuliah?” Elvi tersenyum sendu. “Maafkan Mama, Sayang, tapi Mama rasa, Mama tidak bisa hidup sendiri ….” Omong kosong! Jika memang mamanya tidak bisa hidup sendiri, dia tidak akan menunggu sampai lima tahun untuk menikah lagi! Aria ingin bertanya, tapi dia memilih untuk menelan kembali pertanyaannya. Aria bisa menebak, kenapa Elvi memutuskan untuk mengingkari janjinya pada Aria. Mungkin karena cinta Om Adikara yang sangat besar untuknya atau karena Elvi sudah tidak sanggup membayar hutang piutang yang telah ditinggalkan oleh almarhum papanya. “Aria!” Adikara mengulurkan tangan. “Salam kenal, ya! Om sudah banyak mendengar tentang kamu selama ini. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang hangat dan harmonis!” Aria menyambut uluran tangan itu dengan ragu dan langsung melepaskannya dengan cepat. Raut wajahnya terlihat takut, tapi Adikara sama sekali tidak tersinggung. Elvi sudah mengatakan alasannya. “Sekarang kamu berkemas, ya! Kita akan langsung pindah, karena mulai sekarang, kita akan tinggal bersama di rumah Om!” Aria mengerjap pelan. Tiba-tiba sekali. Apa ini tidak ada masa orientasi dulu? Dia langsung pindah rumah, gitu? Aria menatap mamanya. “Biar Mama bantu.” Elvi berdiri, kemudian pergi ke kamar Aria yang mengikuti langkahnya dari belakang. “Ma ….” Aria memilin ujung bajunya dan terlihat ragu sejenak. “Apa Mama yakin menikah dengan Om Adikara?” Aria tahu, mamanya masih menyimpan trauma atas semua kejahatan papa pada mereka dulu. Itu mengapa dia memilih menjanda setelah suaminya meninggal dunia. “Keputusan Mama sudah bulat, Sayang.” Elvi tersenyum, tapi kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Aria bisa melihat gelagat anehnya dan dia pun dapat menerka alasan sebenarnya di balik keputusan mamanya. “Apa Om Adikara orang yang baik?” “Dia sangat baik, Sayang. Dia sangat-sangat baik. Dia juga punya empat anak laki-laki. Mereka akan menjadi saudara yang menyayangimu dengan sepenuh hati!” “Benarkah itu, Ma?” “Tentu saja, Sayang!” Elvi menjawab dengan nada positif. “Apa kamu keberatan dengan Om Adikara?” Aria menggeleng. “Tidak.” Selama mamanya bahagia, dia tidak akan menuntut apa pun lagi darinya. Setelah berkemas, mereka pun pindah ke kediaman keluarga Putra di hari itu juga. Sebuah kediaman besar dengan bangunan mewah dan halaman luas yang berhasil membuat Aria terpana begitu tiba di sana. “Ma, apa kita benar-benar akan tinggal di rumah sebesar ini? Rumah ini bahkan jauh lebih besar dan lebih luas dari rumah lama kita dulu, Ma.” Sejenak Elvi merasa wajahnya memanas mendengar ucapan putrinya. Sedangkan Adikara tertawa. “Tentu saja Aria! Mulai hari ini, kamu akan tinggal di sini dan rumah ini akan menjadi rumahmu juga.” “Beneran, Om?” “Tentu saja!” Adikara mengangguk. “Bukan hanya itu saja, kamu akan punya empat kakak laki-laki yang tampan dan sangat bisa diandalkan.” Adikara membelai puncak kepala Aria dengan lembut. “Mereka akan melindungimu dan membuatmu melupakan trauma masa lalumu.” Aria tersentak sejenak. Dia tidak menyangka Elvi sampai mengatakan tentang ketakutannya pada Adikara. Jika Elvi sampai memberi tahu masalah sensitif itu pada papa barunya, pasti hubungan mereka berdua sudah sangat dekat sebelumnya. “Terima kasih, Om!” “Tidak perlu berterima kasih untuk keluarga, Sayang! Ayo, Om akan membawamu mengelilingi rumah ini—” Elvi berdeham. “Mas, bukankah kamu sebelumnya berjanji mau menemaniku belanja kebutuhan Aria selama tinggal di sini?” “Oh, iya!” Adikara terkekeh pelan. “Maaf Elvi, aku terlalu senang karena akhirnya bisa memiliki anak perempuan juga setelah sekian lama.” Adikara menatap Aria. “Maaf ya Aria, kamu berkeliling dengan pelayan rumah ini saja.” Aria mengangguk. “Baik, Om! Aku tidak keberatan.” Adikara memanggil pelayan dan mengutusnya untuk mengantar Aria ke salah satu kamar yang ada di lantai dua. Sedangkan Adikara pergi bersama Elvi untuk belanja barang-barang keperluan putri barunya. Aria memasuki kamar barunya dengan tatapan penuh kekaguman. Walau kata pelayan, kamar ini hanya kamar biasa yang jarang digunakan, tapi kamar ini sangat luas. Kasurnya juga empuk saat Aria menjatuhkan tubuh di atasnya. Lampu yang menggantung pun terlihat indah dan mewah. Warna dindingnya yang putih menambah kesan elegan juga. “Kamar mandinya gimana, ya?” Aria yang penasaran pun berdiri. Dia berjalan menuju arah pintu kamar mandi saat pintu kamar mandi tiba-tiba saja terbuka dan sosok pria matang dengan rambut basah juga handuk yang menutup perut sampai paha muncul di sana. Aria mengerjap. Pria itu pun melakukan hal serupa. Mereka sama-sama terdiam hingga handuk yang dipakai pria itu melorot …. “KYAAA!”Seminggu berada di Jakarta setelah menghirup udara bebas, Ramon dan keluarganya akan kembali ke Solo, tempat kediaman permanen mereka. Sebelum pulang, tentunya dia berpamitan lebih dulu dengan Leo dan Bio yang masih terus melanjutkan pekerjaan mereka."Jadi kamu yakin, betul-betul berhenti selamanya, Mon?" Leo bertanya hal yang sama entah untuk keberapa kali."Iya ... sekali nanya lagi, aku kasih kamu payung." Ramon masih berusaha untuk berkelakar walau ada kekosongan yang mengaga di hatinya, bukan mudah lepas dari bisnis yang sudah membesarkan nama dan memberinya begitu banyak kesejahteraan serta perbaikan kualitas hidup."Jadi, udah yakin nanti di sana kamu akan berbisnis apa?""Kenapa? Kamu mau modalin?" Ramon bertanya balik dengan iseng."Heh, aku tanya karena aku peduli!""Iya. Santai!" Ramon menepuk pundak Leo. "Kamu tenang aja, kamu tau aku, aku sekeras batu, hm? Ha ha! Aku pergi dulu ya! Jaga diri kamu, jaga tuh si Bio! Sesama jomblo
Lima tahun kemudian ...Hari yang telah lama dinanti Aiza telah tiba. Hari yang tiap saat dia sebut dalam doanya, dalam harapnya. Kini sudah di depan matanya bahwa saat indah itu telah datang pada akhirnya. Suaminya, Ramon akan bebas. Setelah lima belas tahun mendekam di balik sel jeruji besi, akhirnya mereka bisa kembali bersama ke rumah.Bu Marni, Bu Raras, serta Delima dan Cempaka bahkan jauh-jauh datang dari Solo untuk menjemput Ramon. Mereka siapkan makanan kesukaan Ramon, berikut kue-kue favoritnya.Sayangnya Leo dan Bio tak bisa hadir karena takut nantinya malah menimbulkan salah paham. Tersisa satu masalah, Aini.***"Belum ganti baju juga, Ni? Kita kan mau jemput Papa hari ini. Kan Mama udah bilang dari tadi malam, hari ini papa kamu balik." Aiza mengomel sambil merapikan kamar Aini yang sedikit berantakan.Gadis remaja yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Atas itu tampak cuek bermain ponsel pintar di atas tempat tidurnya yang
"Aku minta maaf atas perkataan aku waktu lalu, tapi bukan berarti aku minta kamu untuk pindah lagi ke Jakarta, Za," ucap Ramon ketika Aiza datang menjenguk di pertemuan selanjutnya."Kalau nggak ada kata-kata manis yang bisa Mas ucap, jangan bicara. Mas tau sakit rasanya kalau usaha nggak dihargai," tegas Aiza."Maaf, Za ..."Dan sejak itu, Ramon tak pernah lagi bertanya kenapa Aiza masih begitu setia kepadanya, menunggu dia sampai betul-betul kembali. Tak perlu bertanya, cukup menerima saja.***Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Delima resmi dipinang oleh kekasihnya ketika Aini menginjak usia enam tahun, dan Ramon belum juga selesai menjalani hukuman. Setahun berselang, Hasan juga menikah dengan seorang teman kampusnya, dan dia masih menjalankan TK yang telah ditinggal Aiza.Pernah sekali Ramon terpaksa harus diopname karena mukanya babak belur, dihajar habis-habisan oleh senior di penjara. Aiza menangi
"Kenapa muka kamu murung, Za?" tanya Ramon ketika dia datang menjenguk beberapa minggu kemudian.Aiza tergagap, tak tahu harus bagaimana menanggapi. Dia bahkan tak menyangka bahwa wajahnya terlihat jelas menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya."Hah? Aku? Ah, nggak kok, Mas. Nggak kenapa-napa, kok." Aiza menutupi keresahannya sendiri."Aku dengar ada guru baru di TK yang kamu kelola. Siapa namanya? Hasan?"Jantung Aiza langsung berdegup kencang, ternyata kabar ini sudah sampai ke telinga Ramon. "Buat apa Mas bahas dia? Kenapa Mas jadi penasaran?""Aku dengar dia dekat sama kamu.""Terus?" Aiza terdengar tak senang. "Mas, waktu jenguknya sebentar, tolong jangan bahas orang lain.""Jangan marah, Za. Mas kan cuma penasaran aja, siapa dia? Dan kenapa kalian jadi dekat. Nggak masalah juga kalau kamu nyaman berada di dekat dia.""Maksud Mas ngomong begini apa sih?""Za, coba kamu pikir-pikir lagi. Apa n
Bio tak main-main dengan niatnya. Dia bertekad untuk menyulap Aiza menjadi sosok yang baru, sosok yang kira-kira paling cocok untuk mendampingi Ramon.Rambut Aiza yang semula lurus saja, datar dan biasa, dia buat agak ikal seperti ombak, bahkan dia warnai dengan cat rambut warna coklat tan
Saat Aiza diantarkan sampai ke mansion, yang pertama dia temui adalah Ramon, rupanya Ramon sejak tadi sudah menunggu kedatangan Aiza. Tanpa ada terucap sepatah kata, Aiza langsung menghambur memeluk Ramon. Dan Ramon sendiri tanpa rasa canggung memeluk erat Aiza, luruh sudah kecemasan yang sejak t
Tanpa ada rasa curiga, Aiza ikut bersama Sarah ke sebuah mal. Awalnya baik-baik saja, Sarah membawa Aiza masuk ke satu butik ke butik lainnya. Dia belikan Aiza beberapa potong pakaian dengan menggesek kartu kredit yang dipinjamkan Ramon. Sepatu, sandal, baju tidur, semua dilengkapi tanpa ada yang
Sarah yang dalam kondisi setengah mabuk baru saja keluar dari toilet saat sebuah tangan menariknya dan membekap mulutnya, dia terhuyung, tak bisa melawan. Tak lama, tubuhnya didorong sampai terhempas ke atas tempat tidur yang dia sendiri tak tahu di mana. Kepalanya pening, pandangannya kabur.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore