Mag-log inLangkah Nora tak bisa tenang. Karpet tebal yang melapisi lantai ruang tamu apartemen menjadi saksi betapa langkah kakinya berulang kali bolak-balik tanpa arah yang jelas. Kepalanya seakan berputar hebat, dipenuhi oleh puluhan skenario terburuk yang mungkin saja sedang menimpa Adeline saat ini. Rasa cemas dan panik merayap cepat, membentang luas di dalam dirinya hingga rasanya tak sanggup lagi dia kendalikan.Jari-jarinya gemetar ketika memikirkan opsi untuk menghubungi kepolisian. Keinginan untuk melapor polisi bahwa Adeline menghilang begitu bergejolak di dadanya, tetapi kenyataan menahannya erat-erat. Adeline bukan lagi seorang gadis kecil, dan yang paling krusial, Adeline adalah seorang figur publik—seorang artis populer yang setiap jengkal kehidupannya dipantau media. Salah mengambil langkah sedikit saja, berita spekulatif bisa meledak di internet dan menghancurkan karier yang dibangun mati-matian. Hal itu memaksa Nora untuk memutar otak dan berpikir matang-matang sebelum melakuka
Logika Adeline seolah lumpuh total, berbenturan keras dengan kenyataan gila yang tersaji di depan matanya saat ini. Ia benar-benar tak pernah menyangka bahwa dalang di balik penculikannya malam ini adalah pria di hadapannya—Asher Lennox, mantan suaminya sendiri. Tidak pernah terbesit sedikit pun di benaknya bahwa pria dengan segala reputasi dan kekuasaan itu akan sudi bertindak sebodoh ini, jauh di luar batas akal sehat manusia pada umumnya. Sungguh, menyadari hal itu membuat emosi di dalam diri Adeline kini bagaikan bara api yang mengumpul di dasar dada, memanas, dan siap meledak menghanguskan apa saja.“Maaf, aku harus melakukan ini, agar kau mau bicara denganku,” ucap Asher dengan nada sedingin es.Pria itu bergerak lambat, tapi penuh dominasi. Tangannya dengan santai mengambil botol wine mahal yang ada di atas meja, lalu menuangkan cairan merah pekat itu ke dalam dua gelas kristal kosong di sana. Bunyi gemericik anggur yang menabrak dasar gelas mengalun memecah keheningan yang men
Pelupuk mata Adeline bergerak-gerak gelisah di kala kesadarannya perlahan mulai pulih dari kegelapan yang pekat. Sensasi berat di kepalanya membuat setiap gerakan terasa lambat dan menyiksa. Perlahan, begitu manik matanya mulai terbuka, silau cahaya lampu penerangan yang berada tepat di atasnya menjadi objek utama. Kilatan terang itu memaksa pupil matanya berkontraksi, membuatnya langsung menyipit tajam demi menghalau rasa silau yang menyengat indra penglihatannya.Mengerti bahwa memandang lurus ke atas hanya memicu rasa pening, Adeline mengalihkan pandangan ke arah lain demi menghindari pijar lampu tersebut. Dia mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan teliti. Seketika, keningnya mengerut dalam saat mendapati pemandangan yang tak familier. Dinding, furnitur, hingga nuansa interior di sekelilingnya menegaskan bahwa dia kini berada di sebuah kamar asing—sebuah tempat yang sama sekali belum pernah dia pijaki sebelumnya.Adeline terdiam membisu di atas ranjang, mencoba
“Raphael, apa kau lihat Adeline?” tanya Nora seraya menatap Raphael, dia sudah mencari Adeline ke setiap sudut lokasi syuting, tapi dia tak berhasil menemukan keberadaan Adeline.Raphael menghentikan langkahnya di kala berpapasan dengan Nora, dia menatap ke arah manajer Adeline itu. “Tadi Adeline bilang ingin mencari udara sebentar. Apa kau tidak lihat? Aku rasa dia ada di dekat sini.”Nora terdiam sebentar, tampak bingung. “Adeline keluar mencari udara segar?” tanyanya lagi memastikan.Raphael mengangguk santai, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Aku lihat hari ini konsentrasi Adeline kurang optimal. Tadi Adam bahkan memutuskan meminta syuting dihentikan dan dilanjutkan besok. Hmm, dia keluar mungkin ingin menenangkan pikirannya. Nora, semua baik-baik saja, kan?” tanyanya dengan nada yang tersirat rasa khawatir.Nora tak langsung menjawab. Tenggorokannya terasa kaku. Memang benar, seharian ini fokus Adeline hancur berantakan; beberapa adegan emosional bahkan harus
“Good morning, Mommy.” Leo dan Aurelie menyapa lembut ibu mereka yang sudah lebih dulu ada di ruang makan. Si kembar itu menyusul, duduk di kursi meja makan bersama dengan Marie.“Good morning, Sayang.” Adeline menatap hangat kedua anaknya itu, penuh dengan kasih sayang. Meski pikirannya masih tetap tak tenang akibar mimpi buruk tadi malam, tapi dia tetap berusaha bersikap semua baik-baik saja di hadapan kedua anaknya itu.Leo dan Aurelie kini menatap Nora. “Bonjour, Bibi Nora,” sapa si kembar mengucapkan selamat pagi dalam bahasa prancis.Nora, yang sejak tadi mengamati Adeline dengan cemas, mengalihkan pandangannya dan mengukir senyum hangat untuk kedua bocah itu. “Bonjour, mes chéries. Bagaimana tidur kalian? Nyenyak?” tanyanya halus, memajukan tubuhnya sedikit di atas meja.Aurelie mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk kecilnya, tampak berpikir keras sebelum menjawab. “Nyenyak, Bibi. Tapi ... tadi malam aku sempat terbangun, dan sepertinya aku seperti mendengar suara teriak
Malam membentang. Keheningan menyelimuti kamar apartemen Adeline. Kamar yang bisa dikatakan sederhana, tapi juga tak terlalu kecil. Cukup memberikan kenyamanan dan suasana yang hangat. Dia kini tertidur pulas, setelah kembali dari restoran bersama dengan Nora, dia langsung tidur, agar besok bangun dalam keadaan wajah yang cerah.Namun, sayang, harapan Adeline bisa tidur pulas malah pupus. Tampak Di atas ranjang ukuran king-size yang dibalut seprai sutra itu, kedamaian tergantikan oleh siksaan. Napas Adeline terdengar pendek, meranggas, dan patah-patah. Gelombang mimpi buruk sedang menggeledah alam bawah sadarnya tanpa ampun, menariknya jatuh ke dalam jurang teror yang pekat. Dahi wanita itu berkerut dalam, menahan nyeri tak kasatmata, dihiasi bulir-bulir keringat dingin yang mengilat pucat saat tertimpa bias cahaya bulan dari celah tirai. Kelopak matanya bergerak-gerak gelisah, mengurung ilusi mengerikan yang memilin dadanya hingga terasa begitu sesak, seolah ada tangan tak terlihat y
Tangan Adeline bergetar di kala memegang surat cerai yang baru saja dia terima dari pengacara suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca tak sanggup menahan air mata. Pasokan oksigen seakan mulai menipis akibat sesak yang ditimbulkan oleh rasa terkejut ini.Wanita itu tahu bahwa dia akan segera dikirim s
“Bisa kau jelaskan apa ini?”Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap m
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,







