Mag-log in“Lepas,” bisik Adeline tegas, menyalurkan peringatan yang penuh ketegangan. Napasnya mulai memburu menahan amarah, tetapi sebisa mungkin dia menjaga kestabilan suaranya agar tidak memancing perhatian kerumunan kru di sekitarnya.Asher justru semakin memperketat cengkeramannya di lengan Adeline, seolah berniat menahannya di sana selamanya. “Aku tidak akan melepasmu,” desisnya tegas, sama sekali tidak bermain-main dengan ucapannya.Nora berdeham keras, merasa bahwa situasi sudah semakin tidak terkendali dan dia harus segera bertindak. “Tuan Lennox, mohon untuk melepaskan tangan Anda dari Adeline. Hari ini Adeline memiliki jadwal pengambilan gambar yang sangat padat. Saya harap Anda bisa bersikap profesional dan mengerti situasi ini.”Asher mendengar teguran dari Nora, tetapi pria itu hanya memberikan lirikan mata yang dingin dan tajam tanpa berniat merespons sepatah kata pun. Dia kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada Adeline, mengabaikan keberadaan Nora di samping mereka.“Tuan
Kembali lagi syuting adalah hal yang tak Adeline sangka akan terjadi dalam waktu dekat. Libur beberapa hari, lebih tepatnya harus istirahat sejenak karena kegilaan Asher, membuat Adeline setidaknya bisa berpikir jernih selama mengurung diri di apartemen. Meski hanya sebentar, tapi paling tidak pikirannya sudah jauh lebih baik. Apalagi sejak di mana kejadian di kedai es krim tempo hari.Hal yang Adeline inginkan adalah segera menyelesaikan proyek film ini, dan kembali ke Paris, hidup tenang serta damai tanpa ada Asher. Namun, entah apakah semua rencana dan harapannya akan berjalan mulus, atau malah dirinya terjebak di lingkaran api. Kejadian di kedai es krim jelas membuat detik demi detik Adeline dilingkupi rasa cemas. Sekalipun Nora sudah memberikan ide cemerlang agar dirinya mampu bertindak ke depan, tapi tetap saja rasa khawatir dan cemas masih menggulung di dalam diri—seakan sadar bahwa memang bahaya sebentar lagi akan tiba. “Adeline, kau jangan melamun seperti itu. Hari ini sy
Aroma tembakau kental yang berpadu dengan sengatan tajam alkohol menyeruak memenuhi udara, menciptakan atmosfer pekat yang mencekam. Tampak di sebuah sudut kafe sepi dan tersembunyi di Kawasan Manhattan, Talia duduk seorang diri. Nuansa ruangan yang senyap dengan pendar lampu temaram yang redup seolah menyembunyikan sosoknya dari dunia luar. Jemari lentiknya menjepit sebatang rokok yang menghembuskan asap tipis, sementara tangan lainnya menggenggam cangkir kecil berisi vodka murni. Kepala yang terasa amat penat dan pikiran yang sarat beban membuatnya membutuhkan asupan nikotin serta alkohol berkadar tinggi untuk meredam kekacauan di dadanya.“Hey, Talia,” Sebuah sapaan bernada manja memecah kesunyian. Seorang wanita berparas cantik dengan rambut merah menyala melangkah anggun menghampiri meja Talia. Wanita itu tampil berani dalam balutan dress yang sangat seksi dan minim. Potongan bagian atasnya begitu rendah hingga memperlihatkan lekuk payudaranya secara gamblang, sementara belahan b
“Adeline! Adeline, kau harus lihat ini.”Gema suara Nora memecah ketenangan dapur yang semula hanya diisi oleh gemericik air dan aroma kental kafein. Nora berlari tergesa-gesa menghampiri Adeline yang sedang berdiri di dekat kitchen island, memegang sendok kecil yang baru saja usai mengaduk gelas kopi susunya.Notifikasi pesan singkat yang masuk beberapa saat lalu memang sukses membuat Nora langsung melesat mencari keberadaan sahabatnya itu. Raut wajah Nora campur aduk; ada binar tak menyangka, tapi di saat yang sama dilingkupi keterkejutan hebat, seolah dia baru saja menerima kabar gempa bumi yang meretakkan pijakannya.Berbeda dengan Nora yang panik, Adeline merespons kedatangan sahabatnya itu dengan amat tenang. Jemarinya menggenggam cangkir hangat itu erat-erat sebelum perlahan menyesap kopi susunya. Cairan manis pahit itu membasahi kerongkongannya, sedikit membantu menenangkan sisa-sisa benang kusut di pikirannya yang sejak kemarin malam berantakan tak berujung.“Ada apa, Nora?”
Talia tidak tenang. Ucapan putrinya terus bergema di kepalanya, berulang-ulang seperti kaset rusak yang enggan berhenti. Lebih tepatnya, dia berusaha keras menepis segala asumsi liar yang mulai meracuni pikirannya, tetapi rasa tidak nyaman itu melilit dadanya begitu erat, membuatnya sesak.Apalagi mengingat kejadian kemarin. Setelah Alyssa sempat menghilang dan akhirnya diantar pulang oleh Asher, suaminya itu menunjukkan perubahan sikap yang teramat drastis. Tidak ada lagi kehangatan atau tatapan penuh perhatian. Asher secara jelas dan terang-terangan menjauhinya, menciptakan jarak transparan yang begitu dingin di antara mereka.Kini, Talia mondar-mandir tak jelas di luasnya ruang tengah mansion. Langkah kakinya yang terburu-buru berbunyi konstan di atas lantai marmer. Untungnya, Alyssa sudah tertidur pulas. Tadi, lebih dari dua jam dia terpaksa menemani putrinya menonton film kartun—sebuah durasi yang terasa seperti siksaan lambat karena sejujurnya Talia sudah tak sabar ingin segera
“Tuan, Nyonya Talia terus mencari Anda. Beliau mendesak saya, meminta untuk membujuk Anda segera menghubunginya. Nyonya Talia sangat mencemaskan Anda, Tuan.”Paul melapor sembari menatap tuannya yang duduk bersandar di sofa kulit tebal, jemarinya menggenggam gelas kristal berisi vodka yang tinggal tersisa separuh. Paul sampai menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal—sebuah gestur refleks karena kebingungan dan kecemasan yang membuncah. Sejak tadi malam, tuannya lebih banyak memilih bungkam, meneguk alkohol tanpa henti seolah sedang mencoba membunuh sesuatu di dalam kepalanya. Perilaku tak biasa itu jelas mengirimkan sinyal bahaya bagi Paul.“Cukup katakan aku sibuk. Tidak perlu lagi direspons,” jawab Asher dingin, suaranya sarat akan penolakan yang tak bertepi. Dia bahkan enggan menatap layar ponselnya yang mungkin sudah dipenuhi panggilan tak terjawab. “Lebih baik kau laporkan padaku, informasi apa yang sudah kau dapatkan?” tanyanya kemudian, nada suaranya berubah menajam, tersirat
“Bisa kau jelaskan apa ini?”Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap m
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad







