Se connecter“Ya, aku teman ibumu. Lebih tepatnya kami cukup dekat,” jawab Asher santai, seolah ucapan yang baru saja meluncur dari bibirnya bukanlah sebuah kesalahan besar yang bisa menghancurkan pertahanan wanita di depannya.Sebuah senyuman tipis bertengger di wajah tampannya—jenis senyuman penuh percaya diri yang memperlihatkan kepuasan tersirat karena berhasil memancing reaksi emosional Adeline. Asher menikmati setiap detik kepanikan samar yang berusaha ditutupi wanita itu.“Mommy tidak bilang kalau Paman adalah teman dekat Mommy,” sambung Leo sembari mengerutkan keningnya hingga membentuk lipatan tipis di dahi.Bocah laki-laki yang sedari tadi tak banyak bicara itu menatap Asher dengan raut wajah penasaran bercampur bingung. Dalam ingatan kecil Leo yang terstruktur rapi, ibunya tidak pernah sekali pun menyebut nama ayah Alyssa sebagai seseorang yang dekat atau berharga. Kecurigaan murni khas anak-anak mulai bertumbuh di benaknya.Adeline merasa terdesak ke sudut yang sangat berbahaya. Sial b
Adeline mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuh. Ujung-ujung kuku jarinya terasa menancap kuat ke telapak tangan, meninggalkan rasa perih yang menjadi satu-satunya penahan agar emosinya tidak meluap begitu saja. Ingin rasanya dia memaki pria di depannya saat ini—pria yang tanpa rasa salah muncul di momen paling krusial, di kala dirinya sedang menikmati waktu hangat bersama si kembar.Dada Adeline bergemuruh, sesak oleh gejolak amarah yang bertumpuk dengan rasa panik. Oh, tidak perlu dijabarkan betapa kacau dan menggebu perasaan yang tertahan di dalam dadanya saat ini. Namun, sekali lagi, kepingan memori pahit itu kembali berputar. Logikanya berbisik kejam bahwa dirinya dan anak-anaknya masih bisa bernapas lega hari ini salah satunya adalah karena campur tangan Asher Lennox.Hal yang paling Adeline benci dari hidupnya adalah permainan takdir. Di kala dirinya mati-matian berusaha melangkah jauh, mengikis setiap jejak masa lalu, semesta justru bolak-balik mendesaknya untuk kem
Uap tipis masih membumbung dari cangkir karton di genggamannya. Adeline baru saja hendak menyesap kopinya kembali ketika perasaannya mendadak tidak enak. Sensasi aneh—seolah ada sepasang mata berniat tajam yang sedang menguliti setiap gerak-geriknya—membuat bulu kuduk di tengkuknya berdiri tegak seketika.Namun, dia berusaha rasional dan segera menepis perasaan paranoid itu. Mungkin hanya perasaan melayang khas pagi hari, pikirnya. Dia tetap bertahan duduk tenang di atas bangku kayu, mencoba menikmati pemandangan di depannya, si kembar yang tampak begitu asyik dan tertawa lepas saat mengejar bola di atas rumput taman.Akan tetapi, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik. Seketika itu pula, Adeline merasakan ada aura berat yang bergerak mendekat ke arahnya. Udara di sekitarnya mendadak terasa berganti secara drastis. Matanya mulai beredar mengawasi sekitar, dan tepat pada detik itu, napas Adeline seolah-olah terhenti sepenuhnya.Ya, jantungnya terasa melompat ke tenggorokan, lalu b
Sinar matahari pagi di Central Park merebak lembut, menembus sela-sela pepohonan yang mulai merona keemasan. Angin musim gugur berembus tipis, membawa kesegaran dingin yang menyapu wajah. Tampak di atas hamparan rumput hijau yang terawat, gelak tawa riang memecah keheningan pagi.Aurelie dan Leo berlarian penuh semangat, mengejar sebuah bola plastik berwarna merah cerah. Tawa renyah si kembar menggema, murni tanpa beban. Marie berdiri tak jauh dari mereka, mengawasi setiap langkah kecil anak-anak itu dengan senyum hangat di wajahnya yang menyiratkan kedamaian.Sementara itu, Adeline duduk di salah satu bangku kayu di bawah rindangnya pohon oak besar. Dia mengenakan sweater rajut oversized berwarna krem dan celana jeans santai, rambut cokelatnya diikat asal-asalan tapi tetap memancarkan keindahan alami. Di tangannya, sebuah cangkir kopi karton memberikan rasa hangat yang menjalar ke jemarinya.Melihat kembar bergerak bebas tanpa bayang-bayang kamera atau gangguan media membuat dada Ade
“Wah, Mommy sudah pulang!”Pekikan nyaring Aurelie memecah keheningan ruang tengah. Mata kecil mungil itu berbinar seketika saat mendapati sosok ibunya berdiri di ambang pintu. Tanpa membuang waktu, kaki-kaki kecilnya melompat gembira, menyerbu Adeline dan memeluk pinggang sang ibu erat-erat. Tidak mau ketinggalan, Leo yang duduk di sebelahnya langsung mengabaikan sendok makannya dan berlari ikut membenamkan wajahnya di pelukan Adeline.Suasana hangat itu terasa begitu langka. Kedua bocah kembar itu berbinar bukan tanpa alasan, ibunya pulang jauh lebih awal dari biasanya. Di hari-hari biasa, saat Adeline pulang, si kembar sudah dipastikan sudah terlelap dalam mimpi indah. Namun kali ini, di saat mereka tengah menikmati suapan demi suapan dari Marie—pengasuh setia yang sabar menemani mereka—ternyata Adeline sudah pulang.“Hey, Sayang-sayang Mommy...” Adeline berlutut, membiarkan gaun kerjanya menyapu lantai. Ia mengusap lembut kepala kedua buah hatinya, lalu menyunggingkan senyum hanga
“Adeline, kau istirahatlah,” kata Nora seraya menginjak rem perlahan, menghentikan mobil persis di depan area drop-off lobi apartemen.Keputusan mengantar Adeline pulang diambil tanpa perdebatan. Jadwal syuting resmi diliburkan selama dua hari ke depan pasca-insiden mengerikan tadi pagu—sebuah kecelakaan berdarah yang nyaris saja mencabut nyawa Adeline jika sedikit saja takdir berpihak berbeda. Pembekuan kegiatan syuting ini bukan tanpa alasan, Cole dan Adam kini sedang bergerak dalam kepanikan penuh, melancarkan penyelidikan tertutup untuk mencari dalang di balik semua ini. Ketakutan mereka bukan sekadar bayangan, terlebih setelah Asher Lennox melempar peringatan keras tanpa kompromi yang mampu menghancurkan karier siapa pun dalam sekejap.Adeline menoleh, matanya yang masih menyisakan jejak kelelahan menatap wajah Nora. “Thanks, Nora. Kau ... tidak mau mampir sebentar?”Nora menggeleng halus, jemarinya mengetuk kemudi dengan gestur terburu-buru. “Tidak untuk hari ini. Aku masih ada
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok







