Se connecterAroma khas alkohol beralkualitas tinggi dan tembakau mahal berpadu, melebur menjadi satu di udara ruang kerja pribadi Asher yang terletak di lantai paling atas gedung perusahaannya. Di sana, pria itu berdiri kaku di balik dinding kaca yang luas. Ya, pria itu memutuskan kembali langsung ke perusahaan tepat setelah dia meninggalkan lokasi syuting yang riuh. Pagi tadi, niatnya datang ke sana sebenarnya sederhana, dia ingin memantau langsung proses produksi, apalagi setelah dia mendapatkan informasi bahwa proses pengambilan gambar untuk film tersebut sudah mendekati bagian ending. Ada dorongan aneh yang menuntun langkahnya ke sana, sebuah intuisi yang membawanya pada sebuah kenyataan pahit yang sama sekali tidak pernah dia duga akan terjadi di depan matanya sendiri.Sesampainya di lokasi, alih-alih disambut progres syuting yang lancar, dia justru mendapati sebuah insiden mengerikan yang membuat darahnya mendidih.Perasaan marah, kesal, dan panik yang sempat dia pendam kini bercampur aduk,
Suasana di sudut luar area panggung utama tampak temaram, tertutup bayangan truk-truk peralatan syuting yang menjulang tinggi. Tampak di sanalah Isolde melangkah tergesa tapi tetap dengan gestur anggunnya, menjauh dari pandangan semua orang. Lebih tepatnya dia benar-benar menghindar, agar tidak ada orang-orang yang melihat keberadaannya saat ini.Saat dia memastikan berada di tempat yang sepi dari jangkauan para kru, tangan lentiknya langsung merogoh saku mantel wolnya, menarik keluar sebuah ponsel. Jari-jari lentiknya bergerak terampil menyentuh layar, menghubungi sebuah nomor rahasia yang tidak tersimpan di kontak. Nomor itu dia simpan hanya untuk saat-saat darurat seperti ini.Sambungan itu terhubung setelah nada dering ketiga.“Halo? Wah, wah, tidak biasanya kau menghubungiku langsung. Apakah ada skandal baru yang ingin kau jual?” suara serak di ujung seberang menyapa dengan nada sinis tapi sarat akan ketertarikan. Itu adalah Benny Drawn, seorang jurnalis investigasi independen se
“Adeline, kau benar-benar tidak apa-apa, kan? Maksudku, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang juga. Mungkin saja ada luka dalam atau cedera tersembunyi yang belum terasa karena kau masih shock. Aku khawatir setengah mati padamu. Kalau sampai hal buruk terjadi padamu, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri,” ucap Nora dengan napas tersengal.Nora menatap Adeline dengan tatapan penuh gelisah, berkali-kali dia memeriksa kondisi fisik atasannya dari ujung kepala hingga kaki. Meski secara kasat mata Adeline terlihat baik-baik saja dan tidak ada darah yang mengalir, rasa cemas di dada Nora tidak serta-merta mereda. Insiden maut yang terjadi di lokasi syuting hari benar-benar di luar nalar, sebuah kecelakaan yang tak pernah disangka-sangka bisa merenggut nyawa dalam hitungan detik.Adeline tersenyum tipis, berusaha menenangkan wanita yang setia mendampinginya itu. “Aku baik-baik saja, Nora. Tarik napasmu dalam-dalam. Anggap saja apa yang terjadi hari ini adalah musibah kecelak
Lokasi syuting mendadak seperti diselimuti ketegangan. Adeline telah dibawa ke ruang istirahat ditemani oleh Nora yang tentu saja tak mungkin jauh darinya, lalu Asher turut menemani, sedangkan Raphael bergeming di tempatnya dilanda dengan perasaan yang campur aduk.Adam di sana jelas tampak sangat marah. Apalagi Cole secara terang-terangan terus menyalahkan Adam atas apa yang telah terjadi. Sementara si sopir yang menjadi pengendara mobil telah diamankan. Kepolisian masih belum turut disertakan, karena khawatir akan membuat situasi masih panas. Lebih tepatnya masih dalam pemeriksaan internal, sebelum benar-benar polisi turut disertakan.“Adam, kau benar-benar ceroboh! Bagaimana bisa kau memilih pemeran yang menjadi sopir tapi malah tidak becus?! Dan bagaimana bisa adanya sabotase? Kau tahu kalau sampai hal buruk terjadi pada Adeline, film ini akan berantakan! Adeline adalah pemeran utama, Adam! Kau ingin karier-mu hancur, hah?!” bentak Cole tak main-main.Sejak tadi, Cole sudah menahan
Jauh dari hiruk-pikuk kekacauan di pusat lokasi syuting—terhalang oleh rimbunnya deretan pohon pinus dan pagar pembatas yang mengitari area luar studio—sebuah sedan mewah berwarna hitam legam terparkir tanpa mencolok di balik bayang-bayang. Kaca jendela mobil yang dilapisi film super gelap membuat bagian dalamnya benar-benar tak tembus pandang dari luar.Tampak di dalam kabin yang sejuk berkat pendingin ruangan, suasana justru terasa panas membakar. Seorang wanita bergaun elegan duduk di kursi belakang dengan napas memburu dan dada naik-turun menahan amarah yang meluap-luap. Jari-jarinya yang mengenakan manikur mewah mencengkeram erat ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Sepasang mata yang tajam menatap lurus ke arah layar iPad di pangkuannya—memantau siaran langsung atau informasi samar dari kejauhan.Rencananya sempurna. Eksekusinya sudah dirancang sedemikian rupa. Rem mobil itu seharusnya menjadi jalan pintas untuk melenyapkan Adeline selamanya, membuat wanita itu hancur di
Posisi Adeline dan Asher cukup intim. Mereka malah saling menatap satu sama lain, seolah tidak ada siapa pun di sana, tetapi yang pertama kali menyadari dan memutus tatapan adalah Adeline. Wanita itu dengan sisa tenaganya mendorong dada bidang Asher—walau tak bisa membuat pria itu berpindah, tapi bisa membuat pria itu sadar. Asher yang menyadari bahwa posisinya dan Adeline sangat intim, dia segera bangkit berdiri, dan membantu Adeline untuk berdiri juga, tapi sayang kaki Adeline masih lemas, sehingga tak bisa berdiri tegak. Detik itu dengan sigap, Asher merengkuh pinggang Adeline, membantu wanita itu tetap berdiri tegak, dan kali ini Adeline tak bisa berkutik atau membantah akibat lengkingan suara Adam mengamuk jauh lebih keras dan menggema di area outdoor tersebut.Ya, apa yang terjadi cukup menegangkan dan membuat jantung semua orang berhenti berdetak. Semua begitu cepat, dan hal yang pasti terlambat sedikit saja, nyawa akan melayang. Tampak di tengah kerumunan kru yang masih terp
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du







