Home / Romansa / Saat Aku Melepasmu / Bab 50. Adeline Lebih Utama

Share

Bab 50. Adeline Lebih Utama

last update publish date: 2025-11-15 23:59:08
“Adeline!” teriak Asher seraya turun dari mobil, dan berlari menghampiri mobil Adeline yang menabrak pohon besar. Tampak jelas raut wajah pria itu menunjukkan kecemasan dan kepanikan.

Saat tiba di samping mobil, Asher langsung membuka keras pintu mobil—di mana Nora duduk. Namun, sialnya pintu terkunci. Nora dari dalam mobil menggedor kaca, dan menggeleng panik—menandakan pintu mobil tidak bisa terbuka.

Melihat isyarat dari Nora, membuat Asher langsung bertindak. Pria tampan itu langsung melayang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
helleh modus banget si Asher kenapa Nora gak sekalian di ajak ke RS kali sja dia juga terluka..
goodnovel comment avatar
virna putri
Rasa itu msh ada
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 176. Jangan Mengharapkan Wanita Bersih, Kau Saja Kotor!

    Brakkk!Suara hantaman keras itu menggema di lorong kesunyian apartemen. Adeline dihempaskan kasar ke permukaan sofa empuk yang berada di ruang tengah apartemen Asher. Keheningan langsung menyambut mereka—tidak ada suara lain, tidak ada siapa pun di sana. Begitu Adeline berhasil melewati ambang pintu, kenyataan pahit langsung menghantam; hanya ada dirinya dan mantan suami sialan yang dengan lancang kembali menculiknya secara paksa.Detik itu juga, napas Adeline memburu hebat. Dadanya naik-turun menahan sisa-sisa keterkejutan. Sorot matanya terhunus tajam, penuh kebencian membara pada sosok Asher yang kini berdiri tegak di hadapannya. Pria itu tampak tenang di permukaan, tetapi auranya bagai predator yang siap menerkam mangsa tanpa rasa bersalah sedikit pun.“Asher! Kau sudah tidak waras! Apa maumu, hah?!” bentak Adeline dengan suara bergetar karena amarah yang meluap, sementara napasnya kian memburu. Perlahan, dia mulai bangkit berdiri, menahan rasa nyeri akibat hantaman paksa di sofa

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 175. Dibuat Mati Kutu

    “Asher! Apa yang kau lakukan?! Kau sudah tidak waras, hah?!” bentak Adeline dengan napas memburu, dan menatap tajam Asher yang mengemudi mobil seperti orang tak memiliki akal sehat. Bayangkan saja, dia sampai harus mencengkeram sabuk pengaman, akibat mantan suaminya itu melaju dengan kecepatan penuh tanpa memikirkan keselamatan.Asher sama sekali tidak menggubris bentakan itu. Pria di balik kemudi tersebut justru semakin menancap gas, seolah sengaja menantang maut. Namun, Adeline tahu betul—meskipun Asher sedang dikuasai amarah, pria itu bukan pengemudi bodoh. Dia sangat menguasai kendali, yang justru membuat Adeline makin frustrasi karena merasa dipermainkan dalam situasi berbahaya ini.Mata Adeline menyalang tajam, dadanya naik-turun menahan gejolak emosi. Seandainya saja bisa, detik ini juga ia akan melompat keluar dari mobil. Namun akal sehatnya menahan, dalam kecepatan setinggi ini, tindakan nekat itu justru menjadi tiket langsung menuju maut. Bukan karena dia tidak takut mati, m

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 174. Apa Kau Sudah Tidak Waras?!

    “Nora, aku ingin mencari udara sebentar. Syuting dilanjut sekitar dua jam lagi, kan? Aku masih ada waktu bersantai. Aku ingin jalan-jalan keluar,” kata Adeline sembari melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih ada waktu luang, dan dia memutuskan ingin keluar mencari udara segar. Siapa tahu, berjalan-jalan sebentar di luar bisa menjernihkan kepalanya dan memberikan ide cemerlang.“Adeline, tapi aku tidak bisa menemanimu sekarang. Sebentar lagi aku ada telepon penting. Ada beberapa perusahaan yang ingin bekerja sama denganmu, dan aku harus segera bernegosiasi. Kau tahu sendiri, kan? Tidak mungkin aku melepas kesempatan emas ini begitu saja,” ucap Nora sambil menatap layar ponselnya, sangat sadar bahwa sebagai seorang manajer, prioritas utamanya saat ini harus mengurus tawaran kerja sama pada Adeline.Adeline tersenyum maklum. “Kau kerjakan saja pekerjaanmu, Nora. Aku hanya jalan-jalan sebentar. Mungkin nanti aku akan mampir ke minimarket seberang untuk membeli es kri

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 173. Tidak Bisa Menerima Kenyataan

    Kilat mata Asher menyalang tajam melihat selembar hasil tes DNA yang ada di tangannya. Sorot matanya tampak begitu menusuk, seolah mampu merobek kertas tipis itu menjadi berkeping-keping. Jemarinya mencengkeram kuat, meremas lembaran tersebut hingga berkerut tak beraturan—sebuah gestur putus asa yang menunjukkan ketidakterimaan mutlak atas kebenaran pahit di depan matanya. Aura wajahnya menggelap, memancarkan kemarahan tertahan yang siap meledak kapan saja.“Mereka bukan anakku.” Suara itu lolos sebagai desisan dingin yang menggetarkan udara ruangan. Asher mengembuskan napas kasar, dadanya naik turun tak beraturan. Di balik tatapan dinginya, otak pria itu bekerja keras, berputar liar menyusun kepingan teka-teki tentang siapa ayah kandung dari anak-anak Adeline.Paul menelan ludah dengan susah payah. Dia berdiri kaku di sudut ruangan, mencoba menimbang setiap kata agar tidak memicu ledakan bom waktu di hadapannya.“Tuan, maaf, tapi menurutku itu adalah hal yang normal,” ucap Paul sanga

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 172. Hasil Test DNA Mengubah Segalanya

    “Adeline, kenpa kau hanya diam? Makanan yangku beli lama-lama berubah lagi menjadi bahan mentah kalau kau tidak kunjung menyentuh.” Nora meluapkan kekesalannya dengan nada bicara yang menggebu-gebu. Manajer berambut sebahu itu sudah berinisiatif baik membelikan pasta dan steak favorit demi kesehatan Adeline, tetapi yang disasar malah tampak enggan menyentuh makanannya barang sesuap pun.Mendengar gerutuan itu, Adeline menghela napas pasrah. Sebenarnya, rongga perutnya sama sekali tidak mengirimkan sinyal lapar, pikirannya sudah terlanjur kalut oleh insiden kedatangan Talia barusan. Namun, demi menghargai usaha Nora dan mencegah sahabatnya itu mengomeli dirinya lebih lama, Adeline akhirnya meraih garpu. Dia memotong kecil steak di piringnya lalu mengunyahnya perlahan, meskipun setiap butir makanan itu terasa hambar di lidahnya.Melihat Adeline akhirnya mau makan, Nora menghempaskan tubuhnya ke sofa, duduk tepat di samping Adeline. Nada suaranya melunak, menyuratkan ketulusan yang menda

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 171. Kecurigaan Tentang Dendam Besar

    “Nyonya Lennox?” Isolde mengerjap beberapa kali, menyembunyikan rasa terkejutnya saat mendapati Talia berdiri tepat di jalur masuk area lokasi syuting. Dia yang baru saja kembali dari luar, sedikit tidak menyangka akan berpapasan dengan istri sah Asher Lennox. Apalagi, tidak ada angin tidak ada hujan, Talia tiba-tiba muncul dengan aura permusuhan yang pekat dan raut wajah yang dipenuhi kemarahan luar biasa.Alih-alih membalas sapaan sopan itu, Talia justru menatap Isolde dengan pandangan menusuk, napasnya memburu naik-turun karena emosi yang masih sisa dari konfrontasinya dengan Adeline sebelumnya.“Kau terlalu lama bergerak,” desis Talia tajam, langsung melayangkan tuntutan tanpa basa-basi sedikit pun.Mendengar nada bicara dan kalimat yang terlontar dari bibir Talia, Isolde langsung menangkap sinyal bahaya. Tanpa membuang waktu dan mengindahkan keheranan orang-orang di sekitar gerbang, tangan Isolde bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan Talia, lalu menariknya menjauh dari a

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 7. Sentuhan Liar yang Tak Seharusnya Terjadi

    Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 3. Semesta Mengizinkan Pertemuan

    Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 2. Resmi Berpisah

    Tangan Adeline bergetar di kala memegang surat cerai yang baru saja dia terima dari pengacara suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca tak sanggup menahan air mata. Pasokan oksigen seakan mulai menipis akibat sesak yang ditimbulkan oleh rasa terkejut ini.Wanita itu tahu bahwa dia akan segera dikirim s

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 1. Awal dari Sebuah Perpisahan

    “Bisa kau jelaskan apa ini?”Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status