MasukSuasana kelab malam yang tadinya terasa bising dan penuh gairah mendadak berubah drastis menjadi mencekam bagi Talia. Darahnya serasa berdesir hebat, dan napasnya tercekat di tenggorokan begitu dia mengenali sosok pria yang berdiri tepat di hadapannya. Kilau lampu disko yang remang-remang menyoroti wajah pria itu, memperlihatkan senyum penuh rahasia yang selalu berhasil membuat Talia merasa terintimidasi.Pria itu adalah bayangan yang paling ingin dia kubur dalam-dalam.Refleks pertahanan diri Talia langsung bangkit. Alih-alih menyapa atau membalas senyuman itu, tubuhnya berbalik dengan gerakan secepat kilat. Tanpa membuang waktu sedetik pun, dia menerobos kerumunan orang yang sedang berdansa, berusaha melarikan diri dari tempat itu secepat mungkin sebelum pria itu berhasil menjeratnya dalam percakapan berbahaya.Namun, gerakan pria itu jauh lebih cepat dari perkiraannya. Sebelum Talia sempat melangkah jauh, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat, menahan la
Jarum jam di dinding kamar mewah itu telah menunjuk tepat pada pukul dua belas malam. Kesunyian malam yang pekat membungkus ruangan luas tersebut, tapi tidak mampu menenangkan gejolak emosi di dada Talia. Di atas tempat tidur berseprai satin, Talia terus-menerus menatap layar ponselnya yang menyala terang di tengah kegelapan. Jari-jarinya yang terawat menari gelisah di atas layar, mengetik ulang nomor yang sama untuk kesekian kalinya. Dia sudah menelepon Asher berulang kali, tetapi panggilannya sama sekali tidak direspons. Nada sambung yang monoton terus berdengung tanpa ujung, seolah mengejek kesabarannya yang kini telah habis terkikis.“Sialan. Kenapa dia tidak mau mengangkat teleponku?” desis Talia kesal, melempar ponselnya begitu saja ke atas ranjang dengan perasaan jengkel yang teramat sangat.Harga dirinya terluka hebat. Sebagai wanita yang terbiasa mendapatkan atensi penuh dan diprioritaskan dalam segala hal, diabaikan oleh Asher adalah bentuk penghinaan paling memualkan yang p
Suasana di dalam apartemen milik Asher Lennox terasa begitu dingin dan mencekam. Malam telah larut, tapi lampu ruang kerja pribadi Asher masih menyala terang. Pria itu berdiri di dekat dinding kaca besar, menatap hamparan lampu kota yang berkilauan sambil menyesap wiski single malt dari gelas kristalnya tanpa sedikit pun rasa nikmat. Pikirannya dipenuhi oleh teka-teki masa lalu dan keraguan yang terus menghantuinya mengenai identitas ayah kandung dari si kembar anak Adeline.Pintu ruang kerja mendadak terbuka tanpa suara. Paul tampak melangkah masuk dengan langkah cepat namun terukur. Wajah Paul serius, membawa sebuah tablet hitam berukuran tipis di tangannya.“Tuan Lennox,” panggil Paul dengan suara rendah, berdiri tegak di hadapan meja kerja Asher.Asher berbalik perlahan, menaruh gelasnya di atas meja dengan bunyi dentingan yang pelan. Sorot matanya tajam, mengisyaratkan agar Paul segera menyampaikan apa pun laporan penting yang membawanya datang ke apartemen ini di tengah malam.T
Ketegangan di bawah lampu sorot studio mendadak mencapai puncaknya. Adegan pertikaian yang seharusnya dilakukan dengan teknik kamera dan sentuhan natural, berubah menjadi medan pertempuran pribadi ketika Isolde mengambil langkah terlalu jauh.Dalam adegan itu, Isolde seharusnya hanya mendorong bahu Adeline pelan, dan memberikan tamparan yang jelas tak bisa kencang. Namun, alih-alih mengikuti arahan sutradara, sudut bibir Isolde terangkat dalam senyum miring yang nyaris tak terlihat kamera. Dengan sengaja, dia melayangkan tangan kanannya dengan kekuatan penuh tepat ke pipi Adeline.Plak!Suara tamparan itu menggema di seluruh sudut studio yang mendadak sunyi senyap. Pukulan tersebut terlalu keras, membuat kepala Adeline terhempas ke samping. Seketika itu juga, sudut bibir Adeline, mengalirkan setetes darah segar yang kontras dengan kulit putihnya.Belum sempat Adeline memegang pipinya yang langsung memerah dan membengkak, kemarahan meledak dari dua arah sekaligus. Adam, sang sutradara,
“Ya Tuhan, Adeline, kau dari mana saja? Kau tahu? Kau membuatku jantungan.” Nora yang sejak tadi sudah mondar-mandir gelisah di dalam ruang istirahat, akhirnya bisa bernapas lega di kala melihat kemunculan Adeline. Sungguh, jika Adeline masih belum muncul dalam lima menit ke depan, sudah pasti dia akan dilanda kepusingan hebat menghadapi rentetan pertanyaan orang-orang, membayangkan saja dia sudah dibuat pusing luar biasa.Adeline mendesah kasar, menghempaskan bokongnya dengan lelah ke atas sofa beludru yang warnanya mulai pudar. Tanpa membuang waktu, dia meraih botol mineral water yang ada di atas meja dan langsung menenggaknya hingga tandas setengah. “Pria itu sudah tidak waras, Nora. Kau tahu? Aku sudah muak sekali dengannya.”Nora segera duduk di samping Adeline, menoleh tajam menatap sahabat sekaligus rekan kerjanya itu dengan sorot mata penuh peringatan. “Jujur, tindakan Asher kali ini cukup gegabah dan membuat banyak orang di mulai curiga. Tapi, kumohon, kau harus tetap tenang
Bohong jika Raphael tetap tenang di kala Isolde mengatakan hal itu padanya. Dia tahu betul bahwa memang Isolde memancing agar dirinya membenci Adeline. Namun, hal yang menelisiknya sejak tadi memang ditundanya syuting karena Asher Lennox meminta sendiri pada Adam demi bisa bicara berdua dengan Adeline.Kepingan memori di kepala Raphael mendadak memutar ulang percakapan antara Adeline dan Nora tempo hari. Dari gerak-gerik dan sorot mata mereka, Raphael sangat yakin ada sesuatu yang krusial yang sengaja disembunyikan oleh Adeline darinya. Kendati demikian, ia memilih untuk tetap bungkam. Dia mencoba meredam gejolak di dadanya, menjaga gestur tetap tenang di permukaan, meski detik ini juga perasaannya tidak karuan—dipenuhi oleh rasa tidak nyaman yang membentang. “Shit!” umpat Raphael tertahan, melampiaskan kekesalan yang sudah di ambang batas.Napas pria tampan itu memburu, mengibaratkan badai emosi dan rasa frustrasi yang mendominasi seluruh kesadarannya. Umpatan itu meluncur bukan ha
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok







