เข้าสู่ระบบAdeline tak tidur dengan tenang. Sepanjang malam pikirannya benar-benar berkecamuk. Bahkan hatinya tergulung dalam rasa cemas yang rasanya tak berkesudahan. Kejadian di kelab malam sukses membuatnya mimpi buruk. Ya, dalam mimpinya Asher datang, menyeretnya memaksanya untuk kembali pada pria itu. Dia datang ke kelab malam, menuruti ajakan Nora agar menenangkan sedikit pikirannya yang belakangan memang kacau. Namun, alih-alih menenangkan malah yang datang adalah malapetaka. Dengan lancang, Asher bahkan menciumnya brutal membuatnya tak berkutik.Adeline membenci itu. Dia membenci lemah. Namun, melawan secara fisik jelas tak mungkin. Pria gila itu mengunci tubuhnya, membuat pergerakannya tak berkutik sedikit pun. Jika saja bisa melawan, jelas sudah dia lakukan. Berkali-kali berontak tetap saja tenaganya bagaikan kapas jika bersanding dengan mantan suaminya itu.Pagi yang harusnya indah, dihiasi dengan perasaan yang bergemuruh tak menentu. Mood yang kacau harus dia tutupi. Dia tadi sarap
Adeline mencengkeram pinggiran wastafel marmer dengan jemari yang bergetar hebat. Buku-buku jarinya memutih, menahan beban tubuhnya yang mendadak terasa lemas tak berdaya. Di depan cermin besar bernuansa emas dan marmer hitam itu, bayangannya sendiri terpantul mengenaskan. Rambutnya yang semula tertata rapi kini sedikit berantakan. Namun yang paling menyiksa penglihatannya adalah bibirnya sendiri—memerah, bengkak, dan basah akibat ciuman brutal Asher beberapa saat lalu.Emosi membakar dada Adeline, bersatu padu antara rasa cemas, amarah, dan penderitaan atas ego mantan suaminya yang seolah tak pernah puas menginjak-injak kebebasannya. Dengan napas yang masih terengah-engah dan dada yang kembang-kempis, Adeline memutar kran air. Dia mengusap bibirnya dengan kasar menggunakan telapak tangan yang dibasahi air dingin, berharap bisa menghapus jejak, aroma, dan rasa manis berbahaya yang ditinggalkan Asher di sana. Rasa perih menguar di permukaan bibirnya yang lecet, tapi rasa sakit di hatin
Bayangan malam yang kian pekat menggantung berat di luar dinding kaca setinggi langit-langit yang membatasi ruang kerja pribadi Asher Lennox. Di luar sana, lanskap New York membentang dengan kerlip lampu yang dingin, tapi atmosfer di dalam ruangan itu terasa jauh lebih pekat dan mengekang.Tampak di balik meja kayu jati berukuran besar, Asher duduk bersandar. Postur tubuhnya yang tegap terbalut kemeja mahal yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, menandakan keletihan mental yang luar biasa. Pria itu membiarkan jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara konstan. Hingga suara ketukan kayu itu nyaring dan monoton, menjadi satu-satunya irama yang memecah keheningan mencekam di ruangan berinterior gelap tersebut.Pintu ganda berukir tebal yang menjadi pembatas ruangan itu mendadak terbuka tanpa suara. Paul melangkah masuk dengan langkah kaki yang teratur, tegas, dan sangat sopan. Dia menghentikan langkahnya sejenak untuk menutup pintu kembali, memastikan privasi tuannya terjaga sep
Lampu-lampu set yang menyala terang sejak pagi akhirnya meredup perlahan, menggantikan atmosfer tegang dengan desah napas lega dari para kru. Suara toa sutradara yang menyerukan kata “Cut! Kita break dua jam untuk makan siang dan pindah set!” bagaikan musik indah di telinga semua orang.Adeline menghela napas panjang, merenggangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku. Adegan yang baru dia selesaikan menyerap begitu banyak energinya. Dengan balutan pakaian santai modern yang sedikit kusut akibat adegan emosional tadi—baju sweter longgar dan celana jins membalut tubuhnya, meski hanya sederhana tapi tetap dia sangat cantik. Setelah berjam-jam harus mempertahankan ekspresi kesedihan mendalam dan menumpahkan air mata di depan kamera, yang ingin dilakukannya sekarang hanyalah keluar dari area studio yang pengap dan mencari udara segar.Tanpa menunggu orang lain di sana, Adeline memilih melangkah sendirian menuju area belakang studio utama. Ada sebuah taman kecil yang relatif sepi, sering ka
Perjalanan berpacu dengan waktu selalu menuntut ketenangan di tengah badai kepanikan. Nora mencengkeram erat kemudi mobilnya, membiarkan mesin bergemuruh melintasi lajur cepat untuk menyusul kendaraan Paul. Di pikirannya, tiap detik adalah taruhan yang teramat mahal. Paul pasti mengarah ke salah satu laboratorium diagnostik swasta paling eksklusif dan terpercaya milik relasi Asher Lennox—tempat di mana hasil tes DNA bisa dipercepat tanpa prosedur birokrasi yang rumit.Nora mempertahankan jarak aman, membiarkan mobil Paul tetap berada dalam jangkauan pandangnya hingga kendaraan itu akhirnya membelok memasuki area parkir sebuah bangunan modern berarsitektur serba kaca bertuliskan St. Jude Genetic Laboratories.Nora menghentikan mobilnya beberapa meter dari gerbang utama. Napas wanita itu diatur sedemikian rupa seraya matanya menatap tajam ke arah dashboard. Di sana tergeletak sebuah sisir kecil berwarna krem dengan ukiran khas di bagian gagangnya—sisir yang persis sama dengan yang dia b
“Kau yakin ini rambut mereka?” Suara Paul memecah keheningan di area jalan yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Matanya tertuju tajam pada dua kantong plastik kecil bening yang kini berada di tangannya. Di dalamnya, masing-masing berisi beberapa helai rambut. Sebagai asisten pribadi Asher Lennox yang dituntut bekerja tanpa cela, Paul selalu dipenuhi kewaspadaan tinggi. Pria di hadapannya ini memang orang bayaran kebanggaan tuannya—seseorang dengan rekam jejak sempurna setiap kali diterjunkan ke lapangan—tetapi Paul tidak boleh menyisakan ruang sedikit pun untuk kecerobohan.Pria bayaran itu mengangguk yakin tanpa sedikit pun keraguan di matanya. “Dan ini sisir mereka. Tadi aku berhasil mengambil sisir mereka dari tas pengasuh,” jawabnya santai namun tegas, seraya menyerahkan satu plastik bening lagi yang berisi sebuah sisir kecil.Paul terdiam. Jarinya mengusap permukaan plastik bening itu, mengamati baik-baik helai demi helai rambut serta sisir yang berhasil diamankan. Ketega
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok







