MasukJam menunjukkan pukul 10.09 pagi saat suasana di depan sekolah TK mulai ramai. Pintu-pintu kelas dibuka satu persatu. Suara anak-anak langsung memenuhi halaman kecil sekolah dengan riuh yang khas. Beberapa berlari menghampiri orang tua mereka. Ada yang sibuk menunjukkan hasil gambar dan ada juga yang langsung merengek minta jajan. Sedangkan Hazel berdiri tenang di dekat pagar sekolah sambil menunggu. Hijab krem lembut membingkai wajahnya pagi itu. Masker medis masih menutupi sebagian wajahnya dengan rapi dan meski tubuhnya masih terasa lelah matanya perlahan mulai lebih hidup saat melihat anak-anak kecil keluar dari kelas satu per satu. Sampai akhirnya, Leyan muncul paling depan sambil membawa tas kecil bergambar dinosaurus. Anak itu awalnya masih sibuk bicara dengan temannya. Namun beberapa detik kemudian, matanya menangkap sosok Hazel di dekat pagar. Seketika wajahnya langsung berubah cerah total. “BUNDAAAAAA!” Suara nyaring itu langsung membuat beberapa orang tua lain ikut menol
Subuh itu suasana rumah masih dingin dan penuh ketegangan setelah tamparan yang diterima Hazel beberapa menit lalu. Sedangkan Rehan tetap bersiap kerja seperti tidak terjadi apa-apa. Laki-laki itu akhirnya memakai seragam yang tadi salah disetrika Hazel. Karena sebenarnya seragamnya hampir sama. Hanya beda jadwal pemakaian saja. Namun seperti biasa Rehan tetap mencari alasan untuk melampiaskan emosinya. Suara lemari dibuka kasar, langkah kaki berat dan gumaman kesal yang terus terdengar sejak tadi. “Pagi-pagi udah bikin emosi aja…” Hazel diam, perempuan itu hanya berdiri di dapur kecil sambil menyiapkan kopi panas dengan wajah menunduk. Sudut bibirnya masih terasa perih, pipinya juga mulai membiru samar dan seperti biasa dirinya tetap bergerak tenang seolah semua baik-baik saja. Padahal tangannya masih sedikit gemetar. Sekitar pukul lima pagi, Rehan akhirnya bersiap pergi. Sebelum keluar rumah laki-laki itu sempat melirik Hazel yang sedang merapikan meja dapur. “Kamu kerja hari in
Malam itu di dua kota berbeda, dua kehidupan berjalan dengan arah yang benar-benar bertolak belakang. Di Jakarta Hazel masih duduk diam di pinggir ranjang setelah pertengkaran tadi. Lampu kamar redup, suasana rumah tetap terasa dingin. Sedangkan di Bandung Lintang baru saja tiba di apartemennya dengan kepala yang masih penuh oleh banyak hal. Tas kerja dan beberapa map langsung ia letakkan di meja ruang tamu. Jasnya dilepas pelan, lalu tubuhnya jatuh ke sofa panjang apartemen yang biasanya terasa terlalu sunyi. Namun anehnya malam ini sunyi itu terasa berbeda. Sekarang isi kepalanya tidak lagi kosong, tatapannya perlahan jatuh ke arah ponsel di meja dan tanpa sadar sudut bibirnya naik kecil saat mengingat kejadian sepanjang hari tadi. Liana yang manyun karena dirinya telat datang ke taman, Leyan yang sibuk ngomel soal iga bakar dan Lintang kecil yang diam-diam selalu memperhatikan semuanya. Sampai suara kecil mereka yang terus memanggilnya. “Ayah.” Lintang mengembuskan napas pel
Perjalanan pulang menuju rumah Hazel terasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Mungkin karena tiga anak kecil itu mulai lelah setelah terlalu banyak aktivitas hari ini. Di kursi belakang mobil Liana sudah setengah rebahan sambil memeluk tas kecilnya. Sedangkan Leyan masih sempat ngoceh soal kantor Lintang meski suaranya mulai melambat karena mengantuk. “Ayah…” “Hm?” “Kursi Ayah enak banget.” Lintang tertawa kecil sambil tetap fokus menyetir. “Kamu mau tukeran kerja sama Ayah?” “Mau.” “Kerjanya apa?” “Duduk.” Liana yang tadi hampir tidur langsung tertawa kecil. “Terus makan.” “Iya.” Leyan mengangguk santai tanpa malu. Sedangkan Lintang kecil duduk paling tenang seperti biasa. Anak itu memperhatikan lampu jalan dari jendela sambil sesekali melirik ke arah Lintang di depan. Tatapannya berbeda malam ini lebih dalam dan lebih banyak berpikir. Karena hari ini dirinya melihat banyak sisi baru dari Lintang. Bukan cuma “Ayah baik” yang menemani mereka bermain di tam
Lift terus bergerak naik menuju lantai atas gedung Narendra Group cabang Bandung. Suara mesin lift terdengar halus. Lampu angka digital terus berubah dari bawah ke atas. Sedangkan tiga anak kecil di dalam lift jelas masih belum berhenti kagum. Liana bahkan beberapa kali melihat pantulan dirinya sendiri di dinding lift mengilap sambil tertawa kecil. “Ayah…” “Hm?” “Kalau ngomong disini suaranya bagus.” Lalu anak itu sengaja mencoba lagi. “Halo…” Suaranya memantul kecil di dalam lift. Leyan langsung ikut-ikutan. “HAAAALOOOO.” “Pelan-pelan aja.” Lintang kecil langsung menegur. “Nanti dikira kita norak. "Kita emang belum pernah.” Leyan menjawab santai tanpa rasa malu sedikit pun. Lintang sampai menunduk kecil sambil menahan tawa. Sudah lama dirinya tidak pernah merasa suasana sesantai ini di gedung kantor. Biasanya lift ini hanya dipenuhi obrolan bisnis, lapora, target kerja dan suara orang-orang yang sibuk mengejar waktu. Sedangkan sekarang yang terdengar justru suara anak
Saat mobil Lintang berhenti di depan toko bunga milik Miranti, langit sore Bandung sudah mulai berubah lebih redup. Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 16.35. Lampu-lampu toko di sekitar jalan mulai menyala satu persatu. Sedangkan suasana toko bunga masih cukup ramai oleh beberapa pembeli. Sebelum mobil benar-benar mati, Liana sudah lebih dulu semangat membuka seatbelt. “Ayo ayo… Kita bilang ke Nenek.” Sedangkan Leyan sibuk membawa plastik makanan bungkus yang tadi dibeli. “Hati-hati.” Lintang langsung mengingatkan. “Jangan sampai tumpah.” “Aman Ayah.” Leyan membawanya dengan penuh semangat. Padahal plastik itu sudah miring hampir jatuh. Lintang kecil langsung refleks membantu memegang bawah plastik sambil menghela napas kecil. “Kamu tuh…” Sedangkan Lintang hanya bisa tertawa kecil melihat mereka. Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya masuk ke dalam toko bunga. Aroma bunga segar langsung terasa begitu pintu dibuka. Miranti yang sedang merapikan bunga di meja depan langs
Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan
Kevin tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan rumah Hazel, tepat di samping mobilnya. Pagar rumah itu sudah tertutup. Hazel tadi sempat menoleh sekali sebelum masuk, lalu perlahan menghilang di balik pintu. Kevin tetap diam di tempat menunggu. Beberapa detik kemudian lampu ruang tamu meny
Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d
Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se







