Share

BAB 88 Sampel

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-07-04 22:30:44

Pagi Bandung masih diselimuti udara dingin saat Lintang sudah bersiap keluar dari apartemennya. Jam bahkan baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Biasanya di jam seperti ini dirinya sudah sibuk membuka laptop atau memeriksa laporan kantor cabang.

Hari ini berbeda. Sejak bangun tidur kepalanya hanya dipenuhi satu tujuan, rumah sakit. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Semakin cepat semuanya diperiksa, semakin cepat pula dirinya mendapat jawaban. Meski jauh di dalam hatinya Lintang j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 153 Ikan

    Setelah semua siap, akhirnya mereka benar-benar keluar dari rumah. Lintang memastikan lampu lantai atas sudah mati lalu mengunci pintu rumah Hazel pelan menggunakan kunci cadangan. Sedangkan di sampingnya, Leyan sudah sibuk loncat-loncat kecil sambil menggandeng tangan Liana. “Cepet ayah… Aku lapar.” Lintang langsung melirik datar ke arah bocah itu. “Kamu habis mandi apa habis lari maraton?” Leyan langsung nyengir lebar tanpa rasa bersalah. Sedangkan Levian yang berjalan di belakang mereka cuma bisa menggeleng kecil sambil memasukkan tangan ke saku celana. Sampai sekarang dia masih belum benar-benar percaya melihat pemandangan ini. Adiknya yang dulu bahkan malas meladeni anak kecil milik saudara mereka saat kumpul keluarga, sekarang justru berjalan paling depan sambil menggandeng dua bocah kecil dan yang lebih aneh wajah dingin Lintang sama sekali tidak muncul di depan anak-anak itu. Begitu sampai di parkiran, Liana langsung berseru semangat. “Ayah… Kita makan ikan ya?” “Iyaa…

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 152 Berhak Tahu

    Suasana ruang tengah rumah itu masih dipenuhi keheningan berat. Dari lantai dua suara anak-anak mulai terdengar lebih pelan sekarang. Mungkin mereka sudah selesai mandi dan sedang sibuk memakai pakaian. Namun di bawah sini, percakapan dua bersaudara itu justru makin dalam. Levian duduk sambil menatap adiknya lama. Sedangkan Lintang masih bersandar di sofa dengan wajah lelah. Tatapan matanya kosong dan setelah cukup lama diam akhirnya Levian kembali bicara. “Kapan rencana lo mau ngasih tau dia?” Pertanyaan itu langsung membuat rahang Lintang sedikit menegang. Tatapannya turun lagi. “Gue…” Kalimatnya menggantung cukup lama. “Belum tau.” Jawaban itu membuat Levian langsung mengembuskan napas berat, sebenarnya dia sudah menduga. Lintang terlalu takut untuk sampai ke tahap itu. Takut kehilangan semuanya sekaligus. Namun kali ini Levian tidak membiarkan adiknya terus menghindar. “Dia berhak tau.” Nada suaranya tegas sekarang. Lintang diam. Sedangkan Levian melanjutkan sambil mencond

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 151 Yang Pertama

    Suasana ruang tengah rumah itu terasa semakin berat. Lampu ruang tamu menyala redup kekuningan. Sedangkan dari lantai dua, masih terdengar samar suara anak-anak berceloteh kecil sambil mandi dan berganti pakaian. Suara-suara kecil itu membuat pengakuan Lintang terasa jauh lebih menyakitkan. Anak-anak yang tertawa di atas sana, lahir dari malam yang menghancurkan hidup seseorang. Levian masih duduk diam memandang adiknya. Sedangkan Lintang sendiri terlihat sangat lelah sekarang. Bukan lelah fisik, melainkan lelah karena terlalu lama memendam semuanya sendirian. Setelah cukup lama diam akhirnya laki-laki itu kembali bicara. “Gue gak tau… Gue bingung harus bereaksi gimana.” Tatapannya kosong lurus ke depan. “Pas tau mereka anak gue… gue seneng.” Kalimat itu keluar lirih. “Sumpah gue seneng.” Itu adalah kejujuran paling polos yang keluar dari dirinya sejak tadi. Selama bertahun-tahun, Lintang hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mungkin tidak akan pernah punya keturunan. Divonis s

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 150 Anak Gue

    Suasana ruang tengah rumah itu berubah sangat sunyi. Bahkan suara anak-anak dari lantai dua terasa samar sekarang. Levian masih berdiri di depan sofa sambil menatap adiknya lekat. Sedangkan Lintang duduk diam beberapa detik dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuhnya. Tatapannya lurus ke lantai. Setelah cukup lama hening, akhirnya laki-laki itu bicara. “Memang darah daging gue.” Kalimat itu keluar begitu saja dengan tenang. Namun langsung membuat tubuh Levian membeku. Tatapan matanya langsung berubah tajam. “Apa?” Lintang mengangkat wajah pelan. Matanya terlihat lelah sekarang. “Anak-anak itu, anak gue.” Tidak ada penyangkalan, tidak ada usaha menghindar dan justru itu yang membuat dada Levian terasa makin berat. Karena berarti semua firasatnya sejak tadi benar. Ruangan kembali hening beberapa detik. Lalu akhirnya Lintang kembali bicara pelan. “Dulu... Gue sempat benci Hazel.” Nama itu membuat Levian langsung mengernyit. Sedangkan Lintang terus melanjutkan tanpa memand

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 149 Hutang Penjelasan

    Keramaian kecil di ruang rawat itu masih berlanjut saat Lintang mulai membantu anak-anak merapikan barang mereka. Tas sekolah kecil milik Liana disampirkan ke pundak anak itu. Botol minum milik Leyan yang tadi hampir tertinggal juga langsung diambilkan. Sedangkan Levian masih berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana jasnya. Tatapan matanya terus memperhatikan adiknya. Semua ini semakin terasa aneh dan rasa penasarannya jelas sudah di ujung kepala sekarang. Akhirnya dengan santai laki-laki itu buka suara. “Gue ikut.” Tangan Lintang yang sedang membantu merapikan hoodie kecil Leyan langsung berhenti sebentar. Lalu tanpa melihat kakaknya dirinya menjawab datar. “Ngapain lo ikut.” Levian langsung berjalan mendekat sampai berdiri tepat di dekat Lintang. Lalu dengan gerakan cepat, dirinya sedikit menunduk dan berbisik pelan di telinga adiknya. “Inget ya... lo hutang penjelasan sama gue.” Nada suaranya jauh lebih serius dibanding sebelumnya. Kalimat itu langsung membuat rah

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 148 Tak Mudah

    Langkah Lintang yang tadi berjalan tenang di lorong akhirnya melambat saat melihat dua sosok duduk di kursi tunggu dekat jendela koridor, Hazel dan Miranti. Keningnya langsung sedikit mengernyit. Seharusnya mereka sudah kembali ke ruang rawat dari tadi. Apalagi kondisi Hazel juga masih lemas setelah visum. Laki-laki itu akhirnya berjalan mendekat pelan. “Kenapa masih di luar?” Suara rendahnya membuat Miranti langsung menoleh. “Eh, Lintang…” Perempuan itu tersenyum kecil tipis. “Ini Hazel minta duduk dulu sebentar di sini.” Tatapan Lintang langsung berpindah ke arah Hazel. Detik itu juga dia langsung sadar, mata perempuan itu merah. Kelopak matanya sedikit bengkak dan wajahnya jelas baru habis menangis. Langkah Lintang otomatis berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tertahan cukup lama pada Hazel. Ada sesuatu di dadanya yang langsung terasa berat melihat perempuan itu seperti ini lagi. Hazel bukan tipe yang mudah menangis di depan orang lain. Berarti pasti ada sesuatu yang bena

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 30 Kembali Ke Jakarta

    Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status