MasukTangis Hazel belum benar-benar berhenti. Perempuan itu masih menunduk di atas ranjang rumah sakit sambil memegang erat selimut di pangkuannya. Bahu kecilnya sesekali bergetar pelan. Sedangkan suasana ruangan terasa begitu tenang malam itu. Lampu redup di sudut ruangan membuat semuanya terasa lebih hening. Suara pendingin ruangan terdengar samar, dari luar jendela lampu kota Bandung masih menyala terang. Namun di dalam sana isi hati Hazel justru terasa jauh lebih berisik dibanding apa pun. Semua ucapan Lintang Aksara Narendra sejak tadi terus memukul kesadarannya perlahan. Tentang anak-anak, tentang dirinya sendiri dan tentang hidup yang selama ini ia pertahankan mati-matian. Padahal yang ia pertahankan justru perlahan menghancurkan dirinya. Sedangkan Lintang masih duduk di sofa dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel diam-diam. Tatapannya tidak lagi setajam tadi, justru sekarang jauh lebih lembut. Laki-laki itu tahu Hazel sebenarnya sudah terlalu lelah untuk terus melawan semuanya
Ruangan VVIP itu kembali sunyi setelah ucapan Lintang Aksara Narendra tadi selesai. Lampu ruangan dibuat sedikit redup agar Hazel bisa lebih nyaman beristirahat. Di luar jendela, langit malam Bandung terlihat tenang dengan cahaya lampu kota yang berpendar samar. Sedangkan di dalam ruangan, suasana hati Hazel justru terasa semakin penuh. Perempuan itu masih duduk bersandar di ranjang. Tangannya saling menggenggam di atas selimut, tatapannya turun, pikirannya terus berkelana. Dia sudah terlalu lama memendam semuanya sendiri. Menahan sakit, menahan takut, dan menahan tangis. Sampai akhirnya dia sendiri lupa bagaimana rasanya mengeluh tanpa merasa bersalah. Sedangkan Lintang duduk tidak jauh darinya. Tatapan laki-laki itu masih tertuju penuh pada Hazel. Dia sadar betapa rusaknya hidup yang sudah Hazel jalani bertahun-tahun ini. Lintang akhirnya kembali bicara pelan. “Kamu gak perlu merasa harus nahan diri terus menerus.” Hazel perlahan mengangkat wajah. Tatapan matanya mulai berkabut
Malam mulai turun saat mobil Lintang memasuki area parkir rumah sakit. Lampu-lampu gedung menyala terang di tengah langit Bandung yang mulai gelap. Udara malam terasa lebih dingin dibanding siang tadi. Sedangkan di dalam mobil suasana justru cukup ramai. Leyan sejak tadi sudah tidak sabar ingin bertemu ibunya lagi. “Bunda pasti udah sembuh…” Sedangkan Liana sibuk merapikan bando kecil di rambutnya sendiri. “Aku tadi udah mandi loh… Biar bunda lihat aku cantik.” Dan di kursi belakang Lintang kecil duduk tenang sambil memeluk tas kecilnya. Meski anak itu masih lebih diam, wajahnya sudah tidak semurung siang tadi. Begitu mobil berhenti Lintang langsung turun lalu membukakan pintu untuk mereka. “Nah pelan-pelan.” Leyan langsung turun paling cepat. Sedangkan Liana otomatis menggenggam tangan Lintang sambil berjalan masuk ke lobby rumah sakit. Sementara Lintang kecil berjalan di sisi lain laki-laki itu. Entah sejak kapan tiga anak kecil tersebut sudah seperti terbiasa berada di dek
Setelah makan mereka selesai Leyan langsung duduk menyandar kenyang sambil mengusap perut kecilnya. “Aku full…” Sedangkan Liana masih sibuk menghabiskan potongan wortel dari sotonya pelan-pelan. Dan Lintang kecil sudah selesai lebih dulu sambil duduk tenang memperhatikan suasana restoran. Lintang akhirnya memanggil pelayan lagi. “Mbak.” Pelayan itu langsung mendekat ramah. “Iya Mas?” Lintang mulai menyebut beberapa menu tambahan dengan tenang. “Iga bakar satu, soto ayam bening dua, tongseng sapi satu, tempe goreng tepung sama bakwan juga tambah.” Pelayan langsung mencatat cepat. Sedangkan Leyan langsung menoleh bingung. “Ayah pesen lagi?” Lintang mengangguk kecil. “Buat bunda.” Tatapan anak-anak itu langsung berubah sedikit lebih cerah sekarang. Lintang kembali melanjutkan. “Nanti diantar ke rumah sakit ruangan Bunda, sekalian buat nenek Miranti.” Lalu laki-laki itu diam sebentar sebelum menambahkan lagi. “Sama dua orang yang jaga di luar.” Pelayan langsung mengangguk sopan
Restoran itu cukup ramai siang menjelang sore. Aroma iga bakar, kuah soto hangat dan asap panggangan memenuhi udara begitu Lintang membawa tiga anak kecil itu masuk ke dalam. Berbeda dari suasana rumah sakit tadi di sini suasananya jauh lebih hidup. Lampu gantung bernuansa hangat membuat ruangan terasa nyaman. Beberapa keluarga terlihat sedang makan bersama sambil mengobrol santai. Sedangkan Leyan langsung semangat begitu melihat area tempat makan favoritnya. “Ayah yang dekat kaca ya!” Anak itu langsung menunjuk salah satu meja besar dekat jendela. Lintang hanya mengangguk kecil sambil menarik kursi untuk mereka. Liana langsung duduk rapi sambil merapikan ujung bajunya. Sedangkan Lintang kecil duduk paling pinggir sambil memandang daftar menu diam-diam. Meski wajahnya masih lebih murung dibanding biasanya, setidaknya anak itu sudah tidak sesunyi tadi. Pelayan akhirnya datang menghampiri sambil membawa buku catatan kecil. “Mau pesan apa kak?” Dan seperti biasa, Leyan jadi yang
Sambungan telepon itu akhirnya terputus. Di rumah milik Hazel. Lintang masih berdiri diam di dekat tangga sambil menatap layar ponselnya beberapa detik. Sedangkan di Jakarta, Levian justru belum bergerak sama sekali dari kursi ruang kerjanya. Ponsel masih berada di tangannya. Tatapannya kosong lurus ke depan, ruangan direktur utama Narendra Group itu sunyi sekarang. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Namun isi kepala Levian justru terasa semakin ramai. Karena semakin dirinya memikirkan percakapan tadi, semakin aneh semuanya terdengar. Levian akhirnya menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya pelan sambil mengusap rahang. “Anak kecil manggil ayah…” gumamnya pelan sendiri. Lalu laki-laki itu tertawa napas kecil tanpa sadar. Karena jujur saja cerita Lintang tadi masih terasa sangat mengambang baginya. Kalau cuma bantu antar perempuan pingsan ke rumah sakit, harusnya selesai sampai situ, normalnya begitu. Sedangkan ini Lintang justru sampai jemput anak-anak perempuan itu
Sore itu, perpustakaan kampus tampak lebih sepi dari biasanya. Melisa duduk di salah satu meja panjang, laptop terbuka di depannya, dikelilingi buku-buku referensi dan catatan kecil. Ia sedang fokus menulis tugas, sesekali menghela napas ketika sulit menemukan referensi yang sesuai. Lintang muncul
Lintang berjalan santai di koridor kampus, masker menutupi sebagian wajahnya, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh perhitungan. Mata hitam legamnya mengamati arah kelas di mana Melisa baru saja keluar, beberapa teman mengiringi dari belakang. Hari ini, Lintang menargetkan beberapa momen kecil, sesu
Pagi itu, Hazel sudah bangun lebih awal seperti biasa. Matahari belum sepenuhnya menembus jendela kamar kosnya, tapi ia sudah menyiapkan tas, buku catatan, dan beberapa peralatan praktis untuk kuliah. Rambutnya dikuncir sederhana, kacamata menempel di wajahnya, dan kemeja nude oversize yang rapi dip
Lintang Aksara Narendra melangkah ringan di lorong fakultas bisnis dan ekonomi. Setiap langkahnya seolah menarik perhatian tanpa harus ia minta. Beberapa mahasiswi yang sedang duduk di bangku taman menoleh, berbisik pelan satu sama lain, bahkan ada yang mencoba menatap sekilas dari balik buku. Linta







