로그인Helena menggenggam tangan Lucien erat-erat saat mereka mencapai anak tangga terakhir. Matanya melirik Roy. Pria tua itu sudah duduk dengan tatapan fokus pada layar tabletnya.“Tenang saja. Aku ada di sini bersamamu.” Lucien mempererat genggamannya. Lalu kembali berjalan. Roy mendongak ketika langkah mereka semakin dekat. Keningnya berkerut melihat Lucien yang menggenggam tangan Helena. “Duduklah,” katanya. “Lepaskan saja tangannya. Lagipula dia tidak akan hilang.Lucien melirik ayahnya sekilas, tapi dia sama sekali tidak berniat melepaskan genggaman tangannya. Keegoisan ayah dan anak meluap, membuat sesak ruang keluarga itu. Helena yang memang orang asing, merasa keberadaannya hanya mengganggu. “A-aku akan pulan,” kata Helena, tapi Lucien segeran menariknya duduk kembali.Pria itu menyipit menatap Helena. “Tidak perlu. Kalau pembicaraan ini selesai, aku baru mengantarmu pulang.”Helena mengerutkan keningnya. Memberi isyarat pada Lucien untuk tidak lagi memancing emosi ayahnya. N
“Atau kamu hanya menjadikan wanita itu sebagai pemuas nafsumu saja?”Pemuas nafsu? Selama ini Helena berusaha menepis pikiran itu dari kepalanya, tapi kali ini Roy justru mengingatkannya kembali pada semua yang telah Lucien lakukan. Pria itu seolah sedang bereksperimen dari semua imajinasi liarnya. Helena tahu itu gila, tapi yang membuatnya terlihat lebih gila adalah, dia juga menikmati itu.“Kamu tidak bisa menjawabnya, Lucien?” tanya Roy lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih tenang. “Ekspresimu terlihat ambigu, antara mengakuinya atau kamu takut jawabanmu akan membuat dia terluka.”Roy mendekat, lalu berbisik tepat di telinga Lucien. “Kamu putraku, dan aku tahu apa yang ada di pikiranmu.”Rahang Lucien terkatup erat. Matanya menyipit menatap Roy, tapi tak ada satu katapun yang terucap. Kamar itu terasa semakin sesak. Helena yang semula menunduk, perlahan menatap kedua pria yang masih sama-sama diam. Helena bisa melihat tangan Lucien yang sudah terkepal di sisi tubuh. Tapi dia ti
“M-melakukannya?” tanya Helena. Suaranya tercekat. Pupilnya menyusut menatap kakinya yang sudah mengangkang tertahan tuas borgol. Pria itu mengangguk pelan. Ia menatap Helena lekat-lekat. “Boleh?”Helena tidak menjawab. Dia tidak mungkin menolak, karena rasa penasaran juga sudah membuat hatinya gelisah.Diamnya Helena menjadi persetujuan bagi Lucien. Lucien memanjangkan tuas borgol itu, lalu membalikkan tubuh Helena. Wanita itu memekik. Bukan karena sakit, tapi oleh rasa terkejut yang hampir membuat jantungnya copot. “Lucien, apa sebenarnya yang kamu pikirkan?” keluh Helena. Kini wanita itu sudah tidur tengkurap. Belum puas dengan aksinya, Lucien menuntun Helena untuk menungging. Pria itu menyentuh milik Helena dari belakang. “Emmhh…” Helena membenamkan wajahnya di bantal dengan tangan yang sudah meremas sprei. Merasakan tangan Lucien bergerak maju mundur di bawah sana. “Aku akan masukkan sekarang,” kata Lucien, saat Helena hampir mencapai puncaknya. Wanita itu hanya mengangg
“Lucien, ah…” desah Helena. Helena mencengkeram bahu pria itu, berusaha menyesuaikan diri dengan kedekatan mereka. Matanya perlahan terbuka, lalu bertemu dengan tatapan Lucien yang begitu dekat. Walau belum sepenuhnya masuk, Helena sudah merasakan miliknya terasa penuh dan membengkak di bawah sana. Lucien bertumpu pada kedua tangannya, dia sedikit membungkuk, lalu mencium bibir Helena dan menekan miliknya lebih dalam. Tubuh Helena menggelinjang. “Penuh,” rancaunya. Tangannya meremas punggung Lucien, seolah meluapkan semua hasratnya di sana. “Tenanglah. Kali ini aku akan melakukannya dengan perlahan,” bisik Lucien, membuat Helena kembali membuka matanya. Wanita itu tersenyum, dia membuka mulutnya sedikit, menuntun Lucien untuk kembali menciumnya. Lucien menjaga ritmenya tetap tenang. Sesekali, tatapan mereka bertemu, seolah keduanya sedang berusaha mengingat kembali kedekatan yang sempat terenggut oleh berbagai masalah.Lucien menengadah, merasakan setiap pijatan Helena yang jus
Lucien menangkup wajah Helena. Menatap mata coklat itu dalam. “Jangan di sini,” bisik Lucien akhirnya. Lucien menggendong Helena untuk naik ke lantai dua. Langkahnya tergesa, seolah tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Helena spontan melingkarkan kedua tangannya di leher Lucien, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah di lekuk leher pria itu. “Tidak perlu berlari, aku tidak akan kabur,” kata Helena. Lucien terkekeh rendah. Dia sedikit menunduk, mengecup kening Helena sebentar. “Aku tahu. Tapi aku sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak memelukmu seperti ini.”Helena mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu, membuat kalimat yang semula ingin dia ucapkan lenyap begitu saja. Sesampainya di lantai dua, Lucien membawa Helena ke kamar, lalu membaringkannya dengan hati-hati di atas ranjang. Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap.“Aku benar-benar merindukanmu,” bisik Helena. Ia menyentuh pipi Lucien, mengusap rahang tegas itu.Mendengar Helena berkata seperti itu, senyum
“Diam, atau ku potong lidahmu?” Helena melirik Lucien, tak menyangka pria di sampingnya akan mengucapkan ancaman setajam itu. Tangannya refleks meraih tangan Lucien yang terkepal, berusaha menenangkannya sebelum situasi semakin memanas.“Kamu juga diam, Lucien. Biar dia menceritakan apa alasannya. Jangan dulu mencela sebelum aku meminta,” ujar Roy otoriter. Lucien memalingkan wajah, tapi tatapannya justru bertemu dengan Helena. Amarah yang menggelapkan matanya perlahan mereda saat melihat perempuan itu menatapnya dengan tenang.“Maaf,” gumamnya nyaris tanpa suara. Helena hanya mengangguk. “Sekarang jelaskan. Jangan ada yang kamu tutupi,” kata Roy. Deren langsung menegakkan tubuh. Tangannya mengepal di atas pangkuan. Matanya masih menyipit menatap Lucien dan Helena bergantian.“Aku terdesak. Awalnya, aku hanya ingin bertemu dengan putriku,” jelas Deren. “Tapi mereka terus menolak permintaanku. Sudah hampir lima bulan aku tidak bisa menemuinya. Aku tidak tahu harus melakukan apa la







