หน้าหลัก / Romansa / Saingan Setengah kertas / Bab 2: Labirin di Distrik Lumina

แชร์

Bab 2: Labirin di Distrik Lumina

ผู้เขียน: Akuaja
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-05 18:12:47

"Tuan Rian atau siapapun namamu yang sebenarnya, lepaskan tangan wanita itu!" suara bariton Arka memecah keheningan kafe.

Tokoh utama pria itu maju selangkah lagi, matanya menyipit tajam menatap Rian yang masih memegang pergelangan tangan Kinan.

Gadis bergaun merah muda itu menggelengkan kepalanya pelan, mengabaikan kehadiran Arka sepenuhnya. "Jangan dengarkan dia, Mas. Aku tidak tahu kenapa…, tapi sejak kamu muncul dari balik pintu tadi, duniaku rasanya jungkir balik. Pria arogan ini bukan siapa-siapa bagiku."

Rian menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang karena panik luar biasa. Kalau Kinan terus menolak Arka, alur cerita yang ia susun dengan susah payah akan hancur total.

Berdasarkan teori naratif yang ia pahami, penolakan mutlak pada pertemuan pertama ini bisa memicu kehancuran logika semesta fiksi.

"Kinan, dengarkan aku," ucap Rian dengan nada setenang mungkin sambil, berusaha melepaskan genggaman tangannya perlahan. "Kamu harus bicara dengan Arka. Dia adalah pria yang seharusnya ada disisimu."

"Kenapa kamu mengaturku?" Kinan mengerjap, manik matanya memantulkan kekecewaan yang mendalam.

"Kamu muncul entah dari mana, tahu rahasia besar Arka, lalu sekarang menyuruhku pergi kepadanya? Sebenarnya siapa kamu ini?" tambah Kinan.

Arka tiba-tiba menarik Rian dengan kasar menjauhi Kinan.

Tenaga seorang CEO fiktif yang digambarkan hobi berolahraga ekstrem ternyata sama sekali tidak bisa diremehkan. Cengkeramannya begitu kuat hingga Rian terdorong mundur dan hampir menabrak meja kayu mahoni di sebelah mereka.

"Cukup sandiwara murahan ini!" Arka mendesis tepat di depan wajah Rian, napasnya memburu penuh amarah. "Kau pikir kau bisa datang ke Cafe D'Amour, mengacaukan pertemuan pertamaku, lalu bertindak seolah kau adalah penguasa tempat ini? Kau penguntit berbahaya!"

Para pengunjung kafe di meja-meja sekitar mulai berbisik-bisik, memandang mereka dengan ekspresi terkejut.

Di dalam naskah aslinya, adegan ini seharusnya menjadi momen romantis saat Arka menyelamatkan Kinan dari tumpahan teh, bukan arena gulat amatir antara tokoh utama pria dan penulisnya sendiri.

"Arka, kumohon tenanglah," kata Rian sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah, berusaha menjaga jarak aman. "Aku tidak punya niat buruk. Aku hanya seorang musafir yang tersesat."

"Musafir dari mana dengan tas ransel berisi benda pipih bercahaya itu?" Arka melirik tajam ke arah tas kerja yang tergantung di pundak Rian. Laptop di dalam tas itu menyala redup, memancarkan garis cahaya biru dari celah resleting yang terbuka akibat benturan tadi.

Kinan melangkah maju, lalu berdiri di antara Rian dan Arka. Gadis itu merentangkan kedua tangannya, melindungi Rian dari amukan sang tokoh utama. "Jangan lukai dia, Arka! Kalau kamu berani menyentuhnya lagi …, aku bersumpah tidak akan pernah mau melihat wajahmu seumur hidupku!"

Arka tertegun, tangannya yang mengepal di udara perlahan mengendur. Manisnya tipu daya skenario rom-com membuat sang tokoh utama pria bertekuk lutut pada wanita yang dicintainya, bahkan ketika wanita itu membela pria lain.

Arka menatap Kinan dengan tatapan terluka, lalu mengalihkan pandangannya penuh kebencian pada Rian.

"Kau beruntung karena Kinan melindungimu," bisik Arka tajam sambil merapikan jas dengan gerakan kaku.

Ia menatap Rian sekali lagi dengan penuh ancaman sebelum berbalik dan melangkah keluar Kafe D'Amour.

Rian menghembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Baru saja ia lolos dari satu bencana, tetapi masalah yang sebenarnya baru saja dimulai.

Kinan berbalik menghadap Rian, ekspresinya melunak namun matanya masih menyimpan segudang tanya. "Dia sudah pergi. Sekarang, katakan padaku yang sebenarnya. Siapa kamu, dan kenapa kamu tahu soal kebocoran data PT Sinar Abadi?"

"Kinan, duduklah dulu," kata Rian pelan sambil menarik kursi kayu dan mendudukinya dengan lemas.

Kinan mengikuti instruksi Rian.

"Aku akan memberitahumu segalanya," kata Rian memulai pembicaraan saat menyadari bahwa menyembunyikan identitas tidak lagi berguna di tempat ini.

"Tapi aku jamin, setelah kamu mendengarnya, kamu pasti akan mengira aku sudah kehilangan akal sehat." tambah Rian.

"Coba saja ceritakan," tantang Kinan sambil melipat kedua tangannya di atas meja.

"Aku rasa hidupku sendiri sudah cukup aneh hari ini karena tiba-tiba menolak pria sempurna seperti Arka demi membelamu." Kinan menambahkan.

Mendengar hal itu Rian pun tersenyum pahit.

"Itulah masalahnya, Kinan. Kamu menolaknya bukan karena pilihan bebasmu sendiri. Kamu melakukannya karena dunia ini ditulis dengan cara seperti itu," jelas Rian pelan.

"Ditulis? Apa maksudmu?" Kinan mengerjap kebingungan.

"Di duniaku, di luar kota ini, aku adalah seorang penulis," jelas Rian pelan sambil , meraba tas ranselnya dan mengeluarkan laptop yang layarnya masih menyala redup.

"Namaku Rian Pratama. Dan Cafe D'Amour ini, Kota Lumina ini, Arka yang arogan itu, bahkan gaun merah muda yang sedang kamu kenakan, semuanya adalah hasil ciptaanku. Aku yang menulis kalian di atas kertas."

Kinan terdiam selama beberapa detik. Ia menatap laptop di tangan Rian, lalu menatap wajah lelaki itu lekat-lekat, mencari tanda-tanda kebohongan.

Alih-alih tertawa atau memanggil petugas keamanan kafe, Kinan justru menunjukkan ekspresi termenung.

"Kamu pikir aku ini tokoh cerita di dalam buku?" tanya Kinan pelan, suaranya nyaris berbisik.

"Ya," jawab Rian mantap.

"Dua jam sebelum aku tersengat listrik dan jatuh ke sini…, aku sedang mengetik bab tiga cerita ini di apartemenku. Aku yang membuatmu ceroboh menumpahkan teh. Aku yang membuat Arka datang dengan jas hitamnya. Dan aku juga yang merancang agar kalian jatuh cinta pada pandangan pertama." Rian menjelaskan dengan mantap.

Kinan tertegun. Ia menunduk, memandangi jarinya sendiri.

"Kalau memang aku hanya tokoh buatanmu…, kenapa aku bisa merasakan detak jantung yang begitu cepat saat berada di dekatmu? Kenapa aku merasa marah, bingung, dan sedih atas kehendakku sendiri? Tokoh dalam novel tidak punya perasaan seperti ini, Mas," cecar Kinan yang masih memegangi jari-jemarinya.

Pertanyaan itu menohok relung hati Rian yang paling dalam. Ia tidak punya jawaban pasti.

"Aku tidak tahu," jawab Rian jujur. "Tapi, yang aku tahu pasti, keberadaanku di sini adalah sebuah kesalahan fatal. Sistem dunia ini tidak stabil. Kalau alur ceritanya terus menyimpang seperti ini, Kota Lumina bisa runtuh."

"Runtuh?" Kinan mendongak, matanya membelalak kaget. "Apa maksudmu runtuh?"

"Lihat ke luar jendela." Rian menunjuk ke arah kaca besar yang menghadap ke jalanan Kota Lumina.

Kinan menoleh mengikuti arah telunjuk Rian. Langit senja abadi yang biasanya memancarkan gradasi ungu lembayung dan jingga lembut itu kini tampak berbeda. Di beberapa sudut langit, terlihat garis-garis tipis berwarna putih menyerupai kode teks digital yang berkedip-kedip tidak beraturan. Suara derap kereta kuda di luar tiba-tiba terhenti, digantikan oleh dengung sunyi yang mencekam.

"Itu, apa itu?" bisik Kinan, ketakutan mulai merayapi nada suaranya.

"Itu adalah glitch," kata Rian, lalu berdiri kursi dengan cepat. "Sistem dunia ini mendeteksi adanya anomali. Dan anomali itu adalah aku dan penolakanmu terhadap Arka."

Sebelum Kinan sempat merespons, pintu kaca Cafe D'Amour kembali terbuka. Kali ini bukan Arka yang datang, melainkan hembusan angin kencang.

Lembaran-lembaran kertas putih kosong beterbangan masuk dari luar, berputar-putar di atas lantai kayu kafe membentuk lingkaran pusaran kecil.

"Kita harus pergi dari sini!" kata Rian tegas, lalu menarik tas ranselnya dan memasukkan laptop ke dalamnya.

"Pergi ke mana?!" tanya Kinan panik sambil berdiri dari kursinya saat lembaran kertas putih itu mulai menumpuk dan menutupi lantai.

"Kita harus mencari Arka," kata Rian sambil meraih pergelangan tangan Kinan. "Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita bertiga adalah kunci utama untuk memperbaiki alur cerita ini sebelum seluruh Kota Lumina terhapus dari lembaran naskah."

Kinan mengangguk cepat sambil mempererat genggamannya pada tangan Rian. Tanpa membuang waktu lagi, mereka berdua berlari menerobos pintu keluar Kafe D'Amour…

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Saingan Setengah kertas   Bab 21 : Titik Nadir di Ujung Cangkir

    Bab 21 : Titik Nadir di Ujung CangkirMalam merayap semakin pekat, membawa serta keheningan yang kian menekan dada di dalam ruang Cafe D’Amour yang tertutup rapat dari dunia luar. Udara di dalam ruangan terasa begitu padat, seolah-olah setiap oksigen yang tersisa telah habis terkuras oleh keputusasaan dan deru napas tiga manusia yang terjebak dalam labirin tak berujung.Rian masih duduk terpaku di kursi sudutnya, menatap sisa-sisa ampas kopi hitam yang mengering di dasar cangkir porselen putih. Sebuah saksi bisu yang kecil atas kebodohan dan kegagalan mereka malam ini.Kepalanya masih terasa berat, berdenyut-denyut nyeri akibat hantaman kafein dosis tinggi yang memaksa sistem sarafnya bekerja di luar batas kewajaran. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang menggerogoti jiwanya dari dalam. Dunia tempat ia dilahirkan, kamar kosnya yang berantakan dengan tumpukan naskah cerita, aroma jalanan basah usai hujan di kota asalnya, serta wajah-wajah

  • Saingan Setengah kertas   Bab 20 : Labirin Kopi dan Keputusasaan

    Bab 20 : Labirin Kopi dan KeputusasaanKeheningan di dalam Cafe D’Amour mendadak berubah menjadi teror yang mencekam ketika tubuh Rian terkulai sempurna di atas meja kayu. Suara detak jam dinding bergaya vintage terdengar begitu nyaring, memecah kesunyian yang kian menghimpit dada Arka dan Kinan.Kinan lantas berlari kecil, berlutut di sisi meja, lalu mengguncang bahu pria itu dengan tangan yang bergetar hebat. "Rian? Hei... bangun, Rian! Ini tidak lucu lagi!" teriaknya, napasnya tersengat kepanikan murni ketika merasakan tubuh itu terkulai lemas tanpa perlawanan sama sekali.Arka langsung membungkuk, meraba nadi di pergelangan tangan Rian dengan jarinya yang dingin. Denyutnya ada, lambat namun stabil, hal ini menjadi bukti biologis yang telanjang bahwa jiwa pria itu belum terbang ke mana-mana."Dia masih di sini, Kinan," bisik Arka serak, suaranya kehilangan seluruh wibawa CEO yang biasa melekat padanya. Pria itu menatap lurus ke arah kepala Rian yang menelungkup di atas meja dengan

  • Saingan Setengah kertas   Bab 19 : Eksperimen Konyol di Cafe D'Amour

    Bab 19 : Eksperimen Konyol di Cafe D'AmourMalam baru saja merangkak turun ketika sebuah mobil sedan mewah hitam milik Arka berhenti tepat di depan fasad bangunan Cafe D’Amour. Tempat itu tampak begitu temaram dan tenang, dihiasi lampu gantung bergaya vintage yang berpijar lembut di balik dinding kaca berwarna pastel. Namun, ada satu hal yang tidak biasa malam ini. Pintu utama kafe tampak terkunci rapat, dan seorang petugas keamanan berbadan tegap berdiri berjaga di luar tanpa mempersilakan satu pun pengunjung umum untuk masuk.Arka memang tidak mau mengambil risiko. Sebagai CEO yang terbiasa mengendalikan segala situasi di balik layar korporat, ia telah mengerahkan kekuasaannya untuk menyewa seluruh area Cafe D’Amour malam itu demi satu tujuan yang sangat rahasia: melakukan uji coba lintas dimensi secara tertutup agar tidak menarik perhatian publik atau disangka sebagai orang gila oleh pengunjung lain.Rian, Kinan, dan Arka melangkah masuk ke dalam ruangan kafe yang sunyi senyap. Ar

  • Saingan Setengah kertas   Bab 18 : Permintaan Rian

    Bab 18 : Permintaan RianAcara pertemuan dari para stakeholder itu telah berakhir ditutup dengan kemenangan Arka. Sandra yang memang masih menaruh harapan atas kemenangan bisnis dan juga kisah percintaannya terhadap Arka, akhirnya terlihat meninggalkan ruangan tersebut.Rian, Kinan, dan Arka segera melangkahkan kakinya di atas lantai marmer dengan kilauan cahaya dari sinar matahari dan juga lampu gedung. Mereka akan segera membahas masalah tentang Rian.Rian tidak percaya dengan apa yang sedang ia alami di hidupnya sekarang. Sebuah latar yang dulu hanya berada di dalam imajinasinya, sekarang benar-benar ada di depan matanya.“ Bro Arka, urusanmu sudah beres dengan pamanmu! Sekarang kalian bantu pikirkan bagaimana caraku kembali dunia asal ku !” ucap Rian yang langsung duduk di kursi depan meja Arka.Mendengar hal itu, ada raut kesedihan terlukis di wajah mereka, raut itu terlihat sangat jelas di wajah Kinan. Kinan seolah tidak mau berpisah dengan Rian, begitupun juga dengan Arka sang

  • Saingan Setengah kertas   Bab 17: Manuver Hebat dari Arka

    Bab 17: Manuver Hebat dari Arka Acara pada siang itu pun berhasil menahan rencana licik dari paman Arka. Mereka bertiga terbukti berhasil mengulur waktu dengan menjatuhkan kepercayaan dari para Investor dari perusahaan milik Arka terhadap pamannya. Arsalehe yang dari kemarin sibuk membangun sebuah narasi untuk menjatuhkan Arka di depan para pemegang modal, kini sudah tidak berdaya. Hanya melalui jentik jari tangan dari Rian, semua yang ia rencanakan dalam beberapa bulan harus musnah seketika dalam hitungan menit. Sebuah skenario yang mengingatkan kita, akan pentingnya kehadiran Sang Pencipta, yang Maha dari segala Maha. Apabila kita terkadang merasa seperti sudah tersudut, bahkan kita beranggapan tidak ada lagi jalan keluar. Namun berkat usaha dan pertolongan yang terkadang selalu kita ucapkan berupa untaian kata dalam keheningan suatu masa, sehingga memiliki makna dan jiwa ketika menuju kepada Sang Pencipta. Suasana pun berakhir ricuh dengan gagalnya upaya dari paman Arka. Denga

  • Saingan Setengah kertas   Bab 16: Pidato Heboh

    Bab 16: Pidato Heboh Rian terlihat sangat sibuk dengan laptop miliknya. Jemarinya menari dengan amat lincah di atas papan ketik, menekan satu demi satu tombol dengan kecepatan yang mengagumkan. Entah naskah apa yang sedang ia otak-atik di sana, tidak ada satu orang pun di sekitar meja operator yang menyadarinya. Namun tiba-tiba saja, suara pembukaan yang keluar dari pengeras suara aula mulai terdengar janggal. Kalimat yang diucapkan oleh pembawa acara wanita di atas panggung terasa begitu kaku dan memiliki penekanan nada yang benar-benar asing di telinga. “Serta tamu undangan, rekan-rekan mitra, dan seluruh hadirin, Yang berbahagia. Pertama-tama marilah kita, Panjatkan puji syukur atas Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa Karena atas Limpahan rahmat serta karunia-Nya, Kita dapat berkumpul Di tempat ini Dalam keadaan sehat wal-afiat Untuk Memulai acara Yang penuh makna dan harapan.” Suara itu bergema ke seluruh penjuru ruangan. Belum sempat hadirin mencerna intonasi bicara pembaw

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status