Accueil / Romansa / Saingan Setengah kertas / Bab 1: Kilatan Tinta dan Awal Mula Malapetaka

Partager

Saingan Setengah kertas
Saingan Setengah kertas
Auteur: Akuaja

Bab 1: Kilatan Tinta dan Awal Mula Malapetaka

Auteur: Akuaja
last update Date de publication: 2026-08-05 18:08:55

"Tatap matanya, Arka, lalu ucapkan dialog eskalasi ketertarikan dengan nada bariton yang menggoda," gumam Rian sambil mengetik diatas keyboard.

Rian Pratama, seorang Pria berusia 25 tahun, yang memiliki profesi sebagai penulis novel komedi romantis dan menjunjung tinggi perfeksionisme. Dan dia tidak akan pernah membiarkan celah logika sekecil apa pun di buku terbarunya.

Di layar monitor laptop, adegan pertemuan antara Arka yang merupakan tokoh utama pria yang dingin, sempurna, dan berwajah pahatan dewa, bertemu dengan Kinan, si gadis ceroboh berhati lembut, sedang memasuki puncaknya.

Dalam bab ini, hubungan mereka diceritakan sedang tidak baik-baik saja. Setelah merampungkan draf cerita hingga pada bab 3, Rian mulai menyusun detail world-building untuk adegan mereka selanjutnya.

Rian membuat sketsa layout dengan latar; Sebuah cafe untuk tempat mereka bertemu nanti, sebuah bangunan yang bergaya vintage dengan dinding berwarna pastel lembut, aroma kue vanila yang menguar di setiap sudut ruangan, serta alunan musik jazz pelan yang menenangkan.

Semua tatanan meja, kursi kayu estetik, hingga rak buku di sudut ruangan dibuat sedemikian rupa agar suasananya tampak hidup. Cafe tersebut diberi nama " Cafe D'Amour." Sebuah nama yang memiliki makna 'Penuh Cinta'.

Namun, tepat setelah Rian merampungkan deskripsi lingkungan kafe tersebut, sebuah insiden terjadi. Secangkir kopi hitam tumpah tersenggol siku tangan kanannya.

Cairan pekat itu tumpah seketika tepat di atas papan keyboard sambungan kabel USB tambahan yang terhubung langsung ke stopkontak utama dinding.

"ZRAK!"

Kilatan listrik berwarna biru terang tiba-tiba menyambar jari-jarinya. Sensasi terbakar yang luar biasa menusuk saraf, membuat pandangannya mendadak gelap gulita. Tubuhnya terasa melayang, seolah ditarik paksa ke dalam pusaran angin berkecepatan tinggi yang terbuat dari ribuan lembar kertas berisikan teks cerita yang baru saja ditulis.

***

Begitu kesadarannya kembali perlahan, aroma wangi kue vanila yang manis dan bisingnya lalu-lintas kafe menyapa indra penciumannya. Rian mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali.

"Ruangan ini ... Ruangan ini ... Bukan kamarku yang berantakan. Dinding kafe ini dicat dengan warna pastel yang lembut, dan dihiasi rak-rak buku estetik yang sama persis seperti yang kubuat dalam deskripsi rinci Bab 3 naskahku!" batin Rian yang ingat sekali tentang tempat ini.

Belum selesai dengan rasa penasarannya, Rian dikejutkan lagi oleh suara dari seorang Wanita yang terdengar dari posisi sebelahnya..

"Ehm ... Permisi, Mas?"

Sebuah suara lembut yang sangat familiar membuatnya mendongak kaget. Jantungnya seketika mencelos jatuh ke lambung.

Seorang gadis berambut messy bun sebahu dengan gaun merah muda selutut berdiri di hadapannya.

Rian kenal perempuan itu. Dia Kinan.Tokoh utama wanita yang baru saja diciptakannya dua jam yang lalu.

Di tangannya, sebuah nampan berisi dua cangkir teh hampir tumpah karena ia tampak kebingungan menatap Rian lekat-lekat.

"Kamu ... bukan pelanggan biasa yang ada di meja ini." Kinan mengerjap polos sambil memiringkan kepalanya dengan manis.

"Kenapa kamu muncul di sini tiba-tiba? Jas dan tas kerjamu tampak asing sekali..." sambung Kinan.

Sebelum Rian sempat merespons, pintu kaca kafe terbuka dengan dentingan lonceng kecil yang nyaring.

Sosok tinggi berjas rapi berwarna hitam dengan potongan rambut klimis dan tatapan mata setajam elang melangkah masuk dengan langkah tegas. Arka adalah tokoh utama pria yang digambarkan dingin, sempurna, kaya raya, dan sama sekali tidak pernah tersenyum pada siapa pun.

Arka langsung berjalan lurus ke arah meja mereka, matanya menatap Rian penuh selidik.

"Siapa kamu?" tanya Arka dingin."Dan kenapa kau memegang tangan wanitaku?!"

Baik Arka maupun Kinan sama sekali tidak mengetahui bahwa dDia adalah Rian, sang penulis yang menciptakan eksistensi mereka di atas kertas.

Bagi mereka, Rian hanyalah seorang pria asing misterius yang mendadak muncul entah dari mana, dan mengacaukan jalannya pertemuan pertama mereka.

Rian menunduk spontan. "Sial ... Baru kuperhatikan, tangan kananku ternyata sedang menggenggam erat pergelangan tangan Kinan karena kaget sewaktu terjatuh ke dunia ini tadi!" batin Rian di dalam hati.

Kinan menoleh ke arah Arka dengan ekspresi terkejut, lalu kembali menatap Rian. Alih-alih merasa ketakutan atau berlari ke pelukan Arka sesuai skenario aslinya,. Kinan justru semakin mengeratkan genggamannya di tangan Rian.

"Aku tidak tahu kenapa ... Tapi, jantungku berdegup jauh lebih kencang saat melihatmu, bukan saat bersama pria arogan itu. Dia sama sekali bukan tipeku ... Kamu yang justru menghuni hatiku ..." bisik Kinan pelan tepat di telinga Rian, namun suara itu cukup keras untuk didengar oleh Arka.

Rian menelan ludah dengan susah payah, lalu meraba ransel kerjanya. Laptop di dalamnya ternyata ikut terbawa ke dalam dunia fiksi ini. Ia benar-benar heran dan terkejut dengan kejadian ini.

"Mati aku ... Tokoh utama ku sendiri, Kinan, baru saja menolak pangeran sempurnanya dan memilih sang penulis amatir yang tersesat ini sebagai 'selingkuhan' rahasianya. T, tanpa mereka berdua sadari bahwa akulah dalang di balik takdir hidup mereka." Ucap Rian dalam hati.

"Ya ampun Tuhan … bagaimana ini bisa terjadi?!" batin Rian panik sendiri.

Belum selesai rasa penasaran Rian hilang, tiba-tiba Arka berusaha menarik tangan Kinan dengan kasar dari genggamannya.

"Tenang Tuan Arka, kamu sepertinya salah paham. Aku bisa menjelaskannya padamu!" kata Rian mencoba menenangkan hati Arka.

"Simpan semua bualanmu, dasar penjilat!" Arka mengatakan kalimat itu persis seperti apa yang biasanya terlintas dalam pikiranku saat Rian menulis karakternya.

Namun, yang membuat bulu kuduk Rian meremang, sekarang Arka mengucapkan suara itu dengan jenis suara yang benar-benar Rian bayangkan selama ini.

Suara rendah yang datar, tegas, tanpa banyak intonasi emosional, namun memiliki otoritas yang besar dan mengintimidasi.

Kinan tidak melepaskan tangannya dari Rian, justru dia semakin mengeratkan genggamannya, seolah tindakan itu semakin memancing emosi Arka hingga batas maksimal.

"Tenang ... Arka, tenang! Aku ini ..." teriak Rian panik.

Situasi di dalam cafe semakin kacau. Pengunjung fiktif di meja lain mulai berbisik-bisik melihat keributan di sudut ruangan.

Otak Rian berputar keras mencari cara untuk menghentikan amukan sang tokoh utama pria sebelum dia benar-benar menghajarnya habis-habisan di dunia ciptaannya sendiri.

Tiba-tiba, sebuah ide nekat muncul di kepala Rian. Mengingat dDia adalah penciptanya, jadi dia tahu persis rahasia terbesar apa saja yang sedang membebani pikiran Arka di dalam alur cerita bab ini.'sebuah konflik rahasia perusahaan keluarganya yang belum sempat dibuka pada bab-bab awal.'

Dengan sisa-sisa keberanian yang ada, Rian menatap tepat ke dalam manik mata tajam Arka, lalu mendesiskan kalimat, dengan nada meyakinkan.:

"Atau kau ingin aku membongkar soal kebocoran data keuangan PT Sinar Abadi yang sedang digelapkan oleh wakil direktur utamamu di belakang layar, Tuan Arka?"

Seketika itu juga, gerakan tangan Arka yang hendak melayangkan pukulan berhenti.

Wajahnya yang tadinya dipenuhi amarah mendadak pucat pasi menatap Rian dengan mata terbelalak tak percaya. Nafasnya seperti tercekat di tenggorokan.

"Aa..a..apa ... Apa katamu?" tanya Arka bergetar.

"Bagaimana ... bagaimana mungkin kamu tahu soal kebocoran data PT Sinar Abadi? Laporan rahasia itu bahkan baru dipegang olehku dan belum ada satupun orang di luar dewan direksi yang mengetahuinya!"

Kinan ikut terkejut, lalu menatap bergantian antara Rian dan Arka dengan mata membelalak takjub. "Arka? Perusahaan keluargamu sedang ada masalah besar? Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku?"

"Bukan urusanmu, Kinan!" tukas Arka panik.

"Jawab aku! Siapa sebenarnya kau?! Dari mana kau bisa tahu masalah internal perusahaanku sedetail itu? Apakah kau mata-mata yang disewa oleh pamanku untuk menjatuhkanku?!" bentak Arka.

Rian menelan ludah dengan susah payah untuk menahan rasa takut.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Saingan Setengah kertas   Bab 13: Antara Pagi, Kopi, Cinta, dan Paprika

    Keesokan pagi saat sinar Matahari mulai beralih menuju ‘golden time’, Kinan membuka pintu kamarnya dengan mata yang masih terlihat mengantuk. Di ruangan Apartment Small milik Kinan. Terlihat Rian sedang berdiri di depan ‘mini pantry’ yang berada di sudut ruangan, ia terlihat sedang sibuk meracik kopi menggunakan alat ‘manual brew.’ Aroma kopi harum menguar ke seluruh ruangan. Sementara Arka duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, melirik ke arah Rian dengan gaya bos besar."Wah, baunya harum juga ya bikinan yu. Emang deh, tangan yu emang berjiwa ‘Robusta’ banget kalau urusan bikin kopi."ucap Arka nyeletuk memecah pagi itu.Rian yang tadinya fokus menuang air panas langsung berhenti. Ia menoleh ke arah Arka, lalu menatap dirinya sendiri. Ia terlihat bingung, lalu tersenyum menahan tawa."Robusta? Arka... Arka... ay manusia, bukan biji kopi digiling. Mana ada tangan berjiwa Robusta?" protes Rian sambik terus melanjutkan pekejaannya Kinan yang sedang duduk di meja ker

  • Saingan Setengah kertas   Bab 12: Dosa Besar Arka

    Suasana apartmen kecil akhirnya mulai tenang menjelang tengah malam. Kinan sudah sejak tadi masuk ke kamarnya sendiri, meninggalkan ruang tengah bagi dua pria yang bernasib malang. Masalah baru muncul saat mereka harus menentukan tempat tidur. Kursi panjang di ruang tengah hanya cukup untuk satu orang, sementara lantai beralaskan karpet tipis terasa kurang menggugah selera. Alhasil, terjadilah perang dingin penuh gengsi. "Udah, kamu aja yang tidur di kursi, Yan. Badan you kan agak kurus, pas banget kayak sarden dalam kaleng," protes Arka sambil melipat tangan di dada dengan balutan kain pantai lumba-lumbanya."Dih, ogah! Punggung i bisa patah. You aja tuh yang harusnya di kursi, biar muat sama kain pantai lumba-lumba you yang lebar itu!" balas Rian sengit sambil merebut bantal sofa, dan menimpali bahasa Arka yang berubah menjadi Cici di daerah PIK. Setelah adu dorong dan lempar-lempar bantal layaknya anak TK yang kehabisan tenaga, mereka akhirnya menyerah dan memutu

  • Saingan Setengah kertas   Bab 11: Insiden Piyama dan Kain Pantai

    Suasana apartemen kecil yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi arena sirkus swasta begitu suara pintu kamar mandi berderit terbuka. Kinan melangkah keluar dengan handuk kecil melingkar di kepala, wajahnya segar sehabis mandi malam. Di tangannya, ia membawa setumpuk pakaian bersih yang sudah ia pilihkan khusus untuk Arka, yang memang terpaksa menginap karena bab tambahan yang tidak jelas."Nih, Ka. Pakai baju ini biar tidur kamu nyaman. Jangan sok kegantengan, pakai jas mulu! Sekarang kita mau tidur, emang kamu mau kondangan ke alam mimpi?" serah Kinan santai, melempar setumpuk pakaian itu ke atas sofa tempat Arka duduk.Arka yang sedang meregangkan otot leher langsung mengambil tumpukan baju tersebut. Alisnya seketika menukik tajam, matanya membelalak tak percaya menatap isi kain yang ada di tangannya."Kinan, Kinan, kamu kayaknya benar-benar dendam sama aku, Nan?" protes Arka, mengangkat benda-benda tipis itu dengan dua jari seolah itu adalah bangkai kecoa beracun. "In

  • Saingan Setengah kertas   Bab 10: Puisi Arka

    Langkah demi langkah membawa mereka kepada sebuah pintu kaca besar. Pintu itu sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran Rian, yang belum sempat ia tulis. Dari mulai dari desain eksterior bangunan sampai ke detail interior bangunan tersebut. Karena pada bab awal Rian hanya berfokus tentang pengenalan kedua tokoh utamanya tersebut, bagaimana sedikit konflik kecil yang akhirnya mereka bertemu. Rian tersenyum karena di awal cerita Kinan seorang wanita ceria harus terpeleset ketika menginjak kulit pisang, dan di saat itulah, Arka sosok Pria dingin datang menyelamatkannya. Sebuah alur klasik tetapi, sangat membekas di dalam cerita drama-drama romantis. Beralih ke sebuah ruangan yang berada di dalam gedung, ruangan yang mengantarkan mereka ke lantai 5 dari apartemen tersebut. Dan tepat di kamar 503, Kinan mengeluarkan sebuah kunci kamar yang memiliki gantungan menyerupai sebuah terong. Persis seperti yang Rian pikirkan. Gantungan tersebut memang akan ia pakai di dala

  • Saingan Setengah kertas   Bab 9: Berakhirnya Entitas Menakutkan

    “Braaak… Gedubrak” Suara gaduh yang ditimbulkan oleh terdorongnya suara rak dan meja yang terdorong. Lemari yang begitu berat terdorong jauh hampir mengenai Kinan dan Arka. Rian yang melihat hal tersebut, langsung melompat, melewati meja yang menjadi tempat mereka berkumpul dengan laptop berada di atasnya. Kaki kanannya menendang kursi Arka, sehingga Arka terdorong terpental ke samping sedangkan tangannya menggendong Kinan ke arah berlainan. Rian yang sigap berhasil menyelamatkan tokoh utamanya tersebut. Hanya saja laptop kesayangan Rian belum diketahui nasibnya. Sosok makhluk berjubah hitam tersebut menyeringai, dengan nada voice over yang berat, mahluk tersebut mengatakan: “Kalian bertiga harus segera dimusnahkan agar tidak membahayakan sistem” makhluk tersebut dengan nada berat dan kaku tanpa intonasi. Tepat di atas kepala mahluk tersebut terlihat tulisan dengan cahaya biru yang sangat terang di dalam keadaan seperti itu. [Software update automatically completed] Ri

  • Saingan Setengah kertas   Bab 8: Sifat Dasar Wanita

    "Dasar cowok egois," teriak Kinan ketika mereka berhasil memasuki salah satu ruangan bertingkat di kota Lumina."Kamu tega ninggalin aku," tambah Kinan kepada Arka, tetapi tangannya masih tetso memegang Rian. Rian yang mendengar hal itu tersenyum dalam hati. Ia menyadari bahwa, ternyata memang benar sifat wanita memang benar seperti itu, tanpa ia harus menulisnya ke dalam naskah ceritanya tersebut. Arka yang mendengar omelan Kinan, hanya bisa diam, sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ia hanya menyimak sambil terus mencari tempat perlindungan yang lebih baik. Beberapa rak buku dan meja ia coba geser untuk menghalangi pintu ruangan tersebut."Sudah Kinan, kita tidak punya waktu untuk meributkan hal itu! Lagian kamu juga tadi kan bareng sama Rian, jadi aku pikir bakal aman," jelas Arka, mulai mengambil beberapa barang untuk menutupi pintu tersebut. Bahkan tempat Sampah plastik yang tidak memiliki berat yang signifikan, ia letakkan di atas meja tersebut."Iya, tapi tetap s

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status