Home / Romansa / Salah Kirim, Dapat Dokter / BAB 4: PUKUL SEPULUH MALAM

Share

BAB 4: PUKUL SEPULUH MALAM

Author: acaca
last update publish date: 2026-10-08 16:50:03

​Kania meremas lembaran uang kertas seratus ribu rupiah bernuansa merah segar itu di dalam saku jas dokternya dengan sisa-sisa rasa canggung yang masih membakar pipi. Bahkan hingga kakinya melangkah keluar dari gedung utama Rumah Sakit Medika Utama, bayangan wajah dingin Dokter Arka Dewantara saat menyodorkan uang tersebut masih terpeta sangat jelas di pikirannya.

​“Uang muka. Supaya dompetmu tidak hanya berisi koin recehan lagi. Saya tidak mau asisten operasi saya pingsan kelaparan...”

​Suara berat dan datar pria itu terus bergema di kepalanya bagaikan kaset rusak. Kania menghela napas panjang, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajahnya yang kelelahan usai menyelesaikan giliran jaga malam di ruang rawat inap.

​Di satu sisi, gengsi Kania sebagai anak yang ingin membuktikan kemandirian tanpa bantuan uang dari keluarganya melarang keras menerima uang itu. Namun di sisi lain, keputusannya menolak fasilitas finansial orang tuanya demi menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri konglomerat Pradipta Group membuatnya harus menelan kenyataan pahit: saldo aplikasi transportasi daringnya malam ini benar-benar menipis, dan sisa uang tunai di dompet kainnya memang hanya koin recehan seratus dan dua ratus perak.

​Langkah kaki Kania terasa kian gontai ketika sampai di pelataran parkir luar, tepat di dekat pos penjagaan yang diterangi pendar lampu taman bernuansa kuning temaram. Sebagian besar lampu di koridor gedung dewan direksi di lantai atas sudah diredupkan, kecuali satu ruangan di lantai lima yang masih memancarkan cahaya terang.

​Kania sempat mendongak sebentar ke arah jendela kaca besar lantai lima tersebut. Dari kejauhan, ia bisa melihat siluet tegap seorang pria berkeja putih yang berdiri memandang ke arah luar.

​Dokter Arka belum pulang? batin Kania heran. Pria itu sudah memimpin dua tindakan operasi rumit sejak pagi tadi, memimpin rapat komisaris, dan jam dinding pos penjagaan sekarang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit. Kania menggeleng perlahan. Dokter konsulennya itu memang bukan manusia biasa—pria itu bagaikan robot yang ditenagai baterai abadi tanpa mengenal kata lelah.

​Kania merogoh isi tas kainnya, meraba ponsel tipisnya yang tersisa daya lima belas persen. Dengan berat hati namun realistis, ia akhirnya menggunakan uang seratus ribu rupiah pemberian Arka untuk mampir mengisi saldo di minimarket terdekat demi memesan ojek online.

​"Nona Kania, baru selesai piket?" sapa Pak Jaka, petugas keamanan pos depan yang ramah.

​"Iya, Pak Jaka. Baru mau pesan ojek ini," sahut Kania mengulas senyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa lelah yang menumpuk di kelopak matanya.

​"Hati-hati, Nona. Sudah malam begini jalanan agak lengang," pesan sang satpam.

​Tidak butuh waktu lama, sebuah sepeda motor transportasi daring berhenti tepat di depan gerbang RS Medika Utama. Driver ojek tersebut menyodorkan sebuah helm berwarna hijau yang ukurannya sedikit terlalu besar untuk kepala mungil Kania. Kania memakainya dengan canggung, naik ke atas jok belakang, lalu membiarkan motor melaju membelah jalanan kota yang gemerlap oleh pendar lampu jalan.

​Di atas sepeda motor yang melaju sedang, Kania memegang erat kedua tali tas kainnya. Helm besar di kepalanya bergoyang sedikit ke kanan dan ke kiri setiap kali motor melintasi jalanan yang tidak rata, tetapi fokus pikiran Kania sama sekali tidak berada di jalan raya.

​Dada Kania mendadak kembali berdesir aneh saat teringat insiden kecil di ruang operasi tadi pagi. Saat ia menyerahkan suture anchor, ibu jari Arka yang terbungkus sarung tangan steril secara tidak sengaja bersentuhan dengan jemarinya. Sentuhan yang seharusnya biasa saja itu entah mengapa memberikan sengatan hangat yang membuat debaran jantungnya memburu tak karuan.

​Ada apa dengan Dokter Arka sebenarnya? bisik Kania dalam hati, memiringkan kepalanya saat hembusan angin malam menerpa celak matanya.

​Sikap pria itu selalu penuh dengan kontradiksi yang membingungkan. Di satu sisi, Arka adalah konsulen bedah ortopedi paling kejam, dingin, dan tidak pernah mau mentoleransi kesalahan sekecil apa pun dari para koas. Tapi di sisi lain, pria itu secara misterius memesankan puluhan porsi sushi mahal untuk anak-anak bangsal, dan kini malah memberinya uang tunai dengan alasan konyol agar asisten operasinya tidak pingsan kelaparan.

​Kania mengepalkan jemarinya di pangkuan. Ia sadar betul posisinya saat ini. Ia hanyalah seorang mahasiswi koas biasa yang sedang berjuang keras meraih gelar dokternya secara mandiri, tanpa ingin memanfaatkan embel-embel nama besar keluarga Pradipta. Ia tidak boleh terbawa perasaan atau salah mengartikan perhatian implisit dari pria sedingin dan setinggi Dokter Arka Dewantara.

​Bagi Arka, mungkin semua hal yang dilakukannya hanyalah sebatas bentuk efisiensi agar kinerja tim operasinya berjalan sempurna. Tidak lebih dari itu.

​"Depan lorong ini masuk ke dalam kan, Mbak?" tanya driver ojek memecah lamunan Kania saat motor mulai melambat di persimpangan jalan menuju tempat kosnya.

​"Iya, Pak, betul. Rumah cat putih di sebelah kiri depan," sahut Kania sedikit meninggikan suaranya di balik helm.

​Sepeda motor itu akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah kos Kania. Kania turun, melepas helm besarnya, dan menyerahkannya kembali pada sang pengemudi setelah menyelesaikan pembayaran.

​Saat berdiri sendirian di depan pintu kamar kosnya yang sederhana, Kania kembali merogoh saku jasnya. Ia memandangi sisa uang kembalian dari Dokter Arka. Ada perasaan aneh yang terus mengusik benaknya—sebuah firasat samar bahwa hidupnya yang tenang dan penuh penyamaran sebagai koas biasa di RS Medika Utama kini perlahan mulai bergeser ke dalam pusaran takdir yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 16:BERITA

    ​Hari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.​Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.​Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya.​"Eh, kalian sudah lihat Instagram Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna.​"Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya.​"Itu lo

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 15: JARAK

    ​Dua hari berlalu sejak insiden di kafe lobby, dan Kania berhasil menjalankan misinya dengan sangat profesional: membentangkan benteng pertahanan yang tebal di antara dirinya dan Dokter Arka Dewantara.​Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada lagi senyuman polos, dan tidak ada lagi sapaan riang di pagi hari. Setiap kali berhadapan dengan Arka, Kania menata ekspresi wajahnya sejernih air—dingin, formal, dan murni sebatas hubungan antara dokter konsulen dan mahasiswi koas bimbingannya.​Pukul sembilan pagi, Kania berdiri di stasiun perawat lantai tiga. Ia sedang merapikan draf laporan riset untuk simposium medis Surabaya yang sudah ia jilid rapi.​Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat. Kania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woody yang khas sudah lebih dulu mengudara di sekitarnya.​Arka berhenti tepat di samping meja perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat gagah dalam balutan setelan jas hitam formal, lengkap dengan kemeja

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 14: CEMBURU

    ​Pukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.​Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar.​"Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania.​"Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.​Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby.​Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara.​Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang r

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 13: HANGAT

    ​Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.​Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.​Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang.​"Permennya cukup mem

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 12:RUANG PERAWAT

    ​Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.​Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia.​"Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.​Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.​Arka sempat melirik singkat ke arah mata b

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 11: AROMA WOODY

    ​Aroma woody dan amber yang hangat serta maskulin langsung menyapa indra penciuman Kania begitu ia membuka mata di Senin pagi.​Kania mengerjapkan matanya pelan, memandangi jas hitam tebal milik Dokter Arka yang tergantung rapi di kapstok pintu kamar kosnya. Jas mahal itu sudah ia cuci bersih menggunakan pelembut pakaian terbaik dan disetrika dengan sangat hati-hati kemarin malam. Namun, entah mengapa, bayangan kejadian di dalam mobil SUV Arka saat hujan deras minggu lalu masih terpeta begitu jelas di benaknya.​“Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya... Paham?”​Suara berat dan bernada perintah tegas milik sang dokter konsulen kembali bergema di kepalanya. Kania menyentuh dadanya sendiri yang mendadak berdebar kencang. Wajahnya perlahan memanas.​"Duh, Kania! Buka mata lo! Fokus!" gumam Kania sambil menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. "Hari ini ada dua tindakan operasi ortopedi besar. Lo gak boleh hilang konsentrasi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status