تسجيل الدخولBAB 76
“Iya, boleh kan? Atau kamu takut mereka juga ikut jatuh pada pesona cowok ganteng ini?” goda Ibra. Ia menaik-naikkan kedua alisnya yang tebal secara bergantian, menyunggingkan senyum narsis yang dibuat-buat namun entah kenapa terlihat sangat pas di wajahnya yang maskulin.Zea yang baru saja menyesap es jeruk kelapanya nyaris tersedak. Ia meletakkan gelasnya dengan sedikit keras di atas meja kayu.“Hiiy….” Zea meringis lebar, tangannya mengusap-usapBAB 131"Mbak, mau ke mana?" bisik Beni panik, begitu menyadari Zea melangkah cepat dengan raut wajah yang tidak biasa."Tolong awasi lorong lift, Ben. Kalo dia balik, missed call aku. Sekali aja," perintah Zea pelan pada anggota timnya itu. Lalu, tanpa menunggu jawaban Beni, Zea menyelinap masuk ke ruangan Sandra. Jantungnya berdegup gila-gilaan, memompa adrenalin hingga ke ujung jari kakinya. Ia tahu, jika ketahuan, ini bukan lagi sekadar soal pemecatan, melainkan tindak pidana pencurian akses. Tapi ia tidak punya pilihan. Reputasi yang susah payah ia bangun sedang dalam bahaya. Zea tak sudi dihancurkan dengan cara licik tanpa perlawanan.Laptop di meja mahoni itu dalam mode sleep. Dan benar saja, arogansi adalah celah terbesar manusia. Token perak kecil itu masih menancap manis di port USB.Tangan Zea sedikit gemetar saat mencabutnya. Benda sekecil ini terasa begitu berat. Ini adalah kunci penentu nasibnya.
BAB 130Kantuk Zea seketika lenyap tanpa sisa. Ia melompat dari ranjang seolah kasurnya diletakkan di atas bara api."Rusak?! Nggak mungkin, Ben! Kemarin sore waktu di gudang, aku periksa sendiri valve dan regulatornya! Waktu instalasi malamnya aku juga standby, pas di-tes running semuanya normal, apinya biru, tekanannya stabil. Nggak ada indikasi bocor sedikit pun!""Aku tahu, Mbak! Aku lihat sendiri semalam! Tapi Pak Dirga nggak mau dengar alasan apa pun. Dia langsung eskalasi laporan ke Bu Sandra."Zea memejamkan mata, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Jebakan ini ternyata memiliki lapisan yang lebih dalam dari dugaannya.Setengah jam kemudian, tanpa sempat sarapan, Zea sudah berdiri dengan bahu menegang di dalam ruang kerja Sandra. Hawa AC di ruangan itu terasa menusuk tulang, tapi tak sedingin tatapan wanita yang duduk bersedekap angkuh di balik meja mahoninya.Sebuah map berisi laporan keluhan
BAB 129Mata mereka bertemu, dan di detik itu, Zea bisa melihat binar kemenangan yang culas memantul di manik Sandra. Senyum miring tercetak jelas di bibir berpoles lipstik merah menyala itu."Kamu belum cek yang di sana," perintah Sandra, dagunya menunjuk angkuh ke sudut ruangan yang agak gelap, tempat susunan pipa sekunder berada. "Cek dulu. Pastikan semua terpasang dengan benar!"Zea tak menjawab. Ia hanya mendengus pelan, nyaris tak terdengar, lantas berbalik dan melangkah menuju titik yang ditunjuk. Hari ini, ia memilih untuk menelan harga dirinya bulat-bulat. Biarlah Sandra berkubang dalam pujian. Biarlah perempuan itu merasa menjadi pahlawan di atas panggung yang ia sutradarai sendiri. Bagi Zea, memastikan keamanan instalasi gas ini dan menyelamatkan wajah perusahaan di mata klien jauh lebih krusial daripada memenangkan adu ego yang tak ada habisnya.Namun, di balik diamnya yang tampak patuh saat memeriksa katu
BAB 128Kesunyian kembali melanda saat sambungan telepon dari Ibra diputuskan. Lelaki itu menemaninya, memastikan makanan di piringnya tandas dan kelopak matanya nyaris menutup saking beratnya. Dan tentunya tak lupa sambil terus membujuk Zea agar datang ke acara launching kafenya.“Aku bilang ke Pak Wira, launching batal kalo kamu nggak hadir.” Ibra berkata kalem, seakan sedang membicarakan cuaca terik hari ini.Mata Zea membulat. Ia antara percaya dan tak percaya pada ucapan lelaki itu.“Yang bener?” tanyanya setengah seru.Kepala Ibra terlihat mengangguk.“Dih, kok gitu sih Mas….” Zea memajukan bibirnya. Ia jadi tak enak hati pada bosnya itu.“Ya, kan dari awal kamu udah ikut terlibat, rasanya kurang aja kalo kamu nggak hadir.” kilah Ibra.“Padahal ada Dimas dan temen-temen lain juga.” Zea mencibir.Ibra terdiam sejenak, lelaki itu mencibir, “Maunya kamu.” Zea mendengus sambil
BAB 127“Eeh…, tapi ya Mas….” Zea berusaha meralat ucapannya, “I-ini tuh baru kejadian sekarang ya, yang kemarin, di kantor sebelumnya tuh nggak pernah ada sabotase sabotase kayak gini….” Jelasnya gugup.Ibra tertawa, “Kamu mikir apa emang, hmmm…?” Tanya lelaki di seberang dengan suara baritonnya.Zea menggeleng, tanpa menyadari bahwa Ibra tak bisa melihatnya, “Nggak mikir apa-apa,kok,” elaknya.Tawa Ibra makin keras, “Kamu tuh nggak jago bohong, tau nggak?”Zea meringis, menahan malu karena merasa ketahuan, “Apaan sih? Bohong apaan? Aku cuma takut kamu mikir kantorku nggak beres, padahal nggak kayak gitu.” Ia bersungut-sungut.“Yang mikir kayak gitu itu kamu,” Ibra berujar gemas, “Aku nggak ada mikir begitu.”Zea mengatupkan bibirnya rapat, tak bisa membalas ucapan Ibra.“Kamu tuh suka overthinking, aku kan udah bilang kalo aku nggak akan komentar apa pun….” lanjut Ibra.“Iya, aku tau, kan aku bi
BAB 126Zea tiba di kosan dengan tubuh dan pikiran yang luar biasa letih. Ia meletakkan tasnya asal lalu melemparkan diri ke kasur yang langsung berderit pelan seperti sedang mengerang menahan bobot tubuhnya. Berharap dengan berbaring, setidaknya ia dapat menghilangkan sedikit keletihannya. Zea memejamkan matanya erat-erat. Langit-langit kamar kosnya yang putih kusam seolah berputar. Udara pesisir utara yang lembab dan panas masih terasa menempel di kulitnya, bercampur dengan debu proyek dan sisa-sisa ketegangan dari konfrontasi dengan Sandra dan Pak Dirga tadi siang.Namun, di balik kelopak matanya yang tertutup, bukan wajah merah padam Pak Dirga atau tatapan tajam Sandra yang muncul. Melainkan siluet seorang pria yang ia lihat tadi.Arkan.Nama itu bergema di kepalanya.Zea berguling ke samping, memeluk bantal gulingnya erat-erat, mencoba mengusir bayangan itu.“Masa sih itu Mas Arkan….” bisiknya pada diri s







